Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Andre Ke Mana?


__ADS_3

‘’Kenapa Mama ngebelain nih perempuan nggak tahu diri? Hah? Kenapa, Ma?’’ bentak pak Ardi sembari memandangi istrinya yang tengah menghampiriku.


Rahangnya tampak mengeras dan mengepalkan tangannya, yang membuat aku semakin dihantui rasa takut. Sebegitu bencinya lelaki itu kepadaku. Aku tahu, kalau aku salah dan hamil di luar nikah, tetapi bukankah ini semua salah putranya juga? Dia tak bisa menyalahkan sepihak saja.


‘’Sudahlah, Pa! Malu kedengaran tetangga loh. Lagian kenapa nggak minta tolong sama Bibi aja sih, Pa?’’ ucapnya lirih. Nah benar apa yang dikatakan bu Karni. Asisten rumah tangganya ada. Lah, ini malah memaksa aku untuk memasak seleranya. Sungguh aneh, bukan?


‘’Biarin! Dia kan cuman menumpang di sini, jadi nggak segampang itu bisa tinggal bersama kita, Ma!’’ ketusnya sembari membuang muka. Seketika bu Karni menggeleng.


‘’Masuk ke kamar, Monik!’’ titah wanita separuh baya itu. Perlahan aku melangkah, hampir dicegah oleh lelaki sangar itu. Untung saja ada bu Karni yang baik hati.


‘’Udah lah, Pa! Biarkan saja dia. Mama mau bicara denganmu,’’ lirih wanita itu menarik lengan suaminya.


Walaupun dengan raut wajah kesal, terpaksa pak Ardi menuruti kemauan istrinya. Aku merasa lega seketika dan bergegas melangkah untuk memasuki kamar. Aku membaringkan tubuhku, sembari mengelus perut yang makin hari makin memabesar dan kutatap langit-langit kamar dengan pikiran yang menerawang entah ke mana. Beberapa saat kemudian bu Karni menghampiriku ke kamar.


‘’Bu, Andre kemana sih?’’ tanyaku tatkala beliau membawakanku makanan ke kamar. Ya, sudah 6 bulan aku berada di sini tetapi Andre tak pernah menampakkan batang hidungnya itu. Enam bulan pula aku bertahan dan bersabar dengan kelakuan pak Ardi, suaminya bu Karni.


‘’Ibu belum dapat kabarnya sampai sekarang, Monik,’’ jawab bu Karni sembari tangannya sibuk meletakkan makanan di atas nakas, lalu menghenyak di sofa. Wajahnya tampak sendu. Membuatku iba seketika.


‘’Apa Ibu belum tanya ke teman-teman sekolahnya?’’ aku memandangi wajahnya yang mulai tampak senja.


‘’Oh iya, kata Ayu teman sekelasku Bu, katanya Andre di rumah Bagas,’’ tambahku.


‘’Nah, itu dia. Kemarin Ibu sudah menghubungi semua teman dekatnya. Termasuk Bagas, tetapi nggak diangkat sama sekali. Apa semua itu atas suruhan Andre ya?’’ terka bu Karni.


Aku menghela napas seketika,’’Kayaknya benar deh, Bu.’’


‘’Perutku makin besar. Namun Andre nggak kunjung ke rumahnya,’’ batinku. Seketika aku menghenyak di samping bu Karni, dia menatapku.


‘’Bu, tolong bantu aku untuk mencari Andre. Apa Ibu nggak kasihan sama keadaanku? Lihatlah! Perutku semakin membesar. Sekarang sudah 7 bulan lebih usia kandunganku. Apa Ibu nggak kasihan sama cucumu ini?’’ aku memegang jemarinya, menatapnya dengan mata berbinar dan mengelus perutku yang tampak semakin hari semakin membesar.


‘’Ma’afkan, Ibu. Tapi, Ibu janji akan bantu kamu untuk mencari Andre. Karena Ibu juga mengkhawatirkan keadaannya yang entah sekarang berada di mana. Dan Ibu kasihan sama kamu, sama cucu Ibu yang sebentar lagi akan lahir. Walaupun kalian telah berbuat salah, tetapi bagaimanapun di dalam rahimmu itu darah daging Ibu. Kalian harus segera menikah.’’ Bu Karni membalas dengan memegang jemariku erat, dia tampak menahan buliran bening itu. Matanya berkaca-kaca.


‘’Iya, terima kasih banyak ya, Bu? Ma’af jika keberadaanku di sini, membuat Ibu ribut dengan Bapak,’’lirihku sembari menahan buliran air mata yang hendak jatuh.

__ADS_1


‘’Monik, kamu jangan ngomong gitu dong. Enggak sama sekali kok. Ini adalah tugas Ibu, karena ini semua ulah Andre anak kandung Ibu. Apalagi kedua orang tuamu sudah mengusir dari rumah. Di mana lagi kamu akan tinggal kalau enggak di rumah Ibu?’’


Bu Karni menghadapkan tubuhnya, muka kami saling berhadapan. Dia menatapku lebih dalam, tampak di sorot matanya menaruh perasaan iba. Ya Allah, aku kira dia berpura-pura baik saja atau ada niat jahat kepadaku, ternyata dugaanku salah. Tak ada nampak sedikit pun kepalsuan di sorot matanya, hanya ada rasa iba dan kelembutan seorang ibu. Aku merasa bersalah sudah berprasangka buruk terhadapnya.


‘’Ma’afkan aku, Bu,’’ batinku.


‘’Jangan dimasukin ke dalam hati semua kata-kata Pak Ardi ya?’’ pinta bu Karni.


‘’Aku nggak tahu harus ngomong apa lagi, Bu. Ibu mau saja menolong aku yang banyak dosa ini.’’ Tangisanku pecah seketika.


‘’Huushh! Kamu lihat Ibu! Nggak boleh ngomong kayak begitu, semua orang punya banyak dosa, dan kamu belum terlambat untuk bertaubat.’’ Bu Karni memandangiku, lalu memelukku erat.


‘’Iya, Bu. Ibu benar. Makasih sekali lagi ya, Bu.’’ Perlahan aku melepaskan pelukan.


Bu Karni hanya mengangguk dan tersenyum, lalu menyeka buliran air mataku dengan tangannya, ‘’Ya udah, tuh dimakan dulu makanannya. Pasti kamu sudah lapar kan?’’


Aku mengangguk dan meraih makanan yang dihantarkan oleh bu Karni.


‘’Kalau begitu, Ibu keluar dulu ya. Makan nasimu dan habiskan, ingat jangan banyak pikiran!’’ Nasihat bu Karni sembari beranjak dari duduknya. Aku hanya mengangguk perlahan, beliau pun melangkah keluar.


Beberapa saat kemudian, aku telah selesai makan dan melangkah menuju wastafel. Mumpung pak Ardi sedang tak berada di rumah. Aku yang tengah mencuci piring, terdengar langkah kaki ke arahku. Allah! Siapa? Dadaku terasa sesak dan rasa takut pun tiba.


Atau jangan-jangan pak Ardi? Tak mungkin, dia saja tengah berada di luar. Tak mungkin secepat itu dia pulang. Duuh! Dadaku terasa sangat sesak, jantungku berdegup lebih kencang, keringat mengalir begitu saja dan tubuhku pun menggigil karena saking ketakutan. Suara itu semakin dekat menuju arahku. Dan..


‘’Monik!’’ aku kaget seketika dan saat itu juga merasakan kelegaan, aku mengelus dadaku seketika.


‘’Kenapa kamu? Kalau sedang nggak enak badan jangan dipaksakanlah. Bibi kan ada.’’ Bu Karni memandangiku yang tengah kaget dan ketakutan.


‘’I—iya, Bu. Ma’af, hanya beberapa piring saja kok. Setelah itu aku akan istirahat ke kamar,’’ lirihku.


‘’Ya sudah. Selesaikan dulu, dan kembalilah ke kamar untuk beristirahat!’’ titah bu Karni, aku hanya mengangguk dan dia berlalu meninggalkanku.


Allah! Untung saja bu Karni yang menghampiriku. Gimana kalau suaminya? Bunyi langkah saja membuatku ketakutan separuh mati. Aku merasa sedang tinggal di penjara, bahkan lebih. Sudahlah! Akan kucari jalan keluarnya nanti, agar aku bisa mencari tempat tinggal yang aman. Sebaiknya kulanjutkan mencuci piring terlebih dahulu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, aku selesai mencuci piring dan kembali melangkah ke kamar untuk beristirahat.


‘’Aku harus menghubungi Ayu,’’ bisikku. Dan meraih benda pipih itu, lalu membawanya duduk di sofa. Kutekan nomor kontak Ayu, lalu kuhubungi.


‘’Assalamua’laikum, Yu. Kamu sedang sibuk nggak?’’ tanyaku tho the point.


‘’Wa’alaikumussalam, Monik. Nggak kok. Ini aku sedang duduk santai aja di depan rumah. Ada apa nih?’’ dia tertawa kecil di seberang sana.


‘’Syukurlah. Begini Yu, tolong bantu aku untuk menemukan Andre. Aku minta ma’af ya, udah sering merepotkanmu,’’ lirihku.


‘’Memangnya kedua orang tua Andre nggak mencari anaknya? Apa mereka nggak khawatir sama sekali? Sudah lama loh dia nggak di rumah, bahkan sejak selesai UN,’’ ya, tak ada seorang guru pun yang tahu perbuatan Andre terhadapku, membuat dia bisa mengikuti UN dan dia berhasil mendapatkan ijazah. Dasar lelaki tak tahu diri! Seenaknya saja dia tamat dan sedangkan aku tak bisa melanjutkan sekolahku. Teringat itu saja membuat hatiku teriris dan rasa benci terhadap Andre pun datang. Tetapi anakku juga butuh seorang ayah.


‘’Bu Karni kemarin sudah menghubungi semua nomor ponsel temannya, tetapi nggak diangkat sama sekali. Khawatirlah, Yu. Tapi kayaknya cuman Bu Karni yang mengkhawatirkan anaknya, Pak Ardi enggak,’’ jelasku panjang lebar.


‘’Ya Allah. Pasti ini atas suruhan Andre deh. Kenapa nggak dicari ke rumah temannya aja sih? Maksud kamu, Pak Ardi acuh aja gitu? Astaghfirullah, heran deh sama Papanya Andre ini.’’


‘’ Aku dan Bu Karni juga mengatakan hal yang sama. Itulah, Yu. Aku sudah memohon sama Bu Karni. Dia berjanji untuk menolong mencarikan Andre.’’


‘’ Iya, Yu. Mungkin karena dia nggak mau aku menikah dengan anaknya.’’


‘’Apa? Pak Ardi memang nggak punya hati kali ya. Jelas-jelas anaknya yang menghamilimu. Aku nggak habis pikir deh dengan Pak Ardi ini,’’ kesal Ayu. Terdengar dari suaranya.


‘’Aku nggak habis pikir juga, Yu. Aku tahu salahku, tetapi itu semua salah Andre juga.’’ suaraku kali ini bergetar.


‘’Tenang saja, Monik. Kali ini rencanaku akan berhasil.’’


‘’Maksudmu bagaimana, Yu?’’ lirihku, tetapi tak ada sahutan di seberang sana. Sepertinya telepon terputus, mungkin karena signal yang kurang bersahabat.


Bersambung.


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Oh iya, jika ada yang komen dan menantikan lanjutan ceritanya akan aku usahakan update 2 bab setiap harinya, tapi dengan syarat harus komen dan membaca setiap kali aku update ya. Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.

__ADS_1


See you next time!❤


Instagram: n_nikhe


__ADS_2