
‘’Lelaki yang sungguh mencintaimu karena Allah pasti tak ‘kan berniat untuk mengajakmu berbuat maksiat dan jika dia menginginkanmu pasti dia akan mendatangi ayahmu, lalu mengajak mengabadikan cinta’’
****
‘’Monik! Tunggu!’’ Aku menoleh pada sumber suara yang tengah memanggilku.
Lelaki itu? Kok tumben ya.
‘’Ada apa, Ndre?’’ Aku menghentikan langkahku seketika. Aneh, wanita lain tak pernah didekatinya. Jangan untuk mendekati, diajak bicara oleh para Siswi saja dia sahut dengan dingin. Kenapa denganku malah seperti ini? Ah, jangan-jangan...
Dia yang berlari dengan napas terengah-engah pun sampai di depanku.
’’Kamu mau pulang?’’
Aneh nih lelaki. Ya, tentulah setelah pulang sekolah aku langsung pulang ke rumahku. Aku masih bergeming sembari memandanginya. Duhh! Dia begitu tampan ternyata. Ya, aku baru menyadari hal itu. Pantas saja para Siswi di sekolah ini tergila-gila padanya.
‘’Monik, kok diam sih?’’ Dia mampu membuyarkan lamunanku.
‘’E—eh iya, Ndre. Aku mau pulang langsung,’’ sahutku terbata sembari memperbaiki kerudungku.
‘’Jangan dulu. Temani aku makan siang yuk!’’ Dia memainkan matanya, melirikku.
Aku jadi salah tingkah,’’Hemmm….Gimana ya.’’ Seketika jantungku berdegup lebih kencang, tetapi aku mencoba untuk menenangkannya dan menarik napasku perlahan. Cewek di kelas saja tak pernah diperlakukan begini oleh Andre si lelaki dingin.
‘’Kamu mau traktir aku?’’ tanyaku. Malah tak menjawab pertanyaannya. Dasar aku! Kalau yang gratis itu pasti nomor satu.
Dia tampak tengah berpikir. ’’Maulah. Yuk!’’ ajaknya.
‘’Mumpung cuman dekat. Kita jalan kaki aja, nggak apa-apa kan?’’
Duh, dasar Andre! Dikiranya aku ini tak pernah jalan kaki.
‘’Ya udah deh. Nggak apa-apa.’’ Sebenarnya aku maunya naik motor sport sih. Tapi karena warungnya dekat dengan sekolahku. Ya, aku menuruti saja kemauannya.
Aku dan Andre bergegas melangkah menuju warung. Sesekali aku mencuri pandangan. Baru kali ini aku mengamati wajah tampan Andre. Seperti mimpi di siang bolong rasanya. Ah, kurasa hanya aku saja yang diperlakukan seperti ini oleh lelaki yang bernama Andre.
"Monik, Monik. Andre baru kayak gini aja kamu udah seneng banget. Ingat, jangan berharap lebih," gumamku dalam hati yang mengingatkan diri sendiri.
Tak berselang lama kami sudah sampai di warung.
Kulihat masih ada beberapa siswa-siswi yang mengobrol sembari makan siang diiringi canda tawa. Tetapi tak seramai ketika jam istirahat. Mungkin karena sudah jam pulang. Tentu mereka lebih memilih makan siang di rumah atau di warung luar sekolah.
Aku dan Andre bergegas menghenyak di kursi, Andre memandangiku membuat aku salah tingkah.
‘’Kenapa tatapan Andre ini menurutku aneh ya?’’
‘’Tapi….Aku senang ditatapnya begini. Jantungku mau copot rasanya. Duhh!’’
‘’Hei! Kenapa melamun gitu, Monik?’’ Dia melambaikan tangannya.
‘’E—enggak kok, Ndre,’’ kilahku.
‘’Ya udah deh. Kamu mau pesan apa?’’
‘’Aku terserah aja.’’
‘’Terserah gimana sih? Ntar kamunya nggak suka lagi.’’ Dia mengernyitkan kening.
Walau sedang seperti itu, ketampanannya tak hilang sedikit pun. Ahh! Dasar aku! Ya, bohong rasanya jika aku tak tergoda dengan ketampanan seorang Andre. Bahkan di sekolah, dia adalah lelaki rebutan para wanita, apalagi di kelas. Tetapi kini pada mundur begitu saja, karena Andre menolak dan mengacuhkan, membuat mereka jenuh untuk mengejar.
Hanya Alisya yang betah untuk mengejar cintanya Andre, dia terus saja melakukan seribu cara demi mendapatkan perhatian dari seorang Andre. Dan berharap lelaki itu akan menjadi kekasihnya. Namun, nihil. Andre malah acuh dan tak tergoda. Kini? Kenapa lelaki itu malah seperti mendekatiku? Cewek yang lain di sekolah yang mati-matian ingin mendekati saja tak bisa. Eh, sedangkan aku? Malah dia sendiri yang mendekatiku. Memang kalau rezeki tak kan ke mana.
‘’Aku nurut aja.’’ sahutku sembari memandangi dua orang siswa-siswi yang tengah romantisan. Mereka makan berdua? Hah. Jadi kepengen deh. Ternyata Andre tahu kalau aku tengah memperhatikan pasangan muda yang tengah romantis.
‘’Woi, Monik! Kenapa? Kamu mau seperti itu juga, hah?’’ Dia terkekeh memandangiku. Ah, dia tahu saja. Seketika mukaku bak kepiting rebus tetapi aku berusaha untuk menyembunyikannya.
‘’Apaan sih, Ndre. Buruan pesan! Aku mau pulang nih,’’ kesalku. Berusaha untuk bersikap biasa saja. Padahal jantungku terus saja berdisko hebat.
‘’Iya iyaa.’’ Dia bergegas beranjak dari duduknya dan memesan makanan untuk kami.
Tak berselang lama dia kembali dia duduk kembali.
’’Kamu cantik banget, Monik.’’
Jleb! Jantungku berdegup kali ini lebih kencang dan pipiku sekarang mungkin seperti kepiting rebus. Dan aku tersipu malu.
’’Ka—kamu ada-ada aja deh, Ndre."
‘’Aku serius, Monik.’’ Dia makin memandangiku. Napasku semakin sulit diatur. Untung pelayan warung segera datang membawa pesanan itu. Membuat aku bisa bernapas lega.
"Makasih udah menyelamatkan hidupku, membuat aku bisa bernapas lega," gumamku dalam hati.
__ADS_1
‘’Permisi, Mas, Mbak!’’ Pelayan warung menyuguhkan makanan yang dipesan oleh Andre.
Mi ayam bakso? Bukannya harga Mi ayam bakso ini lebih mahal. Karena setahuku makanan ini begitu favorit dan enak sekali di sekolahku. Dan aku juga pernah mendengar sahabatku Ayu bercerita. Katanya ada mi ayam bakso di warung sekolah, yang rasanya sungguh enak membuat ketagihan membeli dan pengunjungnya pun ramai setiap hari. Itu yang kudengar dari sahabatku. Karena memang aku tak pernah membeli mie ayam bakso ini sekali pun.
Uang jajanku yang terbatas membuat aku membatasi apa yang akan kubeli. Eh, lebih tepatnya aku memang tak suka jajan banyak. Walaupun Mama dan Papa memberiku uang lebih. Aku lebih suka menyimpannya untuk keperluan mendesak seperti, beli buku, atau pun keperluan lainnya. Aku tipe anak yang tak suka sering minta uang jajan ke orang tua, walaupun kedua orangtuaku bisa dibilang banyak uang. Dan setiap pagi aku hanya suka membeli nasi goreng di kantin sekolah langgananku.
Andre yang menuangkan cabe dan saus seketika memandangiku. ’’Monik, kok malah melamun sih? Tuh baksonya keburu dingin loh,’’ tunjuknya.
‘’Berapaan harga mi ayam bakso ini, Ndre?’’ tanyaku yang tak menjawab pertanyaan lelaki di depanku. Dia mengerjap pelan.
‘’Kok kamu malah nanya harga? Aku bukan penjual mi ayam bakso.’’ Dia terkekeh.
‘’Ihh..Orang malah serius dia bercanda!’’ ketusku.
‘’Ya. Jangan ngambek gitu dong,’’ ucap Andre pelan.
‘’Tuh, keburu dingin. Makan dulu.’’
‘’Iya iya!’’ jawabku. Bergegas kuambil kecap, saus dan cabe kutuangkan ke mangkok yang berisi mi ayam bakso. Seketika langsung kusantap.
‘’Ahh, pedaaasss!’’ Aku mengibaskan tanganku. Mungkin kebanyakan cabe yang kutaburkan. Jujur saja, aku tak suka banyak cabe dan tak tahan yang namanya pedas. Mungkin karena salah tingkah memandangi lelaki yang selama ini kuimpikan, membuat aku banyak menaburkan cabe. Ah, aku tak sadar.
Seketika Andre terkekeh.
"Dasar Andre! Bukannya ngebantu ambilin air putih kek!" batinku merasa kesal.
Dan tak lama kemudian, jus pesanan Andre pun tiba.
‘’Silakan Mbak, Mas!’’
Aku langsung bergegas mengambil jus dan menyeruputnya.
‘’Kamu itu lucu deh, Monik.’’ Dia terkekeh sembari menyuap mi ayam bakso yang tersisa di mangkok itu.
‘’Lucu? Aku kepedesin dibilang lucu. Kamu aneh!’’ ketusku.
‘’Jangan begitu dong, Monik. Aku ketawa aja melihat wajahmu itu loh,’’ jawabnya lembut. Dan tak hentinya terkekeh.
"Orang kepedesin dibilang lucu. Aneh nih lelaki!" batinku sangat kesal. Hanya tercipta keheningan di antara kami. Aku mencoba mencuri pandangan, entah kenapa rasa kesalku spontan hilang begitu saja. Ah, mimpi apa aku semalam ya? Dia beralih menatapku.
‘’A—aku sebenarnya mencintaimu, Monik."
Jantungku berdegup tak karuan. Untung aku selesai makan mi ayam bakso, jika belum. Pasti akan tersedak dibuatnya.
’’Kamu mau kan jadi pacarku?’’ Kali ini dia menggeser posisi duduknya dan memegang jemariku. Sontak membuat siwa-siswi memandangi kami dan terpenganga dibuatnya. Seorang Andre bintang sekolah dan diincar para cewek di sekolah, malah lebih memilih aku. Andre malah tak peduli dengan tatapan orang-orang. Aku terdiam seketika dan seperti mimpi rasanya.
"Sebenarnya aku udah lama memendam perasaan ini," imbuhnya yang membuat aku makin ternganga, jika ada nyamuk yang lewat pasti akan masuk ke mulutku. Untung saja tidak ada. Eh, by the way, sejak dulu dia punya rasa untukku? Ternyata aku tak peka. Dasar aku!
"Aku harus jawab, sebelum aku menyesal," batinku.
‘’A—aku juga mencintaimu,’’ jawabku dengan terbata dan mukaku pun bak kepiting rebus.
‘’Jadi kamu mau menerimaku?’’ tanya Andre kembali sembari menatapku lekat. Makin jelas olehku wajah tampan Andre. Membuat aku menggeser posisiku sedikit.
‘’Aku juga mencintainya, bahkan sejak kelas 1 SMA. Kapan lagi aku akan merasakan manisnya pacaran coba."
‘’Monik,’’ panggilnya kembali yang berhasil menambah degup jantungku. Dan masih memegang jemariku yang sedingin es di kulkas.
‘’I—iya, Ndre. Aku mau.’’ Aku mengangguk secepatnya, walau dilanda rasa gugup.
‘’Terima kasih, Sayang.’’ Dia mengecup jemariku. Mata siswa-siswi tak berhenti memandangi keromantisan kami, namun aku dan Andre tak peduli itu.
"Tuh, si Andre ternyata suka sama si Monik. Pantesan aja dia ngecuekin cewek-cewek cantik yang dekat dengan dia!"
"Duuh, mereka udah resmi pacaran dong. Air mana air, aku kepanasan!"
"Kok bisa-bisanya Andre suka sama si Monik ya. Lebih cantikan aku malahan!"
"Lah, Monik kan kaya raya. Satu level-lah sama si Andre."
"Iya juga ya."
Begitu banyak terdengar olehku ucapan yang dilontarkan oleh mereka. Aku tak ambil pusing. Bodoh amat.
Aku pun hanya tersipu malu memandangi wajah tampan lelaki yang sudah resmi jadi kekasih hatiku detik ini juga.
‘’Kamu cantik banget. Kamu berbeda. Makanya aku sangat menyukaimu."
Tak hentinya pengunjung warung ini memandangi kami, membuat Andre tersenyum dan merasa bangga.
‘’Kamu bisa aja membuat hatiku berbunga,’’ jawabku. Lalu menyeruput jus lemon yang tersisa.
__ADS_1
‘’Aku serius loh, Sayang.’’ Bibirnya manyun.
‘’Iya. Aku percaya."
‘’Nah, gitu dong.’’ Dia tersenyum dan menyeruput jus yang masih tersisa.
‘’Aku ke kasir dulu ya. Kamu tunggu di sini aja!’’ titahnya bergegas melangkah menuju kasir. Aku mengangguk lantas tersenyum.
Hari ini hatiku sungguh berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Seseorang yang selama ini kucintai, ternyata punya perasaan yang sama terhadapku dan menyatakan perasaannya padaku. Bagaimana aku bisa menolak coba? Ahh! Andre begitu tampan dan dia pun tak pelit. Apalagi dia adalah lelaki yang diincar para cewek di sekolah, namun ternyata punya rasa untukku dan memilih aku dibandingkan cewek lainnya.
Sungguh idaman para wanita. Semua Siswi di sekolah mendambakannya untuk jadi kekasih, bahkan mengejar-ngejarnya, tapi Andre tak mau. Sekarang, nasib baik berpihak kepadaku. Eh, bagaimana kalau Andre tertarik sama cewek-cewek cantik di sekolah nantinya, kan kita tak tahu. Tidak! dia hanya boleh mencintaiku saja. Duh! Sungguh mabuk kepayang aku hari ini.
‘’Kok senyam-senyum sendiri?’’ Tiba-tiba dia datang dan kembali duduk.
‘’Aku bahagia jadi pacarmu.’’
‘’Aku pun bahagia, Sayang."
Ya ampun. Aku lupa. Kan dari tadi belum pulang ke rumah. Kulirik benda yang melingkar di tanganku ini.
‘’Pukul 13.25?’’ Itu artinya sudah lama aku nongkrong di sini dan azan zuhur pun sudah lama berkumandang. Mama dan Papa pasti marah jika mereka tahu kalau aku tak melaksanakan solat hari ini.
‘’Kenapa, Sayang? Kamu baik-baik aja?"
"Atau kamu mau pulang?’’
Aku mengangguk.
’’ Mama dan Papa pasti khawatir. Kita pulang dulu, Sayang.’’
‘’Iya. Biar aku anterin kamu, Sayang.’’ Dia menenangkanku.
Kami pun bergegas melangkah untuk keluar dari warung sekolah. Menuju tempat di mana motor Andre diparkirkan.
Dia menghidupkan mesin motornya. ’’Yuk naik, Sayang. Hati-hati ya!’’ Duhh! Aku mimpi apa semalam ya?
***
Kendaraan berlalu lalang saling sapa. Aku menghirup udara yang begitu segar. Sungguh bahagia rasanya diriku. Angin berhembus menerbangkan kerudungku dan aku begitu bahagia bergoncengan dengannya. Membuat lupa akan segalanya. Tak berselang lama kemudian hampir tiba di dekat rumahku.
‘’Ndre. Aku di sini aja ya."
‘’Kenapa? Kan belum sampai di rumahmu, Sayang.’’ Ya, dia tahu di mana letak rumahku. Karena dulu dia pernah membezukku ketika sedang sakit bersama teman sekelas.
‘’Aku takut kena marah. Di sini aja. Aku nggak apa-apa kok, Sayang.’’
Ya, aku takut jika kedua orangtuaku mengetahui hubunganku dengan Andre. Kuyakin beliau tak kan memberi izin untuk berpacaran. Nanti malah aku yang dimarahi sama beliau.
‘’Tapi aku takut kamu kecapek’an, Sayang.’’ Andre mematikan mesin motornya. Aku turun dari motor itu dengan pelan. Sungguh perhatian dan sayang sekali pacarku ini. Berjalan kaki yang jaraknya dekat saja dia tak memperbolehkan. Duhh! Beruntungnya aku.
‘’Dekat kok, Sayang. Tuh di persimpangan itu masuk ke dalam. Nah, sudah sampai di rumahku. Kamu ingat kan?’’
"Iya, aku masih ingat kok." Dia tertawa pelan.
‘’Nanti kamu kecapek'an, Sayang. Aku nggak mau kamu kenapa-napa,’’ lirih kekasihku yang masih duduk di motor kesayangannya. Dia memandangiku.
‘’Nggak kok. Percayalah. Kan cuman dekat.’’
‘’Kamu yakin, Sayang?’’
Aku mengangguk.’’Ya udah. Kamu hati-hati ya. Jangan lupa makan dan istirahat. Aku nggak mau kamu kenapa-napa, Sayang.’’ Huh! Membuat hatiku luluh dan tubuh ini lemas seketika, apalagi persendianku pun terasa sangat lemas dibuatnya. Andre memang bisa meluluhkan hatiku. Memang lelaki idaman.
‘’Iya, Sayang. Makasih ya. Kamu juga, jangan lupa makan dan istirahat."
‘’Iya, Sayang. Pasti dong.’’ Dia mengacungkan tangannya. Dan mengedipkan sebelah mata. Membuat aku semakin klepek-klepek sama dia.
‘’I love you.’’
‘’I love you too.’’
‘’Aku pamit dulu ya.’’ Dia melambaikan tangan, lalu manghidupkan mesin motornya.
Lalu bergegas mengendarai motor besar itu.’’Hati-Hati, Sayang.’’
Dia menoleh lalu tersenyum, seketika hilang dari pandanganku.
‘’Aku beruntung memilikinya."
Bersambung.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus.
__ADS_1
Instagram: n_nikhe❤