Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Penyesalan


__ADS_3

Setelah menelpon dengan Ayu aku terlelap karena saking lelahnya tubuh dan pikiranku ini apalagi selesai menangis yang begitu lama. Samar kudengar seperti ada yang memangil namaku dari luar sana. Dengan pelan kubuka mata yang enggan untuk dibuka karena masih terasa lelah dan mengantuk.


‘’Monik, kamu masih tidur, Nak?’’ Suara mama kembali memanggilku di luar sana.


Aku menggeliat dan bergegas duduk lantas mengumpulkan nyawa terlebih dahulu.


"Iya, Ma. Aku baru bangun nih, ma’af yah, Ma,’’ sahutku dengan suara khas bangun tidur.


‘’Nggak apa-apa, Mama cuman mau bilang Papamu udah pulang kerja nih,’’ ucap mama kembali.


‘’Apa? Udah pulang Papa ya, Ma?’’ Aku sontak kaget, karena papa biasanya pulang dari kantor itu sekitaran sore hari, saking sibuknya beliau. Sedangkan aku tidur tadi siang sekitaran pukul 13.00, berarti sekarang sudah sore? Ya Allah! Saking lamanya aku beristirahat. Aku bergegas memandangi benda yang melingkar di dinding.


‘’Apa? Jam 17.00? Ya Allah, apa aku salah lihat kali ya?’’


Kuusap mata berulang kali dan terus memandangi jarum jam itu, namun tak jua bertukar jarumnya. Berarti aku tak salah lihat. Benar saja sudah sore, saking lamanya aku tertidur pulas. Dan saking lelahnya tubuh dan pikiranku ini.


‘’Iya, Nak. Kamu enak banget tidurnya, makanya Mama kasihan dan nggak mau bangunin kamu,’’ jawab mama kemudian.


Membuatku terharu dengan jawaban mama yang tak mau membangunkanku. Aku bergegas bangkit dan melangkah menuju kamar mandi yang letaknya berada di ruang kamar tidur, untuk melakukan ritual terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, aku telah selesai melakukan ritualku dan langsung memakai pakaian. Aku mematut diri ke cermin.


‘’Ya Allah, tubuhku agak gemuk sejak selesai melahirkan ini. Padahal aku banyak pikiran setiap hari,’’ gumamku sembari mematut diri ke cermin.


‘’Monik, kamu harus kuat dan sabar melewati ini semua ya. Apalagi kamu sekarang punya bayi yang harus kamu jaga dan harus kamu didik sendiri, walaupun kamu bukan orang baik tetapi kamu harus mendidik anakmu dengan baik. Jangan sampe kelakuan Papanya menurun ke anakmu. Kamu pasti bisa, semangat!’’ gumamku menyemangati diri yang tak putusnya mematut ke cermin.


Lantas aku memakai kerudung. Ya, walaupun aku punya masa lalu yang gelap. Tetapi bagaimana pun aku akan berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi daripada diriku yang dulu.


‘’Monik, makan dulu yuk, Nak. Kamu pasti laper,’’ panggil mama kembali dari luar sana.


‘’Iya, Ma. Sebentar,’’ sahutku.


Dan bergegas melangkah ke luar. Aku menuju ruang keluarga, tampak papa tengah asyik memandangi televisi yang tengah tayang.


‘’Pa!’’ panggilku pelan. Aku tak mampu menahan rasa sesak di dada yang membuncah. Papa menoleh, aku melangkah menuju tempat papa yang tengah duduk di sofa.


Papa menatapku sendu. Apa mama sudah cerita semuanya ke papa? Apa papa sudah tahu semuanya tentang problem yang menimpa rumah tanggaku? Perlahan aku menghenyak di sebelah papa, papa memutar tubuhnya hingga berhadapan denganku.


‘’Nak, ma’afkan Papa ya?’’ Ya Allah, kenapa papa yang meminta ma’af? Aku terheran dan menatap papa.


‘’Kenapa Papa yang meminta ma’af, Papa nggak pernah salah kok sama aku. Malahan—’’ lirihku pelan. Ucapanku terhenti di kala papa memberi kode agar aku diam.


‘’Nak, Papa nggak terlalu merhatiin kamu sampe akhirnya kamu begini. Yang salah memang Papa dan Mama, kami lebih mementingkan kerja daripada anak sendiri. Papa nggak berhasil mendidik kamu. Papa minta ma’af semuanya adalah salah Papa dan Mama sebagai orang tuamu,’’ kata papa terdengar suaranya bergetar.


Tak pernah papa bicara seperti raut wajah ini denganku, ya baru kali ini. Aku makin terharu mendengar ucapan papa tak terasa buliran air mataku kembali menetes.

__ADS_1


‘’Pa, Papa nggak boleh bilang kayak gitu. Papa dan Mama bahkan selalu ingetin aku untuk selalu menjaga diri, sholat jangan lupa dan jangan berpacaran. Itu selalu Papa dan Mama ingetin walaupun sibuk dengan pekerjaan setiap hari, tapi apa? Tapi aku lah yang keras kepala, Pa. Aku yang nggak mau mendengerkan apa nasihat Papa dan Mama, aku yang nggak mau menerima kebenaran. Ya, itu semua salahku. Papa dan Mama udah berusaha menjalankan tugas sebagai orang tuaku,’’ ucapku dengan nada suara bergetar hebat. Air mataku tak hentinya menetes.


‘’Tetap aja Papa dan Mama yang nggak berhasil mendidikmu. Buktinya sekarang kamu kayak gini jadinya. Nasi sudah jadi bubur, kamu belum terlambat untuk bertobat, Nak. Allah Maha Pengampun, Papa dan Mama akan bantu kamu agar bisa berubah ke yang lebih baik lagi. Serta kami akan ikut menjaga dan mendidik bayimu,’’ ucap papa kemudian yang menghela napas pelan dan menyeka buliran air mata yang baru saja menetes di pipinya.


‘’Pa, makasih banyak ya. Aku nggak tahu harus bicara apalagi. Pokoknya aku beruntung banget punya Papa dan Mama, ma’afkan aku yang belum bisa membahagiakan Papa dan Mama ya,’’ lirihku sembari menatap papa. Air mataku tak hentinya menetes. Kuusap dengan pelan, namun terus saja ia kembali berjatuhan.


Papa bergegas mengelus pucuk kepalaku yang dibalut kerudung,’’Sama-sama, Nak. Papa pun minta ma’af belum bisa jadi Ayah yang baik untuk kamu, tetapi Papa janji akan membimbing kamu, Papa akan berusaha semampu Papa untuk membimbing kamu menuju yang lebih baik lagi,’’ sahut papa lirih.


Aku mengangguk dan menghambur ke pelukan papa. Tangisanku kali ini sungguh pecah. Ya, di saat seperti ini hanya kedua orang tuaku-lah yang bisa menerima kehadiranku kembali, beliau bisa menerimaku dengan baik lagi walau dahulu pernah membenciku diakibatkan perbuatanku yang sudah melampaui batas.


Ya, bagaimana pun kedua orang tua-lah yang bisa menerima anaknya kembali ke rumah di saat anaknya terpuruk atau di saat orang lain tak mempedulikan. Dahulu papa bahkan benci sekali dengan perbuatanku itu, tetapi seiring berjalannya waktu beliau sudah mau mema’afkan semua kesalahan dan perbuatanku yang ada di masa lalu.


Sebenci dan semarah apa pun kedua orang tua, suatu saat akan menerima anaknya kembali ke pangkuannya. Marahnya mereka tanda sangat menyayangi anak-anaknya, tanda peduli dengan anaknya dan tiada orang tua yang marah tanpa sebab, marahnya karena kelakuan anak-anaknya yang tak baik. Ya, seperti aku contohnya mempunyai masa lalu yang kelam.


Sudah sepantasnya papa dan mama membenciku dahulu, tetapi Alhamdulillah kini beliau bisa menerimaku kembali. Aku tak tahu jika kedua orang tuaku tak menerima kehadiranku di sini, entah ke mana aku dan bayiku akan menumpang tempat tinggal. Pasti aku akan jadi gelandangan di jalanan.


‘’Kamu pasti kuat, Nak. Yang sabar dan kuat ya, sekarang kamu ada Rafi yang akan kamu jaga dan didik dengan baik. Jangan dipikirin semua masalah yang tengah menimpamu, anggap ini semua teguran dari Allah kepadamu atas perbuatanmu di masa lalu. Dan berjanjilah untuk berubah menjadi lebih baik lagi, berjanji kepada Allah dan kepada dirimu sendiri.’’ Papa melepaskan pelukan dengan perlahan. Lalu menatapku, mata papa tampak masih berembun.


‘’In syaa Allah, Pa. Papa bener, semua ini adalah teguran Allah untukku, Allah menegur dengan cara-Nya itu agar aku kembali ke jalan-Nya, tetapi aku nggak pernah peka dengan teguran Allah,’’ jawabku dengan deraian air mata yang kembali membasahi pipiku.


‘’Alhamdulillah kamu sekarang mulai sadar, Nak. Papa seneng mendengarnya, pintu hatimu sudah mulai terbuka kembali dan tandanya Allah sudah mendatangkan hidayah-Nya padamu. Tetaplah bersyukur dan berusahalah untuk menjadi insan yang lebih baik lagi, kembalilah pada jalan-Nya,’’ lirih papa yang tengah menyeka buliran air matanya berulangkali.


Aku sungguh merenung mendengarkan semua nasihat dari papa, hatiku mulai terketuk kembali menuju kebaikan. Dan entah kenapa hatiku terpanggil untuk tobat dan kembali kepada jalan-Nya. Mudahan aku bisa untuk menjadi lebih baik lagi daripada diriku yang dulu.


‘’Ma,’’ panggilku. Aku mengusap buliran air mata kembali lantas memandangi mama yang tengah menggendong bayiku yang masih terlelap.


‘’Sayang, lihatlah! Bayimu lucu banget. Dan kita harus menjaganya dengan baik dan mendidiknya agar jadi anak yang sholeh. Iya kan, Pa?’’ Mama memperlihatkan Rafi yang tengah terlelap dan beralih menatap papa. Kupandangi bayiku. Mama benar sekali.


‘’Mamamu bener, Nak. Bagaimana pun juga Rafi itu butuh kasih sayang dan didikan yang baik, Mama dan Papa akan ikut bantu kamu ya. Kamu jangan khawatir,’’ timpal papa sambil memandangi cucunya yang terlelap.


‘’Iya, Nak. Walaupun Rafi mirip banget dengan Papanya, kamu jangan membenci anakmu ya. Wajahnya memang mirip karena dia adalah anak kandung Andre, darah daging Andre. Tetapi sifatnya jangan sampe meniru Papanya, jangan sampe sifat buruk Andre turun ke anaknya. Makanya kita harus gigih dan terus mendidik Rafi dengan baik,’’ imbuh mama kemudian. Aku mengangguk.


‘’Iya, Ma. Mama bener banget,’’ lirihku.


‘’Oh ya, lalu bagaimana dengan tanggung jawab Papanya?’’ tanya papa kemudian. Aku termenung sejenak.


‘’Andre udah pergi dari rumahnya, Pa. Dan dia nggak mau tanggung jawab bahkan dia nggak mau tahu tentang anaknya, tetapi Mama Karni memberikan separuh hartanya untuk Rafi,’’ ucapku seadanya. Papa sontak kaget, matanya membulat. Begitu pun dengan mama yang tampak terheran.


‘’Separuh dari hartanya? Itu banyak loh, Nak. Apa kamu salah denger kali ya? Atau dia ada rencana lain,’’ ucap papa dengan wajah kaget. Aku menggeleng secepatnya.


‘’Iya, Pa. Aku nggak salah denger dan Mama Karni nggak membohongi aku kok, Pa. Bahkan berulangkali Mama bilang kalo dia ingin memberikan separuh dari hartanya untuk Rafi, jauh sebelumnya dia sudah mengurus semuanya sampe suratnya yang tadi siang dikirim ke hanphone-ku. Aku kenal banget sama Mama Karni. Beliau baik banget,’’ kataku panjang lebar.


‘’Dan kemaren Mama Karni sempet mengasih uang juga buat peganganku kalo ada keperluan mendesak, apalagi aku udah punya Rafi. Uang itu jumlahnya cukup banyak loh, Ma, Pa,’’ imbuhku memandangi mama dan papa. Beliau tampak makin kaget mendengar ucapanku.

__ADS_1


‘’Ya Allah, Alhamdulillah kalo memang begitu, Nak,’’ sahut mama dengan mata berkaca-kaca.


‘’Alhamdulillah, walaupun Andre nggak mau tanggung jawab setidaknya Mamanya sudah bertanggung jawab dan ternyata Mama Karni itu baik banget ya sama kamu dan juga Rafi. Papa nggak nyangka,’’ timpal papa tampak menunjukkan seulas senyuman lega.


‘’Iya, Ma, Pa. Alhamdulillah, sebenarnya Mama Karni itu baik banget walaupun suaminya begitu kelakuannya. Aku dapat mertua yang sangat baik, lain dengan Andre. Tetapi mungkin ini yang terbaik untukku,’’ lirihku kembali dengan suara bergetar.


‘’Nak, ini yang terbaik untukmu dan beginilah cara Allah menegurmu agar kembali kepada jalan-Nya. Ikhlaskan Andre, lepaskan dia dengan ikhlas ya,’’ lirih mama kemudian menatapku.


Lantas aku mengangguk,’’Iya, Ma. In syaa Allah, aku akan berusaha untuk melepaskan Andre dengan ikhlas.’’ Aku mencoba untuk tetap tersenyum walau hatiku begitu perih rasanya.


‘’Nak, Papa dan Mama di sini ada untukmu juga Rafi, jadi kamu jangan sedih ya. Kamu yang kuat dan sabar ya, Nak.’’ Papa kembali menepuk pundakku dengan pelan. Aku menoleh lantas mengangguk.


‘’Iya, Pa. Makasih banyak, aku beruntung punya Mama dan Papa.’’


Mama yang tengah menggendong Rafi merangkulku dan begitu pun dengan papa.


‘’Alhamdulillah Ya Allah, di saat aku begitu rapuh dan tersakiti, masih ada kedua orang tuaku yang sangat menyayangiku dan masih ada kedua orang tuaku yang mau menerima kehadiranku di sini. Aku bahagia, aku bersyukur banget punya mereka,’’ gumamku dalam hati tanpa kusadari buliran air mataku kembali menetes.


‘’Ya, walaupun di sisi lain Andre menceraikanku. Belum lama usia pernikahan kami, talak pun diucapkannya padaku. Ya, mungkin semua adalah teguran untukku, aku dulu yang begitu mudah menikmati kemanisan sesaat. Aku yang nggak pandai menjaga kehormatanku, aku yang begitu mudah dihasut oleh syetan. Hingga begini jadinya. Aku sangat menyesali perbuatanku itu, penyesalan memang datanganya di akhir bukan di awal.’’


‘’Sekarang aku ingin fokus memperbaiki diriku, merubah diriku agar bisa jadi orang baik lagi, meminta ampun dan bertobat kepada Allah atas semua dosa-dosa yang telah kuperbuat dan menjaga serta mendidik bayiku hingga tumbuh menjadi anak yang sholeh.’’ Kupandangi bayiku yang masih digendong oleh mama.


‘’Bismillah, kuikhlaskan dirimu, Ndre. Mungkin ini yang terbaik buat kita. Terima kasih kamu pernah hadir di kehidupanku, kamu pernah menyayangiku dan aku pun pernah menyayangimu. Dan terima kasih untuk luka yang kamu goreskan, semoga dengan masa lalu aku bisa berubah menjadi insan yang lebih ta’at lagi kepada Allah. Dan biar bagaimana pun kamu tetap ayah dari bayiku, karena di tubuhnya mengalir darah dagingmu.’’


Seharusnya dulu aku lebih mendengarkan nasihat dari sahabatku, Ayu. tetapi aku malah menganggap dia iri hati atau berlebihan. Aku yang keras kepala dan susah menerima kebaikan akhirnya seperti ini. Dan terutama kedua orang tuaku yang selalu memberikan nasihat untukku walau di tengah kesibukannya setiap hari bekerja di kantor, tetapi itu semua tak membuat mereka lelah dan bosan untuk menasihatiku, mengajarkan kebaikan kepadaku.


Tetapi aku yang keras kepala dan tak mau mendengarkan nasihat dari kedua orang tua hingga aku hamil di luar nikah dan akhirnya ditinggalkan juga oleh lelaki yang dahulunya merenggut kehormatanku. Dia yang dulu sangat menyayangiku, sangat mencintaiku, tetapi cintanya begitu cepat pudarnya. Apakah ini yang dinamakan cinta karena nafsu semata? Ya, jika cinta karena Allah tak kan semudah itu pudar dan tak kan pernah luntur rasa cintanya walaupun sudah menua.


Seharusnya aku tak menerima cinta Andre dahulu sebelum janur kuning melengkung, sebelum dia menjabat tangan papaku. Tetapi aku buta, aku buta karena cinta. Begitu mudahnya aku menerima cintanya, cinta yang belum pada waktunya. Cinta yang belum diridhoi oleh Allah. Aku menerimanya hingga terjerumus kepada sesuatu yang dibenci oleh Allah tetapi sangat disukai oleh syetan yang terkutuk. Aku pernah mendengarkan nasihat dari Ayu. Katanya mendekati zina saja sudah dilarang oleh Allah apalagi berzina, yang namanya pacaran.


‘’Dan janganlah kamu mendekati zina, itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.’’ (Q.S Al-Isra’ ayat 32)


Sekarang aku baru sadar bahwa yang kulakukan selama ini adalah salah dan sangat besar dosanya. Ternyata lebih baik pacaran setelah menikah daripada pacaran sebelum menikah, karena pacaran sebelum menikah itu tak menutup kemungkinan syetan selalu menghasut hingga terjerumus ke dalam pergaulan yang menyesatkan, pada akhirnya hamil di luar nikah yang sangat besar dosanya dan semuanya berimbas kepada anak, diri sendiri dan apalagi keluarga.


Jika pacaran setelah menikah, tentu sangat diridhoi oleh Allah. Karena sudah menjadi pasangan halal dari dunia hingga akhirat kelak, apapun yang dilakukan oleh pasangan halal akan mendapat pahala dan barokah dari Allah, juga pacaran setelah menikah tentu akan terasa nikmatnya luar biasa karena telah halal. Allah pun akan meridhoi setiap langkah kedua pasangan halal, apapun yang diperbuatnya akan diberi ganjaran pahala, contohnya saja menyenangkan istri dan suami.


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.


Terima kasih banyak buat Readers yang masih setia membaca novel ‘’Kemanisan Sesaat’’. Mohon supportnya ya dengan cara like, vote, komen dan share. Dan juga ikutin cerita ini sampe ending. Oke, semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


See you next time.❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2