
Deg... Riana mematung...
Dia teringat jika dia punya janji kepada kedua orang tuanya. Seketika dia melepaskan genggaman tangan Alvin. "Maaf, Pak." lirih Riana kembali berkaca-kaca.
"Maaf, maaf untuk apa?" Alvin menjadi tegang takut Riana menolaknya.
"Aku tidak bisa, aku tidak bisa menerima pinangan kamu." Riana menggelengkan kepala. Hatinya tiba-tiba saja sakit saat menolak lelaki di hadapannya.
Sedari dulu ia menunggu saat ini berharap bertemu pria yang ia cintai. Tapi sekarang setelah bertemu, ia kembali harus melepaskannya demi menepati janji kepada kedua orang tuanya.
"Kenapa? bukannya kamu juga menginginkan hal ini? atau sudah ada laki-laki lain yang kamu cintai?" cerca Alvin secara bertubi-tubi.
"Tidak ada sama sekali. Tapi aku beneran tidak bisa. Aku minta maaf." Riana berdiri ingin meninggalkan Alvin.
Namun tangannya di cekal oleh Alvin. "Jelaskan dulu yang sejelas-jelasnya, kenapa kamu menolakku? aku rela menunggu sampai detik ini karena aku percaya kamu takdirku. Dan kenapa sekarang kamu malah tidak mau menikah denganku?" Alvin berubah dingin, padahal jantungnya berdebar dan merasakan sakit atas penolakan Riana.
Riana menoleh ke belakang menatap sedih pria itu. "Aku sudah janji kepada kedua orang tuaku akan menerima seseorang dan seminggu lagi aku akan menikah. Maka dari itu aku tidak bisa. Maaf." lirih Riana dan tanpa di duga air matanya menetes.
"Ri, kenapa kamu harus berkorban untuk yang kedua kalinya? kita bisa bicara sama Bapak kamu dan membatalkan pernikahannya." Alvin juga menatap sedih wanita yang ada di hadapannya.
"Maaf, Kak. Aku lebih memilih orang tuaku karena ku yakin itu yang terbaik." Riana mepaskan cekalan Alvin, matanya memohon untuk melepaskannya.
Alvin mengendorkan cekalan dia. Dia tidak bisa memaksa Riana, orang tuanya lebih tinggi kedudukannya daripada dia.
"Baiklah, jika itu pilihanmu maka aku akan melepaskanmu dan aku akan berusaha melupakanmu. Sudah cukup selama ini ku menunggumu berharap bisa bersanding denganmu namun takdir berkata lain. Aku tidak ingin berharap terlalu dalam kepada sesuatu yang tidak pasti. Aku pergi untuk melupakanmu." Alvin terpaksa berkata seperti itu, dia merasa lelah harus terus berharap. Dia hanya manusia biasa yang kadang suka merasakan capek dan putus asa.
Riana mematung menatap kepergian Alvin tanpa sedikitpun mau mendengar kembali ucapannya. Air matanya meluncur semakin deras membasahi pipi putihnya. Dadanya terasa sesak bak terhimpit batu besar, dia tertunduk lemas di kursi.
Kedua tangannya di telungkupkan ke wajah, dia menangis sesegukan meratapi kisah percintaannya. "Kenapa harus seperti ini? kenapa di saat aku menemukannya dia malah pergi lagi. Ya Allah, rasanya dadaku sesak sekali. Aku mencintainya...Aku mencintainya...sebelum ku tahu wajahnya seperti apa. Hiks hiks hiks."
Hati Alvin begitu teriris perih melihat wanita yang ia cintai menangis pilu sendirian di bawah pohon mangga. Dia juga ikut meneteskan air mata. Alvin belum benar-benar pergi melainkan bersembunyi untuk memastikan Riana baik-baik saja. Tapi ternyata Riana semakin menangis tak terkendali membuat ia tak tega dan memutuskan untuk kembali lagi menemui Riana.
__ADS_1
"Kenapa kamu pergi untuk yang kedua kalinya, Kak? kenapa kamu harus hadir kalau hanya untuk pergi? Aku mencintaimu dari dulu sebelum ku tahu wajahmu, tapi sekarang setelah kita bertemu kenapa kamu begitu saja menyerah... Hiks...hiks...hiks mana janjimu? mana kesungguhan mu yang dulu kau ucapkan? hiks.. hiks.. hiks..."
"Sayang," panggil Alvin.
Riana yang mendengar panggilan Alvin mendongak. "Kak Vino."
Alvin berjongkok di hadapan Riana, dia mengusap air mata yang ada di wajah wanitanya, menatap penuh cinta wanita di hadapannya. "Aku akan memperjuangkan mu."
"Tapi..."
"Sssttttt..." Alvin menaruh jari telunjuknya di bibir Riana. "Tidak ada penolakan."
Tiba-tiba saja Riana memeluk Alvin. Alvin terkejut, namun ia juga membalas pelukan Riana dan mengusap punggungnya.
"Aku mencintaimu kak, Vino."
"Aku juga mencintaimu, kesayanganku. Sekarang kita ke rumah Bapakmu!" Ajak Alvin mengurai pelukannya lalu berdiri.
****
Semua orang menatap serius kepada pria tampan berahang kokoh yang ada di hadapan mereka.
"Jadi kamu mau menikahi putriku?" tanya Yanto menatap tajam Alvin.
Alvin sudah berbicara kalau dia ingin menikahi Riana secepatnya dan minta perjodohan Riana dengan pria pilihan orang tuanya di batalkan.
"Benar, Pak. Aku mencintainya dan ingin menjadikannya istriku terlebih dari apa yang pernah terjadi." Ucap Alvin mantap.
"Maaf, Nak Alvin. Riana sudah di jodohkan, dan lusa adalah hari pernikahannya."
"Apa?! secepat itu?" ucap kompak Riana dan Alvin.
__ADS_1
"Bukankah tadi Bapak bilang seminggu lagi? tapi kenapa sekarang bilang lusa?" Riana panik dan cemas, jantungnya tidak menentu takut Rencana Alvin di tolak.
"Orang tua calon suami mu ingin mempercepat pernikahan kalian takut anak lakinya khilaf." Kata Yanto melirik Alvin sebentar lalu menatap Riana yang kebetulan duduk di hadapannya dekat Alvin.
"Tapi, Pak...." belum juga selesai, Yanto sudah memotong ucapannya.
"Riana..!! Kamu sudah janji sama Bapak menerima berjodohan ini. Jangan buat malu Bapak, Ri. Janji adalah hutang yang harus kamu tepati." Yanto memperlihatkan wajah kecewa dan menghiba supaya anaknya mau.
Riana diam tak dapat bicara apapun, hanya air mata kesedihan yang berbicara. Dia menunduk meremas baju yang ia kenakan.
"Ri, kamu akan menolak perjodohan ini kan? tadi kita sudah sepakat untuk memperjuangkan cinta kita?" Kata Alvin menatap serius wajah Riana.
"Riana...!! Kamu mau jadi anak pembangkang? ini bukan kamu, Nak." Bentak Ani yang dari tadi memperhatikan.
Riana dan Alvin terkesiap, mendengar bentakan Ani. Riana semakin tak bisa berkata, jika Mama nya sudah membentak berarti dia sudah kelewatan batas.
"Bu, Pak. Jangan salahkan Riana. Aku yang ingin memperjuangkannya." Alvin tidak tega dan tentunya sakit melihat wajah ketakutan wanita yang ia cintai.
"Sekarang kamu pilih kami atau dia?" timpal Yanto memberikan pilihan.
"Pak, kenapa begitu?" Riana mendongak menatap tak percaya.
Yanto menatap kecewa, dan itu sukses membuat Riana mematung sejenak, lalu Riana berdiri dari duduknya.. "Maaf, Kak. Aku lebih memilih orang tuaku. Maaf." Kata Riana merasa bersalah kemudian meninggalkan para orang tuanya.
"Ri, jangan pergi, Ri..!! Bukannya kita akan memperjuangkan sama-sama, tapi kenapa kamu malah menyerah, Riana." Alvin panik dan ingin mengejar Riana masuk namun di tahan oleh Ani.
"Kami harap, Nak Alvin berlapang dada. Kalau memang kalian berjodoh maka akan Allah persatukan bagaimana pun caranya," ucap Ani menasehati.
Alvin menunduk, dia mengacak rambutnya prustasi lalu berdiri dan berpamitan kepada mereka. "Maaf, aku permisi dulu. Assalamualaikum," kata Alvin kemudian mencium kedua tangan orang tua Riana.
"Waalaikumsalam salam." Keduanya menatap Alvin. Batin mereka kerkata, "Maafkan kami."
__ADS_1