
‘’Ndre, aku mau beli skincare dong. Agar kelihatan cantik lagi,’’ ucapku seketika pada seseorang yang telah menghalalkanku dua minggu yang lalu.
Ya aku memberanikan diri meminta dibelikan skincare karena sikapnya sudah berubah menjadi baik. Makanya aku memberanikan diri untuk minta dibelikan skincare, itu pun karena aku ingin lebih kelihatan cantik di depan suamiku.
‘’Apa? Skincare?’’ tanya lelaki yang sudah berstatus menjadi suamiku itu dan menatapku dengan tatapan tajam. Kenapa begitu tatapan Andre padaku?
‘’Iya, Ndre. Aku mau beli skincare, aku ingin kelihatan cantik di depan kamu,’’ sahutku pelan.
Dia menyesap kopi yang kusuguhkan tadi hingga tandas.
‘’Aku nggak punya uang!’’ ketusnya sembari meletakkan cangkir itu dengan kasar. Membuat aku terperanjat.
‘’Nggak punya uang? Bukannya kamu udah kerja, Ndre?’’ tanyaku kembali dengan nada kesal.
‘’Aku kerja bukan untukmu!’’
Dadaku bergemuruh hebat! Apa maksud ucapan suamiku ini? Dadaku terasa sesak dan aku mencoba mengatur napas.
‘’Ka—kamu kenapa, Ndre? Ada masalah di kantor? Ceritain dong, jangan kayak gini,’’ lirihku dengan tenggorokan tercekat. Dia tersenyum sinis sembari menggoyangkan kedua kaki di sofa. Aku menghampirinya dan duduk di samping lelaki yang telah menghalalkanku itu.
‘’Kamu kenapa sih? Apa aku ada salah? Atau—’’
‘’Aku capek!’’ ketusnya dan memalingkan mukanya dari pandanganku.
‘’Capek? Kalo kamu capek ya istirahat dong, jangan kayak ginilah, Ndre. Aku sedih banget kalo melihat sikapmu kayak—’’
‘’Aku capek sama kamu! Puas?’’ bentaknya dengan tatapan tajam menatap bola mataku, membuatku terperanjat dibuatnya. Ada apa dengan Andre? Kenapa dia kembali lagi bersikap kasar padaku? Kenapa dia secepat ini berubah?
‘’Astaghfirullah, Ndre. Ya Allah, kenapa dengan suamiku? Hanya beberapa hari dia berubah, sekarang kembali lagi kelakuannya. Apa sebenarnya yang terjadi sama Andre? Apa yang harus kulakukan sekarang?’’ batinku. Ribuan pertanyaan muncul di benakku. Tak habis pikir dengan kelakuan suamiku itu. Kuhembuskan napas pelan dan mengelus dada seketika.
‘’Apa ini karena perbuatan si Pelakor itu?’’ aku membatin kembali. Tapi tak mungkin, bukannya mama mertua sudah berjanji padaku untuk mengurus urusan ini hingga selesai. Ingatanku menerawang, teringat olehku kemarin dia pulang larut malam. Apakah dia berduaan bersama si Pelakor itu? Lalu ke mana lagi dia kalau bukan bersama si Pelakor? Aku menggeleng pelan dan berusaha menepis pikiran buruk yang menghantuiku.
‘’Apa salahku, Ndre? Kamu ada masalah di kantor? Cerita dong ke aku, jangan kayak gini,’’ lirihku mencoba untuk tetap tenang, dia hanya memalingkan muka. Lalu bangkit, bergegas meraih jacket yang tengah tergantung dengan kasar.
‘’Ndre, kamu dengerkan apa kataku? Mana janjimu, Ndre?’’
‘’Cukup! Aku nggak ingin lagi mendengar ucapan kamu!’’ bentaknya yang membuatku semakin terperanjat, dipasangnya dengan kasar jacket itu dan bergegas melangkah keluar dari kamar. Pintu dihempaskannya dengan kasar, membuatku kaget.
‘’Astaghfirullah.’’ Aku mengelus dada, tanpa kusadari buliran air mata berjatuhan di pipiku. Dengan pelan aku menghampiri putraku.
‘’Raf, Papamu berubah lagi, Nak.’’ Aku mengelus pipinya dan buliran air mata tak hentinya berjatuhan.
‘’Baru aja beberapa hari Mama merasakan kasih sayang dari Papa dan sekarang dia berubah lagi. Kita do’akan agar Papa baik lagi ya.’’ Aku mengambil bayiku dan meletakkan ke pangkuan.
Aku sudah tergiur dengan kemanisan sesaat, begitu mudah aku menyerahkan kehormatanku pada lelaki yang belum halal untukku. Kukira pacaran itu nikmat, ternyata hanya nikmat sesaat saja. Dan kukira pacaran itu akan berlanjut romantis hingga ke jenjang rumah tangga, ternyata juga tidak. Dari kejadian ini semua aku bisa memetik hikmah, lebih baik pacaran setelah menikah. Juga romantis ketika pacaran tak kan bisa menjamin hingga berumah tangga.
Seketika pintu bunyi diketuk dari luar.
‘’Monik, kamu tidur?’’ terdengar suara bibi di luar sana, seiring dengan bunyi ketukan pintu.
Kuseka buliran air mata secepatnya,’’Ah, enggak kok, Bi. Ini lagi nimang Rafi.’’
‘’Boleh Bibi masuk? Ini ada goreng pisang buat Monik, tapi Mas Andrenya udah berangkat kerja kan?’’
‘’Boleh banget, Bi. Wah, bawa masuk dong, Bi. Mas Andre lagi nggak ada kok.’’
Seketika pintu berderit, tampak wanita separuh baya itu membawa nampan yang kukira berisi pisang goreng.
‘’Nah, ini masih anget-anget loh, Monik. Bibi letak di sini aja ya,’’ katanya bergegas menaruh nampan itu di nakas.
‘’Iya, Bi. Taruh di sana aja.’’
‘’Jangan sampe nggak dimakan ya, Monik. Ini Bibi sengaja buatkan spesial untukmu.’’
‘’Pasti aku makan kok. Makasih loh, Bi,’’ sahutku tersenyum.
__ADS_1
‘’Bibi beli di mana pisangnya?’’
‘’Di pasar, kebetulan tadi pas Bibi belanja ada pisang segar-segar banyak. Nah, karena Bibi teringat kamu, makanya Bibi beli deh,’’ jelasnya sembari tersenyum khas miliknya.
‘’Ya Allah segitunya Bibi ya, di pasar pun ingat aku,’’ sahutku terkekeh pelan.
‘’Duduk dulu, Bi,’’ imbuhku sembari menepuk kasur.
Bibi tertawa kecil,’’Nggak usah, Monik. Ini Bibi mau melanjutkan pekerjaan Bibi,’’ tolaknya sembari tersenyum.
‘’Tapi kalo lelah jangan lupa istirahat yah, Bi.’’
‘’Siap. Kalo gitu Bibi lanjut kerja dulu ya, Monik,’’ ucapnya sembari mengacungkan jempol.
Aku mengangguk,’’Iya, Bi.’’ Bibi bergegas melangkah ke luar dari kamar dan seketika berbalik lagi ke dalam kamarku.
Aku tertawa pelan,’’Ada apa, Bi?’’
‘’Bibi lupa. Tadi kepengen gendong Rafi,’’ ujarnya terkekeh pelan. Dan melangkah mendekatiku.
‘’Nih, Bi.’’ aku menyodorkan Rafi pada bibi dan diraihnya, lalu diletakkan ke pangkuannya.
‘’Enak banget tidurnya yah, Raf.’’
Dipandanginya bayiku yang tengah terlelap lalu dikecupnya kening bayiku.
‘’Mirip Mas Andre ya, Monik?’’ tanya bibi melirikku. Aku tersenyum.
‘’Iya, Bi. Tapi nggak mirip aku sama sekali ya, Bi?’’
‘’Begitulah Monik, kadang ada anak yang mirip sama Papanya, kadang lagi ada yang mirip sama Mamanya, dan juga ada yang percampuran antara Papa dan Mamanya,’’ sahut bibi sembari menghenyak di ranjang. Yang membuat aku tersenyum lebar.
‘’Andaikan bayi Bibi masih hidup,’’ katanya lirih dan seperti menahan sesuatu. Membuat senyuman lenyap di bibirku.
‘’Bibi dulu punya bayi dan jika dia masih ada mungkin udah seusia kamu, tetapi Allah berkehandak lain. Ketika dia berumur 3 bulan panasnya tinggi dan Bibi bawa ke rumah sakit. Di perjalanan dia menghembuskan napas terakhir. Bibi sempat stress, seiring berjalannya waktu Bibi bisa menerima semuanya. Dan ternyata Bibi nggak bisa hamil lagi, karena ada penyakit di rahim Bibi, akhirnya rahim diangkat dan itu membuat suami Bibi marah, dia nggak bisa menerima itu semua. Akhirnya Bibi diceraikan dan Bibi diusir dari rumahnya, Bibi nggak tahu entah ke mana lagi. Berjalan ke pasar mau mencari kerja tapi nggak dapet dan Bibi menabrak belanjaan Bu Karni, beliau marah banget. Bibi meminta ma’af serta sebagai gantinya Bibi menawarkan diri untuk bekerja di rumah Bu Karni, akhirnya Bibi bekerja di sini setelah seminggu bekerja Bibi diberikan gaji dan ternyata Bu Karni baik banget, sampai sekarang Alhamdulillah Bibi tetap bertahan di sini.’’ Curhatan bibi panjang lebar, buliran air matanya terus berjatuhan dan diusapnya dengan kasar.
Ya Allah, ternyata masalah bibi lebih berat dibandingkan dariku. Kasihan sekali bibi. Aku mengangsur posisi duduk hingga berdekatan dengan bibi. Kutatap beliau dengan tatapan sendu, berusaha menahan buliran air mataku ini.
‘’Ya Allah! Semuanya pasti ada hikmahnya, Bi. Kita harus tetap semangat, dan aku yakin Bibi orangnya kuat,’’ lirihku menatap beliau dengan tatapan sendu.
‘’Kamu bener. In syaa Allah Bibi akan berusaha untuk kuat,’’ sahutnya, berkali-kali diusapnya buliran air mata itu namun tetap saja lolos.
‘’Oh iya, Bibi lupa. Pekerjaan masih ada yang harus Bibi selesaikan, ini Rafinya.’’ Bibi memberikan Rafi padaku. Kuambil dengan perlahan dan membaringkannya kembali di ranjang.
‘’Kalo gitu Bibi ke bawah dulu ya, Monik.’’ Bibi bergegas bangkit dan aku mengangguk sembari tersenyum.
‘’Semangat selalu ya, Bi,’’ kataku. Dibalas dengan anggukan olehnya, lalu menoleh kembali.
‘’Goreng pisangnya udah dingin, Monik. Pasti nggak enak,’’ ucapnya tersenyum khas miliknya.
‘’Nggak apa-apa, Bi. Dingin atau panas, aku tetap suka. Masakan Bibi kan paling enak.’’
‘’Duhh! Kamu mah bisa aja membuat Bibi melayang.’’ Bibi tertawa kecil. Membuat aku ikut tertawa pelan.
‘’Ya udah, Bibi mau melanjutkan pekerjaan dulu.’’ Aku mengangguk dan terkekeh pelan, Bibi kembali melanjutkan langkahnya sembari menutup pintu kamar pelan.
‘’Ya Allah, Bibi yang baik aja sering dapet ujian dari Allah. Apalagi aku si pendosa hebat,’’ lirihku.
Mataku tertuju pada sepiring goreng pisang yang tertata di nakas, aku bangkit dengan perlahan dan meraihnya. Kusantap walau dengan pikiran yang melayang entah ke mana.
‘’Udah dingin, tapi tetep aja enak. Masakan Bibi memang enak banget. Mantan suaminya bodoh kali, punya istri pinter masak kok semudah itu mengusir dari rumah. Ya, aku tahu karena Bibi yang nggak bisa hamil lagi, tetapi setidaknya si lelaki jugak mikir lah dan lelaki baik pasti nggak akan kayak gitu,’’ upatku sembari menyantap pisang goreng.
Pisang goreng sudah habis tiga buah olehku, sesaat terpikir di benakku semua perlakuan Andre terhadapku.
‘’Aku nggak habis pikir dengan sikap Andre. Kalo seandainya Andre mengusirku, bagaimana dengan nasib anakku? Hanya beberapa hari dia berubah, kini kumat lagi penyakitnya,’’ lirihku. Buliran air mataku terus saja menetes, kuseka dengan kasar. Aku berusaha menepis semua prasangka buruk yang hadir di pikiranku.
__ADS_1
Benda pipihku berdering, langsung kuraih dan membawanya menghenyak di ranjang.
‘’Mama?’’
‘’Ya, beliau pasti tahu apa yang tengah kurasakan. Firasatnya mungkin udah sampe ke Mama,’’ gumamku.
Aku bergegas memencet tombol untuk menjawab panggilan dari mama.
‘’Assalamua’laikum, Monik. Kamu baik-baik aja kan, Nak?’’ suara mama di seberang sana, sepertinya beliau begitu mencemaskanku.
‘’Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah. Mama apa kabar?’’ aku mencoba bersikap seolah baik-baik saja.
‘’Kamu beneran baik-baik aja kan?’’ tanpa menjawab tanyaku.
Ya Allah, aku harus jawab apa ini? Aku tak ingin jadi buah pikiran oleh mama, apalagi papa sekarang masih dalam keadaan sakit.
‘’Aku baik-baik aja kok, Ma. Mama sehat kan?’’
‘’Alhamdulillah kalo gitu, tetapi kok firasat Mama mengatakan kamu sedang ada masalah. Ikatan batin antara ibu dan anak itu kuat loh, Nak.’’
Jleb!
Mama benar, ikatan batin antara seorang anak dan ibu itu sangatlah kuat. Apa pun yang sedang terjadi dengan anaknya, pasti firasatnya akan datang pada sang ibu.
‘’Iya, Ma. Kayaknya itu karena Mama terlalu menghawatirkan aku deh. Di sini aku baik-baik aja kok,’’ sahutku seketika dan mencoba bersikap seolah keadaanku baik-baik saja.
‘’Mungkin iya, Nak. Mama terlalu mengkhawatirkanmu.’’
Membuatku bernapas lega seketika.
‘’Cucu Mama tidur?’’
‘’Iya. Rafi tidur, tadi bangun sebentar aja, Ma.’’
‘’Oalah, Mama kira dia bangun. Udah rindu nih Mama denger suara tangisnya.’’
‘’ Nantilah kalo Rafi bangun aku kabarin Mama lagi ya. Oh ya, Papa gimana, Ma? Udah sehat?’’
‘’Janji ya, Sayang. Papa Alhamdulillah udah mulai membaik keadaannya, kamu jangan khawatir ya.’’
‘’Iya, Ma. Alhamdulillah kalo gitu. Aku selalu kepikiran Papa, sampaikan salamku buat beliau ya.’’
‘’Mama udah bilang, Papa baik-baik aja. Jangan khawatir ya, kamu jangan banyak pikiran. Nanti Mama sampein salamnya, Papa sedang istirahat.’’
‘’Makasih, Ma. Mama jaga kesehatan ya,’’ lirihku.
‘’Iya, Nak. Oh ya, Andre gimana? Dia nggak kasar sama kamu kan?’’
Allah! Pertanyaan mama membuat jantungku berdegup dan dadaku sesak, kuatur napas perlahan.
‘’A—Andre baik kok, Ma,’’ sahutku gegalapan.
‘’Beneran, Monik?’’
‘’Iya, Ma. Udah dulu ya. Mertuaku manggil di luar, Ma.’’
‘’Assalamua’alaikum, Ma.’’ aku bergegas memutuskan sambungan telepon seketika. Kuhela napas dengan pelan dan kembali meletakkan benda pipih itu.
‘’Ya Allah, apakah aku berdosa lagi jika berbohong kayak gini ke orang tuaku? Aku cuman nggak mau mereka jadi kepikiran sama aku, apalagi Papa masih sakit.’’
Bersambung…
Ma’af ya, beberapa hari ini saya sakit jadi enggak bisa update. Adakah yang masih menunggu novel saya?
Instagram: n_nikhe
__ADS_1