
‘’Aku nggak tahu. Kapan aku akan menyusul. Tapi, aku berharap aku menghadap-Nya setelah aku punya banyak amal dan diampuni segala dosaku.’’
Aku menyeka buliran air mata yang sejak tadi menetes. Kedua lelaki asisten mama Karni itu tiba menyodorkan berbagai macam jenis bunga. Saatnya menaburkan bunga di tempat peristirahatan Andre. Aku juga ikut menaburkan bunga.
‘’Kamu tenang saja, Ndre. Soal Mama, aku udah anggap sebagai orangtuaku. Aku akan selalu ada buat Mama,’’ gumamku dalam hati.
Tampak wanita bermata sembab itu terus saja mengalir air matanya sambil menaburkan bunga untuk terakhir kalinya di pemakaman anak semata wayang. Membuat hatiku kembali teriris.
Pemakaman Andre terlihat sangat cantik karena ditaburi bermacam jenis bunga di atasnya, aku tersenyum menatap pemakaman itu. Namun, air mata tetap kembali menetes.
‘’Saatnya kita mengirim do’a untuk almarhum,’’ titah lelaki yang biasa dipanggil ustad itu.
Semuanya pun menengadahkan tangan, do’anya dipimpin oleh seorang ustadz yang berkata tadi. Tak hentinya air mata membasahi pipi mama Karni yang mulai tampak keriput.
Tak berselang lama, orang-orang pada berpamitan untuk pulang ke rumahnya pada mama Karni. Kini hanya tinggal aku, mama Karni, bibi, dan dua orang asisten lelaki mama.
‘’Tante?’’ Panggilan itu membuat kami menoleh.
Aku terkesiap, hendak pergi dari sini tapi mama bagaimana. Wanita cantik yang berkerudung namun rambutnya tetap terjurai itu langsung matanya memandang ke arahku, dengan tatapan yang sulit kuartikan. Begitu juga dengan tiga orang temannya.
‘’Alisya?’’ Wanita bernama Alisya itu langsung memeluk mama Karni.
Ya, dia dan teman-temannya pernah sekelas dulu denganku. Aku menunduk, tak ingin menatap mereka. Aku malu dengan diriku yang bergelimang dosa ini. Pasti mereka sudah mengetahui rahasia tentang aku dan almarhum.
‘’Mo—Monik? Kamu Monik kan? Udah berubah kamu sekarang,’’ ketus wanita yang bertahi lalat di bibirnya itu, namanya Gita.
Tak menyangka aku akan bertemu dengan mereka. Gita itu tersenyum sinis sambil melipat tangan di dada. Tak hentinya wanita itu menatapku dari bawah hingga ke atas. Apa ada yang salah pada penampilanku? Atau baju yang kukenakan malah terbalik pasang? Ah, atau mungkin dia kaget melihat pendampilanku yang jauh berbeda? Entahlah!
Aku memilih untuk diam. Tak ingin berdebat apalagi ribut, mengingat kami masih berduka.
‘’A—aku nggak percaya loh Tante. Andre secepat ini meninggalkan kita.’’ Alisya melepas pelukan lalu menatap mama Karni.
Seketika terbayang olehku tatkala almarhum jadi rebutan para wanita di sekolah, terutama di kelas. Tak sedikit pun membuat almarhum tertarik pada wanita-wanita yang berusaha untuk mengambil hatinya. Padahal banyak sekali di antara mereka yang punya wajah cantik plus kaya raya.
__ADS_1
Tapi, Andre tetap tak tergiur. Hingga wanita-wanita itu menyerah untuk mendekati Andre. Namun, Alisya lah yang paling betah mendekati lelaki itu padahal Andre sudah bersikap tak acuh padanya. Dan pada akhirnya, ternyata aku wanita yang dipilih oleh Andre. Dia mengungkapkan perasaannya padaku di sebuah café, yang dekat sekali dengan sekolah.
‘’Ma’afkan Andre yah jika punya salah selama ini ke kalian,’’ kata mama Karni sambil menatap Alisya, lalu bergantian menatap teman-temannya.
‘’Andre nggak ada salah apapun sama kami kok, Tan.’’ Dia terdengar menghela napas berat.
‘’Aku yakin Tante pasti kuat. Tante nggak sendirian. Kalo Tante mau, Tante bisa tinggal di rumah aku kok.’’ Membuat aku terkesiap mendengar ucapan wanita bernama Alisya itu.
Apa itu ucapan yang sungguh dari hati kecilnya? Atau dia punya rencana buruk pada mama Karni? Aku menggeleng cepat dan berusaha agar tak mudah berprasangka buruk padanya sebelum tahu kebenaran, sebelum ada bukti.
‘’Makasih sebelumnya, Alisya. Kamu tenang saja, Tante nggak sendirian kok di rumah. Ada Monik yang menemani Tante.’’ Spontan mama mendekatiku, lalu merangkul erat tubuhku. Alisya menatapku dengan tatapan aneh, begitu juga dengan teman-temannya.
‘’Bu—bukannya Monik ini udah—‘’
‘’Kata siapa? Kamu tahu dari mana? Nggak mungkinlah Andre menceraikan istrinya yang baik ini,’’ sahut wanita separuh baya itu dengan cepat. Seperti tahu apa yang hendak dikatakan oleh wanita yang bernama Alisya itu. Mama mengukir senyuman di bibirnya. Lalu beralih menatapku yang tengah tercengang. Aku tersenyum tipis.
‘’Hem, kalo gitu kami pamit dulu ya, Tan.’’
Wanita itu bergegas melangkah bersama teman-temannya. Mata Alisya melotot ke arahku. Sejak pertama kali dia tahu kalau aku ada hubungan spesial dengan Andre, seketika itu rasa benci padaku mulai tertanam di hatinya hingga sekarang rasa benci itu masih membekas ternyata. Buktinya dia menatap tajam dan aneh ke arahku.
Namun, mereka tak menoleh sedikitpun. Aneh! Tadinya begitu ramah dan sopan perlakuannya terhadap mama Karni. Kini kenapa jadi begini? Apa karena mama yang mengatakan aku masih berstatus sebagai istrinya Andre? Tapi apa hubungannya? Kan Andre sudah meninggal. Ah, sudahlah! Sepertinya pikiranku butuh istirahat sejenak.
Mataku tertuju pada mama yang tengah memeluk batu nisan anaknya dengan deraian air mata.
‘’Semoga kamu tenang di sana ya, Nak. Ma’afkan Mama belum bisa jadi Mama yang baik untuk kamu.’’
Membuat hatiku terenyuh memandangi wanita yang telah kuanggap sebagai orangtuaku itu. Entah kenapa, aku ikut merasakan apa yang dirasakan oleh mama. Aku mensejajarkan tubuh dengan mama yang tengah memeluk batu nisan Andre.
‘’Ma, kita pulang ya. Mama pasti capek banget kan? Andre insyaaAllah, akan tenang di alam sana,’’ lirihku sambil merangkul pundak mama Karni. Beliau menoleh lalu menyeka air matanya.
‘’Ma—Mama ingin di sini dulu. Mama ingin menemani Andre,’’ katanya dengan suara bergetar.
Membuat tangisan mama kembali pecah dan tubuhnya bergetar. Ya Allah, tolong berikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasn untuk mama Karni. Seketika air mata kembali menggenangi pipi.
__ADS_1
‘’Ma, ini memang berat bagi kita. Tapi, kita harus mencoba untuk mengikhlaskan Andre. Biar dia tenang di alam sana. Kalo misalnya kita terus saja menangisi kepergiannya, nanti dia malah nggak tenang di alam sana, Ma. Kasihan Andrenya.’’ Aku menatap mama dengan tatapan dalam, aku mengerti dengan apa yang dirasakan oleh mama. Tak ada orangtua tak kan terpukul dengan kepergian sang anaknya. Tentu sulit untuk mengikhlaskan.
‘’Iya, Nak. Kamu benar. Makasih ya, kamu selalu ada untuk Mama.’’ Aku mengangguk. Mama Karni bergegas bangkit, aku membantunya. Lalu seketika menghambur ke pelukanku.
‘’Ya udah. Kalo gitu kita pulang ke rumah ya, Ma.’’ Kulepas pelukan dari mama dengan pelan. Mama mengangguk dan beralih menatap ketiga asistennya yang sedari tadi mematung.
‘’Kita pulang sekarang.’’
‘’Baik, Bu.’’
***
Tak berselang lama kami sudah tiba di depan rumah nan mewah berpagar tinggi itu. Ucapan berduka masih berceceran di samping rumah itu dan juga di sekitarnya. Bibi bergegas membantu mama Karni untuk melangkah memasuki rumah. Seketika teringat olehku, mama bercerita kalau Andre dicelakai oleh seseorang yang menyamar jadi suster ketika beliau tengah tertidur.
‘’Ndre, kamu tenang saja. Aku dan Mama akan berusaha untuk mencari siapa di balik ini semua. Orang itu harus menerima hukuman.’’
Sepertinya sekarang belum tepat waktunya untuk menyelidiki siapa pelaku itu.
***
Bebarapa jam kemudian.
‘’Aku tahu Mama pasti kesepian. Nanti sore aku akan bawa cucu Mama ke sini ya. Aku akan izin ke Mama dan Papaku untuk menginap di sini,’’ kataku sambil memegangi jemari mama.
Beliau menggeleng cepat,’’Udah seminggu lebih kamu menemani Mama. Kamu pasti butuh istirahat, Nak. Nanti kamu malah sakit. Kasihan Rafi kan. Kalo Mama kesepian, kan bisa telpon kamu.’’ Entah kenapa aku merasa mama itu berbohong padaku, dia hanya menutupi rasa kesepiannya saja padaku.
Dalam hati aku membenarkan ucapan beliau juga. Apalagi semejak operasi tubuhku ini mudah lelah begitu saja. Tapi aku tak sampai hati rasanya membiarkan mama di sini sendirian, anaknya baru saja meninggal dunia. Siapa yang akan mengajaknya mengobrol untuk menghalau rasa terpukul dan sedihnya? Si bibi? Dia saja berkutat setiap waktu dengan pekerjaan rumah. Aku yakin dia tak kan punya waktu untuk menghibur mama.
‘’Ma, aku Alhamdulillah udah membaik keadaanku kok. Aku kan bisa istirahat juga di sini. Boleh ya, aku temani Mama di sini untuk seminggu ini,’’ pintaku dengan wajah memelas.
Terdengar helaan napas mama seiring dengan buliran air matanya menetes. Lalu bergegas dia menyekanya.
‘’Baiklah. Mama bolehkan. Tapi kamu harus minta izin dulu ke orangtuamu ya. Kalo nggak dibolehkan, kamu jangan membantah ya, Nak.’’ Aku mengangguk lalu tersenyum.
__ADS_1
‘’Makasiih banyak, Nak. Mama beruntung banget punya kamu yang selalu ada buat Mama.’’
Bersambung.