
Maya begitu khawatir akan kondisi anaknya. Di sepanjang perjalanan mulutnya terus berdoa agar Alvin baik-baik saja.
"Assalamualaikum," Maya mengucapkan salam ketika sudah sampai di rumah Yanto.
Suasana di dalam sudah terlihat sepi, hanya beberapa orang saja yang ada.
"Waalaikumsalam," jawab Ani dari dalam.
Maya yang melihat sahabatnya menghampiri segera memeluk tubuh wanita itu.
"Ani, apa kabar? Maaf baru datang, di jalan kejebak macet." Ucap Maya lalu mengurai pelukannya dan melakukan cipika cipiki.
"Kabar ku baik, May. Kamu datang saja kami sudah merasa bahagia karena kamu masih ingat kami." Jawab Ani menyelipkan candaan di ujung kalimatnya.
"Tentu saja aku ingat kalian, hanya kesibukan ku yang membuat ku sulit untuk bertemu kalian."
"Orang sibuk rupanya," kata Ani tersenyum.
"Haha, bisa aja." Maya celingukan mencari keberadaan seseorang.
"Kamu mencari siapa?" tanya Ani penasaran.
"Kenapa pengantinnya, ko tidak ada?"
"Oh, mereka berada di kamar. Katanya tadi mau shalat Dzuhur."
"Oh, selamat ya atas pernikahannya Riana."
"Iya, terima, kasih. Ayo masuk! Masa tamu tidak ku suruh masuk, kalau di dalam kamu bisa sambil makan-makan," kata Ani terkekeh.
Mayapun masuk bersama Ani.
****
Riana menyiapkan keperluan ibadah untuk Vino, dia meminjam sarung dan baju koko milik Latif sedangkan Vino sedang membersihkan diri. Sambil menunggu Vino selesai, Riana melepaskan setiap aksesories hiasan kepala.
Ceklek, suara pintu kamar mandi terdengar di buka, Riana menoleh.
__ADS_1
"Astaghfirullah!" pekik Riana secepat kilat menutup mata menggunakan kedua tangan dia.
Vino keluar hanya mengenakan handuk saja, bagian tubuh atasnya terpampang jelas. Meski Vino baru lulus SMA tapi tubuhnya benar-benar bagus.
Vino tersenyum melihat Riana, perlahan dia mendekati Riana yang berada di meja rias.
"Kenapa di tutup, hmmm? Kamu malu? kita sudah menikah, Ri." Vino merasa gemas melihat pipi Riana yang sudah memerah.
Tanpa sepengetahuan Riana, Vino menaruh kedua tangannya di kiri dan kanan. Dia mencondongkan wajahnya di dekat pipi Riana dan menatap Riana dari cermin.
"Buka matamu! Aku sudah memakai baju ko." Vino ingin mengerjai Riana.
Perlahan Riana menurunkan tangannya lalu membuka matanya, dan...
Cup..
Seketika dia terpaku atas apa yang Vino lakukan. Vino mengecup pipi Riana dari samping. "Kamu cantik, istriku." Bisik Vino tepat di telinga Riana.
Riana menunduk, wajahnya terasa panas. Meski dia belum menyukai Vino, tindakan Vino mampu membuat dia blushing.
Vino terkekeh, lalu dia berjalan mengambil baju yang ada di tempat tidur dan memakainya.
"Hah! A aku ma mau ke kamar mandi," ucap Riana terbata secepat kilat ia masuk ke kamar mandi.
"Menggemaskan," gumam Vino.
Dia menunggu Riana mandi karena ingin shalat berjamaah. Tidak lama kemudian Riana keluar dari kamar mandi.
Vino menoleh, dia terpaku melihat kecantikan Riana yang tidak mengenakan hijabnya. Rambutnya terurai, kulitnya putih bersih. Meski mengenakan gamis panjang namun itu mampu membuat darah Vino mendesir.
Vino berusaha menormalkan desirannya, dia terus beristighfar mengingat jika dia belum shalat.
"Kita Shalat berjamaah ya!" ajak Vino.
"Maaf, a. Aku sedang kedatangan tamu bulanan," jawab Riana lalu ia duduk di tepi ranjang.
Vino menghelakan nafasnya secara kasar.
__ADS_1
"Oh, jika tahu dari tadi aku tidak akan menunggumu," gumamnya.
"Maaf," balas Riana merasa bersalah.
"Tidak apa, tamunya saja datang di waktu yaang tidak tepat."
Vinopun melakukan ibadahnya sendirian, Riana terus memperhatikan setiap gerakan Vino. "𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪, 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪𝘬𝘶. 𝘐𝘯𝘪 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘝𝘪𝘯𝘰 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶."
"Riana," panggil Vino.
Riana tersadar dari lamunannya. "Iya."
"Kemari!" Vino menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Dengan ragu Riana menghampiri Vino dan duduk. Vino memegang kedua pipi Riana lalu mengecup keningnya penuh perasaan menyalurkan setiap rasa dengan tulus.
"Aku mencintaimu," gumam Vino menatap mata Riana tulus.
Riana tertegun, dia tidak menjawab, hanya anggukan yang ia berikan.
"Sekarang kita kamu siap-siap! Kita akan pergi ke suatu tempat."
Riana menggerutkan dahinya.
"Kemana?" tanya Riana bingung.
"Bersiaplah! Nanti kamu akan tahu sendiri. Jika ku kasih tahu sekarang bukan kejutan namanya."
Riana mengerucutkan bibirnya.
"Jangan seperti itu! Kalau aku khilaf bahaya!" ucap Vino memperingati.
"Apaan sih," cebik Riana kesal.
"Cepatan sayang!" Vino mencubit gemas pipi Riana.
"Iya bawel," balasnya.
__ADS_1
Rianapun segera mengambil jilbab dan memakainya. Vino sendiri sudah duluan keluar kamar ketika Riana mengenakan hijabnya.