
‘’Memangnya aku kenapa, Ma? Habis kecelakaan?’’
‘’A—apa maksud, Monik? Apa dia berpura-pura?’’ batinku. Yang merasa ada keanehan pada anak semata wayangku itu.
‘’Kamu habis melahirkan, Nak,’’ sahutku pelan. Aku berusaha menahan buliran air mata yang hendak berjatuhan.
‘’A—apa? Ini nggak mungkin, Ma. Aku belum menikah, kenapa bisa melahirkan begini. Nggaakk!’’
‘’Ya Allah, bukannya ini semua akibatmu sendiri, hah?’’ aku menunjuknya dengan telunjuk kiri dengan tangan gemetaran.
Emosiku sungguh tak bisa ditahan lagi. Enak saja dia berkata seperti itu. Padahal ini adalah hasil perbuatannya. Kini dia seolah berpura-pura tak ingat semuanya. Karena ulahnya membuat aku malu dengan tetangga, yang bahkan setiap hari menggunjing aku dan suami. Sudah sembilan bulan lebih lamanya aku dan suamiku membiarkannya seorang diri di luar sana.
Papanya mengusirnya ketika sudah tahu kalau dia tengah mengandung bayi yang bukan pada waktunya. Aku pun tak bisa melarang papanya agar tak mengusir dia dari dari rumah. Kubiarkan saja, karena memang itu pantas didapatkan oleh anak seperti dia. Yang seharusnya seusia dia adalah fokus dengan pendidikan. Aku dan suamiku sungguh kecewa dengan semua ini. Apalagi Monik adalah anak satu-satunya yang kami punya.
Jujur saja, aku sebenarnya masih merasa kecewa dengan anakku. Bahkan ketika Ayu menjemputku ke rumah, aku berniat tak kan menemui dan tak kan mengurusnya lagi.
‘’Tante nggak akan mengurus dia lagi, Yu! Jadi tolong jangan paksa Tante untuk menemuinya,’’ ucapku dengan menekankan kata ‘’tolong’’ tatkala Ayu menjemputku ke rumah. Tapi, pada akhirnya Ayu malah tetap membujukku dengan deraian air mata dia memintaku agar menemui sahabatnya itu.
‘’Tan, Ayu tahu itu! Ayu mengerti bagaimana rasanya jadi Tante, bagaimana rasanya di posisi Tante.’’
‘’Tapi, nasi sudah jadi bubur. Dan biar bagaimana pun juga, Monik adalah anak Tante, dia butuh do’a dan support dari Mamanya,’’ lirihnya di sela isakan tangisnya. Ucapan Ayu kini terngiang-ngiang di telingaku. Aku mengusap muka dengan kasar.
‘’Bu! Ayo ikut kami ke ruangan ada sesuatu hal yang harus kami bicarakan dengan Ibu,’’ ucap wanita berseragam putih itu mencoba menenangkanku.
Aku menghela napas berat, lalu mengangguk lemah dan membuntutinya. Sedangkan Monik tampak masih terbaring lemah dengan alat medis yang masih setia menemaninya. Aku bangkit dari dudukku, lantas mengikuti langkah wanita berseragam putih itu ke ruangannya.
‘’Silakan duduk dulu, Bu!’’ ujarnya. Aku hanya mengangguk dan bergegas duduk berhadapan dengannya.
‘’Ibu harus banyak sabar menghadapi Mba Monik, ya? Sampai dia beneran sembuh,’’ sarannya dengan ramah dan tenang.
Aku menghela napas berat,’’Bagaimana saya bisa tenang, Dok. Sedangkan—‘’
‘’Ya, saya tahu bagaimana perasaan Ibu.’’ belum selesai aku bicara, dokter cantik itu bergegas memotong pembicaraanku.
‘’Kalo Ibu terus-terusan membentak dan memarahinya, yang ada dia akan semakin frustasi, Bu.’’
‘’Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak saya, Dok?’’
‘’Sepertinya dia sedang mengalami depresi berat, namanya Postpartum psikosis, Bu. Ini terjadi karena dia yang stress berlebihan, apalagi jika masalah Mba Monik sangat besar yang dihadapinya. Takutnya nanti dia malah melukai dirinya sendiri dan bayinya.’’
‘’Depresi, Dok?’’ aku membekap mulut saking terperanjat kaget. Dan air mataku mengalir begitu saja. Ya, walaupun aku tak begitu banyak tahu yang dikatakan oleh dokter itu, tetapi setahuku depresi itu adalah gangguan kejiwaan.
‘’A—apa dia bisa sembuh kira-kira, Dok?’’ lirihku dengan suara bergetar.
__ADS_1
‘’In syaa Allah bisa, Bu. Yang penting Ibu selalu support Mba Monik dan saya sarankan konsultasi ke Psikiater setelah keluar dari sini. Jika dibiarkan akan bahaya dan susah untuk sembuh nantinya.’’
‘’Apa yang dikatakan olehnya, jangan dibantah ya, Bu. Harus sabar menghadapinya.’’
‘’Arrgghh!’’ terdengar olehku teriakan dan tangisan.
Suaranya yang tak asing lagi bagiku. Ya, anak semata wayangku. Hatiku rasa di tikam peluru berkali-kali. Ya Allah, kenapa anakku begini? Aku mengusap muka dengan kasar.
‘’Sepertinya Mba Monik, Bu. Nanti kita bicarakan lagi.’’
‘’Saya akan memberikan obat penenang sementara untuknya.’’ dia tampak bergegas bangkit dan melangkah ke lemari obat-obat itu.
Tangannya meraih beberapa pil obat. Raut mukanya menggambarkan kepanikan dan melangkah ke luar dari ruangannya mungkin menuju ruang rawat anakku, aku pun mengikuti dari belakang.
‘’Tenanglah, Mba. Istighfar.’’
‘’Aku nggak melahirkan! Nggak!’’ dia terus saja berteriak sambil menangis. Air mataku terus saja berjatuhan dan hatiku begitu perih.
‘’Bayinya nggak mau diem sejak tadi, Dok. Apa dia mau minta susu?’'
Jadi cucuku tak bisa diam? Kenapa aku tak tahu dan tak mendengar tangisannya dari tadi, saking tak terarahnya pikiranku. Apa yang harus aku lakukan? Apalagi dengan keadaan mamanya yang seperti ini. Jangankan untuk menyusui, menggendong saja dia tak mau.
‘’Dia haus mungkin, Sus. Buatkan saja susu SGM dulu ya, kita nggak bisa memaksakannya untuk mengasih ASI ke bayinya,’’ kata dokter itu yang tengah memasuki ruangan rawat Monik.
‘’Kenapa aku gagal jadi seorang Ibu? Kenapa?’’
Kini aku menyesal karena selalu sibuk dengan pekerjaan kantorku setiap hari. Sepulang dari kantor aku hanya ada waktu sedikit saja buat anakku itu. Ya Allah! Ampunilah aku yang tak bisa mendidik anakku. Aku lebih mementingkan pekerjaanku.
Ternyata komunikasi lewat ponsel tak begitu didengarkan nasihatku olehnya. Dia sering mengatakan tengah berada di luar, alasannya belajar kelompok dengan teman sekelasnya. Ah, aku masih teringat waktu Monik meminta izin belajar kelompok dengan teman-temannya. Dan sudah larut malam dia tak kunjung pulang, dikarenakan hari hujan lebat makanya tak bisa pulang ke rumah.
Apa waktu itu sebenarnya dia tengah bersama lelaki brengsek itu? Kenapa aku begitu bodoh jadi orang tua? Dan aku juga tak tahu jika mereka berpacaran selama ini. Karena memang aku dan suamiku sangat melarangnya untuk berpacaran. Ya, walaupun aku tak punya banyak waktu bersamanya. Walaupun aku tak selalu memberinya nasihat dan walaupun aku tak punya waktu luang untuk mengajaknya sekadar bercerita.
‘’Kamu ngapain ke sini? Hah? Setelah semuanya dilakukan sama anakmu ke anakku, sekarang kamu berani menampakkan mukamu!’’ aku bergegas bangkit dan mendorong tubuh wanita itu.
‘’A—aku mau ketemu sama cucuku.’’
‘’Pergi kamu! Dan jangan pernah ke sini lagi! Anak sama Mamanya sama aja!’’ dengan kasar aku berusaha mendorong tubuh wanita berkerudung lebar itu kembali. Entah apa yang ada dipikirannya hingga membuat dia masih berani menampakkan batang hidungnya di sini.
‘’Makanya anak tuh dididik!’’
‘’Ada apa ini? Jangan membuat keributan di sini!’’ tegas lelaki yang berseragam itu seketika datang.
‘’Pak, anak wanita ini sudah membuat anakku jadi depresi! Sekarang dia berani menampakkan mukanya ke sini. Gimana saya nggak marah coba. Coba Bapak yang ada di posisi saya!’’ ketusku dengan nada tinggi dan menunjuk perempuan itu dengan telunjuk kiriku.
__ADS_1
‘’De—depresi?’’ ulangnya.
‘’Iya, kamu udah puas kan?!’’ aku mengusap air mataku dengan kasar dan tersenyum sinis saking perihnya hatiku ini.
‘’Sudah! Sudah!’’
‘’Tolong, jangan bikin keributan di sini. Pasien lain akan terganggu karena ulah kalian.’’
‘’Dan Ibu, tolong pergi dari sini!’’ tunjuknya mengarah pada wanita yang membuat aku naik pitam sejak tadi.
‘’Nggak, Pak. Saya mau ketemu sama cucu saya,’’ katanya lirih dengan deraian air mata. Kuyakin hanya aktingnya saja.
‘’Pak, tolong bawa wanita ini dari sini. Sebelum anak saya tahu dan dia akan mengamuk lagi,’’ ucapku lirih dengan suara bergetar. Aku sungguh jijik melihat muka wanita itu.
‘’Sa—saya minta ma’af atas nama Andre. Begitupun dengan saya.’’
‘’Arrrgghh!’’ teriakan dan tangisannya membuat aku menoleh.
Benar saja apa yang kukatakan barusan, tatkala mendengar nama lelaki brengsek itu membuat Monik mengamuk kembali. Dengan pelan aku melangkah dan melihat dari pintu saja keadaan anak semata wayangku. Dia terus saja berteriak disertai tangisan. Membuat hatiku tambah perih dibuatnya.
‘’Mba, tenang dulu ya.’’
‘’Aku kenapa? Kenapa denganku?!’’ teriaknya dengan histeris. Dan Monik mencoba melepaskan infus yang masih terpasang indah di tangannya. Namun, dicegah oleh suster itu.
‘’Suster Andini panggil Dokter Atika ya,’’ katanya dengan napas tersenggal. Wanita itu tampak mengangguk dan berlarian ke luar. Ternyata dokter Atika yang akan dipanggil, sudah melangkah duluan dengan tergesa-gesa menuju ruang rawat Monik.
‘’Mba istighfar ya.’’
‘’Sus, tolong suntikan ini sebagai penenang ya,’’ pinta wanita yang berseragam putih yang baru saja memasuki ruangan, dia menyodorkan jarum suntikan pada suster. Dengan sigap suster itu meraih dan bergegas menyuntikkan jarum itu pada Monik.
‘’Ya Allah!’’ aku kembali terduduk lemas dengan deraian air mata.
Rasanya begitu perih. Melihat anak semata wayangku yang tak terarah pikirannya. Apalagi habis melahirkan bayi yang tak pernah kuharapkan kehadirannya.
Bersambung.
Bagaimana kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk baca dan ikutin terus. Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.
See you next time!❤
Instagram: n_nikhe
__ADS_1