
‘’To—tolong bantu Bu Karni, Pak,’’ kataku pada security mama Karni yang jarang sekali kulihat kehadirannya di rumah sakit. Aku langsung mengikuti langkah lelaki yang tengah memopong tubuh mama Karni itu menuju kamarnya.
‘’Pelan-pelan, Pak.’’ Bapak itu langsung membaringkan bu Karni di tempat tidurnya.
‘’Bi, tolong ambilkan minyak kayu putih.’’
Wanita itu bergegas meraih minyak kayu putih yang terletak di lemari dan menyodorkan padaku.
"Makasih, Bi.’’ Aku langsung memoleskan sedikit minyak kayu putih di hidung mama Karni, lalu ke keningnya.
‘’Ma’af ya, Ma.’’ Dengan pelan kubuka kerudung yang melilit kepalanya.
‘’Kasihan sekali Ibu,’’ gumam bibi lirih dan menghenyak di sebelah bu Karni.
‘’Iya, Bi. Aku nggak tega ngelihat Mama kayak gini.’’ Tanganku masih sibuk memegang minyak kayu putih lalu mengoleskan ke kening mama Karni.
‘’Sama, Monik. Bibi juga kayak gitu. Apalagi ketika mendengar kabar kalo Mas Andre udah nggak ada lagi,’’ katanya dengan suara bergetar.
‘’Iya, Bi. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdo’a supaya Andre tenang di alam sana,’’ sahutku sambil menarik selimut mama agar selimut menutupi tubuhnya. Si bibi manggut-manggut, tampak air matanya mula menetes.
‘’Bi, bantu aku ya. Buatkan teh hangat untuk Mama Karni,’’ pintaku yang disahut anggukan oleh wanita separuh baya itu, dia bergegas menyeka air matanya.
Lantas langsung bangkit dan melangkah ke luar. Aku kembali menatap mama Karni dengan tatapan sendu.
‘’Ma, ini aku. Mama pasti kuat. Aku yakin Andre bakalan sedih kalo melihat Mama kayak gini,’’ lirihku sambil memoleskan minyak kayu putih ke hidungnya. Seketika mama Karni membuka mata dengan pelan.
‘’Ma? Mama baik-baik aja kan? Aku selalu di sini menemani Mama,’’ kataku sambil memeluk erat tubuhnya yang masih terbaring.
‘’Kenapa Andre meninggalkan kita secepat ini, Monik?’’ Air mata mama kembali berjatuhan. Aku bergegas menyekanya.
‘’Allah lebih sayang sama Andre, Ma. Ketimbang kita.’’
‘’Dan dia nggak akan merasakan sakit lagi. A—aku mengerti gimana perasaan Mama, seorang ibunya Andre. Tapi, Andre akan semakin sedih melihat Mama kayak gini.’’ Aku mengenggam erat tangan wanita yang sudah kuanggap sebagai orangtuaku itu.
‘’Mama pasti kuat. Aku yakin Mama orang yang kuat. Dan aku akan selalu ada di samping Mama,’’ imbuhku.
Mama yang hendak bangkit dari berbaringnya, aku bergegas membantunya untuk duduk.
‘’Monik, ini tehnya.’’ Si bibi datang seketika sambil membawa segelas teh hangat.
‘’Makasih, Bi.’’
__ADS_1
‘’Diminum dulu teh hangatnya ya, Ma.’’
Aku meraih segelas teh hangat yang diletakkan oleh bibi di nakas. Lalu aku menyodorkan pada wanita yang terlihat lesu itu. Dengan pelan mama meraihnya lalu langsung meneguknya, karena tehnya yang tak terlalu hangat.
***
Sejam kemudian, setelah mama Karni sarapan dan minum obat. Saatnya aku mengajak beliau untuk keluar. Mudahan saja kali ini mama Karni benaran kuat untuk duduk di dekat jenazah anaknya. Apalagi sebentar lagi orang-orang akan menyelenggarakan jenazah Andre, tentu harus ada ibunya. Seketika bau minyak wangi dan kapur barus begitu menyengat terasa olehku. Membuat air mata kembali menetes. Rasanya seperti tengah bermimpi di siang hari.
‘’Astaghfirullah.’’ Berulangkali aku beristighfar dan mengusap muka dengan kasar.
Kuseka air mata lalu beralih menatap mama Karni yang tengah berbaring dengan mata sembab dan muka pucat. Membuat hatiku teriris.
‘’Ma,’’ panggilku pelan.
‘’Kita keluar ya. Pasti Andre akan segera dimandikan.’’ Beliau tampak mengangguk lalu dengan pelan duduk.
‘’Mama kuat kan?’’ Aku membantunya untuk bangkit.
‘’InsyaaAllah, Nak. Mama pun ingin memandikan anak Mama untuk terakhir kalinya.’’
Aku dan mama Karni melangkah keluar dengan pelan. Tampak orang melayat begitu ramai dan bacaan yasinan masih terdengar olehku, yang dibacakan oleh beberapa orang. Semua netra pelayat tertuju pada mama Karni dan aku.
‘’Kasihan sekali Mba Karni ya.’’
Samar terdengar olehku ucapan para pelayat. Aku dan mama Karni duduk di sebelah jenazah Andre yang dititupi kain putih. Mataku kembali menatap wanita di sebelahku. Air matanya kembali berderaian, membuat hatiku teriris. Tanganku terangkat mengelus punggung mama Karni.
‘’Kita harus kuat ya, Ma,’’ kataku dengan suara bergetar. Semua orang menatap iba ke arah mama Karni.
‘’Bu, saatnya kita memandikan almarhum. Semuanya sudah disiapkan,’’ kata lelaki yang memakai peci hitam itu.
‘’Iya, Mas. Saya ikut juga ya.’’ Suara mama Karni terdengar parau.
Beberapa orang lelaki mengangkat tubuhnya almarhum. Tak ada pilihan lain, selain aku duduk menunggu Andre selesai dimandikan. Dulu aku pernah mempelajari penyelenggaraan jenazah. Di sana dikatakan, yang boleh memandikannya itu hanya mahramnya jenazah. Berarti aku bukan kategori mahramnya almarhum, karena aku sudah cerai dengannya.
Beberapa saat kemudian, Andre selesai dimandikan lalu dibawa kembali ke tempat biasanya. Dari tadi sudah terletak pakaian jenazah yang sudah disiapkan oleh orang yang ahli dalam bidang itu. Saatnya memasangkan baju, sarung, sorban dan membungkus tubuhnya dengan kain putih. Tentu yang melakukannya adalah orang yang ahli dalam bidang ini. Aku yakin para lelaki yang ikut menyelenggarakan jenazah adalah mereka sudah paham agama, sudah ahli dalam menyelenggarakan jenazah. Tampak begitu telaten dan sigap para lelaki itu mengurus jenazahnya Andre.
Setelah jenazahnya di bungkus kain kafan, saatnya untuk menyolatkan. Tadi terdengar olehku, katanya jenazah almarhum akan disolatkan di masjid terdekat. Aku dan mama Karni berwudhu lebih awal di rumah, kalau di masjid takutnya lama menunggu antrian.
Tak berselang lama, aku sudah selesai berwudhu’. Tampak beliau tengah menenteng dua mukenah.
‘’Ini untuk kamu, Monik.’’ Mama menyodorkan padaku.
__ADS_1
Aku bergegas mengambil dan memakai mukena itu. Kami bergegas melangkah ke luar dari kamar mama Karni. Para tetangga tampak sudah siap-siap. Yang wanita sudah memakai mukena, sedangkan para lelaki sudah memakai baju koko, sarung dan peci.
‘’Bu, izin untuk membawa almarhum ke masjid ya,’’ kata salah seorang lelaki yang sedari tadi mengurus jenazahnya Andre.
Mama mengangguk. Lelaki itu pun memberi kode pada lelaki yang tengah duduk agar membantunya mengangkat jenazah almarhum.
Setelah jenazahnya diangkat, kami mengiringi di belakang. Kupegang erat tangan mama.
‘’Laa ilahaillallah laa ilahaillallah.’’
Kami melewati jalan, orang-orang yang berlalu lalang seketika berhenti sebagai bentuk penghormatan terakhir pada jenazah.
***
Setibanya di masjid, jenazah diletakkan paling depan.
‘’Assalamua’laikum warohmatullah wabarokatuh. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Telah berpulang ke rahmatullah salah seorang sanak saudara kita, anak dari Ibu Karni yang bernama Andre. Sebelum almarhum disolatkan, saya mewakili keluarga almarhum mengucapkan beribu ma’af jika ada selama masa hidup almarhum membuat kesalahan atau jika ada hutang piutang yang belum dilunasi mohon segera hubungi pihak keluarga agar almarhum bisa tenang di alam sana.’’
‘’Baiklah jika nggak ada hutang piutang. Mari kita segerakan menyolati almarhum.’’
‘’Sebelum itu saya ingatkan kembali. Sholat jenazah itu empat kali takbir. Niatnya adalah ushalli ‘ala hadzal mayyiti arba’a takbiratin fardho kifayati makmuman lillahi ta’ala. Allahu akbar. Setelah itu, baca surah al-Fatihah. Lalu takbir kedua, baca sholawat nabi. Takbir ketiga membaca do’a untuk jenazah dan terakhir melanjutkan membaca do’a selanjutnya. Setelah itu mengucapkan salam sambil memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri.’’
‘’Kalo ada makmum yang nggak tahu do’a untuk mayit pada takbir ke empat dan kelima, cukup diam saja dan aamiinkan do’a yang dipanjatkan oleh imam.’’
***
Setelah selesai disolatkan, jenazah Andre pun langsung digotong dengan keranda ke tempat pemakamannnya. Banyak sekali orang yang ikut mengantar Andre ke tempat peristirahatan terakhirnya. Setibanya di sana, tampak kuburan sudah selesai digali. Dengan pelan jenazah dimasukkan ke liang lahat.
Kali ini mama Karni terisak dalam tangisnya,’’Ma, Mama pasti kuat. Kita ikhlaskan kepergian Andre ya,’’ kataku lirih sambil memeluk erat wanita yang sudah kuanggap sebagai orangtuaku itu.
Bibi pun ikut mengelus punggung mama Karni. Entah sejak kapan dia di sini. Melihat almarhum ditimbun tanah oleh warga membuat air mata tak dapat dibendung lagi. Teringat olehku kali pertama ditembak cinta oleh Andre kala kami berada di café sekolah, waktu itu aku malu-malu kucing. Semua kenangan manis maupun pahit terbayang di benakku. Membuat aku terisak. Aku melepas pelukan dengan pelan lalu menatap mama Karni.
‘’Ma, kita harus ikhlaskan kepergian Andre.’’ Hanya itu yang keluar dari mulutku.
Lalu tanganku terangkat menyeka air mata beliau. Mataku kembali beralih menatap Andre yang kini sudah ditimbun oleh tanah.
‘’Selamat jalan mantan Suamiku. Aku udah mema’afkanmu, Ndre.’’
Aku tahu kepergian Andre begitu terasa sangat berat oleh mama Karni, maupun ART. Aku juga merasakan hal yang sama. Ya, walaupun statusku kini sudah berubah menjadi mantan istrinya. Namun, entah kenapa aku tetap merasa ada yang hilang di hidupku. Tapi aku pun tak bisa melarang Allah, kalau Dia ingin mengambil hamba-Nya aku bisa apa. Dia berhak mengambil ciptaan-Nya kapan pun dan di mana pun sekehendak-Nya.
Karena manusia maupun harta itu hanya titipan dari Allah, yang mesti kita jaga sebaik-baiknya sampai tiba waktunya Sang Empunya datang menjemput. Sekarang tibalah waktunya itu, Andre dijemput oleh Sang Pencipta.
__ADS_1
‘’Aku nggak tahu. Kapan aku akan menyusul. Tapi, aku berharap aku menghadap-Nya setelah aku punya banyak amal dan diampuni segala dosaku.’’
Bersambung.