
‘’Bu, saya takut kalo penyamaran saya terbongkar. Sa—saya nggak mau masuk penjara.’’
Membuat darahku mendidih dibuatnya mendengar ucapan wanita di seberang sana, orang suruhanku untuk melenyapkan Andre seminggu nan lalu. Sengaja aku bayar orang lain untuk membantu Andre agar nyawanya lenyap, tentunya dengan harga yang sangat mahal. Seperti ancamanku pada mamanya, kalau nyawa harus dibalas dengan nyawa. Anak semata wayangku, Nina. Anak yang sangat kusayangi kecelakaan dan merenggut nyawa. Itu gara-gara lelaki itu yang membawa anakku jalan-jalan ke luar pakai motor sportnya.
Sejak awal aku tak pernah merestui hubungan mereka, namun suamiku bersikeukeh untuk menjodohkan lelaki itu dengan anakku. Dengan terpaksa aku menyetujuinya kala itu, hingga Nina sering membawa lelaki itu ke rumah. Bahkan hingga larut malam, lelaki itu masih di rumahku. Aku yakin Nina hamil itu darah dagingnya Andre, atas perbuatan lelaki terkutuk itu. Sungguh miris, anakku meninggal dalam keadaan berbadan dua dan itu di luar nikah.
Bagaimana aku tak punya dendam yang sangat besar pada lelaki yang bernama Andre anak si Ardi itu. Kalau tak bisa membalas dendam itu bukan Nurmala namanya.
‘’Kan saya udah tekankan sama kamu agar bekerja dengan bersih. Tanggung akibatnya sendiri sama kamu,’’ ketusku yang bergegas mematikan sepihak sambungan telepon, lalu melemparkan ponsel ke tempat tidur.
‘’Kalo semuanya terbongkar dan wanita itu tertangkap..’’
‘’Nggak! Aku nggak mau membusuk di penjara. Aku nggak mau masuk penjara!’’
‘’Oke, aku akan blokir nomor wanita itu dan aku nggak akan berhubungan apapun lagi dengannya.’’
Aku bergegas kembali mengambil ponsel yang tergeletak. Kublokir dia di semua media sosialku. Dengan begini, dia tak kan dapat lagi menghubungiku. Tapi, bagaimana kalau wanita itu mengakui semuanya, bagaimana kalau dia mengatakan kalau dia adalah orang suruhanku.
Tidak! Aku harus mencari cara supaya aku bisa menjauh dari sini. Aku mondar-mandir di kamar. Seketika pintu berderit, kulayangkan pandangan. Aku berusaha untuk tetap tenang dan memasang muka kalau aku sedang baik-baik saja.
‘’Pi, kita harus pergi dari sini,’’ kataku dengan satu napas. Membuat mas membulatkan mata lantas mendekatiku.
‘’Ada apa, Mi? Kenapa Mami panik kayak gitu?’’ Dia meletakkan kedua tangannya di pundakku.
Apa aku harus menceritakan semuanya ke suamiku? Ah, kuyakin dia pasti akan mengamuk padaku, karena aku yang mencelakai anak sahabatnya hingga meregang nyawa.
‘’Nggak. Aku akan berusaha untuk menutupinya. Nanti dia malah meninggalkanku.’’
‘’Ma—maksudku kita harus pergi refreshing kayaknya, Pi. Boleh ya?’’ Aku mematutnya dengan wajah memelas lalu aku melingkarkan tangan di pinggangnya.
‘’Apalagi kita siap kehilangan Nina, anak satu-satunya. Kalo di rumah terus Mami bosen dan wajah Nina selalu membayang di mata Mami,’’ lanjutku dengan suara bergetar, seketika buliran air mata hadir begitu saja.
‘’Oke, Papi akan bawa Mami jalan-jalan ke luar sekarang juga.’’
Aduh! Percuma saja jika pergi jalan-jalannya dekat sekitar sini. Aku maunya pergi dari rumah ini dan menginap di sana sampai kondisinya aman untukku.
__ADS_1
‘’Pi, Mami maunya ke Padang. Dan kita nginap dulu di sana. Mau ya, Pi? Mami suntuk banget di rumah. Nina terbayang terus,’’ rengekku sambil bergelayut manja di lengan lelaki yang selalu setia di sampingku itu.
Terdengar helaan napas suamiku. Aku yakin dia merasa berat untuk pergi ke Padang, karena harus meninggalkan pekerjaan di kantor dan tempatnya yang begitu jauh. Apalagi suamiku Direktur utama di perusahaan itu. Tapi, aku tak ada cara lain selain pergi dari sini untuk sementara. Aku tak mau membusuk di penjara, aku tak mau jika orang suruhanku itu mengaku bahwa aku-lah dibalik semua ini.
‘’Ya udah deh, Mi. Kalo gitu bersiap-siaplah,’’ sahutnya yang membuat aku melukiskan senyuman di bibir dan bernapas lega.
‘’Kita pergi sekarang kan, Pi?’’ ulangku kembali menatap mata elangnya.
‘’Iya, Mi. Kita pergi sekarang. Kalo bukan demi Mami, Papi nggak akan mau liburan. Apalagi kerja Papi akan ditinggal begitu saja,’’ jelasnya sambil menghela napas berat.
‘’Mami minta ma’af deh, Pi. Tapi kan bisa Papi suruh orang kepercayaan Papi untuk menggantikan tugas Papi untuk sementara waktu.’’
‘’Nggak semudah itu, Mi.’’
Lelaki yang menemaniku selama dua puluh tahun itu bergegas berlalu meninggalkanku.
Begitulah si papi, jika diajak pergi liburan di luar waktu liburnya, maka dia akan merasa enggan untuk pergi dan malah menjadi bahan perdebatan antara aku dan suami. Ya, tapi aku tak punya cara lain untuk menghindar. Ini satu-satunya cara supaya keberadaanku tak ditemukan oleh pihak kepolisian. Tapi, bagaimana nanti kalau mereka mengetahui keberadaanku?
‘’Itu urusan belakangan. Yang penting aku pergi dulu dari sini,’’ gumamku dalam hati.
‘’Sulastri!’’
‘’Iya, Bu.’’
Dia tergopoh-gopoh menghampiriku. Aku memandangnya dengan tatapan tajam.
‘’Ke mana saja kamu? Sejak tadi saya memanggil.’’
‘’Ma’af, Bu. Tadi Sulastri sedang beberes dapur.’’ Dia menunduk, tak berani menatapku.
‘’Beberes dapur? Bukannya beberes dapur itu kerjaannya si Ani? Kamu itu jadi pelayan saya. Kok malah beberes dapur segala. Setiap kalian kan sudah saya beri tugas masing-masing!’’ tegasku kemudian dengan nada tinggi.
‘’A—Ani sedang kurang sehat, Bu. Makanya Sulastri yang memutuskan untuk beberes dapur.’’
Aku menghela napas berat,’’ Ya udah. Kamu siapkan koper dan keperluan saya. Jangan ada yang ketinggalan,’’ titahku kemudian. Wanita itu malah ternganga mulutnya.
__ADS_1
‘’Cepat kamu siapkan sekarang juga!’’
‘’Ma’af, Bu. Ibu mau ke mana?’’
‘’Saya dan suami mau pergi liburan sebentar.’’
‘’Nggak usah banyak tanya. Siapkan sekarang!’’
Wanita itu mengangguk sopan dan bergegas berlalu meninggalkanku. Sengaja aku tak membeberkan ke mana aku akan pergi liburan, khawatir nanti malah bocor ke orang lain jika ada nanti yang menanyakan keberadaanku.
***
Tak berselang lama mobil kami sudah memasuki pekarangan hotel Nagaswara, hotel yang begitu mewah. Aku dan suami turun, seperti biasanya dibukakan pintu oleh asisten. Langsung kugandeng tangan lelakiku, lalu melangkah memasuki hotel.
‘’Bapak mau mesan kamar?’’
‘’Iya, Mba. Satu aja ya.’’
‘’Baiklah, Pak. Untuk berapa lama?’’ Lelaki itu menatapku.
‘’Dua minggu,’’ sahutku cepat. Namun, suami malah terkesiap dibuatnya dan matanya melotot ke arahku.
‘’Mi? Dua minggu? Kan Papi ini mau kerja. Papi nggak bisa meninggalkan pekerjaan selama itu,’’ bisiknya di telingaku, membuat pelayan hotel memandang ke arah kami.
‘’Terserah Papi. Kalo Papi pulang juga nggak apa-apa. Mami tetap dua minggu di sini,’’ sanggahku sambil membuang pandangan.
‘’Gimana, Pak?’’
‘’Dua minggu aja, Mba.’’
Tak berselang lama, wanita itu menyodorkan kunci kamar pada suamiku.
‘’Di lantai dua, kamar nomor 2A ya, Pak.’’
‘’Oke, makasih, Mba.’’
__ADS_1
Wanita itu menyahut dengan anggukan lalu tersenyum pada kami. Aku dan suami bergegas melangkah ke lantai atas sambil menenteng koper. Kupandangi wajah suami, seperti tengah memikirkan sesuatu. Apa dia mencurigaiku?
Bersambung..