
‘’Ma, Mama kenapa? Apa yang terjadi sama anak kita?’’ lelaki yang tiga puluh delapan tahun menemaniku itu menghampiri aku yang masih menangis dengan sesegukan sembari bersandar di dinding. Dia spontan memelukku.
‘’Mo—Monik, Pa,’’ lirihku, nyaris tak terdengar olehnya.
‘’Kenapa dengan Monik, Ma?’’
‘’Dia depresi kata Dokter. Dan sejak tadi dia menangis nggak jelas dan mengamuk, apalagi setelah mendengar nama lelaki brengsek itu.’’
Membuat suamiku melepaskan pelukannya pelan, tampak dari wajahnya yang begitu berubah. Dia mengusap mukanya dengan kasar.
‘’Astaghfirullah!’’
‘’Lelaki itu berani ke sini menampakkan mukanya? Kenapa Mama nggak katakan sama Papa?’’ tangannya tampak mengepal dan rahangnya mengeras. Aku menyeka air mataku dengan kasar.
‘’Bukan dia, Pa. Tapi Mamanya yang ke sini,’’ kataku pelan.
Ya, dia tak tahu siapa sebenarnya mama Andre. Jika dia tahu bahwa mama Andre itu adalah Karni, pasti akan membuat suamiku makin menyimpan kebencian dan dendam pada wanita itu. Apalagi setelah kejadian beberapa puluh tahun nan lalu.
‘’Hah? Mamanya? Ngapain dia ke sini?’’
‘’Dia mau menghina anak kita? Setelah semuanya dilakuin oleh anaknya!’’
‘’Katanya dia ke sini mau ngelihat bayi Monik dan juga ingin meminta ma’af,’’ sahutku kemudian.
‘’Lalu kamu percaya begitu saja, Ma?’’ dia tampak makin marah, bergegas bangkit dan berkacak pinggang dengan muka memerah.
Lelaki yang selalu menampakkan senyuman dan kasih sayang kepadaku serta Monik. Kini hanya kebencian dan kemarahan yang ada di sorot matanya. Dia tipe lelaki yang jarang sekali marah. Bahkan selama aku hidup dengannya hanya dua kali dia marah besar seperti ini, ketika tahu Monik hamil dan saat ini. Ya, dia lelaki yang sengat berbeda dari yang lainnya. Tak pernah sekali pun dia membentakku. Jangankan membentak, mengeluarkan kata-kata yang membuat aku sakit hati atau pun sedih saja dia tak pernah.
‘’Pa, bagaimana aku mau percaya setelah apa yang dilakuin anaknya sama Monik, anak kita.’’
Mataku tertuju pada parkiran mobil. Apa aku salah lihat?
‘’Mau apa lelaki brengsek itu!’’ batinku.
Jangan sampai papa melihat lelaki yang telah menghamili Monik. Aku khawatir papa akan melayangkan tamparan kepadanya, bahkan lebih dari itu. Bukan aku berpihak pada lelaki itu, hanya saja ini di dekat umum, apalagi di rumah sakit. Pasien akan terganggu jika ada keributan besar. Dan biar bagaimana pun dia adalah papa kandung dari cucuku.
‘’Hum, Pa! Kita ke dalam yuk tempat Monik!’’ ajakku bergegas menarik tangan kekarnya dengan pelan.
Aku takut nanti keburu nampak olehnya. Alhamdulillah, dia menuruti saja. Kami bergegas melangkah ke dalam ruangannya Monik. Tampak dia tengah terlelap mungkin karena obat penenang yang diberikan oleh dokter membuat dia mengantuk. Aku dan suami menatapnya dengan tatapan iba, alat medis masih setia menemaninya. Hatiku sangat teriris rasanya memandangi anak semata wayangku yang keadaannya seperti ini.
‘’Kata Dokter, kita harus selalu support Monik dan jangan membantah kata-katanya,’’ kataku lirih dan bergegas menghenyak di kursi.
Suamiku tampak mengangguk pelan, dia tiada putusnya memandangi anak semata wayangnya yang tengah terlelap dengan wajah pucat. Seketika mataku tertuju ke pintu. Membuat aku terperanjat kaget dibuatnya.
__ADS_1
‘’Ta—Tante, Om!’’
Membuat suamiku menoleh, dia bergegas beranjak dari duduknya dan menghampiri lelaki itu.
‘’Kamu temannya, Monik?’’ tanya suamiku dengan tenang. Kuyakin dia belum pernah bertemu dengan lelaki yang bernama Andre itu. Mudahan saja lelaki itu tak mengakui kalau dia adalah Andre.
‘’A—aku Andre, Om,’’ sahutnya dengan terbata.
Membuat muka suamiku berubah, tadinya yang begitu tenang, kini berubah begitu saja. Tangannya mengepal dan wajahnya memerah. Dia bergegas menarik tangan lelaki itu dengan kasar menjauh dari ruangan Monik.
‘’Pa! Tenang dulu,’’ ucapku lirih yang terus saja mengikutinya. Tapi dia tak menggubris ucapanku.
PLAKK! Satu tamparan keras mendarat di pipi Andre. Membuat dia meringis, tampak pipinya memerah.
‘’Om, ini semua bukan salahku saja,’’ ucapnya kemudian sembari memegangi pipinya yang terkena tamparan. Apa maksud lelaki ini?
Tanpa bicara apapun, suamiku berlanjut menarik kerah bajunya.
‘’Kamu masih berani menampakkan mukamu ke sini. Setelah apa yang kamu lakuin ke anak saya!’’ tunjuknya dengan telunjuk kiri mengarah ke Andre.
‘’Om, aku ke sini cuman mau ngelihat anakku.’’
Bugh! Tinju suamiku melayang ke arah Andre. Kali ini berhasil membuat dia terhuyung.
BUGH!
‘’Ya Allah, Pa! Hentikan!’’
‘’Ada apa ini? Kenapa kalian bikin keributan di sini?’’ satpam seketika datang. Dia bergegas memegangi tubuh suamiku yang seperti orang kerasutan ingin kembali melayangkan tamparan dan tinju ke arah lelaki yang telah membuat hidup anakku sengsara itu.
‘’Lepaskan saya!’’
‘’Bapak sudah membuat keributan di sini. Pasien terganggu dengan kelakukan Bapak barusan!’’ tegasnya dengan suara meninggi.
‘’Tapi lelaki itu udah menghamili anak saya! Sekarang dia depresi. Lelaki itu masih berani menampakkan muka kotornya ke sini!’’
‘’Coba Bapak yang jadi saya, bagaimana rasanya jika anak semata wayang Bapak dihamili!’’ ketusnya, dia berusaha melepaskan tubuhnya dari satpam. Tampak lelaki berseragam itu terdiam membisu. Sedangkan Andre meringis kesakitan dengan wajah babak belur, perlahan dia bangkit.
‘’Tolong Mas pergi dari sini. Atau saya yang akan membawa ke luar dengan paksa?’’ tegasnya setelah melepaskan tubuh suamiku.
Dia malah tampak tersenyum sinis dan menghapus jejak darah di bibirnya dengan kasar.
‘’Asalkan Om dan Tante tahu, ini semua bukan salah aku. Dia yang menggoda aku dan aku yakin, siapa pun lelaki nggak akan menolak kok.’’
__ADS_1
Membuat aku menggeleng seketika dan membekap mulutku,’’Nggak! Monik nggak kayak gitu!’’ batinku.
‘’Tolong pergi dari sini!’’ tegas satpam itu kembali.
‘’Kamu jangan menuduh anak saya yang nggak-nggak. Anak saya itu perempuan baik-baik,’’ ucapku dengan ketus.
Membuat papanya Monik kembali tersulut emosi, hampir saja dia hendak melayangkan tamparan kembali. Namun, lelaki itu bergegas pergi dari pandangan kami. Aku menghela napas berat, mencoba mengatur napasku yang terasa sesak sedari tadi. Kucoba menenangkan pikiran dengan cara menarik napas lalu menghembuskannya pelan. Tampak satpam itu bergegas meninggalkan kami.
Kupandangi suamiku tengah memijit keningnya,’’Pa,’’ panggilku pelan.
‘’Apa benar yang dikatakan sama lelaki brengsek itu?’’
Aku menggeleng secepatnya,’’Nggak, Pa. Anak kita nggak mungkin kayak gitu. Percaya deh sama Mama,’’ kataku pelan dan bergegas menarik lengannya untuk duduk di kursi tunggu.
Aku yakin bahwa Monik tak seperti apa yang dikatakan oleh lelaki itu. Anakku bukan wanita penggoda, kalau bukan dia yang memaksa anakku untuk melakukan hal yang disukai oleh setan itu.
‘’Argh! Kenapa ini semua terjadi sama anak kita, Ma?’’
Aku menghela napas gusar, kuelus punggungnya dengan lembut.
‘’I—ini semua salah Mama. Yang gagal mendidik dia dan Mama gagal jadi seorang Ibu,’’ ucapku dengan bibir bergetar. Dia hanya terdiam dengan tatapan kosong, matanya memerah.
‘’Mama sibuk dengan pekerjaan. Dan nggak ada banyak waktu buat dia untuk sekadar menasehatinya. Mama menyesal, Pa,’’ lirihku, air mataku kembali berjatuhan.
Dia menoleh dan memegang jemariku,’’Nggak, Ma. Papalah yang nggak bisa jadi ayah yang baik untuk Monik.’’ rasa bersalah dan penyesalan tampak dari raut mukanya.
‘’Ma’af, Om dan Tante. Jangan saling menyalahkan, ini semua udah terjadi. Dan sekarang Monik hanya butuh do’a dan support dari orang tuanya,’’ kata wanita yang tak asing lagi suaranya bagiku. Membuat aku dan suamiku menoleh.
‘’A—Ayu?’’
‘’Iya, Tante. Ma’afkan Ayu tadi nggak minta izin untuk pulang, karena Ayu harus ke rumah sakit Medika untuk menjaga Nenek.’’ dia tampak ikut menghenyak di kursi sebelahku duduk.
‘’Nggak apa-apa, Yu. Tante dan Om mengerti kok.’’
Bersambung
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.
Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.
See you next time!❤
__ADS_1
Instagram: n_nikhe