Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Aku Belum Menikah Tapi Kenapa Melahirkan?


__ADS_3

Aku membuka mata perlahan, kepalaku terasa sangat pusing, dan merasakan sakit di sekujur tubuhku, terlebih di area kew*nitaanku. Apa aku sudah melahirkan? Kucoba memeriksa perutku perlahan.


??


‘’Ya Allah ternyata aku belum melahirkan. Aku di mana?’’ kupandangi seluruh ruangan, tampak seorang wanita yang berpakaian seragam putih tengah mempersiapkan sesuatu, entah apa. Aku pun tak tahu. Oh iya, semua alat medis terpasang indah di tubuhku.


Ada apa denganku? Kenapa sampai sekarang aku tak kunjung melahirkan? Rasanya tubuhku begitu lelah. Oh iya, kira-kira siapa yang membawaku ke rumah sakit? Aku teringat ketika aku merasakan pusing di tepi jalan itu dan aku tak ingat apa-apa lagi. Apa mungkin Ayu yang membawaku ke sini? Lalu siapa lagi kalau bukan Ayu.


‘’Arrgghhhh!!’’ perutku bagian bawah terasa sangat sakit.


‘’ Syukurlah Mba sudah sadar. Bertahanlah, akan saya panggilkan dokter.’’ Wanita yang berpakaian seragam putih itu menghampiriku dengan wajah cemas. Lalu berlari keluar dari ruangan.


‘’Dok, Mba Monik sudah sadar. Sepertinya dia kontraksi lagi, dia merasakan sakit kembali.’’ Suaranya terdengar samar di luar sana. Kontraksi?


Beberapa orang berseragam putih itu menghampiri aku yang tengah merintih kesakitan. Dan memeriksa keadaanku.


‘’Sudah terasa sangat sakit ya, Mba?’’ tanya wanita berseragam itu ramah sembari mengecek keadaanku.


Aku hanya mampu mengangguk dengan keringat dingin yang bercucuran, karena menahan rasa sakit yang luarbiasa. Namun bayiku tak kunjung lahir. Mungkin ini yang dinamakan kontraksi itu.


‘’Baru bukaan satu,’’ lirih wanita berseragam putih itu.


Aku pun tak tahu, apa maksudnya bukaan satu. Karena aku tak berpengetahuan tentang melahirkan, juga aku yang masih terlalu muda. Seharusnya seusiaku masih melanjutkan pendidikan. Tetapi aku malah seperti ini. Ya, semua itu karena ulahku.


Aku yang tak pandai menjaga diri dengan baik, yang begitu mudahnya memberikan kehormatanku kepada seorang insan yang belum halal menjadi milikku. Aku yang begitu mudah mencicipi kemanisan bersifat sesaat, aku yang berbuka bukan pada waktunya.


‘’Yang sabar ya, Mba. Banyakin istighfar, dan jangan mengejan jika nggak terasa sakit,’’ nasihat wanita berseragam putih itu. Lagi-lagi aku hanya mampu mengangguk saja.


‘’Sus, berikan air minum, Sus,’’ titahnya kepada suster.


‘’Baik, Dok.’’


‘’Diminum dulu, Mba.’’ Suster itu membantuku agar bisa meminum air. Langsung kuteguk hingga tandas air itu.


Setiap beberapa menit, wanita berseragam putih itu mengecek keadaanku. Namun sekarang aku tak kunjung melahirkan. Keringat bercucuran di wajahku, buliran air mata pun berderaian karena saking sakitnya. Tenagaku terkuras habis.


‘’Arrgghhh! Ma—Ma.’’


‘’Istighfar, Mba. Saya cek ulang kembali ya.’’


‘’Ya Allah.Ternyata bayinya terlalu besar, hingga sulit untuk keluar.’’


‘’Bagaimana, Dok? Apa kita lakukan saja operasi Caesar?’’


‘’Tunggu, kita harus menghubungi pihak keluarganya. Karena sejak tadi siang cuman sahabatnya yang menemani di sini.’’


‘’Beritahu sahabatnya, Sus. Suruh menghubungi pihak keluarga sekalian.’’


‘’Kasihan juga sejak tadi dia menahan rasa sakit. Tenaganya sudah terkuras habis.’’

__ADS_1


‘’Baik, Dok.’’


‘’A—aku nggak kuat, Dok,’’ lirihku dengan deraian air mata menahan rasa sakit yang semakin mengeras, namun tak kunjung melahirkan.


‘’Yang sabar, Mba. Mba pasti kuat ya, banyakin istighfar dan serahkan semuanya kepada Allah. Biar dihubungi dulu pihak keluarga Mba ya.’’


Lagi-lagi aku hanya mampu mengangguk saja.


‘’Allah. Begini rasanya mau melahirkan itu. Tenagaku rasanya udah terkuras habis. Kenapa aku nggak kunjung melahirkan? Apa Karena aku belum meminta ma’af kepada kedua orang tuaku? Ya Allah, ingin rasanya aku meminta ma’af, tapi mereka nggak ada di sini. Ma, Pa ma’afkan Monik,’’ batinku dengan deraian air mata yang masih terbaring lemah.


‘’Atau karena dosaku yang terlalu banyak? Ya Allah ampunilah aku yang banyak dosa ini.’’


Beberapa jam kemudian. Tubuhku semakin lemah. Infus dan alat medis lainnya masih terpasang indah di tubuhku.


‘’Bagaimana ini, Sus? Apa pihak keluarganya sudah datang? Kasihan Mba ini.’’


‘’Sudah, Dok. Mereka baru saja datang. Ayo kita keluar sekarang, Dok.’’


‘’Tu—tunggu, Sus. Kalo Mama dan Papaku datang ke sini, suruh masuk ke dalam yah, Sus.’’


‘’Tolong, aku ingin meminta ma’af dan do’a dari mereka.’’ nyaris tak terdengar olehnya.


Seketika suster itu menghentikan langkahnya, lalu mendekat di sampingku.


‘’Iya, Mba. Akan saya bantu nanti ya.’’


‘’Ma—makasih, Sus.’’


‘’Saya keluar dulu.’’


Beberapa orang wanita yang berpakaian seragam putih itu bergegas melangkah keluar. Makin ke sini kontraksi sering datang, dengan rasa sakit yang amat mendalam.


Beberapa menit kemudian.


‘’Moniik!’’ panggilnya dengan isakan tangis. Bergegas menghampiriku yang terbaring lemah. Lantas mengenggam tanganku dengan erat.


‘’Ma—ma’afkan aku ya, Ma, Pa,’’ lirihku terbata.


Mudahan dengan datangnya kedua orang tuaku, mereka bisa mema’afkanku dan mendo’akanku agar lancar dalam operasi melahirkan. Karena do’a kedua orang tua itu adalah mustajab. Seharusnya jauh sebelum melahirkan aku sudah meminta ma’af kepada kedua orang tuaku, karena aku sudah membuat mereka sedih dan merasakan sakit hati yang amat dalam, itu semua karena ulahku.


Seketika rasa sakit yang kurasakan bertambah, kepalaku terasa pusing dan semuanya terasa gelap.


***


Tubuhku terasa lemas dan sakit sekali, terdengar samar olehku seperti bunyi menggunting sesuatu. Apakah aku dioperasi caesar? Ingin kumembuka mata, tapi sungguh sulit rasanya. Rasa sakit, lelah dan semuanya membuat aku tak bisa membuka mata, tetapi aku masih mendengar bunyi guntingan itu. Rasa sakit melahirkan mampu mengalahkan rasa sakit operasi. Dan mungkin karena aku dibius, jadi tak merasakan sakit yang mendalam.


Beberapa menit kemudian, aku mendengar tangisan bayi yang sepertinya baru lahir. Apa itu anakku? Allah ingin rasanya aku membuka mata, namun tak mampu karena tubuhku terasa sangat lelah ditambah rasa sakit yang luarbiasa.


‘’Alhamdulillah Ya Allah! Benar, ini anakku. Buktinya Suster meletakkan di dadaku. Kamu yang sabar ya, Nak. Sekarang Mama belum bisa buka mata,’’ bisik hatiku.

__ADS_1


‘’Buka matanya dong, Mba. Ini bayinya laki-laki, Alhamdulillah sehat dan tampan,’’ lirih wanita berseragam putih itu samar kudengar.


Aku berusaha membuka mataku, namun tak mampu karena tubuhku begitu lelah dan sakit rasanya. Tenagaku sungguh terkuras habis.


‘’Coba pelan-pelan buka matanya. Dan jangan tidur ya, sudah melahirkan enggak boleh tidur dulu, Mba. Kasihan nanti bayinya,’’ imbuh wanita berseragam putih yang lain.


Kucoba membuka mata perlahan, seketika kumelihat bayi yang masih memerah di dadaku.


‘’Ya Allah. Alhamdulillah, kamu lahir dengan sehat, Nak. Ta—tapi….’’ Aku teringat seketika perlakuan Andre terhadapku. Pikiranku sungguh kalud dan tak terarah.


‘’E—enggak. Dokter! Bawa anak ini jauh dariku!’’


‘’Ta—tapi kenapa, Mba? Itu anak, Mba. Mba yang ngelahirin dia,’’ lirihnya sembari mengambil bayi itu dan menggendongnya.


Aku sungguh frustasi dan teringat semuanya,’’Nggak, aku belum menikah kenapa aku bisa ngelahirin kayak gini!’’


‘’Tenang dulu, Mba. Istighfar, Mba baru saja selesai operasi. Nggak boleh banyak gerak dulu.’’


‘’Do—Dok, tolong bawa bayi itu keluar dari ruangan ini. Dia bukan anakku! Aku mohon!’’


‘’Bagaimana ini, Dok? Masa baru lahir mau kita jauhkan dari Mamanya, kasihan loh Dok,’’ lirih Suster itu yang membuat aku semakin kesal.


‘’Kalo nggak, biarkan aku yang membawanya keluar!’’ aku berusaha bangkit, namun tetap saja tak bisa. Perutku terasa sangat sakit dan apalagi tenagaku terkuras habis. Entah kenapa aku begini.


‘’Aaarrrgghhh!!’’ Aku mengerang frustasi. Semua wanita berseragam putih itu menenangkanku tetapi tetap saja aku bersikeras untuk membuka alat medis yang terpasang indah di tubuhku ini.


‘’Ya Allah, Nak. Istighfar, Monik. Kamu baru saja selesai operasi,’’ lirih mama dengan buliran air mata, beliau menghampiriku.


‘’Ma, itu bukan anak aku, Ma. Aku belum menikah.’’


‘’Dok, bawa aja cucu saya itu ke ruangan khusus bayi dulu ya. Nanti kalo anak saya sudah cukup tenang, bawa kembali ke sini lagi.’’


‘’Iya, Bu.’’ Suster itu menggendong bayi yang katanya aku yang melahirkan bayi itu, digendongnya keluar dari ruangan.


‘’Kamu tenang dulu ya, Sayang. Kan baru siap operasi, ngga boleh banyak gerak.’’


‘’Operasi, Ma?’’ seketika aku terperanjat kaget.


‘’Iya, Nak. Makanya kamu banyak istirahat dulu, jangan banyak pikiran.’’


‘’Memangnya aku kenapa, Ma? Habis kecelakaan?’’


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah yang terjadi sebenarnya dengan Monik? Dan apakah Monik akan mengakui anaknya? Bagaimana pula dengan Andre? Penasaran? Yuk ikutin terus.


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.

__ADS_1


See you next time!❤


Instagram: n_nikhe


__ADS_2