
Riana menghampiri keluarga Vino setelah dia selesai mandi dan sedikit berdandan.
Vino yang melihat Riana berjalan berdecak kagum, dia terpesona akan kecantikan Riana. Jantungnya bertalu seperti bedug yang di pukul.
"Hhmmm."
Suara deheman mengagetkan Vino, dia menundukan wajahnya karena malu ketahuan oleh Yanto.
"Jaga matanya! nanti setelah halal kau bisa memandang wajah anakku sepuas nya!" celetuk Yanto menggoda.
Vino semakin memerah saja, sedangkan Riana menundukan kepalanya tersenyum tipis seolah menertawakan dirinya sendiri. Tapi itu malah di salah artikan oleh Yanto dan Bambang ketika mereka melihat senyum tipis Riana. Mereka menyangka jika Riana juga memiliki perasaan yang sama pada Vino.
Sebelum Riana bergabung, Yanto sempat kaget melihat kedatangan Bambang beserta anak dan istrinya, dan Bambang pun menjelaskan kedatangan mereka.
Ani yang duduk di samping Riana mengelus-elus punggung anaknya, dia tahu apa yang saat ini Riana rasakan.
Yanto duduk dekat Latif, Ani dan Riana berada di sebelah kanan, sedangkan keluarga Vino berada di hadapan Yanto.
Bambang sengaja datang ke rumah Yanto setelah Latif pulang sekolah agar berkumpul.
Sebenarnya ini rencana Laras yang sudah tidak sabar untuk segera melamarkan Rania untuk Vino.
Flashback :
"Mah, kenapa banyak barang hantaran seserahan? seperti mau lamaran saja!" ucap Vino melihat setumpuk barang bawaan yang sudah di kemas sedemikian rupa.
Laras yang sedang membereskan pun berhenti lalu menatap Vino.
"Ini memang untuk acara lamaran, Mama akan melamarkan Riana untukmu," jawab Laras tersenyum.
Deg!
"Me melamar!" pekiknya, Vino terkejut atas rencana sang Mama. Baru saja dia di tolak tapi Mamanya malah langsung bertindak sendiri.
"Mah, apa sudah siap?" tanya Bambang menghampiri, dia baru pulang dari kantor nya.
__ADS_1
"Sudah, Pah. Tinggal nunggu Vino bersiap lalu kita berangkat.
Vino semakin kaget, ternyata papanya juga ikutan.
"Papah juga ikut merencanakan ini?" tanya Vino melihat wajah orang tuanya secara bergantian.
"Iya, kata kamu, kamu nyuruh Papa melamarkan Riana untukmu. Makanya sekarang kita lamar ke sana!" jelas Bambang.
Vino bingung harus bicara apa.
"Tapi..."
"Cepat bersiap, Vin! Mama sudah bertanya kepada Riana jika dia hanya ingin di lamar ketika di hadapan kedua orang tuanya," ucap Laras bohong.
Vino yang sempat berfikir mendongak.
"Maksud Mama?"
"Riana tidak akan menerima lamaranmu jika kamu melamar di luar," jawab Laras kembali berbohong.
Deg!
Kesalah fahamanpun terjadi.
Wajah Vino kembali berseri, "Baik, tunggu sebentar! Vino bersiap dulu!" pekiknya sambil berlari ke kamar.
"Ada-ada saja," celetuk Bambang.
Laras memperhatikan Vino dengan tatapan berbeda, "πππππππ ππππ ππππππ βπππ’π πππππβπππ, ππππ ππππ’πππ πππ ππππ ππππ’, ππππ." πππ‘ππ πΏππππ .
Flashback end
****
"Baiklah,langsung saja pada intinya. Begini Yanto, kedatangan kita kemari tak lain dan tak bukan untuk melamar putrimu menjadikannya istri untuk anakku Vino," ucap Bambang.
__ADS_1
"Riana aku ingin menjadikan Kamu sebaik-baik perhiasan di dunia, yang setiap pagi hari selalu ada. Yang menjadi ujung dari perjalanan cintaku, maukah kamu menikah denganku?" sambung Vino mengutarakan niat nya di hadapan kedua orang tua Riana.
Riana meremas kuat-kuat tangannya yang ia taruh di pangkuan dia. Wajahnya seketika memerah, hatinya perih karena harus mengkhianati orang yang ia cintai dan ia tunggu, "πππππππ πππ’ ππ ππππ, πππ’ βπππ’π πππππβππππ‘π ππππ‘π ππ’," πππ‘ππ π ππππ.
"Bagaimana, Teh? apa kamu bersedia menikah dengan nak Vino?" tanya Bapak melihat wajah anaknya yang memerah.
Bibir Riana terasa berat ketika ingin berucap, hatinya ingin menolak pinangan ini, tapi dia juga terikat janji.
"Bismillahirrahmanirrahim, aku bersedia, Pak." Jawabnya lirih.
"Alhamdulillah," ucap semuanya tapi tidak dengan Ani.
Ani memegang tangan Riana, berusaha menguatkan.
Wajah Vino memancarkan kebahagiaan, tanpa dia sadari ada hati dan jiwa yang terluka.
"Kalau gitu, bagaimana jika kalian nikahnya setelah perpisahan sekolah?" usul Laras.
"Apa itu tidak terlalu cepat?" tanya Yanto.
"Lebih cepat lebih baik, jika kelamaan takutnya syetan lewat dan mereka bisa melakukan hal yang tidak-tidak," saut Bambang.
"Issh, aku tidak akan melakukan hal yang membuat kalian malu, Pah." Timpal Vino yang tidak terima akan perkataan Papanya seolah Vino anak yang kurang ajar.
"Papa hanya takut kalian khilaf, bukankah begitu Riana?" tanya Laras kepada Riana.
Riana yang menunduk mengangguk mengiakan.
"Baiklah, aku mengikuti baiknya saja," saut Yanto.
Ani langsung melirik ke arah Yanto, dia menatap tidak percaya akan keputusan suaminya itu.
"π΄ππ π΅ππππ π‘ππππ π ππππ ππππ ππππ πππ‘π π πππππ π‘ππππ’ππ βππ‘πππ¦π? πππ ππππππ π΅ππππ ππππβ ππππ¦ππ‘π’ππ’π πππππππβππ πππ?" πππ‘ππ π΄ππ.
Riana sudah pasrah, dia tidak mungkin untuk menolak jika Bapaknya sudah menyetujui semuanya. "π½πππ πππ π¦πππ π‘ππππππ π’ππ‘π’πππ’, πππ’ ππβπππ π¦π π΄πππβ. πππππππ πππ’ ππ ππππ," π’πππ π ππππ πππππ βππ‘π.
__ADS_1
****