KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Waktu Terus Berlalu


__ADS_3

Hari demi hari, bulan demi bulan telah berganti dan tiga bulan berlalu telah Riana lewati menjadi seorang janda di usia muda. Setelah kepergian suaminya, dia lebih mempokuskan pikirannya ke pekerjaan yang ia kelola dan mengurus bengkel peninggalan Vino.


Selama itu pula Riana masih juga belum melupakan tentang mimpi yang sering menghampirinya. Antara percaya dan tidak bahwa orang itu adalah Alvino guru dirinya ketika di sekolah.


Riana menyibukan diri mengolah setiap bahan menjadi sebuah makanan yang enak untuk di makan. Meski sedang bekerja sekalipun, bayangan wajah Alvino tidak bisa ia hilangkan.


Riana memberhentikan dulu kegiatannya dan menyuruh pegawai dia melanjutkan membuat cake. "Ami, tolong lanjutkan ini! Kepalaku terasa pusing."


"Iya, Teh." Orang yang bernama Ami itu pun melanjutkan tugas dari Riana.


Aku pun meninggalkan area dapur dan berjalan menuju ruangan kerjaku. Aku membaringkan tubuhku di atas sofa, kepalaku tarasa pusing mungkin karena kelelahan. Untuk sejenak, ku memejamkan mata dan tertidur.


Riana masih mencintai lelaki pertama yang mampu mencuri hatinya lewat sosmed walaupun tidak di ketahui wajahnya.


"Ri, dia adalah lelaki yang kamu tunggu selama ini. Dia yang akan membahagiakanmu, dia yang akan menjagamu dan dia juga masih setia menunggu mu."


"Terimalah pinangannya sebelum dia benar-benar menyerah akan perasaannya! Tidak ada laki-laki sepertinya yang mampu bertahan selama ini menunggu sesuatu yang belum pasti. Tataplah matanya di kala kamu bersamanya. Rasakanlah, apakah jantungmu berdebar saat menatapnya atau tidak?"


Dalam tidurnya dia kembali bertemu Vino dan melihat bayangan pak Alvin tersenyum mengulurkan tangannya menyambut Riana.


Riana terbangun, dia segera mendudukan diri dan segera minum. "Kenapa mimpi itu menghampiri lagi? apa ini jawaban dari setiap doaku bahwa dia adalah pak Alvin?" gumam Riana mengelap keringat dingin di dahinya.


Lain Riana lain pula dengan Alvin. Lelaki tampan nan Maco itu masih seperti dulu. Masih menunggu wanita pujaannya, masih setia dengan perasaannya, masih berharap Allah bisa mempersatukan keduanya.


Untuk saat ini, Alvin juga fokus mengurus supermarket yang ia kelola sampai Riana mau menikah kembali. Alvin sudah terang-terangan mengungkapkan apa yang ia rasa kepada Riana. Bahkan pemuda itu juga sudah melamar Riana kepada orang tuanya dan orang tua Rianapun setuju tapi balik lagi kepada Riana nya.


Dalam hati keduanya sama-sama tersimpan rasa cinta yang mendalam namun takdir masih belum mempersatukannya. Alvin masih dengan setia menunggu Riana, dan Riana masih trauma menikah muda.


Dan keduanya memutuskan untuk mengembangkan dulu usahanya sampai akhirnya mereka di pertemukan kembali oleh takdir. Riana pokus mengembangkan toko kue dan bengkel peninggalan suami, sedangkan Alvino pokus mengembangkan supermarket.


Kita tidak pernah tahu takdir kita seperti apa? kita tidak pernah tahu jodoh kita siapa? dan kita tidak pernah tahu dengan siapa kita akan berjodoh.


Sekuat apapun kita menggenggam, jika dia bukan milik kita maka akan lepas juga. Sekuat apapun kita menolak, jika dia milik kita maka akan kembali pada kita.

__ADS_1


Semua yang terjadi adalah kehendak-nya. Manusia hanya bisa berencana, berdoa, dan berusaha. Selebihnya Allah yang menentukan.


****


Satu tahun telah berlalu


"Halo, kami dari CITARASA bakery. Ada yang perlu saya bantu?"


"Iya, Halo. Saya ingin memesan kue ulang tahun untuk acara besok lusa apa bisa?"


"Insyaallah kami bisa. Kue seperti apa yang Anda inginkan? mohon untuk di jelaskan gambarannya!"


"Anak saya ingin kue tingkat bergambar Frozen." Orang di sebrang telpon menyebutkan gambaran kuenya dan mengirimkan alamat rumahnya.


"Terima kasih, Mbak. Nanti kami akan usahakan mengirim tepat waktu ke alamatnya."


Dan mereka menutup sambungan telepon.


"Ri, ada pesanan lagi. Ini kue yang di inginkan dan ini alamatnya." Keisya menyodorkan sebuah catatan pesanan seseorang.


"Masa sih?" Keisya melihat kembali tulisan itu. "Oh, iya, benar. Saking fokusnya sampai enggak ngeh mengenai salah satu alamat di kecamatan sendiri."


Riana menggelengkan kepala.


"Mbak, saya mau kue Bika Ambon satu, kue bolu pisang nya dua." Pinta pembeli pada Riana.


"Tunggu sebentar ya, Bu!" Rianapun mengambil pesanan kue lalu memberikannya kepada ibu tadi. "Ini, Bu. Terima kasih sudah mampir ke toko CITARASA bakery semoga suka."


Riana begitu sibuk melayani pembeli sesekali mengecek ke bagian belakang untuk melihat stok kue-kue nya.


Selama satu tahun ini Riana mampu mengembangkan kuenya sampai terkenal dan sukses.


****

__ADS_1


"Mah, aku sudah memesan kue ulang tahunnya kita tinggal berangkat kesana nanti sore."


"Kenapa kamu ingin merayakan ulang tahun anakmu di sana?" tanya Maya penasaran


"Aku ingin membuat Alvin menjadi lebih dekat dengan Riana. Dari dulu sampai sekarang perasaan Alvin tidak berubah, Mah. Aku akan berusaha mempersatukan keduanya."


"Mama heran sama adikmu, padahal perempuan banyak tapi Alvin kekeh ingin menunggu Riana. Sebenarnya Mama setuju saja asalkan keduanya saling suka dan bisa membuat bahagia Alvin."


"Aku yakin kali ini Riana akan menerima Alvin. Mama masih mendukung ke inginkan Alvin, kan?"


"Mama akan mendukungnya. Mama harap mereka berjodoh. Kata Yanto, sampai sekarang Riana tidak dekat dengan pria manapun meski banyak pria yang mendekatinya. Alasannya Riana ingin pokus pada usahanya dulu. Dan kata Ani sendiri, Riana sedang menunggu seseorang yang ia cintai lewat sosmed nya."


"Dan kita sudah tahu kalau pria itu Alvin. Alvin sudah menceritakan tentang hubungan dia saat lewat sosmed. Maka dari itu aku ingin mempersatukan keduanya dan salah satu caranya ya dengan ini," kata Stella.


"Ya semoga saja berhasil, aamiin."


"Assalamualaikum." Ucap Alvin baru saja pulang kerja.


"Waalaikumsalam." Jawab Maya dan Stella.


Alvin menyalami kedua wanita yang ia sayangi dalam hidupnya. Diapun ikut duduk di dekat sang Mama lalu mengambil kue kering yang ada di atas meja.


"Vin, nanti sore kita berangkat ke Bandung." Ucap Stella.


"Bandung?!" mendengar kata Bandung membuat Alvin terkejut sebab sebelumnya sang Kaka tidak memberitahukan dulu padanya. "Kenapa tiba-tiba? dan mau ngapain kita kesana?"


"Kaka ingin mengadakan acara ulang tahun Chika di sana. Sekalian bernostalgia dengan rumah kita dulu."


Alvin diam. "Aku tidak akan ikut, kalian saja yang kesana. Aku masih ada kerjaan yang haus di selesaikan." Sebenarnya Alvin hanya beralasan.


"Pokoknya kamu harus ikut titik!" ucap Stella tak ingin di bantah.


"Iya, Vin. Kamu harus ikut tidak ada penolakan!" timpal Maya tegas.

__ADS_1


Alvin membuang napasnya secara kasar. Hatinya berkata, "Sebenarnya aku belum siap bertemu dengan Riana. Tapi, mau gimana lagi, mungkin ini saatnya ku harus bertemu dengan dia."


__ADS_2