KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Vino?


__ADS_3

SMA PELITA BANGSA


Sekolahku merupakan salah satu sekolah favorit di kota ku, banyak orang yang ingin sekolah di sini. Akan tetapi tidak semua orang bisa masuk dengan mudah, mereka harus melakukan serangkaian tes tertulis terlebih dulu dan hasilnya pun menentukan kita akan lolos atau tidak.


Kaki ku melangkah masuk ke dalam sekolah, hari ini aku sedikit telat karena semalam aku harus lembur mengerjakan tugas sekolahku karena waktu pulang dari madrasah cukup malam. Saat sedang terburu-buru untuk masuk, aku tak sengaja menabrak punggung seseorang karena jalanku yang menunduk.


"Aduuhhh, maaf saya tidak sengaja," ucap Riana yang masih menunduk.


"Kalau jalan tuh pakai mata! masa saya segede ini masih tidak kelihatan?" jawabnya.


Riana mendongak, "Pak Alvin! Pak, dimana-mana jalan itu pakai kaki, kalau pakai mata jadi kebalik dong, Kepala di bawah kaki di atas.


Alvin melongo mendengar ucapan Riana, dia menyentil dahi Riana dan berkata, "Otak mu yang kebalik, maksud saya, matamu gunakan untuk melihat sekitarnya!"


"Aduh, sakit, Pak!" Riana meringis karena sentilan Alvin cukup keras, diapun mengusap-usap dahinya. "Ya Maaf, pak, saya beneran tidak sengaja, kalau gitu saya permisi dulu, Bapak Alvin yang terhormat."


Riana pun segera berlalu pergi meninggalkan Alvin, sambil matanya sesekali melirik ke arah jam tangan.


"Astaga!!" kata Alvin sambil menggelengkan kepalanya.


****


Dalam kelas


"Alhamdulillah," ucap Riana yang sudah duduk, tapi dia mengerutkan dahinya karena Keisya belum datang.


"Caca, kamu lihat Keisya gak?" tanya Riana pada teman yang ada di depannya.


"Aku tidak lihat, tapi kayaknya hari ini dia tidak masuk deh," jawab Caca.


"Kira-kira kenapa ya?"


"Katanya sih izin ke Jakarta selama dua hari."


"Oooh, makasih ya infonya."


"Sama-sama, ehhh, kamu kan teman sekampungnya kan, kenapa kamu malah tidak tahu?" tanya Caca bingung.


"Sebelumnya dia tidak memberitahukan ku, jadi akupun tidak tahu."


Caca manggut-manggut, tak lama kemudian bel masuk berbunyi dan mereka pun belajar hingga jam istirahat tiba.


****


Di kantin


Riana duduk sendirian di ujung bangku yang biasa mereka tempati, sesekali matanya mengecek handphone membuka sosmed dan memuliskan status nya di sana.

__ADS_1


_Tidak ada dia terasa sepi._


Begitulah kiranya status dia, lalu setelahnya ada inbox masuk.


Dia siapa? apakah dia itu pria?


Riana tak membuka pesannya, dia malah asyik memakan batagor kesukaan dia.


"Woooy, sendirian aja, dimana bebeb Keisya?" tanya Deni celingukan mencari keberadaannya.


"Iya nih, biasanya kalian selalu nempel kayak perangko," timpal Yusuf lalu duduk di samping Riana.


"Izin ke Jakarta," balas Riana.


Mereka berdua hanya ber oh ria.


Yusuf yang melihat batagor kuah milik Riana menjadi ngiler, dia menggeser mangkuk nya ke hadapan dia dan lalu memakannya.


"Suf, itu punya aku, malah kamu embat sih?" ucap Riana kesal.


"Hehe, minta sedikit, Ri," jawab Yusuf cengengesan.


"Dia mah kalau minta bukan sedikit tapi semuanya," ledek Deni.


"Beli sendiri atuh! jangan yang punya aku!" Riana mendorong-dorong tubuh Yusuf.


Jika dari jauh mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Dan ternyata, ada sepasang mata yang memperhatikan tingkah mereka, dia merasa tidak suka Riana di pegang pipinya apalagi orang itu manggil Riana sayang, hati nya mendadak panas.


Riana kesal dia melipatkan tangannya di dada, lalu dia berdiri dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Deni sambil ngengucek minumannya.


"pesan lagi, sekalian mau beli minumannya," jawab Riana cemberut.


"Aku nitip sayang, tapi kamu yang beliin ya!" ucap Yusuf dengan nada sedikit keras.


"Ck, gak modal lo," cibir Deni.


"Baiklah, tapi lain kali kamu yang teraktir aku! jangan aku mulu!" kata Riana sambil melengos memesan makanan dan minuman.


"Siaaappp," balas Yusuf.


Yusuf itu terkadang suka panggil Riana sayang, alasannya agar yang lain menyangka jika mereka pacaran dan agar tidak ada yang terlalu berani mendekati Riana, padahal mereka bertiga sepupu kandung. Yusuf dan Deni merupakan anak dari adik-adik pak Yanto.


Saat Riana kembali membawa minuman, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menyenggolnya dengan cukup keras, dia oleng dan minuman yang Riana bawa tumpah ke baju seseorang yang ada di depannya.


Byuuurrr

__ADS_1


"Astaga!!!" ucap seorang wanita yang dengan keras hingga mengundang orang untuk menoleh ke arahnya, termasuk Deni dan Yusuf.


"Lo punya mata tidak hah? lihat, baju gue jadi kotor gara-gara lo!" bentaknya dengan marah.


"Hei, cupu! jalan tuh lihat-lihat!" tubuh Riana di dorong oleh wanita yang tadi teriak dengan keras hingga mundur beberapa langkah, untung ada Yusuf yang cepat menangkapnya.


"Jangan main dorong dong mbak! lo punya sopan santun gak sih? cuman masalah sepele doang sampai segitunya!" ucap Yusuf, dia tidak terima jika Riana di kasari.


"Yang tidak punya sopan santun itu dia, beraninya dia numpahin minuman ke wajah gue!" saut Vino marah.


"Lo gak lihat, dia tadi di tabrak seseorang dari belakang! jadi dia gak sengaja numpahin minumannya," balas Deni ikut bicara.


"Vino, lo gak apa-apa, kan?" tanya Marisa sambil mengelap baju Vino, sementara Vino mendengus kesal dan menepis tangan Marisa.


Riana sempat kaget mendengan nama Vino, sebab nama itu sama dengan nama yang akhir-akhir ini sering mengirim pesan.


"Vino?" gumam Riana.


Vino ini anak pindahan dari Jakarta, dia juga anak pemilik yayasan ini. Kenapa di pindahkan? karena di Jakarta Vino merupakan anak yang bandel dan sudah sering mendapatkan skorsing. Maka dari itu Bambang memindahkan dia ke sekolahnya dan Vino di tempatkan oleh papahnya di kelas 12 C.


"Lo harus tanggung jawab, gue gak mau tahu lo harus jadi suruhan gue selama sebulan!"


"Maksud lo apa nyuruh Riana tanggung jawab? lo fikir dia kacung lo hah!" bentak Deni tidak terima, dia sudah siap pasang badan untuk melindungi sepupunya.


Riana memegang pundak Deni, lalu dia menggelengkan kepalanya seolah berkata jangan.


Rianapun menghampiri Vino dan meminta maaf sambil mengatupkan tangannya di dada.


"Maaf ya, aku benar-benar tidak sengaja" ucap lirih Riana dengan sopan dan lembut sambil menunduk.


Deg!


Vino tertegun, suara Riana sungguh lembut dan enak di dengar di telinga Vino.


"Apapun akan ku lakukan asal kamu mau memaafkan ku," lanjut Riana.


"Ri!! apa yang kau lakukan? kamu gila ya! gue tidak rela lo jadi kacungnya!" sela Yusuf.


"Terima saja permintaan dia, dan lo bisa kerjai dia sepuas lo!" bisik Candra pada Vino teman sebangku Vino.


Sudut bibir Vino melengkungkan senyuman tipis, "Baiklah, lo harus turutin semua perintah gue! sekarang lo buka kerudung lo dan elap baju gue!" perintah Vino.


"what!!!"


****


Kira-kira apa yang akan terjadi? apakah Riana akan melakukan apa yang di perintahkan Vino?

__ADS_1


Pantengin terus ya di bab selanjutnya!


__ADS_2