KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Cantik Dan Wangi


__ADS_3

Vino kembali membawa Riana kerumah orang tuanya. Dia mengajak Riana menginap di sana, dan sekarang mereka sudah sampai di depan rumah orang tua Vino, dan mereka masih berada di dalam mobil.


"Kenapa kita kesini, A?" Riana bingung, dia pikir akan pulang ke rumah bapaknya.


"Malam ini kita menginap di sini ya. Aku sudah izin kepada orang tuamu bahwa aku akan membawamu kesini." Vino memang sudah izin melalui telpon ketika mereka berdua di bengkel, dan pada saat itu Riana sedang berada di toilet.


"Kapan? ko aku tidak tahu?" Riana memicingkan mata curiga.


"Jangan curiga seperti itu! Aku izin lewat telpon ketika kamu berada di toilet, jika kamu tidak percaya aku punya bukti panggilan keluarnya." Vino menyalakan benda pipih lalu membuka panggilan keluar agar Riana tidak berpikir yang tidak-tidak.


"Ini bukti panggilannya." Vino menyodorkan benda persegi itu kepada Riana, dan Riana mengambilnya.


Rupanya Vino tidak berbohong, paling atas tertera no bapaknya. Riana mengembalikan lagi benda itu kepada Vino lalu Vino mengambilnya.


Keduanya kemudian keluar mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," ucap mereka secara bersamaan.


Di dalam terasa sepi, padahal rumah tidak di kunci.


"Kemana mereka? Assalamualaikum, Pah, Mah." Pekik Vino mengeraskan panggilannya.


"Mama di taman belakang Vin." Teriak Laras, suaranya memang sedang berada taman belakang.


Vino memegang tangan Riana lalu membawa istrinya ke taman belakang. Riana hanya mengikuti setiap langkah suaminya saja tanpa mau menolak. Ketika sudah berada di taman belakang, Riana terpesona dengan hamparan bunga-bunga cantik yang sedang bermekaran.


Berbagai macam bunga menghiasi taman belakang, Warna yang beragam menambah kesan cantik bila di pandang. Riana menghirup udara yang ada di taman itu.


"Masya Allah indahnya! Hmmm, harus sekali." Gumam Riana, dia memejamkan mata menghirup udara yang terasa segar oleh aroma bunga.

__ADS_1


Vino terus memandangi wajah cantik Riana dari samping, matanya tidak bisa lepas dari wajah cantik, nan manis itu.


Bulu mata lentik dengan bola mata yang sedikit besar, hidung mancung, serta bibir ranum tipis berwarna merah alami dan lesung pipi di sebelah kanan mampu menghipnotis siapa saja, tahi lalat yang berada di dekat dagu Riana menambah kesan manis di wajah cantik itu, dan tidak bosan bila di pandang mata.


Laras yang sedang berkutat dengan tanah dan tanaman hias tersenyum melihat tingkah Riana. Menurut dia Riana itu menggemaskan, polos, dan yang pasti terlihat sangat baik dan dewasa.


Vino mendekatkan pipi dia ke pipi Riana. "Kamu cantik dan wangi, sama seperti bunga itu," bisiknya, Vino memang tidak berbohong jika Riana sangat cantik, bahkan tubuhnya sangat wangi.


Riana memang pandai merawat diri, meski usianya masih 19 tahun dia suka merawat tubuhnya agar tetap harum. Menurut dia merawat diri merupakan salah satu kewajibannya sebagai perempuan dan yang pasti sebagian dari iman.


Riana tersenyum tulus, wanita mana yang tidak suka jika di katakan cantik dan wangi. Setiap wanita pasti ingin di katakan cantik dan wangi oleh orang lain. Menurutnya dua hal itu suatu kebanggaan tersendiri bagi para perempuan.


Coba kalian renungkan dan tanya pada diri sendiri wahai para wanita, apakah kalian suka di katakan cantik? apakah kalian ingin di katakan wangi? Jawaban saya iya. Bohong jika kalian tidak ingin cantik dan wangi, bohong jika kalian mengelak. Karena pada dasarnya wanita ingin selalu tampil cantik dan wangi di manapun mereka berada.


Jika ada di antara mereka yang bilang kamu jelek, bagaimana perasaanmu? Pasti kamu merasa tidak suka. Jika di antara mereka ada yang mengataimu bau, bagaimana tanggapan mu? Pasti kamu kesal dan marah. Tapi, jika di antara mereka ada yang bilang kamu cantik dan wangi, pasti hati kecilmu terasa senang, atau bahkan membanggakan diri sendiri.


"Eheemmm, mesra-mesraannya jangan di sini! Bikin gue iri saja," celetuk Iqbal dari belakang Vino.


Riana menundukan wajahnya malu, dia meremas rok karena gugup.


"Iisssh, kau ini ganggu saja, Bang. Gue lagi meresapi nikmat nya surga dunia," balas Vino tanpa memfilter ucapannya.


Riana mencubit perut Vino kesal.


"Awww, kenapa malah di cubit sayang?" Vino meringis sambil memegang perut yang kena cubitan.


"Ngomongnya di jaga, a!" Riana melototkan matanya kesal.


"Aku tidak salah! Yang aku bicarakan benar ko, mengecup itu memang surga dunia. Aduuhh!" Vino kembali mengaduh sebab Riana kembali mencubitnya, kali ini lengan Vino yang Riana cubit.

__ADS_1


"Sekalian pukul saja, Ri! Ni anak kalau ngomong emang suka asal jeplak." Cibir Iqbal pada Vino dengan mengompori Riana.


"Kalian ini," Laras menghampiri ketiganya. "Kamu juga, Vin. Bicara itu di saring dulu! Jangan asal mangap! Kecupan emang surga dunia. Tapi, harus tahu tempat juga! Jangan menunjukannya di depan abangmu yang jomblo itu." Laras pun ikutan bicara, sekali berucap dia menjatuhkan keduanya.


"Kenapa kalian menghakimiku sih? Sayang, mereka jahat sama aa," adunya kepada Riana sambil memeluk Riana.


"Lebay loe, jijik gue lihatnya. Dan kenapa Mama jadi ikut mengataimu?" Cebik Iqbal kesal, bergidik ngeri melihat tingkah adiknya.


"Karena kamu memang masih jomblo," ledek Vino masih memeluk Riana di depan Laras dan Iqbal.


Wajah Riana semakin memerah saja ketika Vino memperlakukannya seperti itu di depan keluarga Vino.


"Sudah, sudah! Mending kita masuk ke dalam saja!" Laras melepaskan Riana dari pelukan anaknya, dan membawa dia ke dalam.


"Eh, mau di bawa kemana istriku, Mah?" pekik Vino tidak terima di pisahkan dengan sang istri.


"Membawa dia kabur dari orang sepertimu!" ledek Laras.


"Bawa saja yang jauh, biar Vino tidak bisa menemukannya," timpal Iqbal ikut meledek sang adik.


"Siaaapp," sahut Laras dari dalam.


"Ck, Abang gak ada akhlak. Bukannya bantuin mencegah, malah ikut bahagia di atas penderitaan adiknya," cebik Vino kesal.


"Derita loe," sahut Iqbal lalu lari menghindari adiknya.


****


Maaf jika ada salah-salah kata๐Ÿ™ mohon untuk di koreksi kembali! ๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2