Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Apakah Andre Sungguh Berubah?


__ADS_3

'’Oh ini, ini untukmu sebagai permintaan ma’af dariku,’’ lirihnya dengan mata berembun lalu melirik yang di kantong plastic bewarna hitam di tangannya itu, lalu berlanjut menatapku.


‘’Apakah permintaan ma’afnya tulus? Atau karena Mamanya aja?’’ batinku menunduk seketika.


‘’Coba lihat aku, Sayang. Aku tahu kamu marah sama aku karena sikapku selama ini, iya kan?’’ tanya lelaki itu sembari menatap pupil mataku.


Kenapa ya, aku merasa permintaan ma’afnya itu adalah hanya sebatas aktingnya saja. Allah, mungkin hanya feelingku. Aku berusaha menepis semua prasangka buruk yang hadir di pikiranku.


‘’Monik! Aku mau kita perbaiki lagi mulai dari awal rumah tangga kita. Kamu mau kan kita hidup bersama?’’


‘’Kenapa terasa berat olehku? Kenapa perasaanku dia akan berubah kembali? Bagaimana ini.’’ Aku membatin.


Ya sudahlah, semoga kali ini dia memang sungguh ingin berubah ke hal yang lebih baik dan ingin membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah denganku.


‘’A—aku mema’afkanmu,’’ lirihku sembari mengenggam jemarinya.


‘’Kamu beneran, Sayang?’’ tanya lelaki yang sudah berstatus sebagai suamiku itu sembari mengecup tanganku. Aku mengangguk secepatnya tak terasa buliran air mataku lolos begitu saja.


‘’Makasih banyak ya, Sayang. Kamu udah mau mema’afkanku dan kamu udah bisa menerimaku kembali. Aku janji akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu dan menjadi Papa yang baik untuk putra kita,’’ lirihnya panjang lebar dan mengelus puncak kepalaku yang tengah dibalut kerudung.


‘’Sama-sama, Ndre. Kuharap kamu beneran berubah dan lihatlah bayi kita, butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya,’’ sahutku sembari memandangi bayi mungilku yang tengah terlelap.


‘’Aku janji akan berubah demi anak kita dan juga kamu. Kamu bener, anak kita butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya,’’ lirihnya dengan mata berembun. Kali ini aku benaran yakin kalau suamiku sudah mulai berubah ke yang lebih baik lagi.


Dia bergegas mengambil Rafi dan menggendongnya, kukira Andre tak bisa menggendong bayi. Membuatku merasa cemas memandangi suamiku itu. Bagaimana kalau bayi kami terjatuh dari gendongannya? Karena tampaknya dia belum begitu mahir.


‘’Lihatlah, bayi kita lucu sekali!’’ katanya lirih sembari memperlihatkan Rafi yang tengah dipangkunya. Aku tersenyum dan mengelus pipi bayiku.


‘’Iya. Lucu dan juga tampan. Setampan kamu, Papanya,’’ sahutku sembari menatap Andre, dia pun membalas tatapanku, lalu tersenyum.


‘’Bisa aja Mama kamu nih, Raf.’’


‘’Ya udah, nggak baik kita pangku terus Rafinya. Ntar malah manja lagi, kamu yang kerepotan ntar jika aku kerja.’’ Aku menatapnya, dia bergegas membaringkan kembali Rafi di ranjang dan meraih plastik hitam yang tergeletak.


‘’Kamu makan ini ya, ini spesial kubelikan untukmu,’’ katanya sembari memperlihatkan plastik hitam yang ditentengnya.


‘’Apa itu, Ndre?’’


‘’Ada deh, Ntar dulu, kamu jangan ke mana-mana. Biarkan aku ambilin dulu piring ke bawah.’’ Dia bergegas bangkit dari duduknya.


‘’Ta—tapi, Ndre. Biarkan aku—’’


‘’Cuman sebentar kok, kamu duduk di sini. Oke?’’ ucapnya dan bergegas melangkah ke luar dari kamar. Membuatku termenung sejenak.


‘’Alhamdulillah, suamiku berubah menjadi baik. Semoga akan tetap seperti ini Ya Allah.’’


Tak berselang lama, Andre sudah datang di tangannya memegang nampan. Ternyata berisi piring, sendok, buah-buahan, jus nangka, dan segelas air minum.

__ADS_1


‘’Kok banyak banget, Ndre?’’ aku terheran menatap isi nampan yang tengah dibawanya. Dia tersenyum dan meletakkan nampan itu di nakas.


‘’Kamu kan harus makan makanan yang bergizi, apalagi kamu menyusui bayi kita dan aku ingin kamu serta bayi kita selalu sehat,’’ lirihnya sembari mempersiapkan makanan untukku. Seketika diraihnya plastik yang dibawa tadi. Lalu menatanya ke dalam piring.


‘’Gado-gado?’’ aku tersenyum lebar seketika melihat isi dari kantong plastik itu. Ya, sejak mengandung aku selalu menginginkan makan gado-gado tetapi tak pernah kesampaian. Kini? Ternyata dibelikan sendiri oleh suamiku. Ahh! Membuat aku semakin yakin kalau suamiku ini sudah berubah total.


‘’Gimana? Kenapa senyam-senyum begitu?’’ tanya lelaki itu tersenyum seketika menelusuri wajahku.


‘’E—enggak, itu—’’ sahutku gegalapan.


‘’Kamu kenapa sih? Aku senang kalo ngelihat istriku senyam-senyum kayak gini.’’ Dia tertawa kecil dan bergegas menghenyak di sampingku.


‘’Aku udah lama kepengen beli gado-gado, bahkan ketika mengandung bayi kita tetapi nggak pernah kesampein dan sekarang kamu yang beliin. Aku seneng banget loh, Ndre. Makasih banyak ya,’’ sahutku dan menatap pupil mata indahnya.


‘’Kamu kenapa tahu yang kuinginkan?’’ tanyaku kembali.


‘’Tahulah, kan kita sehati,’’ sahutnya terkekeh dan mengecup keningku seketika.


‘’Ihh, nakal ya. Aku serius malah digombalin, gimana sih,’’ sungutku dengan muka memerah bak kepiting rebus.


‘’Emang nggak boleh ngegombalin istriku ini?’’ dia melirikkan sebelah matanya.


‘’Udah ah, aku mau makan itu!’’ tunjukku ke nakas yang telah disiapkan oleh Andre.


‘’Ya udah. Aku suapin, ya?’’


‘’Kita makan berdua aja,’’ kataku dengan manja.


‘’Aaa!’’ aku membuka mulut seketika.


‘’Enak nggak, Sayang?’’ tanya Andre usai menyuapkan sesendok gado-gado padaku.


Aku mengangguk lalu tersenyum,’’Enak banget nih gado-gadonya. Emang di mana kamu beli, Ndre?’’ aku kembali menyantap gado-gado.


‘’Syukurlah, kalo kamu suka. Ya, di tempatnya lah.’’ Dia terkekeh pelan.


‘’Ihh, kamu becanda lagi. Ya, di mana nama tempatnya, Ndre?’’ sahutku kesal.


‘’Di depan rumah,’’ jawabnya tersenyum. Lalu menyuap gado-gado ke mulutnya.


‘’Lah, nggak ada, Ndre. Sejak kapan emang?’’ ucapku heran dan menatapnya.


Seketika dia tertawa kecil lalu menyuap sesendok gado-gado lagi ke mulutnya,’’Kenapa tertawa, Ndre?’’ tanyaku kesal.


‘’Baru dua hari ini, makanya kamu jarang ke luar sih.’’ Dia meletakkan kembali sendok.


‘’Pantes aja aku nggak tahu. Kan aku nggak pernah keluar, Ndre,’’ kataku pelan.

__ADS_1


‘’Oh iya, aku lupa. Ma’af ya, Sayang. Apalagi kamu sekarang kan menjaga bayi kita.’’ Kembali disuapkannya padaku.


‘’Iya, nah itu kamu tahu,’’ timpalku sembari menikmati gado-gado yang tengah disuapinya.


Dia tertawa pelan,’’Aku mau juga dong disuapin,’’ ujarnya sembari membuka mulutnya seketika.


Kusuapi dia dengan lembut, lantas dia menatapku dan kubalas tatapannya. Jantungku berdentam tak keruan, begitu pun dengan mukaku yang mungkin bak kepiting rebus. Hari ini aku begitu bahagia rasanya, karena suamiku sudah memperlakukan aku dengan baik dan sudah menganggapku sebagai istrinya. Tak seperti biasanya, yang selalu membentakku dan bersikap kasar padaku.


‘’Eh, kamu harus minum ini dulu.’’ tampak dia salah tingkah usai kami tatapan, diraihnya segelas jus nangka dan meminumkannya padaku.


‘’Makasih ya, Sayang,’’ lirihku setelah menyesap segelas jus.


Beberapa menit kemudian, kami telah selesai menyantap gado-gado. Kubereskan kembali piring kotor itu dan berniat untuk membawanya ke bawah.


‘’Ke mana lagi, Sayang?’’ aku menghentikan langkah seketika dan menoleh.


‘’Mau ngantarin ini,’’ sahutku menunjuk yang tengah kubawa.


‘’Kan ada Bibi yang jemput nanti. Kamu di sini aja sama aku,’’ godanya sembari melirikkan sebelah mata. Aku tersipu malu dan kembali membawa piring, lantas menaruhnya di nakas. Kubergegas menutup pintu dan melangkah kembali ke ranjang.


‘’Ke sini dong, duduk di sampingku,’’ pinta Andre sembari menepuk sofa. Tanpa berpikir lagi lantas kubergegas menghenyak di samping Andre dia pun menggeser posisi duduknya hingga berdekatan denganku.


‘’Makasih banyak ya kamu udah mau berjuang demi bayi kita,’’ katanya lirih lalu memandangiku dengan tatapan sendu.


‘’Dan ma’af, ketika itu aku nggak ada di sampingmu,’’ imbuhnya kembali. Aku menghela napas pelan. Sejujurnya, masih ada rasa sakit di hatiku, namun aku tak boleh egois. Putra mungilku butuh kasih sayang dari papanya.


Aku mengangguk pelan,’’Nggak apa-apa, aku ngerti kok. Setidaknya sekarang kamu udah kembali lagi bersamaku dan bayi kita. Kuharap kamu akan kayak gini selamanya,’’ sahutku dengan suara bergetar dan tanpa kusadari buliran air mataku luruh seketika.


‘’Aku akan kayak gini terus, aku janji sama kamu dan juga bayi kita. Tolong do’akan aku juga agar menjadi yang lebih baik lagi ke depannya.’’ Tangan kekarnya terangkat menyeka buliran air mataku dan mengenggam tanganku dengan erat.


‘’Semoga kamu bisa menepati janjimu, Ndre. Aku akan selalu mendo’akanmu dan kita saling melengkapi ya.’’ Kubalas genggaman tangannya.


Ya, pasangan itu seharusnya hidup saling melengkapi. Jika istri memiliki kekurangan maka tugas sang suami adalah melengkapi dan begitu pun sebaliknya, jika suami memiliki kekurangan maka tugas istri adalah sebagai pelengkap. Jika saling melengkapi maka harmonisnya rumah tangga akan didapatkan. Ya, berumah tangga merupakan suatu sarana untuk meningkatkan dan menyempurnakan ibadah kepada Allah.


Dan berumah tangga juga merupakan sebagai dakwah, berumah tangga merupakan suatu sarana untuk saling mengingatkan satu sama lain dalam kebaikan dan taqwa dalam memberikan tauladan yang baik. Sekali lagi setiap pasangan suami istri selalu memiliki kekurangan dan juga memiliki kelebihan. Kekurangan istri atau suami, bagaimana pun itu adalah menjadi sarana dakwah bagi pasangan masing-masing. Maka akan timbul dorongan untuk saling melengkapi dan saling menutupi kekurangan yang dimiliki setiap pasangan.


Di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan oleh Allah bahwa hubungan suami-istri diungkapkan seperti sebuah pakaian. Maksudnya istri adalah pakaian suami dan suami adalah pakaian istri. Berarti ini membawa konsekuensi keduanya harus berusaha untuk saling menjaga dan menasihati, seperti firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah ayat 187, yang artinya:’’ Dihalalkan bagimu pada malam hari dibulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu, mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.’’


Jadi setiap pasangan mesti memiliki kesadaran bahwa mereka terlahir sebagai pejuang-pejuang kebenaran yang memiliki suatu kewajiban untuk saling memberikan nasihat, mengajak kepada kebaikan dan mencegah perbuatan munkar. Begitu tulisan yang kutemukan dalam buku online yang kubaca kemarin. Ya, aku sudah berjanji pada diriku agar selalu menimba ilmu agama walaupun itu hanya secara online, asalkan referensinya jelas dan tak menyesatkan.


‘’Iya, Sayang. Makasih ya. Kita saling melengkapi, jika ada kekuranganku maka kamulah menjadi pelengkapnya dan begitu pun sebaliknya,’’ sahutnya dengan mata berbinar memandangiku.


‘’Ya Allah, semoga suamiku beneran berubah kali ini,’’ batinku merapalkan do’a.


Aku mengangguk dan tersenyum memandanginya, lalu Andre merangkulku ke pelukannya.


Bersambung.

__ADS_1


Bantu support ya Readers agar aku tambah semangat untuk menulis.


Instagram: n_nikhe


__ADS_2