Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Tempat Tinggal Sementara


__ADS_3

Dengan pelan kaca mobil itu dibukanya.


‘’Monik? Kamu ke mana membawa bayimu?’’


‘’Ayu? Entahlah, Yu. Aku nggak tahu mau ke mana.’’


‘’ Arrgghh!’’


‘’Tuh kan kamu kesakitan, kamu baru saja keluar dari rumah sakit, Monik. Ayuk naik!’’ seketika Ayu bergegas membuka pintu mobilnya.


Dalam hati aku juga membenarkan ucapan Ayu. Ya, karena memang jahitanku belum sembuh. Sakitnya masih terasa, apalagi aku sudah berjalan sejauh ini.


‘’A—aku udah banyak merepotkanmu dan kamu udah banyak banget membantuku. Apalagi biaya tambahan rumah sakit kamu juga yang membayar,’’ ucapku pelan.


‘’Jangan kayak gitu ah, aku malas! Kamu lihat deh bayimu, apa kamu nggak kasihan?’’ sahutnya sembari memandangi bayiku yang tengah terlelap.


Aku pun beralih menatap bayiku yang masih dalam gendonganku. Ayu benar juga. Siapa tahu nanti dia bisa mencarikan solusi buatku agar aku dapat tempat tinggal untuk sementara.


‘’Ayuk naik!’’


‘’Ta—tapi mau ke mana, Yu?’’


‘’Nanti kamu pasti bakalan tahu kok.’’


Dia tersenyum sembari tangannya masih membukakan pintu mobil untukku. Tanpa berpikir panjang lagi aku bergegas menaiki mobilnya.


‘’Oh iya, ada apa sebenarnya Monik? Kenapa kamu membawa bayimu dari rumah? Apa Om dan Tante marah lagi?’’ tanya Ayu tatkala sudah memasuki mobilnya.


‘’Papa kembali membenciku,’’ sahutku seadanya.


‘’Apa? Kok bisa? Bukannya Om Indra udah bisa menerima kamu dan anakmu?’’ sontak membuat Ayu kaget seketika.


‘’ I—iya, memang sebelumnya Papa udah bisa menerima keadaan aku dan bayiku, tetapi ketika kembali ke rumah, tetangga pada menghina dan mencaci kedua orang tuaku, termasuk aku. Dan itu membuat Papa kembali membenciku, aku nggak boleh tinggal di rumahku lagi,’’ ucapku panjang lebar dengan suara bergetar.


Seketika membuat Ayu menggelengkan kepala,’’Ya Allah, Om Indra terlalu emosi mungkin, Monik. Itu semua karena hinaan dan cacian tetangga, aku tahu Om Indra sebenarnya nggak sanggup untuk mengusir kamu dari rumah. Beliau adalah orang baik, jangan membenci Papamu ya?’’


Aku menghela napas berat.


‘’Aku pun berpikiran demikian, Yu.’’


‘’Nggak kok, aku nggak akan bakalan benci sama Papa. Toh juga ini semua ulahku.’’


‘’Syukurlah, kamu harus bisa menjalani ini semua ya. Demi bayimu.’’ dia mengusap punggungku dengan pelan dan memberikan senyuman semangat.


Aku mengangguk,’’ Makasih, Yu.’’


Ayu hanya tersenyum dan mengangguk saja.


‘’Jadi kamu mau ke mana tadi?’’


‘’Nggak tahu, Yu. Aku nggak tahu harus melangkah ke mana,’’ sahutku sembari menyeka buliran air mata yang sejak tadi berjatuhan.


‘’Gimana kalo aku carikan tempat tinggal?


Aku menggeleng secepatnya,’’Nggak, Yu. Aku nggak mau merepotkan kamu lagi. Da—dan nanti aku pasti diusir oleh warga lagi, apalagi aku membawa bayi tanpa Ayahnya,’’ sahutku lirih.


‘’Nggak merepotkan sama sekali kok. Kita nggak akan mencari kost, tetapi kamu tinggal di rumah Tanteku sementara dulu ya. Nama beliau Tante Sisi.’’


‘’Ta—tapi, Yu—’’


‘’Tanteku suaminya udah meninggal setahun yang lalu, dia juga nggak punya anak. Pasti dia senang jika kamu tinggal di sana.’’ Ayu memotong pembicaraanku.


‘’Bagaimana dengan statusku, Yu?’’ tanyaku lirih.


‘’Aku nggak akan berusaha untuk menyembunyikan statusmu, lagian kan kamu cuman sebentar tinggal di sana.’’


‘’Kamu akan menikah dengan Andre, tentu dia akan membawamu untuk tinggal bersamanya,’’ imbuhnya kemudian.


‘’Ma’af, Yu. Aku nggak yakin kalo Andre mau menikahiku secepatnya. Apalagi sekarang Papa membenciku.’’


‘’Kamu tenang aja, in syaa Allah dia mau kok menikahikamu secepatnya. Kamu harus yakin.’’


‘’Dan mengenai Om Indra, aku yakin beliau akan kembali mema’afkanmu.’’


‘’Gimana? Apa kamu nggak yakin tinggal di tempat Tanteku? Tuh lihat deh sikecil, kasihan kan? Kalo kamu nggak dapat rumah untuk istirahat, gimana kamu dan sikecil akan istirahat. Apalagi kamu selesai operasi beberapa hari ini.’’


Sejenak aku berpikir ,’’Aku mau, Yu.’’


‘’Nah, gitu dong. Yuk, kita langsung ke rumah Tanteku!’’ Aku mengangguk, Ayu pun segera menghidupkan mesin mobilnya.


Angin berlalu lalang memasuki celah kaca mobil dan menerpa kerudungku. Membuat mata seketika mengantuk, kupandangi bayi mungilku masih terlelap dalam pangkuanku.

__ADS_1


‘’Beginilah jadinya, Nak. Karena Mama nggak memikirkan apa akibatnya, beginilah kalo kita kurang Ilmu pengetahuan tentang agama. Mama akan mendidikmu esok, menyuruhmu menuntut ilmu agama jika umurmu panjang. Cukuplah Mama yang kayak gini, walaupun kamu terlahir tanpa seorang Ayah tetapi kamu adalah anak yang nggak berdosa. Mama menginginkan kamu jadi anak yang sholeh. Dan jangan ditiru Papamu,’’ batinku sembari menatapnya sendu.


‘’Monik, kamu pasti bisa berubah ke yang lebih baik lagi. Aku yakin itu,’’ ucap Ayu yang sedang fokus menyetir. Sesekali menoleh ke arahku.


‘’Bantu aku ya, Yu,’’ sahutku, dia mengangguk dan tersenyum, kulihat sekilas di balik kaca spion.


Beberapa menit kemudian, mobilnya terhenti di depan rumah sederhana.


Ayu mematikan mesin mobilnya, lalu bergegas turun.


‘’Yuk turun!’’ ajaknya sembari membukakan pintu. Aku pun turun dengan pelan.


‘’Hati-hati, Monik!’’ Aku mengangguk sembari tersenyum.


‘’Alhamdulillah, kita sampe juga,’’ ucap Ayu tersenyum memandangi rumah sederhana milik tante Sisi itu. Monik bergegas mengambilkan koperku di mobil lantas meletakkannya. Aku pun kembali menenteng koper itu.


‘’Berat nggak, Monik? Biar aku bantu bawa,’’ tawarnya.


‘’Nggak kok, Yu. Biar aku aja yang membawa.’’


‘’Syukurlah. Eh, tapi kamu harus tahu kalo Tanteku ini adalah seorang wanita yang sholehah dan rajin banget beribadah.’’


‘’Kamu bisa belajar dengan beliau, Monik.’’


‘’Apa? A—aku nggak pantes tinggal dengan beliau, Yu.’’ sontak aku kaget.


‘’Hussh! Jangan keras-keras suaranya, kamu nggak boleh bicara kayak gitu. Semua orang punya dosa yang berbeda, semua orang punya kesalahan dan semua orang juga berkesempatan untuk memperbaiki dirinya, berkesempatan untuk bertobat. Kamu harus ingat dan paham itu, Monik!’’ tegas Ayu yang tengah memandangiku.


‘’Iya, Yu. Tapi aku takut beliau mengetahui siapa aku sebenarnya.’’


‘’Kamu nggak usah khawatir, aku akan berusaha menutupinya. Dan kamu juga cuman sebentar di sini, aku yakin Andre akan segera menikahimu.’’


‘’Percaya deh. Yuk!’’ ajak Ayu kembali menatap wajah cemasku.


Tanpa pikir lagi aku bergegas membuntuti Ayu. Kutelusuri rumahnya tampak begitu luas dan sederhana, namun entah kenapa damai rasanya dirasakan oleh hati ini bila memandang rumah sederhana ini. Apakah ada rahasianya agar rumah terlihat damai dan adem mata memandang?


‘’Assalamua’alaikum, Tante.’’


‘’Wa’alaikumussalam. Eh, Ayu!’’ sahut wanita yang kutaksir tiga puluh tahunan usianya itu bergegas menghampiri kami yang masih di ambang pintu, beliau masih mengenakan mukenah. Sepertinya usai melaksanakan sholat dzhuhur. Allah! Wajahnya sungguh meneduhkan. Mungkin memang benaran yang dikatakan oleh Ayu tadi.


‘’Kok nggak bilang-bilang ke sini?’’


‘’Eh, kenalin Tan. Ini sahabat Ayu, namanya Monik. Dan suaminya sedang bekerja,’’ jelas Ayu.


‘’Ma’af ya, Tan. Nggak ngabarin dulu ke sini.’’ Tante itu hanya tampak tersenyum.


‘’Aku Monik, Tante.’’ Aku takdzim dengan wanita berkepala tiga itu. Beliau tersenyum seketika.


‘’Ayuk bawa sahabatmu masuk!’’ ajak tante Sisi.


‘’Yuk masuk Monik!’’ aku membuntuti Ayu, namun tantenya berhenti melangkah seketika.


‘’Kok bawa koper segala? Kalian mau ke mana sebenarnya ini?’’ tanyanya dengan wajah heran dan menunjuk koper yang ada di tanganku. Bibirku bergerak seketika, ingin menjawab tanya beliau tetapi aku tak tahu mesti jawab apa.


‘’Oh ini, Tan. Nanti kita ceritain di dalam ya,’’ sahut Ayu, seketika aku bernapas lega.


**


‘’Ayuk duduk dulu! Biar Tante buatkan minuman.’’


‘’Nggak usah, Tan. Begini, apa boleh sahabat Ayu ini tinggal dengan Tante sementara. Nanti suaminya jemput kok, Tan. Kasihan dia belum dapat tempat tinggal, apalagi dia bawa bayinya,’’ ucap Ayu to the point, sembari menghenyak di kursi.


‘’Apalagi dia juga baru seminggu ini keluar dari rumah sakit. Jahitannya belum sembuh juga,’’ imbuh Ayu dengan hati-hati. Seketika aku cemas, bagaimana jika tante Sisi bertanya keluargaku. Apa yang harus aku jawab?


‘’Ya Allah, bantulah aku yang banyak dosa ini.’’ aku membatin.


Tante Sisi tak menjawab, melainkan menatapku dan juga seperti memikirkan sesuatu. Aku semakin cemas dibuatnya.


‘’Baiklah, Tante malahan senang karena nggak ada teman di rumah. Apalagi ada bayi,’’ katanya sambil tersenyum. Dan ucapan beliau mampu membuatku lega dan berucap


‘’alhamdulillah’’ dalam hatiku.


‘’Alhamdulillah, makasih ya, Tante ,’’ sahutku.


‘’Sama-sama, anggaplah ini rumahmu sendiri.’’


‘’Makasih loh, Tan. Udah mau menerima sahabat Yu di sini. Kalo gitu Ayu pamit duluan ya, Tan.’’


‘’Sama-sama, eh kok cepat banget, Yu? Apa nggak kangen ngobrol dengan Tante?’’


‘’Mau ke rumah Nenek, Tan. Kangenlah, masa enggak. Nanti Ayu bakalan ke sini lagi kok.’’

__ADS_1


‘’Gimana keadaan Nenek?’’


‘’Alhamdulillah lumayan pulih, Tan. Tapi beliau belum bisa ngambil makan sendiri, makanya Ayu mau mengambilkan makanan untuk Nenek. Ayu akan ke sini lagi kok.’’


‘’Alhamdulillah lah. Oke kalo gitu, hati-hati bawa mobil ya.’’


‘’Tante titip salam buat Ayah, Bunda dan Nenek.’’


‘’Iya, Tante. In syaa Allah, nanti Ayu sampein.’’


‘’Monik, aku pamit dulu yah. Jangan sungkan-sungkan, anggap aja orang tuamu sendiri. Iya kan, Tan?’’ Ayu yang tadi menatapku, seketika beralih menatap ke arah tante Sisi.


‘’Nah, benar apa kata sahabatmu ini.’’


‘’Oke, Yu. Kamu hati-hati bawa mobilnya ya. Nanti atau besok ke sini lagi.’’


‘’Iya deh. Jangan rewel di sini ya, Nak,’’ kata Ayu lirih sembari memegangi pipi bayi mungilku.


‘’Ya udah, Tan. Ayu pamit dulu, assalamua’laikum.’’ Dia bergegas bangkit dan meraih tangan tante Sisi untuk takdzim.


‘’Hati-hati ya, jangan ngebut, Yu. Wa’alaikumussalam.’’ Tante itu tersenyum.


Ayu bergegas melangkah, namun dia malah berbalik lagi.


‘’Tan, jaga sahabat Ayu ini ya.’’


‘’Allah, kira Tante ada apa tadi. Iya, kamu tenang aja deh,’’ sahut tante Sisi sembari menepuk keningnya dengan pelan. Aku pun tertawa kecil.


‘’Iya, soalnya dia kan baru seminggu lebih siap melahirkan.’’


‘’Tante paham kok. Kamu khawatir Yu kalo sahabatmu ini akan Tante azab bekerja?’’ wanita yang baru kenal denganku itu tampak terkekeh kecil.


‘’Bukan begitu, Tan. Ayu hanya mengingatkan aja,’’ kata Ayu sembari menggaruk kepalanya yang tengah dibalut kerudung. Membuat tante Sisi menggeleng dibuatnya, sedangkan aku hanya tersenyum.


‘’Ya udah, Ayu pulang dulu, Tan.’’


‘’Astaghfirullah, udah berapa kali pamitnya nih.’’


Ayu terkekeh dan bergegas melangkah keluar dari rumah tante Sisi, sesaat hilang dari pandanganku.


‘’Istirahat dulu sana, Monik. Ayuk Tante anterin!’’ Tante Sisi membuyarkan lamunanku.


‘’Eh, iya Tan.’’


‘’Ayuk, jangan sungkan-sungkan ya. Kalo mau apa tinggal bilang aja ya, Monik.’’ Aku mengangguk dan tersenyum, lalu membuntuti tante Sisi.


‘’Bagaimana kalo Tante Sisi mengetahui semua yang aku rahasiakan? Bagaimana kalo beliau mengusirku? Lalu aku di mana lagi aku akan tinggal?’’ batinku. Dan aku berusaha untuk menepis semua prasangka buruk yang muncul di pikiranku.


‘’Nah, di sini kamarmu dengan si kecil ya. By the way, siapa nama bayimu?’’


‘’Allah, aku belum sempet memberinya nama. Pulang dari rumah sakit aku ada masalah juga, aku harus jawab apa nih? Jangan sampai beliau mencurigaiku.’’


‘’Me—menunggu Papanya, Tan. Kan baru seminggu lebih umurnya,’’ sahutku gugup, berusaha untuk bersikap baik-baik saja, berusaha untuk menyembunyikan sesuatu.


‘’Maksudmu belum dikasih nama? Kan bisa suamimu itu mengasih namanya lewat handphone, kalo enggak biar nanti Tante yang nyariin gimana?’’


‘’Eh, siapa nama Papanya?’’


‘’A—Andre, Tan.’’


‘’Baiklah, nanti akan Tante carikan. Sekarang kamu istirahat dulu, nanti makan ya. Tante udah masak. Anggap rumahmu sendiri,’’ kata tante Sisi.


‘’Iya, Tan. Makasih banget loh, Tante.’’


‘’Sama-sama, Tante tinggal dulu ya.’’ Aku mengangguk sembari tersenyum. Beliau bergegas keluar dari kamar. Kubaringkan bayi mungil ke ranjang dengan hati-hati, takut jika dia terbangun. Lalu kutelusuri kamar yang kini menjadi tempat tidurku.


‘’Sederhana banget. Rapi, bersih, damai dan adem aja mata ini memandangi seluruh ruang kamar milik Tante Sisi,’’ lirihku pelan memandangi semua sudut kamar. Ya, sederhana sekali tetapi bersih, rapi dan damai ketika dipandangi oleh mata.


‘’Ta—tapi hatiku tersentuh memandangi wajah teduh Tante, aku yakin wajahnya sering dibasahi air wudhu’ dan rajin beribadah. Ya, sesuai ucapan Ayu. Aku belum terlambat bertobat untuk memperbaiki diriku. Siapa tahu pintu hatiku terketuk karena melihat ibadah yang dilakukan oleh Tante itu setiap waktu.’’


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.


See you next time!❤


Instagram: n_nikhe

__ADS_1


__ADS_2