
POV Bu Karni
‘’Nak, kamu kapan akan bangun?’’
Aku memeluk tubuhnya yang hanya bisa terbaring lemah. Aku tak tahu harus bagaimana lagi, sudah dua kali anakku melakukan operasi di bagian kepalanya. Namun, hasilnya nihil. Dia masih dalam keadaan koma. Sudah seminggu lebih sehari dia terbaring seperti ini. Aku tak tahu harus bagaimana.
Entah kenapa ujian datang bertubi-tubi di hidupku. Mulai dari suami yang selingkuh, lalu masuk penjara dan aku meminta cerai padanya atas semua kesalahan besar yang dilakukan oleh lelaki itu padaku.
Lalu Andre yang menghamili Monik di luar nikah dan kini dia yang mengalami kecelakaan membuat di kepalanya cedera yang cukup parah. Juga orangtua Nina yang menuduh anakku dan dia mengancamku, sepertinya ancaman itu tak main-main. Hidupku sungguh berantakan.
Untung saja Monik selalu berusaha untuk menenangkanku, dia selalu berada di sampingku disaat aku benar-benar rapuh. Padahal dia sudah diceraikan oleh anak semata wayangku, Andre. Namun, dia tetap memperlakukan aku layaknya seperti orangtuanya sendiri.
Ah, andai saja Andre tak menceraikan Monik. Mungkin sekarang wanita itu masih jadi menantuku. Pasti aku beruntung sekali punya menantu sebaik dia. Aku tak habis pikir dengan kelakuan anakku. Bisa-bisanya dia memilih wanita lain daripada istrinya. Ya, aku masih ingat ketika dia menjemput pakaiannya ke rumah dan tak kembali lagi. Kuyakin dia menginap di rumah Nina, karena aku tak menemukan Andre di rumah teman-temannya.
Kini dia terbaring lemah. Apa ini balasan dari Allah untuk anakku atas semua yang sudah diperbuatnya pada Monik. Sejujurnya aku menyesal, karena gagal mendidik anak semata wayangku. Percuma saja aku punya segalanya, percuma saja kaya raya kalau anak saja tak bisa mendidiknya dengan baik. Aku gagal jadi ibu untuknya. Dia terjerumus pada ke maksiatan yang membuat hidup Monik jadi hancur berantakan. Biar bagaimana pun juga Andre tetap anak kandungku. Semoga setelah dia sadar dari komanya, dia akan segera bertaubat. Aku yakin dia belum terlambat untuk bertaubat.
Aku mengenggam tangannya yang tengah terpasang infus.
‘’Mama selalu do’ain kamu supaya kamu cepat sadar dan sembuh, Nak.’’
Berulang kali aku menguap, sepertinya mataku ini perlu istirahat barang sejenak.
***
Mataku enggan untuk terbuka. Samar kulihat ada suster, tapi dia memakai masker. Aku mengusap bola mata berulang kali. Tubuh terasa seperti melayang, mungkin karena aku yang kurang tidur seminggu ini.
‘’Suster! Tunggu!’’ Wanita berseragam itu langsung buru-buru pergi dari ruangan ICU.
‘’Aneh! Kayaknya bukan Suster Aila deh.’’
__ADS_1
Aku tahu betul suster Aila yang selama seminggu ini merawat dan menjaga anakku. Dia tak pernah mengenakan masker. Aku bergegas mengecek dan memastikan keadaan Andre. Alangkah kagetnya aku tatkala memandangi alat medis berukuran segi empat itu berubah jadi garis lurus dan berbunyi. Selang infus pun terlepas, benda itu seperti digunting.
‘’Astaghfirullah! A—apa jangan-jangan—‘’ Aku bergegas memencet bel yang ada di ruangan ini. Berulangkali kupencet dengan deraian air mata. Pikiranku tak tenang.
‘’Ndre! Apa yang terjadi sama kamu, Nak?’’ Aku merengkuh tubuh Andre. Seketika terdengar suara langkah kaki.
‘’Apa yang terjadi sama pasien, Bu?’’ Wanita dan lelaki yang berpakaian seragam itu dengan tergesa-gesa mendekatiku.
‘’Dok, tolong anak saya! Sepertinya ada yang mencoba untuk mencelakai anak saya—’’
‘’Ibu tenang dulu. Kami akan segera periksa pasien. Silakan keluar, Bu.’’
‘’Ta—tapi, Dok…’’
Belum selesai aku bicara, ruangan ICU itu sudah ditutup cepat oleh kedua dokter. Aku memegangi kepala yang terasa berdenyut hebat. Pikiran buruk tiba-tiba menghantuiku. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anak semata wayangku itu.
Aku mondar-mandir, pikiran buruk selalu menghantuiku. Aku berusaha untuk menepisnya, namun tak bisa. Ia tetap saja menghantuiku. Ya Allah! Aku mohon selamatkanlah anakku.
Pintu ruangan ICU seketika berderit, tampak kedua dokter itu berdiri di ambang pintu. Namun, wajah mereka lesu. Ada apa ini?
‘’Do—Dok, bagaimana keadaan anak saya? Dia pasti baik-baik aja kan?’’ Aku mendekati dua orang dokter itu dan mengguncang tubuhnya.
‘’Ma’af, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Allah berkehendak lain.’’
Membuat jantungku seperti berhenti berdetak, hidupku seakan-akan runtuh. Tubuh terasa lemas tak berdaya, kepala berdenyut hebat dan pemandanganku kabur seketika.
Bau minyak putih menyengat menusuk hidungku. Namun, mata enggan untuk terbuka. Kepalaku sungguh terasa sakit. Aku memijit kepala yang kian terasa berdenyut hebat. Seketika aku teringat dengan anakku. Tidak! Sepertinya aku mimpi buruk.
‘’ANDREEE!!!’’ Aku bergegas duduk, namun karena tubuh terasa tak berdaya membuat aku kembali terbaring.
__ADS_1
‘’Bu, tenang dulu ya.’’ Wanita berseragam itu mendekatiku.
‘’Sa—saya harus ketemu sama anak saya, Sus,’’ kataku lirih dengan suara bergetar. Aku bergegas untuk kembali duduk, namun tetap saja tak bisa karena tubuh terasa lemas tak berdaya.
‘’Anak saya Andre baik-baik aja kan?’’ Aku memegang tangan wanita yang berseragam itu, namun dia hanya terdiam seribu bahasa. Tidak, anakku Andre pasti baik-baik saja. Dia itu lelaki yang kuat, dia pasti bisa sembuh. Aku percaya itu.
‘’Ma?’’ Wanita berkerudung itu menghampiriku, buliran air mata membasahi pipinya.
‘’Monik? Di mana Andre? Dia baik-baik aja kan?’’
‘’A—Andre udah ninggalin kita, Ma.’’ Membuat hidupku seakan-akan tak berguna lagi dan seperti petir yang menyambar di siang bolong. Aku menangis histeris.
‘’Ma, aku juga nggak menyangka kalo Andre pergi meninggalkan kita secepat ini.’’ Wanita itu memelukku dengan erat.
‘’Kita harus kuat ya, Ma. Supaya Andre tenang di alam sana, supaya dia jangan sedih. Terutama melihat Mama seperti ini.’’ Dia melepaskan pelukan dan tangannya terangkat menyeka buliran air mataku.
‘’Mama nggak punya siapa-siapa lagi, Monik,’’ ungkapku di sela isakan tangis. Ya, hanya Andre satu-satu yang kupunya, dia yang paling berharga di hidupku. Tapi Allah berkehendak lain.
‘’Mama masih punya aku. Aku janji akan selalu ada untuk Mama.’’ Begitu tulus tatapan dari kedua netra gadis berhati mulia ini.
Hatiku yang tadinya teriris, namun mampu sedikit mengobati rasa luka ini. Rasanya aku merasa sedikit tenang jika wanita ini selalu di sampingku, selalu ada dan selalu menenangkanku di saat kondisi seperti ini.
‘’Kalo nggak ada kamu. Mama nggak tahu lagi—‘’ Aku menangis sejadi-jadinya lalu menghambur ke pelukan Monik, wanita yang pernah mengisi hidup anakku.
Sungguh aku tak menyangka, anakku secepat ini pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku seperti mimpi di siang hari. Rasanya aku tak sanggup menjalani hari-hari tanpa dia di sampingku.
‘’Ya Allah kenapa Kau ambil anakku secepat ini?’’
Bersambung.
__ADS_1