
‘’Kamu kenapa teriak-teriak begitu, Nak? Ada apa?’’ calon mertuaku itu bergegas memasuki kamar yang selama ini kutempati. Ucapan beliau mampu membuyarkan lamunanku.
‘’Ah, iya, Ma,’’ sahutku yang beralih menatap wanita berkerudung lebar itu.
‘’Kamu kenapa? Coba cerita ke Mama,’’ katanya pelan dan menghenyak di sebelahku duduk. Aku menarik napas pelan lalu menghembuskannya, agar pikiranku terasa tenang. Aku menggeleng secepatnya.
‘’Aku cuman takut kalo Andre—‘’ Ya, tak mungkin aku mengatakan kalau Nina baru saja ke sini lewat pintu jendela dan mengancamku.
‘’Iya, Mama mengerti, Nak. Tapi dia udah berjanji kok sama Mama untuk bertanggung jawab ke kamu. Jadi nggak ada lagi yang harus kamu ragukan,’’ kata mama Karni yang bergegas memotong ucapanku. Beliau memegangi jemariku dan menatapku dengan tatapan sendu.
‘’Ini demi Rafi, cucu Mama,’’ imbuhnya kemudian. Aku hanya mengangguk lemah, beliau pun bergegas memelukku dengan erat.
‘’Makasih banyak ya, Ma. Udah mau membantuku,’’ kataku lirih tatkala melepaskan pelukan pelan.
Wanita separuh baya itu mengangguk,’’ Sama-sama. Kalo Monik sama Andre udah nikah. Apa pun masalah kalian harus cerita ke Mama ya.’’
‘’Jangan sampe nanti akan seperti Mama,’’ imbuhnya yang membuat aku tak mengerti.
‘’Ma—maksud Mama?’’
‘’Oh ya, kamu udah siap kan? Bapak KUA udah menunggu loh,’’ kata calon mertuaku yang mengalihkan ucapannya.
Apa maksud beliau sebenarnya? Apa sebenarnya mama Karni dan suaminya ada masalah juga yang sedang menimpa rumah tangganya? Aduh! Kenapa aku jadi berpikiran seperti ini? Aku berusaha untuk menepis semua prasangka itu.
‘’Monik?’’
‘’Ah iya, Ma. In syaa Allah,’’ sahutku kemudian. Tampak wajah mama kali ini begitu berbeda, seperti ada sesuatu yang dipikirkannya atau yang tengah disembunyikannya, tapi aku tak tahu entah apa itu.
__ADS_1
‘’Ya udah. Yuk kita ke bawah!’’ ajak calon mertuaku. Tanpa berpikir lagi aku mengangguk dan melangkah ke luar bersama mama yang mengiringiku. Dengan pelan aku melewati jenjang dan akhirnya aku tiba di lantai satu.
Tampak Andre yang sudah mengenakan jas bewarna hitam, celana hitam, dan tak lupa peci di kepalanya. Kalau sudah berpakaian begini, dia seolah seperti lelaki sholeh. Dia begitu tampan, namun entah kenapa hatiku ini belum bisa menerima dengan sepenuhnya setelah apa yang dilakukannya beberapa bulan nan lalu. Kukira dia tak kan mau menghadiri pernikahan ini, aku kira dia akan lari dari tanggung jawabnya. Ternyata tidak, apa ini karena mama Karni yang memaksanya?
Dan mataku juga tertuju kepada lelaki yang mirip sekali dengan papa, karena membelakang duduknya jadi kurang jelas. Apa itu papa? Ah, masa iya beliau mau menghadiri pernikahanku. Ternyata benar. Itu adalah papa, beliau bergegas duduk di sebelah bapak KUA. Jadi papa mau menjadi wali nikahku? Berarti beliau sudah mema’afkanku kembali? Apa ini karena Ayu dan mama Karni?
Aku duduk dengan pelan yang berjarak dari Andre. Dia hanya sekilas melirikku, seperti terpaksa dia menikahiku. Sebelum berlangsung acara pernikahanku, aku bergegas menyalami tangan papa untuk meminta ma’af serta restu, lalu memeluknya dengan deraian air mata. Begitu juga dengan mama, aku beralih menyalami mama dan memeluknya dengan erat.
***
‘’Andre bin Ardi, aku nikahkan kamu dengan anak kandungku Monika Putri binti Indra dengan seperangkat alat sholat dan uang 10 juta dibayar tunai!’’
‘’Saya terima menikahi anak Bapak, Monika Putri binti Indra dengan seperangkat alat sholat dan uang 10 juta dibayar tunai!’’
‘’Sah?’’
‘’Sah.’’
Buliran air mataku berjatuhan tatkala mendengar kata ‘’sah’’ itu terucap dari bibir beberapa orang saksi. Aku tak tahu apa harus bahagia atau harus bersedih. Tetapi setidaknya sekarang bayiku sudah memiliki ayah dan kami akan tinggal bersama-sama, walau di hatiku ini selalu belum sepenuhnya bisa menerima Andre dan masih ada rasa benci.
Aku menengadahkan tangan untuk berdo’a, begitu pun dengan Andre dan beberapa orang yang hadir. Ya, pernikahanku sederhana sekali. Hanya beberapa orang saja yang hadir, karena memang pihak keluargaku dan keluarga Andre hanya mengundang orang-orang terdekat saja.
‘’Kalian udah jadi kekasih halal, silakan kepada mempelai wanita disalami dulu suami tercintanya,’’ kata bapak KUA.
Seketika aku memandangi wajah lelaki yang di depanku yang sudah berganti statusnya menjadi suamiku.
‘’Ayo dong, Monik!’’ lirih mamaku terdengar. Aku seakan ragu. Seketika mataku tertuju pada bibi yang tengah menggendong bayiku.
__ADS_1
‘’Semua ini demi Rafi, Monik. Jangan egois,’’ bisik Ayu. Entah kapan Ayu datang kembali ke sini. Bukannya dia tadi meminta izin kepadaku untuk menjenguk sepupunya yang kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit.
‘’Ya, ini demi bayiku. Aku nggak boleh egois,’’ batinku seketika memandangi bayiku yang tengah digendong oleh bibi.
Aku meraih tangan lelaki yang sudah jadi kekasih halalku itu dan mengecup tangannya. Pandangannya hanya biasa-biasa saja setelah kutelusuri. Dan tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Dia hanya melirikku sejenak saja. Tak seperti yang kuimpikan, dulu aku mengimpikan bisa menikahi lelaki yang juga mencintaiku.
Juga aku mengimpikan ketika pernikahan yang hadir hanyalah air mata bahagia, namun itu semua hanya impian yang tak pernah bisa kudapatkan. Kini hanya air mata penyesalan dan kekhawatiran yang hadir. Berulang kali kuseka buliran air mata yang menetes, namun tetap saja kembali berjatuhan.
Teringat olehku apa yang telah aku dan Andre lakukan di hotel itu, semuanya menari di benakku. Aku begitu bodoh. Ya, akulah wanita yang paling bodoh di dunia ini. Karena cinta membuat aku tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Seolah mataku tertutup, tak bisa lagi memilih yang benar.
‘’Ya Allah, aku tahu aku si manusia yang paling banyak dosa. Tapi, ampunilah semua dosa besar yang telah kulakukan dan izinkan aku untuk memperbaiki diriku kembali. Dan semoga rumah tanggaku dengan Andre jadi sakinah, mawaddah wa rohmah.’’ aku membatin. Aku kembali menatap lelaki yang sudah halal menjadi kekasihku.
‘’Ahh! Ketika pacaran begitu romantis bahkan lebih kayak suami dan istri, eh sekarang udah jadi suami istri malah kek gini jadinya. Keromantisan dalam berpacaran ternyata jarang akan berlanjut sampe berumah tangga,’’ batinku yang tengah memandanginya dan bergegas aku mengalihkan pandanganku.
‘’Akhirnya anakku punya ayah, walaupun ada rasa benci yang mendalam terhadap dia yang sekarang menjadi suamiku. Aku nggak boleh egois, anakku butuh ayah supaya dia nggak selalu dihina orang lain dan supaya dia mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya.’’
‘’Semoga Andre bisa berubah ke yang lebih baik lagi, semoga dia bisa jadi imam yang baik untukku dan jadi ayah yang baik untuk Rafi.’’
Bersambung.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.
Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.
__ADS_1
See you next time!❤
Instagram: n_nikhe