
‘’Alhamdulillah, aku udah bisa melihat kembali senyuman yang terlukis di wajah kedua orang tuaku. Ya Allah, semoga tiada lagi kata berpisah,’’ batinku terharu, dengan mata berembun menatap kedua orang tua yang tengah tersenyum.
***
Kupandangi bayiku masih terlelap di pangkuan mama. Beberapa menit kemudian, kami telah sampai di depan rumah. Papa bergegas mematikan mesin mobil, lalu membukakan pintu untuk kami. Aku melangkah keluar, seketika tetangga menatapku dengan tatapan aneh dan tajam. Terlebih mama yang tengah menggendong bayiku, tatapan mereka begitu tajam menatap mama.
‘’Eh, Bu Elsa bawa bayi. Cucunya ya?’’ tanya salah seorang tetangga dengan senyum mengejek. Kupandangi mama hanya menunduk.
‘’Anakku aja udah daftar kuliah loh. Eh, Monik malah udah punya bayi.’’
‘’Ayahnya siapa tuh? Jangan-jangan nggak tahu siapa Ayahnya lagi,’’ ketusnya dengan senyuman sinis.
‘’Nah bener, nggak pulang-pulang selama beberapa bulan. Eh, tahu-tahunya udah punya baby aja. Makanya Bu Elsa sama Pak Indra anak tuh dididik dengan baik, jangan biarkan keluar malem-malem. Ini kerja aja terus, sampai lupa dengan anak satu-satunya.’’
‘’Iya, kaya banget tapi anaknya hamil di luar nikah. Ihh, ngeri!’’ ucapnya bergedik ngeri.
‘’Jangan bawa ke sinilah anak haram itu, nanti malah kita yang kecipratan azabnya!’’
Buliran air mata mama tampak berjatuhan, sedangkan papa mengepalkan tangannya. Begitu pun denganku, dadaku terasa sesak dan buliran air mata berjatuhan di pipiku. Perih rasanya, sangat perih.
‘’Aku tahu aku banyak dosa, tetapi nggak kayak gitu juga kali Ibu-Ibu. Boleh menghina aku, tapi jangan menghina Papa dan Mamaku. Ingat kalian punya anak perempuan juga!’’ sahutku dengan bibir bergetar dan buliran air mataku terus saja berjatuhan.
Seketika semua mata tertuju padaku ,’’Alah, kami mendidik anak bukan kayak orang tuamu. Udah hamil di luar nikah masih berani juga tinggal di sini!’’ ketusnya, tak mau kalah.
‘’Huuuu! Ayuk Ibu-Ibu kita pergi!’’ Mereka bergegas melangkah pergi, tetapi langkahnya terhenti.
‘’Tunggu! Jangan seenaknya kalian menghina keluargaku! Kalian akan tahu akibatnya nanti!’’ kesal papa dengan nada suara naik, matanya memerah dan mengepalkan tangan.
‘’Pake ngancam segala lagi! Kita kan bicara apa adanya!’’ ketusnya memandangi papaku dengan tatapan tajam, lalu bergegas meninggalkan kami. Seketika tangisan mama pecah.
‘’Ma—Mama, aku kan udah bilang sebelumnya. Kalo aku mau ngekost aja, tetapi Mama dan Papa nggak mengizinkan,’’ ucapku lirih, menghampiri mama lalu memegang jemarinya yang sudah tampak keriput itu.
‘’Ma—ma’afkan aku. Biarkan aku ngekost aja ya, Ma, Pa.’’
‘’Biarkan dia pergi, Ma. Papa udah malu rasanya punya anak kayak dia!’’ bentak papa spontan keluar dari mulutnya. Membuat mulutku terpenganga dibuatnya, saking kagetnya diri ini. Nampak dari sorot mata papa ada kebencian di sana. Allah, papa membenciku kembali.
‘’Pa—pa, beneran? Dia habis ngelahirin loh. Dia habis operasi caesar, Pa. Mana mungkin dia bisa merawat bayinya dengan sendirian,’’ lirih mama dengan suara bergetar, bayiku terbangun dan menangis seketika.
Mama berusaha untuk menenangkan dan membujuknya. Ya, aku tahu mama pasti mencemaskanku, apalagi aku yang baru saja selesai melahirkan dengan operasi caesar.
‘’Aku nggak peduli, Ma. Itu semua ulahnya, dialah yang harus menanggung akibatnya. Kamu suruh dia pergi dari hadapanku sekarang juga! Dan bawa bayinya itu!’’ Degh! Aku tak menyangka papa bisa mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya sendiri, sebegitukah papa membenciku?
‘’Baiklah, aku akan pergi, Pa.’’ Dengan buliran air mata yang terus berjatuhan.
__ADS_1
‘’Pa, kok Papa berubah kayak gini sekarang?’’ tanya mama lirih di sela isakan tangisnya.
‘’Ya Allah, kenapa hanya sebentar saja Engkau berikan aku kebahagiaan. Baru tadi aku melihat senyuman yang terbit di bibir Papa dan Mama. Dan sekarang—‘’ aku membatin sembari menggeleng berkali-kali.
Atau mungkin ini adalah balasan dari Allah atas semua yang telah kuperbuat. Aku begitu mudahnya memberikan kehormatanku pada lelaki yang bukan halal untukku dan aku berbuka bukan pada waktunya.
‘’Nggak apa-apa, Ma. Biarkan aku pergi dengan bayiku ya. Mama jangan mencemaskanku, bantu dengan do’a aja,’’ ucapku sembari mengambil bayiku di pangkuan mama.
‘’Ba—bagaimana bisa kamu merawat bayimu sendiri, Nak?’’
‘’In syaa Allah, bisa kok. Mama jangan khawatir ya.’’
‘’Ahh! Pake lama banget lagi, pergi aja sekarang napa hah?’’ ketus papa sembari melangkah ke dalam rumah. Air mataku seketika luruh kembali.
‘’Kamu yang sabar ya, Nak. Ma’afkan Papamu ya.’’
‘’Iya, Ma. Papa nggak salah kok. Tapi akulah yang salah,’’ sahutku sembari menyeka buliran air mataku.
Ya, papa tak bersalah. Sudah sepantasnya aku mendapat ini semua. Papa membenciku karena apa yang telah aku perbuat membuat beliau digunjing dan dihina habis-habisan oleh tetangga.
‘’Aku pamit dulu ya, Ma.’’ Aku takdzim dengan mama, lalu beliau memelukku erat, tangisannya kembali pecah.
‘’Mama nggak bisa bantu apa-apa, hanya do’a yang bisa Mama panjatkan untukmu. Bagaimana pun kamu harus melewati semua ini,’’ ucap mama, perlahan melepaskan pelukan dariku.
‘’Ta—tapi, Ma—’’
‘’Udah, Mama tahu kok kalau kamu nggak ada uang sedikit pun. Uang hasil jualan motor itu kan ditambahkan ke biaya rumah sakit. Dan untung Ayu ikut menambahkan,’’ sahut mama panjang lebar.
‘’Makasih banyak ya, Ma. Ma’afkan aku.’’ Buliran air mataku kembali berjatuhan. Seketika bayiku pun menangis kembali.
‘’Sama-sama. Udah, kasihan bayimu. Dia ikut menangis jugak tuh.’’ Mama mengelus punggungku perlahan, lalu mengecup keningku. Kuseka perlahan air mataku. Namun tetap saja menetes kembali.
‘’Aku pamit, Ma. Do’akan aku ya.’’
‘’Iya, Nak. Ingat, perbaiki dirimu kembali dan minta ampun sama Allah, jaga bayimu dengan baik ya. Nanti jika ada apa-apa hubungi saja Mama.’’
‘’Oh ya, di dalam koper ini ada hanphonemu,’’ nasihat mama, sembari menyodorkan koper. Segera kuraih.
‘’Iya, Ma. In syaa Allah, do’akan aku agar bisa menjadi orang yang lebih baik lagi.’’ Mama mengangguk, seketika buliran air mata kembali membasahi pipi keriput mama. Aku b melangkah dengan gontai keluar dari pekarangan rumahku walaupun terasa berat kaki untuk melangkah dan walaupun masih belum sembuh bekas jahitan di area kewanitaanku. Kupandangi pekarangan rumah.
‘’Dulu aku main petak umpet di sini sama Mama dan Papa, diiringi canda tawa. Kini hanya rasa benci yang tampak di sorot mata Papa. Aku nggak akan pernah melupakan masa kecilku dengan Papa dan Mama. Rumah ini jadi saksi bisu bahwa dulu aku pernah merasakan bahagia, aku pernah bercanda tawa dengan kedua orang tuaku, walaupun kini jauh berbeda,’’ batinku memandangi pekarangan rumah tiada putusnya, memandangi ayunan di mana tatkala aku kecil bermain di sana dengan kedua orang tuaku dan aku berlari-lari lalu papa dan mama mengejarku.
Semuanya terlintas di benakku, kenangan itu betapa indahnya. Ya, betapa beruntungnya aku semasa kecil mendapat kasih sayang dari kedua orang tuaku dan bahkan aku dimanjakan oleh mereka.
__ADS_1
‘’Pa, Ma ma’afkan semua kesalahanku. Walaupun Papa membenciku, tapi aku tak pernah merasa marah sedikit pun karena memang semua ini adalah salahku. Kesalahanku yang nggak pandai menjaga diri dengan baik. Aku yang begitu mudahnya merasakan kemanisan yang bersifat sesaat dan aku yang berbuka bukan pada waktunya. Allah! Walaupun aku banyak dosa, tolong jaga dan berikan kesehatan kepada dua orang yang sangat kucintai ini. Aku harus pergi,’’ batinku menoleh kembali ke belakang, menatap mama dengan tatapan sendu.
Mama mencoba untuk tetap tersenyum, tampak mata mama berembun. Aku memutuskan untuk melangkah kembali, walaupun tak tahu arah yang akan dituju. Sesaat kemudian aku sudah keluar dari pekarangan rumah. Kupandangi, ada beberapa pasang mata tetangga menatapku dengan tatapan tajam dan aneh.
‘’Mungkin diusur sama Pak Indra kali. Terpaksa pergi deh, makanya mendidik anak tuh yang bener. Iya nggak Ibu-Ibu?’’
‘’Aku kira selama ini dia anak baik-baik. Eh, malah hamil di luar nikah nyatanya.’’
‘’Nah, betul. Kaya raya tapi anaknya begitu, enak hidup kayak kita kan. Biarpun miskin tetapi nggak banyak masalah, anak kita pun dididik dengan baik!’’
‘’Setuju, sekarang lihat deh kayak gembel aja. Membawa anak haramnya lagi, siapa yang akan mau membantunya kalo begitu. Yang ada orang terkena sial nantinya!’’
Allah! Tubuhku seketika lemas tak berdaya rasanya, napasku terengah-engah, dadaku terasa sesak, hatiku seperti berkeping-keping dan buliran air mataku luruh seketika. Dikiranya aku tak mendengar semua hinaannya, dikiranya aku ini tuli? Apakah aku harus melawan? Tetapi dalam hati aku juga membenarkan ucapan mereka. Ahh! Sudahlah, yang terpenting sekarang adalah aku mau mencari tempat tinggal untuk anakku sementara. Aku menoleh sejenak dengan buliran air mata yang membasahi pipi. Lalu bergegas melangkah tanpa menoleh dan tanpa memerdulikan ucapan mereka.
‘’Huuuu! Pergi sana, nggak pantes tinggal di sini! Bawa anak harammu itu!’’ hardik mereka serentak.
‘’Allah, apa dibilangnya? Anakku nggak bersalah sedikit pun, anakku nggak tahu apa-apa. Aku dan Papanya yang salah. Bukan anakku,’’ batinku merasa kesal dengan rasa perih hati yang mendalam.
‘’Ma’afkan Mama ya, Nak. Gara-gara Mama kamu dihina orang, kamu jadi kayak gini,’’ ucapku lirih sembari mengecup keningnya.
Ya, anakku terlahir ke dunia ini karena ulahku dan Andre. Dia tak bersalah, dia tak tahu apa-apa. Ucapan orang-orang membuat hatiku teriris. Mereka malah menyalahkan anakku yang tak tahu apa-apa, anakku tak berdosa. Akulah yang berdosa.
‘’Kita jalan dulu ya, siapa tahu nanti ada tempat untuk beristirahat. Adek pasti capek dan haus kan, Sayang? Sabar yah.’’ aku mengelus pipinya yang tampak memerah.
Dan aku memutuskan untuk melangkah kembali, walau tak tahu entah ke mana kaki akan dilangkahkan dan arah mana yang akan kutuju.
‘’Allah! Capek banget rasanya, begini rasanya menggendong anak ya?’’ keluhku lirih sembari menyeka keringat yang bercucuran dengan ujung lengan bajuku.
Bunyi klakson seketika mampu membuatku memberhentikan langkah.
‘’Mobil siapa ya?’’ aku menoleh seketika.
Bersambung.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.
Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.
See you next time!❤
Instagram: n_nikhe
__ADS_1