Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Permintaan Seorang Ibu


__ADS_3

‘’MONIIK!’’ teriaknya dengan suara menggelegar membuat diriku terperanjat seketika.


Apa dia sudah tahu semua yang telah kulakukan? Bagaimana ini? Aku sungguh cemas. Bunyi langkah kakinya semakin mendekat.


‘’MONIIK!’’ teriaknya kembali dan mengetuk pintu dengan kasar.


‘’KELUAR KAMU!’’ bentaknya, kali ini pintu seperti mau lepas karena saking keras diketuknya.


Kutatap Rafi, dia bergerak seketika. Mungkin mendengar suara ketukan pintu yang begitu keras.


‘’Bismillah.’’Aku mencoba untuk melangkah ke pintu dan membukanya.


Seketika Andre berdiri dengan rahang mengeras, matanya menatapku dengan tajam dan mengepalkan tangan. Seolah seperti singa yang hendak menerkam mangsanya. Kupasang muka sebaik mungkin dan seolah tak tahu mengenai yang telah terjadi antara dia dengan kekasih gelapnya itu.


‘’Kamu kenapa, Ndre? Kamu baik-baik aja? Masuklah dulu, biar kubuatkan—‘’


‘’Jangan pura-pura sandiwara kamu ya!’’ ketusnya menunjukku dengan tunjuk kirinya dengan kasar, sontak membuat aku terperanjat.


‘’Apa maksud kamu, Ndre? Baru datang langsung marah-marah, aku beneran nggak tahu loh.’’


Seketika tamparan hampir melayang ke pipiku, mama pun tiba-tiba datang menepisnya.


‘’Kamu beneran keterlaluan, Ndre!’’


‘’Apaan sih Mama ini!’’ ketusnya sembari melepaskan tangannya dari cekalan tangan mama dengan kasar.


‘’Kenapa kamu kayak gini, hah? Kenapa kamu mau menampar Monik?’’ tanya mama dengan nada tinggi.


‘’Mama nggak pernah ngajarin kamu kasar sama perempuan.’’


‘’Mama mau tahu apa yang udah dilakuin sama menantu kesayangan Mama ini, hah? Dia udah merobek-robek gaun mahal yang kubeli!’’ sahutnya menunjukku dengan kasar, tatapannya begitu tajam menelusuri bola mataku.


Seketika aku membungkam mulut. Wanita berkerudung lebar itu menatapku heran,’’Astaghfirullah. Ma, ini nggak seperti yang dituduhkan oleh Andre. Mama tahu kan gimana aku?’’ lirihku dengan deraian air mata.


‘’Itu mungkin dari sononya aja atau balasan dari Allah karena bermain api di belakang istri,’’ imbuhku lirih.


‘’Kamu keterlaluan! Ngaku aja deh kalo kamu yang berbuat semua ini!’’


‘’Sudah, sudah. Sekarang Mama tanya ke kamu Ndre. Untuk apa gaun itu kamu beli?’’ tanya mama Karni menatap tajam putranya.


Seketika dia menggaruk kepala yang menurutku tak gatal sedikit pun.


‘’U—untuk temenku lah, Ma,’’ sahutnya gegalapan.


‘’Nggak, Mama nggak percaya. Kamu pasti membohongi Mama dan juga istrimu,’’ lirih mama mertua sembari menggeleng.


‘’Ya udah kalo Mama nggak percaya!’’ ketusnya dan bergegas melangkahkan kakinya.


‘’Tunggu! Kamu jelasin dulu, Ndre. Apa kamu mau kayak Papamu juga, hah? Cukup Papamu yang kayak gini, cukup Mama yang tersakiti. Istrimu jangan, jika dia tersakit. Mama juga akan ikut tersakiti. Berarti kamu tega menyakiti Mama kamu yang telah melahirkan kamu ke dunia ini,’’ kata mama Karni dengan suara bergetar, buliran air mata lolos begitu saja di pipinya yang tampak mulai senja itu.


‘’Ma, kok Mama ngomongnya begitu?’’ Dia tampa memberhentikan langkahnya. Lalu kembali mendekati wanita berkerudung lebar itu.


‘’Ma’afkan aku, Ma.’’ Dia tampak bertekuk lutut.


‘’Kamu beneran udah membuat Mama kecewa! Tega kamu ya!’’ ketus mama dengan suara bergetar.

__ADS_1


‘’Ma, ma’afkan aku. Sebenarnya memang aku yang salah, aku membelikan gaun mahal buat hadiah ulang tahunnya Nina.’’ Dia memegangi jemari mama Karni tetapi mama berusaha menepisnya dengan kasar.


‘’Apa? Jadi bener, kamu selingkuh? Apa kamu nggak mikirin gimana perasaan istrimu? Kamu udah punya istri loh! Dan kamu juga udah punya anak!’’ Mama kaget seketika dan menatap lelaki itu dengan tatapan tajam.


‘’Ma, ma’afin aku. Aku khilaf,’’ sahut nya sembari menciumi punggung tangan mama berkali-kali, beliau hanya memalingkan muka.


‘’Mama akan mema’afkan kamu,’’ lirih mama, seketika wajah lelaki itu terlihat senang.


‘’Tapi, dengan syarat,’’ imbuh mertuaku kembali sembari mengangkat telunjuknya.


‘’Syarat, Ma?’’ tanyanya heran. Mama secepatnya mengangguk.


‘’Kamu harus memperlakukan istrimu dengan baik dan jangan pernah lagi sakiti dia!’’ tegas mama mertua, seketika membuat Andre sontak kaget. Dia seperti tengah memikirkan sesuatu. Aku yakin ini mungkin terasa berat olehnya. Tapi, permintaan seorang ibu yang telah melahirkannya tak mungkin dia menolak begitu saja. Atau dia akan berpura-pura menerima permintaan mama saja?


‘’Kamu keberatan?’’


‘’E—enggak, Ma,’’ sahutnya gegalapan.


‘’Baiklah, aku akan nurutin apa kata Mama. Tapi, Mama beneran mau ma’afin aku kan?’’ dia mengangguk dan tersenyum memandangi wanita yang telah melahirkannya.


‘’Oh, tentunya. Tapi, kamu harus bener-bener nurutin apa kata Mama dan jangan berpura-pura, oke?’’


Seketika bayiku terdengar suara tangisannya, aku bergegas melangkah memasuki kamar. Lalu menaiki ranjang.


‘’Ulala, anak Mama udah bangun nih ya.’’ Kuambil Rafi dan menggendongnya. Mungkin dia lapar, aku bergegas memberikannya ASI.


‘’Iya. Aku akan nurutin semua kata Mama.’’ Terdengar samar olehku dari dalam kamar.


‘’Alhamdulillah kalo gitu, kamu adalah anak satu-satunya Mama. Jadi harus nurut sama Mama, itu demi kebaikan kamu juga.’’


‘’Iya. Tolong Ingatkan aku jika aku salah ya, Ma,’’ lirih Andre.


‘’Ya udah, Mama istirahat dulu. Kamu juga istrihat ya.’’


Beberapa menit kemudian, aku tak mendengar lagi suara Andre begitu pun dengan suara mama mertuaku.


‘’Ke mana Andre?’’ lirihku pelan yang masih menyusui bayiku. Sesaat kemudian benda pipih kembali berdering. Kubaringkan Rafi lantas meraih benda pipih itu.


‘’Mama?’’


‘’Assalamua’laikum. Apa kabar, Ma? Sehat?’’


‘’Wa’alaikumussalam, Monik. Alhamdulillah, Mama sehat. Kamu apa kabar?’’ suara mama di seberang sana.


‘’Syukurlah, Ma. Alhamdulillah aku juga sehat. Oh ya, Papa apa kabar, Ma?’’


‘’Mama senang banget mendengarnya. Ini Papamu.’’


‘’Assalamua’laikum, Nak. Ma’afin Papa ya.’’


‘’Wa’alaikumussalam. Seharusnya aku yang minta ma’af ke Papa, ma’afin aku ya,’’ sahutku lirih tanpa kusadari buliran air mataku berjatuhan.


‘’Papa udah ma’afin kamu sebelum kamu minta ma’af ke Papa’’


’’Oh ya, apa kabarmu?’’

__ADS_1


‘’Alhamdulillah baik dan sehat, Pa. Papa apa kabar?’’


‘’Papa sekarang sedang sakit, tetapi udah dibawa ke rumah sakit sama Mama. Sekarang Alhamdulillah agak mendingan. Uhuukk!’’


‘’Apa? Papa sakit? Ya Allah, cepet sembuh ya, Pa. Gimana aku mau menjenguk Papa,’’ lirihku dengan suara bergetar.


‘’Kamu jangan cemas ya, Sayang. Do’akan aja Papa. Nggak usah, takutnya tetangga pada menghina kamu lagi.’’


‘’Gimana aku nggak cemas, aku nggak tahu keadaan Papa kayak gimana sekarang.’’


‘’Aku pengen banget melihat Papa ke rumah. Tapi—ucapan Papa ada benernya juga, bagaimana kalo mereka menghina aku dan keluargaku lagi,’’ batinku seketika.


‘’Kan Papa udah bicara dengan kamu sekarang, itu tandanya Papa udah mulai baikan.’’ buliran air mataku terus saja berjatuhan, kuseka dengan pelan.


‘’Alhamdulillah kalo gitu. Papa harus janji istirahat yang banyak, paksain makan dan aku akan selalu nanyain kabar Papa ke Mama.’’


‘’Iya, iya Papa janji. Tapi kamu harus janji juga, jangan banyak pikiran dan apa pun masalah kamu ceritain ke Papa.’’


Membuat aku terdiam seketika. Bagaimana tidak? Tak mungkin aku menceritakan perkara rumah tanggaku ke papa, biar bagaimana pun aib atau masalah rumah tangga sendiri tak sepatutnya diceritakan walaupun itu ke orang tua sendiri. Istri seharusnya bisa menjaga aib suami sendiri dan apalagi papa tengah sakit, yang ada papa semakin drop gegara kepikiran rumah tanggaku. Ya, ini demi kesehatan papa biar kututupi saja dan juga biar bagaimana pun tugasku seorang istri adalah menutupi aib suami. Mana tahu Andre bisa berubah menjadi baik lagi.


‘’Monik, hallo! Kamu baik aja kan?’’


‘’Eh, iya. Aku baik aja kok, Pa.’’


‘’Syukurlah. Ya udah, Papa mau istirahat dulu nih. Udah dulu ya, Nak.’’


‘’Istirahatlah dulu, Pa. Mana Mama?’’


‘’Mama membuatkan teh untuk Papa di belakang.’’


‘’Ya udah. Nggak apa-apa, Pa. Papa istrahatlah, assalamua’alaikum!’’


Papa seketika memutus sambungan telepon.


Kuseka dengan perlahan buliran air mata yang sejak tadi menetes di pipi. Seketika teringat olehku kalau papa sedang sakit, ingin rasanya menjenguk papa. Tetapi apalah daya, hinaan tetanga membuat sulit untukku melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah. Dan ini demi keluargaku juga, aku tak mau mereka kembali menghina keluargaku. Lebih baik aku di sini bersama mertua, di sini tetangga tak suka menghina, lebih tepatnya hanya bersikap siapa luh siapa gue saja. Mereka lebih memilih mengurus rumah tangga sendiri ketimbang kepo dengan urusan orang lain.


‘’Oh iya, kenapa Papa nggak menanyakan kabar cucunya? Apa Papa belum bisa menerima Rafi sebagai cucunya? Ahh! Nggak apa-apa, setidaknya Papa udah mau mema’afkan kesalahanku. Itu lebih dari cukup, kuberharap semoga Papa bisa menerima bayiku sebagai cucu beliau,’’ gumamku. Aku menggeleng seketika dan berusaha menepis semua prasangka buruk yang timbul di pikiranku.


Kuletakkan kembali benda pipih dan mengalihkan pandanganku ke Rafi yang tengah tertidur pulas.


‘’Tidur terus kamu ya, Sayang.’’ Aku tersenyum memandanginya.


Sebaiknya kubaringkan terlebih dahulu tubuh ini, menghilangkan penat badan dan juga pikiran. Aku menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang melayang. Seketika pintu berderit. Oh iya, aku lupa. Pintu tak dikunci. Kulayangkan pandangan ke arah daun pintu.


‘’A—Andre?’’ sontak membuatku kaget dan bergegas bangkit. Kali ini wajahnya tak seperti biasa, biasanya wajah Andre yang selalu bosan memandangiku. Kenapa dengannya? Sangat berbeda tatapannya padaku.


‘’Kamu mau tidur tadi ya. Ma’af aku menganggu,’’ lirihnya sembari mendekatiku, lalu menghenyak di ranjang sebelahku. Kucoba menggeser posisi duduk, dia menatapku dengan tatapan sendu.


‘’Andre kenapa ya? Itu yang dijinjingnya apa?’’ batinku seketika memandangi apa yang tengah ditenteng di tangannya. Seketika dia beralih menatap kantong plastik hitam yang berada di tangannya.


‘’Oh ini, ini untukmu sebagai permintaan ma’afku.’’


Bersambung.


Terima kasih banyak teruntuk yang suka dengan novelku ini dan jangan lupa bantu support aku ya. Ma’af kemarin enggak bisa update karena aku sedang nggak enak badan. Do’akan agar aku sehat selalu ya dan biar bisa update setiap hari. Oke, sehat selalu buat kalian dan semoga dimudahkan segala urusannya.

__ADS_1


See you next time❤


Instagram: n_nikhe


__ADS_2