
Ani terus mondar mandir karena sang anak belum juga pulang, ibu anak dua itu terus melirik ke arah jam dinding melihat waktu yang ternyata sudah menunjukan jam 5 sore.
"Si teteh kemana, padahal udah sore belum juga pulang?" dalam hati Ani terus bertanya karena tidak biasanya Riana pulang telat, jika ada sesuatu pun selalu bilang lewat Keisya atau Deni dan Yusuf.
Setiap orang tua pasti akan merasa khawatir jika anak perempuannya telat pulang tanpa ada kepastian dan kabar.
Terdengar suara motor berhenti di pekarangan rumah, dengan segera Ani keluar melihat siapa yang datang.
"Ya Allah, teteh! darimana saja kamu? kenapa pulangnya telat? Mamah khawatir kamu, apa kamu tidak kenapa-kenapa? kalau bapak kamu tahu pasti beliau langsung mencarimu." Tanpa aba-aba Ani langsung melontarkan banyak bertanyaan ketika melihat Riana pulang.
"Maaf ini salah saya Bu, saya yang meminta bantuan Riana untuk membantu saya mengecek tugas para murid, ketika pulang kami kehujanan akhirnya kami berteduh dan melaksanakan ibadah dulu di masjid terdekat." Alvin menimpali ucapan Mama Ani karena takut beliau memarahi Riana.
Ani menoleh ke arah Alvin setelah mendengar jawaban pria itu, dia baru ngeh jika yang mengantarkan Riana adalah anak muda berwajah tampan. Ani fikir itu tukang ojek, makanya dia tidak terlalu memperhatikan dan fikirannya hanya tertuju kepada sang anak saja.
"Ehh, bukan tukang ojek ya? saya fikir kamu tukang ojek, maaf kan anak saya yang sudah merepotkan kamu, kamu minta maaf sama guru kamu!" ucap Ani menyuruh Riana untuk minta maaf.
"Iisssh, Mah. Seharusnya dia yang minta maaf sama aku! bukan aku!" Riana kesal karena ulah guru itu dia menjadi telat.
"Tidak apa, Bu." Saut Alvin dengan senyuman manis nya, dia merasa lucu saat Riana menggembungkan pipinya yang cemberut.
"Riana!" kata Ani penuh penekanan.
"Maaf." Riana mengucapkannya sambil berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Aduhhh, maafkan anak saya ya pak guru, maklumlah namanya juga masih labil."
"Enggak apa-apa, kalau gitu saya pamit dulu, Bu." Alvin berkata sambil memutarbalikkan motornya.
"Tidak mampir dulu, nge teh dulu atuh, pasti rumah kamu jauh."
"Terima kasih atas tawarannya, rumah saya sudah dekat kok, di ujung jalan sana." Alvin berkata sambil menyalakan stater motor nya.
"oalahh, tetangga toh. Ya sudah, hati-hati dan terima kasih sudah mengantarkan anak saya."
"Sama-sama, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Alvinpun melajukan motornya setelah mendapat jawaban salam dari Mamanya Riana.
****
Tring, suara notifikasi pesan masuk ke handphone Riana. Riana yang sedang menunggu adzan Maghrib pun menyempatkan untuk membukanya terlebih dulu.
Assalamualaikum.
Jangan lupa makan ya, dan jangan lupa jaga kesehatannya! terima kasih.
Lagi-lagi nama Vino yang mengirim pesan.
__ADS_1
"Apa mungkin Vino yang waktu itu?" gumam Riana berfikir jika Vino yang mengiriminya pesan adalah Vino yang tadi bersitegang dengannya. "Ah tidak mungkin, Vino kan banyak."
Riana menyimpan kembali benda pipih itu di kasur lalu dia mengambil Al-Qur'an membacanya sambil menunggu adzan.
****
Malam Minggu, malam yang seru bagi mereka yang sedang merindu untuk bertemu.
Malam Minggu, malam yang menyeramkan bagi mereka para jomblo setia.
Sebagian dari para remaja sangat menantikan malam Minggu ini, tapi tidak dengan Alvin yang masih sibuk berkutat dengan laptopnya.
Di malam Minggu ini Alvin begitu sibuk dengan laporan masuk tentang perkembangan supermarket yang ia kelola di kota J.
Suara dering telepon genggam mengalihkan konsentrasi, Alvin mengambil dan mengangkatnya. Dari sebrang telpon terdengar seseorang begitu cerewet dan kekeh untuk mengajak Alvin pergi keluar.
"Ayolah bro, ini itu malam Minggu, kita nongkrong lah, itung-itung menjernihkan fikiran. Apa kau tidak bosan di rumah terus berkutat dengan buku dan laporanmu?" Kata dia yang ternyata bisa menebak apa yang sedang Alvin kerjakan.
Alvin membuang nafasnya secara kasar.
"Baiklah, kau tunggu saja aku di tempat yang kau inginkan!"
"Ok, ku tunggu kau di dekat toko sembako pak Yanto! di sana ada tempat tongkrongan para anak muda."
Setelah mengiakan Alvin mematikan handphone nya bersiap ke tempat yang di berikan oleh temannya.
****
Riana yang sedang melayani pembeli menoleh ke orang itu.
"Malam juga a Rahmat."
Setiap malam Minggu, pak Yanto selalu membuka warungnya sampai pukul 12 malam karena malam itu biasanya banyak orang yang suka nongkrong atau yang ngeronda di pos dekat tokonya.
Pos kamling berada tepat di depan warung Yanto, di sebelah kiri pos ada dua pohon kersen dengan ranting yang menjulang ke pinggir meneduhkan jika di siang hari.
Di tengah-tengah antara kedua pohon itu terdapat kursi duduk panjang yang di sengaja di buat oleh warga untuk menjadi tempat tongkrongan, baik anak muda, bapak-bapak, atau emak-emak.
Di depan kursi juga di sediakan meja jika sewaktu waktu dari mereka memesan minuman atau makanan dari warung Yanto.
Sebenarnya warung Yanto bisa di bilang juga toko atau glosir. Kenapa seperti itu, karena menyediakan bahan-bahan sembako seperti gula, minyak,merbagai macam minuman, sabun dan lain sebagainya. Di sana juga menyediakan kopi seduh, mie instan seduh atau minuman lain yang ingin di seduh di situ.
"Pesen kopi sama roti coklat ya, tolong di antar ke situ ya!" kata Rahmat.
"Moduusss." Dengan tiba-tiba Deni dan Yusuf menimpali ucapan Rahmat, mereka berdua baru saja bergabung dan duduk di pos.
"Lagi berusaha," balas Rahmat, Ucok dan Jaka.
Yanto yang sedang duduk di dekat kasir hanya tersenyum menggelengkan kepalanya, dia sudah tidak aneh lagi terhadap anak muda satu ini yang dengan terang-terangan menunjukan rasa sukanya terhadap Riana.
__ADS_1
"Ri, aku pesen susu satu." Teriak Yusuf kepada Riana.
"Susu seduh apa susu kenyot?" timpal Deni tak kalah keras.
"Susu kenyot," balas Yusuf polos.
"Apa?" semuanya kaget mendengar perkataan Yusuf.
Tapi tidak dengan Yusuf dan Riana yang bingung dengan mereka.
"Kenapa kalian kaget begitu?" Riana bertanya setelah menyerahkan pesanan yang di pesan mereka lalu kembali masuk lagi. Tapi, ucapan mereka masih bisa di dengar karena jarak antara pos cukup dekat hanya terhalang jalan saja.
"kau gak salah ucap kan, Suf?" tanya Rahmat.
"tidak, aku memang suka susu kenyot." Balas Yusuf yang cuek dengan pertanyaan Rahmat.
"Waahh, tidak benar kau, Suf. masa kau suka yang di sukai bayi?" timpal Ucok
"Apa hubungannya?" tanya Yusuf bingung sambil mengenyot susunya.
Deni sudah menahan tawa.
"Suka ngenyot susu," kata Rahmat.
"Hah!" Yusuf terkaget, sekarang dia mengerti kemana arah pembicaraan mereka.
hahaha tawa Deni akhirnya pecah juga karena sudah tidak bisa menahan kelucuan yang tersedia.
"Ya ampun, Rahmaaatt!" Yusuf tepuk jidat mendengar penjelasan Rahmat. "Eh pe a, maksud ku itu, susu kotak yang ada sedotannya lalu saya tancapkan dan saya kenyot alias hisap alias di seruput, ngarti teu maneh?"
Deni semakin tertawa kencang melihat kelemotan Rahmat dan kawan-kawan nya.
"Ohhh, hehe urang salah atuh?" ucap Rahmat cengengesan.
"Salaaahhhhh," kata Deni dan Yusuf.
"hhuuuu dasar boloho," timpal Ucok dan Jaka.
"Maraneh ge sarua" kata Deni dan Yusuf secara bersamaan.
****
Ngarti teu maneh? \= Ngerti tidak kamu?
Urang salah atuh? \= Aku salah dong?
Dasar boloho. \= Dasar bodoh
Maraneh ge sarua \= Kalian juga sama
__ADS_1