Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Aku Harus Pergi


__ADS_3

Wanita yang kuanggap sebagai mamaku itu tampak kaget, begitu pun dengan bibi.


‘’Nak, kamu di sini aja.. Walaupun kamu bukan menantu Mama lagi, tetapi Mama udah menganggap kamu sebagai anak kandung Mama sendiri.’’


Buliran air mata mama kembali menetes di pipinya yang mulai tampak berkerut itu. Begitu pun dengan bibi yang tak hentinya menetes air matanya sedari tadi. Aku menghela napas pelan dan menyeka air mataku yang tak hentinya menetes sedari tadi.


‘’Ma, makasih banyak ya. Tapi aku nggak mau merepotkan Mama, apalagi statusku sekarang bukan istrinya Andre lagi. Mama jangan khawatir, aku akan ke sini kalo Mama kangen sama Rafi dan aku, aku janji, Ma.’’


‘’Baiklah, kalo begitu katamu. Tetapi izinkan Mama untuk memberikan hadiah untuk cucu Mama.’’ Membuat aku kaget seketika.


‘’Mama mohon agar kamu bisa menerimanya, hanya ini yang bisa Mama bantu untuk cucu Mama.’’


‘’Makasih banyak, Ma. Sekali lagi makasih,’’ ucapku lirih dan memegang jemari mama.


‘’Sama-sama, Sayang. Kamu mau menerimanya kan?’’


Beliau mengelus pucuk kepalaku yang dibalut kerudung. Aku bergegas mengangguk. Mama tersenyum dan menyeka buliran air matanya lantas memelukku dengan erat.


‘’Biar bagaimana pun, Monik jangan pernah berubah ke Mama ya, Nak,’’ bisik mama di telingaku. Aku melepas pelukan dari mama dengan perlahan dan mengangguk secepatnya.


‘’Aku nggak akan pernah berubah ke Mama. Mama udah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri,’’ sahutku dengan nada bergetar, air mataku kembali membasahi pipi. Dan berlanjut menatap bibi yang sedari tadi bergeming di sampingku.


‘’Bi, makasih banyak selama ini ya. Bibi baik banget, perhatian, selalu membantu aku dan pokoknya Bibi udah banyak membantuku. Ma’afkan aku jika ada salah ya, Bi.’’


Aku memutar posisi tubuku hingga berhadapan dengan wanita baik yang selalu ada untukku itu, bibi Ningrum.


‘’Sama-sama, Monik. Udah jadi tugas Bibi. Kamu nggak ada salah kok dan Bibi juga minta ma’af jika ada salah sama Monik,’’ balas bibi dengan deraian air mata. Dan seketika merangkulku erat. Sangat lama bibi merangkulku. Dan melepaskan pelukan dengan pelan. Aku menyeka buliran air mata seketika. Tampak mama termenung.


‘’Monik, kamu mau kembali ke rumahmu?’’ tanya mama pelan.


Aku menggeleng,’’Belum tahu, Ma. Tapi Papa dan Mama juga mau pindah dari rumah itu.’’


‘’Pindah? Kenapa?’’ Mama tampak kaget.


‘’Mama dan Papa nggak nyaman aja tinggal di sana, apalagi tetangga pada julid dan—’’ Aku tak mampu melanjuutkan ucapanku.


‘’Mama mengerti. tetapi kamu tinggal di mana nantinya?’’


‘’Itulah, Ma. Aku belum tahu, rencananya mau menelpon Mama sama Papa.’’


‘’Ya udah, Ma, Bi. Aku beres-beres dulu.’’


Aku bergegas bangkit, mama dan bibi mengangguk. Lantas aku melangkah menuju lemari. Kupandangi putraku yang masih terlelap. Hatiku sungguh teriris menatapnya. Air mata pun kembali berderaian.


‘’Kamu pasti kuat, Nak.’’ Tangan mama menepuk lenganku dengan pelan.


‘’Iya, Ibu bener. Monik pasti kuat,’’ imbuh bibi yang ikut berdiri di samping mama. Aku hanya mampu mengangguk saja.


‘’Ya udah kamu istirahat aja dulu ya. Tenangkan pikiranmu, kalo kamu butuh apa-apa tinggal panggil Bibi atau Mama,’’ kata mama Karni pelan.


‘’Mama mau ke kamar dulu.’’


Lagi-lagi aku hanya mampu mengangguk dengan air mata yang masih berderaian. Mama tampak melangkah ke luar dari kamar, sedangkan bibi masih termangu menatapku.


‘’Monik, Bibi mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi kamu harus kuat dan apa kamu enggak kasihan sama Rafi? Kalo kamu terusan menangis, Rafi akan ikut menangis juga,’’ nasihat bibi dengan lirih.


‘’Bibi yakin kamu bisa melewati ini semua,’’ imbuhnya yang tak putusnya menatapku dengan tatapan sendu.


‘’Makasih banget, Bi. Do’akan aku agar bisa melewati ini semua,’’ lirihku di sela isakan tangis. Bibi menyahut dengan anggukan.


‘’Ya udah, Bibi mau kembali ke dapur dulu ya.’’


Aku menyahut dengan anggukan. Bibi pun bergegas melangkah ke luar kamar dan menutup pintu kamar pelan. Aku kembali menatap bayiku yang masih terlelap. Bergegas aku menaiki tempat tidur. Menatap bayiku membuat hatiku semakin teriris dibuatnya.


‘’Nak, kita harus pergi dari sini Sayang. Papamu menceraikan Mama.’’


‘’Mama nggak tahu entah ke mana akan membawamu. Ma’afkan Mama.’’


Berkali-kali kuusap air mata tetap saja jatuh berderaian. Dada terasa sangat sesak dan sungguh perih hati ini. Seketika benda pipihku berdering di nakas lantas kuraih.


‘’Mama?’’


Mungkin firasatnya sudah sampai ke mama. Ya, firasat antara anak dan ibu itu sungguh kuat. Kuseka kembali air mata yang masih mengalir. Aku mencoba mengatur napas dan berusaha untuk bersikap baik-baik saja.


‘’Assalamua’alaikum, Nak.’’


‘’Wa—wa’alaikumussalam, Ma.’’


‘’Kok suaramu kayak habis menangis?’’


‘’E—enggak kok, Ma. Ini karena pilek aja.’’


‘’Udah minum obat? Ntar nular ke Rafi loh.’’

__ADS_1


‘’Oh ya, Ma. Tumben Mama jam segini nelpon.’’ Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.


‘’Nggak boleh Mama nelponmu?’'


‘’Humm, bolehlah, Ma.’’ Aku tertawa kecil.


‘’Begini, Nak. Mama sama Papa Alhamdulillah sekarang udah pindah, jadi kamu dan suamimu bisa main ke sini. Kapan kamu main ke sini bawa sekalian cucu Mama?’’


Jleb! Suami? Asalkan mama tahu aku sudah pisah dengan Andre. Dia menceraikanku. Aku tak tahu harus bagaimana. Mau cerita ke mama aku tak sanggup rasanya.


‘’Hallo, Nak!’’


‘’Eh, hallo, Ma. Iya, syukurlah kalo Mama sama Papa udah pindah.’’


‘’Jadi kapan kamu akan ke sini? Bawa menantu dan cucu Mama ya.’’


Membuat air mataku kembali lolos. Apa yang harus kukatakan ke mama? Aku mengusap air mataku dengan ujung kerudung.


‘’Iya, Ma. In syaa Allah nanti Monik ke sana.’’


‘’Kamu menangis? Kok suaramu kayak gitu?’’


‘’Enggak kok, Ma. Udah dulu ya, Ma. Mama Karni manggil aku di luar. Assalamua’alaikum.’’


Tak mampu lagi rasanya diriku ini untuk bicara dengan mama hingga memutuskan sambungan telepon. Tangisanku seketika pecah dan tubuhku berguncang hebat.


‘’Ma’afkan aku, Ma. Aku nggak ingin Mama dan Papa kepikiran lagi,’’ ucapku di sela isakan tangis.


‘’Mungkin ini cara Allah, agar aku kembali ke jalan-Nya.’’


Kuseka air mata kembali dan bergegas bangkit. Walau terasa berat dan sulit bagiku. Aku harus kuat dan sabar demi bayiku. Gegasku kumpulkan semua pakaianku dan juga pakaian Rafi lantas merapikannya ke dalam koper. Aku yang tengah beberes mama Karni pun menghampiriku.


‘’Nak, ini untukmu.’’ Mama menyodorkan amplop ukuran besar. Yang kukira isinya adalah uang untuk Rafi.


‘’Nggak usah, Ma,’’ tolakku pelan dan masih sibuk merapikan isi koperku.


‘’Ambil-lah, Mama tahu kamu pasti butuh uang ini. Mama ikhlas kok. Apa kamu nggak kasihan sama Rafi? Nanti kamu malah nggak punya uang untuk mengontrak sementara.’’


Mama kembali menyodorkan amplop itu.


Mama ada benarnya juga. Sebenarnya aku pun sangat membutuhkan uang itu. Apalagi aku sekarang sudah punya anak. Tentu butuh uang untuk membeli keperluannya sehari-hari.


‘’Makasih banyak, Ma. Aku ambil ya.’’ Mama mengangguk lantas tersenyum. Aku meraihnya dan menyimpan di koperku. Mama kembali merangkulku erat.


‘’Berjanjilah kalo kamu nggak akan berubah. Kapan pun kamu akan ke sini pintu rumah terbuka lebar untukmu,’’ bisik mama.


‘’Iya. Aku janji. Makasih sekali lagi ya, Ma. Dan jaga kesehatan Mama selalu.’’


‘’Aku sangat menyayangi Mama,’’ lirihku melepas pelukan pelan lantas menatap mama.


‘’Dan begitu pun kamu, jaga kesehatanmu ya, Nak. Mama pun sangat menyayangi kamu.’’ Mama mengecup keningku.


‘’Kalau kamu butuh apa-apa bilang aja ke Mama dan hubungi langsung Mama ya.’’


Aku mengangguk dan mencoba untuk tetap tersenyum. Koperku pun sudah selesai dibereskan dan semua pakaianku sudah berada di dalam koper tanpa satu pun yang tertinggal kecuali ayunan Rafi yang masih tergantung. Mama tak putusnya memandangiku dengan sendu. Sepertinya mama sulit untuk melepaskanku pergi.


‘’Monik, biar sopir Mama yang ngantarin kamu ya?’’


‘’Nggak usah, Ma. Biar aku naik angkot aja,’’ jawabku pelan. Mama menggeleng.


‘’Mama nggak bisa membiarkan kamu dan cucu Mama pergi begitu saja sedangkan kendaraan yang akan kamu tumpangi belum ada dan belum jelas. Mau ya?’’ bujuknya.


Terpaksa aku mengangguk. Mama pun tersenyum. Aku bergegas menggendong Rafi dan menenteng koper di tanganku. Mama tak putus-putusnya menatap cucunya yang masih terlelap tidur. Seketika air mata mama luruh menatap bayiku.


‘’Ma’afkan Oma ya, Sayang,’’ lirih mama dengan suara bergetar. Tangan mama spontan mengelus pipi gembulnya lantas mengecup kening bayiku.


‘’Oma sayang banget sama Rafi kok. Oma nggak akan pernah berubah ke Rafi. Sehat-sehat ya Sayang, jadi anak yang sholeh dan kapan-kapan main lagi ke sini.’’


Tak henti-hentinya air mata mama berjatuhan, beliau terus saja mengusapnya berkali-kali. Membuatku ikut meneteskan air mata juga lantas menyeka secepatnya.


‘’Ya udah, yuk Mama anter ke depan,’’ ucap mama usai menyeka buliran air matanya.


Aku mengangguk dan langkah kakiku terasa berat ke luar dari kamar ini. Kupandangi seluruh ruang kamar yang pernah kuhuni. Teringat olehku semuanya. Kenangan bersama Andre ketika aku baikan dengannya, ketika dia memperlakukanku dengan baik. Canda tawanya, perhatiannya, kasih sayangnya, dan semuanya teringat olehku. Tak putus-putusnya mataku memandangi kamar ini. Kamar yang bersejarah untukku.


‘’Makasih Ndre, walau kamu hadir hanya sesaat saja di kehidupanku dan walau menorehkan luka di hati ini. Setidaknya kamu sudah mengajarkan kepadaku arti cinta yang sesungguhnya.’’


Kututup kembali kamar dan melangkahkan kaki menuju lantai satu walau terasa sulit untukku. Tampak mama masih menatapku dan masih berdiri di jenjang. Perlahan kulangkahkan kaki sembari menggendong bayiku dan menenteng koper.


‘’Monik,’’ panggil bibi ketika aku sudah berada di lantai bawah. Aku menoleh seketika.


‘’Bi, jaga Ibu ya,’’ pesanku. Bibi tampak mengangguk.


‘’Tetapi Monik harus janji sering main ke sini bawa Rafi ya. Sepi rasanya jika nggak ada kamu dan Rafi, biasanya suara Rafi yang membuat rumah ini rame."

__ADS_1


‘’Bibi tenang aja, aku akan sering main ke sini kok. Bibi jaga kesehatan ya.’’ Aku berusaha menahan air mataku dan mencoba untuk tersenyum walaupun hambar.


Bibi mengangguk dan mengecup kening Rafi.


‘’Monik, Bapak sudah menunggumu di luar,’’ panggil mama kemudian yang baru datang dari luar.


‘’Iya, Ma. Aku pamit dulu ya.’’


‘’Ya udah, Bi. Aku dan Rafi pamit dulu. Jaga Ibu ya, Bi. Asalamua’laikum.’’ Kuraih tangan bibi untuk takzdim. Air mata yang kutahan sejak tadi tumpah begitu saja. Tampak bibi meneteskan air mata dan mengangguk.


‘’Hati-hati, Monik,’’ ucap bibi. Aku melangkah ke luar rumah. Sesampai di garasi kulihat bapak sopir pribadi mama sudah menungguku. Aku menghela napas berat.


‘’Monik, kita berangkat?’’ tanya bapak sopir yang masih berdiri di samping mobil yang diparkir di garasi.


‘’Sebentar, Pak,’’ sahutku. Mama pun datang menghampiriku ke luar rumah.


‘’Hati-hati ya, Nak. Jaga kesehatanmu, jaga Rafi dan jangan lupa hubungi Mama ya.’’


‘’Sering-sering main ke sini bawa cucu Mama,’’ imbuh mama sambil mengecup kening Rafi kembali.


‘’Iya, Ma. Mama jaga kesehatan ya.’’ Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Mama mengangguk dan kembali memelukku erat. Kali ini lebih lama hingga pak sopir lama menatap kami.


‘’Ya udah, Ma. Aku dan Rafi pamit dulu, assalamua’alaikum.’’ Aku takdzim dengan mama, seketika buliran air mata mama kembali menetes. Entah berapa kalinya mama meneteskan air mata.


‘’Wa’alaikumussalam, hati-hati ya, Sayang.’’


Aku mengangguk dan pak sopir bergegas meraih koper di tanganku, membantu membawa ke mobil. Perlahan kumelangkah menuju mobil yang diparkirkan di garasi. Kutatap bayiku masih tertidur pulas, Pak sopir membukakan pintu untukku tetapi mataku tak putusnya memandangi seluruh pekarangan rumah ini. Rumah ini begitu bersejarah bagiku.


Mulai dari aku yang memberanikan diri ke rumah ini untuk menemui mama meminta pertanggung jawaban dari anaknya, hingga aku bisa diterima dengan baik di sini walau papa mertua yang tak merestui aku dengan anaknya hingga aku terus dibentaknya, diperlakukan dengan tak baik dan dipaksa untuk membuatkan seleranya. Dan juga kenanganku bersama Andre ketika dia memperlakukanku layaknya sebagai istrinya. Semua itu terbayang-bayang olehku.


Terbayang-bayang semuanya di benakku ini. Hingga tak sadar jika aku meneteskan air mata memandangi rumah mewah ini. Mama tampak memandangiku, begitu pun dengan bibi yang ke luar dari rumah dengan meneteskan air mata di pipinya.


‘’Monik, ayo kita berangkat,’’ panggil pak sopir kemudian. Mampu membuyarkan lamunanku.


‘’Ah ya, ma’af. Ayo, Pak.’’


Dengan hati yang terasa berat aku bergegas memasuki mobil yang sedari tadi dibukakan pintu oleh sopir pribadi mama. Aku memperbaiki dudukku setiba di dalam mobil. Tampak kaca mobil terbuka lebar jadi mudah untukku memandangi mama dan bibi dari dalam mobil. Tak putus-putusnya mata mama dan bibi memandangiku. Pak sopir pun sudah menaiki mobil dan memasang sabuk, lantas menghidupkan mesin.


Tak lupa pak sopir membunyikan klakson tanda pamit. Mama dan bibi melambaikan tangan kepadaku dengan deraian air mata. Kubalas dengan melambaikan tangan lalu mencoba tersenyum walau air mata terus bercucuran. Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah mewah. Sungguh berat terasa olehku dan terasa semua hanya mimpi.


‘’Kita mau ke mana Monik?’’ tanya pak sopir yang masih fokus menyetir.


‘’Eh, sebentar, Pak. Saya tanyakan dulu alamatnya.’’


‘’Ya, nggak ada tempat tinggal lain selain ke rumah Mama. Apalagi sekarang beliau udah pindah. Tiada salahnya jika aku coba kembali tinggal bersama kedua orang tuaku. Semoga saja di sana aman,’’ gumamku dan bergegas mengambil benda pipihku di saku-saku lantas mengirim pesan ke mama.


‘’Assalamua’alaikum, Ma. Kirim alamat rumah yang sekarang ya, Ma.’’ Tampak centang bergaris dua. Tak lama kemudian berubah menjadi biru. Itu artinya mama sudah meread pesanku.


‘’Wa’alaikumussalam, Nak. Jalan Cempaka no. 5 Rt 4 Rw 5 Kabupaten Semarang,’’ balas mama kemudian.


‘’Ini alamat lengkapnya, Pak.’’ Aku bergegas memperlihatkan isi pesan itu ke bapak sopir dan dia menoleh sesaat sambil meraih ponsel yang kusodorkan.


‘’Oke, Monik,’’ sahutnya sembari memberikan kembali ponselku. Tak berselang lama mobil pun memasuki rumah elite dan mewah itu. Ya, mungkin ini rumah baru yang ditempati mama dan papa. Tampak lebih mewah dari rumah sebelumnya dan tentu lebih luas lagi.


‘’Udah sampe, Monik,’’ ucap pak sopir dan bergegas keluar dari mobil membukakan pintu untukku.


‘’Hati-hati ya, Monik.’’ Aku membalas dengan anggukan dan perlahan melangkah ke luar berhati-hati karena aku tengah menggendong bayiku. Pak sopir itu bergegas membawakan koper.


‘’Makasih banyak ya, Pak.’’


‘’Sama-sama, Monik. Ngomong-ngomong kopernya saya bantu bawa ke dalam juga?’’ Aku menggeleng secepatnya.


‘’Saya bisa sendiri kok, Pak. Lagian nggak berat kok, makasih sekali lagi, Pak.’’


Aku bergegas menenteng koper dan sedangkan bapak itu membalas dengan anggukan lantas tersenyum. Aku memandangi rumah baru milik mama dan papa tampak lebih luas daripada rumah sebelumnya dan tentunya juga tampak mewah.


‘’Aku kembali lagi Ma, Pa. Semoga tetangga baru kita nggak tahu menahu soal aibku ini, aku takut jika Mama dan Papa tersakiti lagi dengan ucapan tetangga. Semoga aja kali ini kita betah tinggal di sini ya, Nak,’’ gumamku menatap bayi di pangkuanku dan berlanjut memandangi pekarangan rumah yang masih terasa asing olehku.


Seketika pintu terbuka tampak wanita yang telah melahirkanku itu. Tak kuasa rasanya aku menahan rasa sesak di dada. Aku ingin menceritakan semuanya ke mama. Tak mampu kumenahan tangisanku hingga akhirnya pecah dan aku berlari lantas menghambur ke pelukan mama. Mama tampak terheran.


‘’Mama!’’ ucapku di sela tangisan dan merangkul mama erat.


‘’Nak, kamu kenapa? Kamu baik-baik aja kan?’’


‘’Suamimu mana? Kok kamu berdua aja sama Rafi?’’ Mama mengelus punggungku dan mata beliau mencari-cari keberadaan Andre.


Tak bisa lagi aku menahan semua beban di pikiranku dan tangisanku semakin menjadi di pelukan mama hingga bayiku terbangun dibuatnya.


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.


Terima kasih banyak buat Readers yang masih setia membaca novel ‘’Kemanisan Sesaat’’ walaupun Author sering nggak update, tapi kalian tetap menunggu lanjutan ceritanya. Ya, itu karena Author yang sering sakit akhir-akhir ini.

__ADS_1


Dan sekarang Alhamdulillah udah lumayan membaik berkat do’a kalian. Mohon supportnya ya dengan cara like, vote, komen dan share. Dan juga ikutin cerita ini sampe ending. Oke, semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya. See you next time.


Instagram: n_nikhe


__ADS_2