
Selama dua Minggu ini Alvin di sibukan dengan proyek pembuatan supermarket nya. Dia sendiri yang langsung turun tangan menangani segalanya. Alvin tidak ingin kecolongan lagi, sehingga dia memfokuskan fikirannya ke pekerjaan. Bahkan dia sendiri lupa tentang Riana karena terlalu fokus ingin segera cepat selesai.
Alvin menunjuk ini itu kepada para pekerja, dia juga ikut memandori para pekerja, bahkan dia juga tidak segan ikut menjadi kuli bangunan.
"Pak, saya mau pesan bahan bangunan," ucap Alvin.
Sekarang Alvin berada di toko material untuk membeli kebutuhan bahan bangunannya yang kurang.
"Mau pesan apa mas?" tanya penjual.
Alvinpun menyebutkan satu persatu bahan yang ingin dia beli, di mulai dari cat tembok, semen, bahan untuk langit-langit atas, dan bahan lainnya yang menurut dia penting.
"Tolong di antar ke alamat ini ya!" Alvin menyebutkan alamat tempat di bangunnya supermarket di daerah Depok.
"Baik mas, dengan segera pihak kami akan mengantarkan pesanan anda tepat waktu."
"Saya tunggu!" balas Alvin.
Kemudian dia pamit, lalu meninggalkan tempat itu dan dia langsung meluncur ke Bank untuk mengambil uang para pekerja, lebih tepatnya untuk meng gaji karyawan nya.
****
Di sebuah ruangan terlihat dua orang yang begitu serius memperhatikan setiap angka di buku laporan dari Bimo.
"Vin, apa kamu tidak lelah turun tangan langsung?" tanya Stella.
Mereka sekarang sedang menghitung jumlah gaji untuk setiap karyawan selama dua Minggu. Setiap proyek bangunan, mereka di gaji dua Minggu sekali.
"Lelah iya, capek pasti, pusing juga sering, tapi aku harus memastikan semuanya Ka. Aku ingin pembangunan ini cepat selesai karena ada hal lain yang ingin aku lakukan."
"Apa?" tanya Stella penasaran, dia menatap adiknya penuh tanya.
Alvin tersenyum ketika matanya menatap sang Kaka. "Melamar Rania," jawabnya.
"Seserius itu?"
"Iya, aku sudah janji akan datang melamar setelah acara perpisahan kelas 12. Makanya saat ini aku berusaha untuk menyelesaikan urusanku di sini. Dan kata om Bambang, acara perpisahannya satu Minggu lagi, aku juga akan datang."
"Hmmm, gitu. Apa kamu perlu bantuan kita?"
"Untuk saat ini belum, aku sendiri dulu yang akan melamarnya secara pribadi. Setelah semuanya pasti, baru aku akan memerlukan bantuan kalian."
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Tapi kamu jangan sungkan, jika kamu perlu apapun hubungi Kaka!"
"Siap, pasti aku akan kasih tahu," balas Alvin.
****
Alvin, Stella, dan Bimo, sudah tiba di lapangan. Mereka mengumpulkan seluruh pegawainya yang berada di lapangan untuk di gaji.
__ADS_1
Alvin membagikan satu persatu amplop coklat ke mereka, dan mereka sangat berterima kasih karena Alvin selalu memberikan mereka bonus.
"Terima kasih, pak Alvin," ucap salah satu dari mereka.
"Sama-sama," jawab Alvin.
Setelah semuanya beres, Alvin berencana untuk pulang ke Jakarta. Tanpa mereka sadari, setiap gerak geriknya di perhatikan oleh seseorang.
"Kau harus mati," gumamnya penuh amarah. Dia berlari ke arah Alvin sambil memegang sesuatu di tangannya. Dan tiba-tiba....
Jlebb....
"Mati kau!" pekiknya sambil menusukan benda tajam ke perut Alvin.
Alvin memegang perutnya, melihat ke benda yang tertancap lalu melihat ke arah pria yang menusuknya.
"Alviiiin!!!!" teriak Stella, dia membekap mulutnya karena kaget.
Bimo dan yang lain segera menangkap orang itu.
"Hahaha mati kau, gara-gara kau bapakku masuk penjara, gara-gara kau ibuku sakit. Ini balasan untukmu," bentaknya penuh amarah.
"Kau siapa hah?" bentak Bimo sambil memegang tangan dia.
Stella segera menangkap tubuh Alvin yang ingin tumbang. Air matanya sudah keluar ketika melihat darah segar keluar dari perut Alvin.
"Toloong! tolong bawa adikku ke mobil!" teriaknya minta tolong kepada para pekerja di sana.
****
Stella terus berlari mengikuti para suster yang mendorong brangkar berisikan Alvin.
"Bertahanlah, Vin! kamu pasti kuat!" ucap Stella di sela tangisnya.
Ketika Stella ingin ikut masuk, dia di hadang oleh suster tidak di perbolehkan masuk.
"Maaf, Bu. Anda di larang masuk ke dalam! tolong tunggu di luar saja!" ucap suster.
"Tapi sus."
"Ini sudah prosedur rumah sakit, Bu."
Mau tidak mau Stella mengikuti apa yang suster katakan.
****
Bimo membawa tersangka ke kantor polisi, saat ini orang itu sedang di interogasi oleh Bimo dan anggota polisi.
"Siapa kau? kenapa kau mau membunuh bos kami?" tanya Bimo, dia ingin segera mengetahui apa motif di balik penusukan Alvin.
__ADS_1
"Itu balasan yang setimpal untuk bos mu, hahaha biarkan dia mati!" pekiknya penuh amarah.
"Saya bilang siapa kau?" Bimo mencekal bajunya, menatapnya tajam penuh intimidasi.
"Pak, tenanglah! biarkan pihak kami yang bertanya!" cegah polisi.
Bimo menghempaskan cekalannya secara kasar.
"Saya tanya baik-baik! jika kau jujur, saya akan mengurangi masa hukumanmu!" tanya Bimo sekali lagi setelah ia mulai bisa menguasai amarahnya.
Lalu Bimo duduk di hadapan pria itu.
"Cuiiihh, sampai kapanpun saya tidak akan buka mulut!" jawabnya sinis.
"Apa kamu tidak berfikir tentang keluargamu?" tanya komandan polisi.
Pria itu seketika terdiam, dia membenarkan ucapan sang polisi. Fikirannya kini tertuju kepada sang ibu yang sedang sakit.
Rupanya Bimo bisa menyimpulkan arti keterdiamannya.
"Jawablah! siapa kau, dan siapa yang menyuruhmu! jika kau menjawab, pihak kami akan memberikan keringanan untukmu!" desak Bimo menatap tajam padanya.
Setelah berkutat dengan fikirannya, akhirnya dia mau buka mulut juga.
"Saya anak dari mandor yang kalian penjarakan, ibu ku sakit mendengar suaminya di penjara. Bapak bilang dia tidak bersalah, dia hanya di fitnah oleh bos mu. Saya tidak terima Bapak saya di perlakukan tidak adil oleh kalian!" jawabnya tegas.
Sekarang Bimo mengerti akar permasalahannya.
"Kami tidak mungkin memperkarakan seseorang jika orang tersebut tidak melakukan tindakan kriminal. Apa kau tahu apa yang Bapakmu lakukan di belakang kalian?" tanya Bimo memastikan.
"Kami hanya tahu Bapak orang yang baik dan bertanggung jawab pada keluarganya."
"Sudah ku duga," gumam Bimo. "Asal kau tahu, Bapakmu korupsi di perusahaan kami, dan uangnya dia pakai untuk bermain bersama wanita bayarannya," jelas Bimo.
"Jangan asal tuduh kau! Bapakku tidak mungkin seperti itu!" ucapnya marah.
Polisi hanya mendengarkan mereka, dia akan bertindak jika suasana tidak terkendali.
Tanpa banyak ucap, Bimo menyuruh seseorang membawakan bukti-bukti ke jahatan mandornya.
Tidak berselang lama orang suruhannya datang membawa apa yang di minta Bimo.
"Lihatlah? ini bukti kejahatan Bapakmu!" Bimo menyodorkan semua buktinya kepada anak mandornya.
Dia terus melihat, memperhatikan, dan meneliti setiap apa yang ia lihat.
"Ini tidak mungkin," jawabnya lesu.
"Itu kenyataannya, dan kau sudah salah menilai Bapakmu. Dia mengkhianati ibumu, dan dia telah korupsi uang gaji karyawan."
__ADS_1
Pria itu tidak bisa berbuat apa-apa, dia menyesal tidak mencari tahu dulu masalahnya seperti apa. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan semuanya sudah terjadi, sekarang dia harus menerima hukuman atas apa yang telah dia perbuat.