Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Pindah?


__ADS_3

‘’Monik kemas semua barang-barangmu ya.’’ wanita berkerudung bewarna coksu itu melangkah memasuki kamar yang selama ini kuhuni. Aku terdiam sejenak.


Tak kan ada lagi aku diganggu dan dijahati oleh papanya Andre. Di satu sisi aku senang bisa pindah dari sini dan di sisi lain aku pun sedih harus berpisah dengan bu Karni dan juga bibi yang selama ini jadi malaikat yang dititipkan Allah untukku. Tak seperti pak Kardi yang begitu sangat membenciku.


‘’Kita jadi pindah pagi ini ya, Bu?’’ tanyaku tanpa menjawab kata bu Karni.


‘’Iya, Monik. Ibu sudah dapat kost untukmu, kebetulan yang punya kost itu adalah teman Ibu. Ibu udah hubungi dia kok, tetapi ada anak sekolahan di kost itu, Anak SMA. Apa kamu nggak keberatan?’’ Bu Karni menghenyak di sofa sembari memandangiku.


‘’Gimana ya, Bu,’’ sahutku dilanda kebingungan.


‘’Apa mereka nanti nggak akan menghinaku, Bu? Apalagi sepantaran denganku.’’ Aku memandangi beliau. Ya, yang aku cemaskan nanti anak SMA itu pada tahu kalau aku hamil tanpa suami, dan mereka pasti menghinaku.


‘’Nggak apa-apa kok, mereka kan enggak kenal kamu. Nanti kamu bilang aja suamimu sedang bekerja supaya nggak dihina nantinya. Sementara kamu tinggal di sana dulu, nanti setelah kamu menikah dengan Andre, Ibu akan membawamu kembali ke sini,’’ jelas bu Karni meyakinkanku.


‘’A—aku—’’ tenggorokanku terasa tercekat.


‘’Ibu tahu kamu nggak betah tinggal di sini kan? Kalo begitu, Ibu akan atur semuanya nanti setelah kamu melahirkan.’’ Beliau memang tahu apa yang kumaksud.


Ya, aku tak ingin lagi tinggal di sini sebenarnya. Aku tak betah sedikit pun, itu semua karena pak Ardi yang sikapnya begitu jahat kepadaku. Bahkan melihatnya saja seperti melihat hantu yang gentayangan.


‘’Bu, ma’afkan aku. Dan makasih sudah mengerti dengan apa yang kumaksud,’’ ucapku lirih, perlahan melangkah dan menghenyak di samping wanita baik yang berkerudung itu.


‘’Nggak apa apa. Ibu merasakan apa yang kamu rasakan kok.’’


‘’Ma’afkan Ibu ya.’’ Bu Karni menatapku dengan tatapan sendu, lalu mengelus pucuk kepalaku.


Aku mengangguk dan tersenyum dengan mata berbinar, lalu lekas memeluk bu Karni. Seketika terdengar bunyi ketukan pintu dari luar sana. Aku langsung melepaskan pelukan perlahan dan saling memandangi.


‘’Biar Ibu yang buka,’’ lirih bu Karni bergegas melangkah ke pintu, aku mengangguk.


‘’Ada apa, Ndre? Kamu butuh sesuatu?’’


Ternyata Andre? Tumben dia datang ke sini. Ada apa? Mau bersandiwara lagi dia?


‘’E—enggak kok, Ma. Aku cuman mau bertanya.’’


‘’Kapan Monik akan mencari kost. Biar aku aja yang ngantarin.’’


‘’Apa dia habis kesamber petir?’’ bisik hatiku.


Tumben dia mau mengantarkan, apa ada maunya ya? Kok aku merasa risih sekali ya. Baiknya aku jangan keluar, biar aku berdiam diri di kamar aja.


‘’Kebetulan sebentar lagi kami akan pergi dan kostnya udah dapat kok.’’


‘’Kamu benaran mau ngantarin Monik?’’


‘’Gitu ya, Ma. Benaran. Moniknya ada di dalam?’’ Dasar Andre! Mencari muka kali ya.


‘’Ada, kamu mau ngapain? Monik sedang istirahat dan nggak bisa diganggu!’’ tegas bu Karni. Andre hanya terdiam seketika. Yes! Bu Karni berhasil membuat Andre membisu.


‘’Ya sudah, Ma. Aku mau siap-siap dulu, entar panggil aja.’’ dia bergegas melangkah kembali, sedangkan bu Karni kembali berbalik dan menghampiriku yang tengah bergeming sedari tadi.


‘’Kamu siap-siap ya. Sebelum berangkat sarapan dulu, biar Bibi yang mengantarkan makanan untukmu.’’


‘’Kalo begitu Ibu sarapan dulu, sekalian siap-siap.’’ Beliau bergegas melangkah keluar.


‘’Bu!’’ panggilku, seketika langkahnya terhenti di ambang pintu dan berbalik melangkah memasuki kamar.


‘’Ada apa? Kamu butuh sesuatu?’’


‘’Nggak, Bu. Ta—tapi, aku hanya ingin kita pergi berdua aja, Bu. Biar aku yang nyetir nanti,’’ lirihku dengan terbata.


‘’Kenapa begitu, Monik?’’


‘’Apa kamu keberatan diantar sama Andre?’’ tanya wanita separuh baya itu menelusuri wajahku yang tak menjawab tanyanya.


‘’A—aku—’’


‘’Ibu tahu kamu benci sama Andre, iya kan? Kamu trauma dengannya? Tapi, bayimu juga butuh Ayah, bukan?’’


‘’Yang dikatakan Bu Karni ada benarnya juga,’’ bisik hatiku.


‘’Iya, Bu.’’


‘’Ya sudah, Ibu mau siap-siap dulu sekalian mau sarapan,’’ pamitnya kembali, aku hanya mengangguk perlahan.

__ADS_1


Bu Karni sudah melangkah keluar dari kamar. Sedangkan aku bergegas bangkit, walau sangat sulit rasanya karena saking beratnya badan ini. Ya, mungkin karena usia kehamilanku yang sudah tua. Perlahan kukemas semua pakaian ke koper kecil yang dibelikan oleh bu Karni sebulan yang lalu. Kuletakkan koper yang telah berisi pakaianku. Seketika terdengar suara bibi dari luar.


‘’Monik, ini Bibi bawa makanan. Apa Bibi boleh masuk?’’ tanyanya sembari mengetuk pintu di luar sana.


‘’Iya, Bi. Boleh. Pintu nggak dikunci kok,’’ sahutku yang berhenti berkemas.


‘’Ini, Monik. Kata Ibu, Monik harus sarapan dulu. Habisin ya.’’ Bibi bergegas masuk dan meletakkan nampan yang berisi makanan, segelas susu dan segelas air putih di atas nakas.


‘’Iya, Bi. Bibi kok baik banget sih, makasih banyak ya.’’ Aku tersenyum memandangi Bibi. Lalu menghenyak di sofa.


‘’Sama-sama, Monik. Kalo gitu Bibi melanjutkan kerja dulu.’’ bibi tampak tersenyum khas miliknya. Dan berniat mau keluar dari kamarku.


‘’Tunggu sebentar, Bi!’’


‘’Iya, Monik?’’ Bibi menoleh.


‘’Begini, Bi. Nanti aku akan pindah untuk sementara. Aku pamit ya, makasih banyak loh udah baik banget sama aku,’’ ucapku dengan mata berkaca-kaca.


‘’Jadi sekarang Monik mau pindah? Kenapa nggak di sini dulu?’’


‘’Kan Monik mau menikah juga dengan Mas Andre. Kenapa sih harus pindah?’’ Bibir bibi tampak manyun membuatku tersenyum.


‘’Iya, Bi. Itu dia, Bibi kan tahu sendiri gimana Bapak,’’ sahutku singkat sembari tersenyum.


‘’Aduuh, Bibi lupa, Monik. Iya juga ya.’’ Bibi menepuk keningnya perlahan dan manggut-manggut.


‘’Yang ada nantinya Monik tambah makan hati di sini,’’ tambahnya dengan tertawa kecil. Membuat aku ikut tertawa, tapi dalam hati membenarkan ucapan bibi.


‘’Ya sudah. Hati-hati ya, Monik. Bibi mau melanjutkan pekerjaan dulu. Nanti biar Bibi yang membawa piring kotor itu ke dapur.’’


‘’Iya, Bi. Makasih banyak ya.’’


Bibi mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah keluar dari kamar sembari menutup kembali pintu. Aku bergegas menyambar makanan yang belum sempat kusentuh. Sambal gulai cincang, perkedel tahu, dan tempe terletak manis di atas nasiku. Tak lupa minuman segelas susu dan segelas air putih, serta buah mangga yang usai dipotong kecil jadi pelengkapnya.


Beberapa menit kemudian, aku telah selesai sarapan. Kutaruh kembali piring dan nampan itu di nakas. Biar bibi yang nantinya membereskan. Sesaat kemudian bu Karni tiba menghampiriku, karena pintu terbuka jadi baliau bisa masuk saja tanpa aku bukakan.


‘’Kamu sudah sarapan?’’ tanya bu Karni menghampiriku yang tengah duduk di ranjang sembari termenung.


‘’Udah, Bu.’’ aku yang terayun dalam lamunan, beliau mampu membuyarkan lamunanku.


Perlahan kubangkit dan meraih koper yang berisi baju-bajuku itu.


’’Nggak berat kok, Bu.’’


‘’Syukurlah. Kalo kamu kecapekan membawanya, nanti bilang aja.’’


‘’Iya, Bu. Yuk kita keluar!’’


Aku bergegas menenteng koper dan melangkah keluar dari kamar, begitupun dengan bu Karni, segera kututup kamar. Tampak Andre sudah rapi sembari menenteng kunci mobil. Tatapannya tertuju padaku, aku melirik sebentar saja dan langsung membuang pandangan ke arah lain. Seketika membuat mamanya menggelengkan kepala.


‘’Biar kubawakan kopermu,’’ tawarnya mendekatiku yang membuat aku menjarak darinya. Aku merasa jijik dan benci.


‘’Nggak usah!’’ ketusku sembari membuang muka.


‘’Jangan begitu, Monik. Berjalan aja kamu susah, masa mau menenteng koper segala.’’


‘’Berikan aja pada Andre, biar dia yang membawanya,’’ imbuh bu Karni pelan.


‘’Tapi nanti kan pake mobil, Bu. Cuman dari dalam rumah ke garasi aja aku menentengnya,’’ jawabku pelan.


‘’Iya. Tapi Ibu kasihan sama kamu loh, berjalan aja kayak gitu. Lihatlah perutmu semakin membesar membuat kamu susah berjalan, apalagi menenteng koper yang berisi pakaian. Jangan gitu dong, ayo berikan aja!’’ nada suara bu Karni terdengar naik.


Aku menuruti saja, seketika tanganku dengan tangan Andre bersentuhan. Dia memandangiku, jantungku berdegup lebih kencang dan dadaku terasa sesak, aku teringat semua yang dilakukannya kepadaku beberapa bulan yang lalu.


‘’Nggakkk!’’ teriakku histeris dengan buliran air mata yang membasahi pipiku, aku menjauhkan tanganku dari koper seketika tersadar.


‘’Ada apa, Monik? Kamu kenapa?’’ tanya bu Karni tampak panik menghampiriku sembari mengelus punggungku.


‘’E—enggak ada, Bu,’’ ucapku lirih dengan suara bergetar. Andre hanya menunduk saja, dia pasti tahu kenapa aku begini.


‘’Aku mi—minta ma’af ya,’’ katanya lirih dengan suara bergetar. Tampak mukanya seperti merasa bersalah, entah dia sedang bersandiwara atau bagaimana, aku pun tak tahu.


‘’Kamu ini, Ndre!’’ ketus mamanya.


‘’Kamu nggak apa-apa? Gimana kalo istirahat dulu di kamar, kita undur saja dulu. Nanti kalo keadaanmu sudah membaik baru kita ke kost,’’ usul bu Karni sembari merangkulku.

__ADS_1


Aku mencoba menenangkan diriku, kutarik napas pelan dan menghembuskannya.


‘’Nggak kok, Bu. Kita pergi hari ini aja ya,’’ sahutku yang tengah menyeka buliran air mataku.


‘’Kamu yakin?’’ tanya bu Karni kembali sembari memandangiku, sedang Andre hanya terlihat menunduk saja. Aku mengangguk perlahan.


‘’Ayo! Ibu bantu berjalan.’’ Bu Karni memegangi tanganku sedangkan Andre membawakan koper. Kami melangkah ke luar menuju garasi. Sesampai di garasi, Andre menghidupkan mesin mobil. Aku tiada putusnya memandangi pekarangan rumah mewah yang pernah kuhuni dan menyimpan banyak kenangan manis maupun kenangan pahit.


Kami pun langsung menaiki mobil, terdengar lirih ucapan do’a bu Karni. Membuat aku salut sama beliau. Benar ternyata kata bibi, bahwa bu Karni itu rajin beribadah. Buktinya tatkala naik mobil pun merapalkan do’a, tak sepertiku yang hanya bisa baca basmallah saja.


‘’Di depan aja duduknya,’’ titah bu Karni seketika aku membuka pintu mobil yang berada di belakang, tanganku terhenti dan menoleh.


‘’Nggak, Bu. Biar aku di belakang aja,’’ tolakku. Andre hanya terdiam saja.


‘’Ya sudah, kita berdua di belakang,’’ sahut bu Karni, aku memasuki mobil dan duduk di belakang bersama bu Karni.


‘’Ayo, Ndre! Bawa mobilnya pelan aja ya.’’


‘’Iya, Ma.’’


Mobil pun melaju. Angin sepoi-sepoi berhembus melewati celah kaca dan menerbangkan kerudungku. Aku terasa mengantuk sekali. Di mobil semuanya hanya larut dalam pikiran masing-masing, hanya bunyi hembusan angin dan deru mobil yang menemani. Sesaat kemudian, benda pipih di saku Andre terdengar berdering seketika.


‘’Siapa, Ndre?’’ tanya wanita yang melahirkannya sembilan belas tahun nan lalu.


‘’Papa, Ma,’’ sahutnya sembari memandangi benda pipih itu dan kembali fokus menyetir.


‘’Angkat aja, siapa tahu penting.’’


‘’Iya, Ma,’’ sahutnya.


‘’Hallo, Pa!’’


‘’…..’’


‘’Ngapain, Pa? Ini aku lagi nyetir loh.’’


‘’….’’


‘’Apa, Pa? Ketemu sama Nina?’’ seketika kami saling tatapan dengan bu Karni.


‘’Nina? Perempuan yang dibilang oleh Pak Ardi kemarin itu ya, yang akan dijodohkannya dengan Andre?’’ bisik hatiku yang merasa sedikit cemas.


‘’Aku sedang nyetir loh, Pa.’’ ulangnya dengan suara terdengar kesal dan naik.


‘’….’’


‘’Iya, nanti aku bakal ke sana.’’ Andre langsung mengakhiri pembicaraannya dengan menekan benda pipih itu dengan kasar, lalu kembali fokus menyetir.


‘’Ada apa sih, Ndre?’’ tanya bu mamanya heran.


‘’Entahlah, Ma. Papa menyuruhku ke kantornya,’’ jawabnya pelan.


‘’Ngapain? Bertemu dengan wanita itu? ’’ suaranya terdengar kesal.


‘’Iya, Ma. Papa menyuruhku bertemu dengan Nina,’’ jawab Andre seadanya.


‘’Nggak habis pikir Mama sama Papamu. Apa coba yang ada di pikirannya? Trus kamu mau aja?’’ kesalnya. Seketika Andre terdiam. Dan sekian detik baru bicara.


‘’Ya, gimana lagi, Ma,’’ sahutnya pasrah.


‘’Apaan sih kamu. Jawab aja ada keperluan mendadak gitu, Ndre,’’ usul bu Karni dengan tampang kesal sembari melipat tangan di dadanya.


‘’Nggak bisa gitu dong, Ma. Mama tahu sendiri kan gimana Papa?’’


Aku menghela napas berat, bu Karni seketika menatapku dan memegang jemariku erat.


‘’Tenang saja, Monik. Selama ada Ibu, Bapak nggak akan pernah bisa menjodohkan Andre dengan wanita itu!’’ bisik beliau. Tapi begitu tegas.


Bersambung…


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Oh iya, jika ada yang komen dan menantikan lanjutan ceritanya akan aku usahakan update 2 bab setiap harinya, tapi dengan syarat harus komen dan membaca setiap kali aku update ya. Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.


See you next time!❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2