Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
POV Bu Karni


__ADS_3

‘’Nggak kan kubiarkan si lelaki brengsek itu merebut hartaku, apalagi dia hidup bersama si pelakor yang nggak tahu diri! Hartaku akan kuhadiahkan ke cucuku!’’ ketusku sembari memasang kerudung dan mematut diri ke cermin.


Ya, akhirnya aku sudah tahu kebusukan yang selama ini disimpan olehnya, ternyata sudah lama dia berselingkuh tetapi tak pernah kutahu sedikit pun. Betapa pandainya dia menutupi kebusukan itu. Dan akhirnya sekarang semuanya terbongkar, ketika aku sarapan di cafe mataku tertuju ke sudut ruangan. Wanita murahan itu sedang bergelayut manja di lengan suamiku.


Tanpa berpikir lagi segera kuhampiri mereka dan kutuangkan jus yang ada di hadapannya ke si pelakor itu. Membuat mas Ardi kaget dengan kehadiranku dan mencari-cari alasan agar aku tak percaya dengan pemandangan menjijikkan yang kulihat barusan. Tetapi aku tak semudah itu percaya dan ternyata setiba di rumah dia malah marah-marah tak jelas padaku, dia yang berselingkuh kok dia pula yang memarahiku. Kan aneh! Membuat aku mengusirnya dari rumah.


Hingga beberapa hari ini tak menginjakkan kaki lagi ke sini. Aku pun tak apa dan tak menjadi masalah buatku, buat apa aku mempertahankan lelaki tak tahu diri seperti dia, toh tanpa dia aku bisa hidup dan aku tak pernah bergantung hidup padanya, karena harta yang dia dapat itu juga dari peninggalan orang tuaku untukku dan dia kaya raya itu karena aku, tetapi dia seenaknya saja berselingkuh di belakangku. Tanpa memikirkan apapun dia berani mengkhianatiku.


‘’Aku harus ke kantor sekarang juga!’’ bergegas kuraih tas dan melangkah ke luar kamar, tak lupa kututup pintu kamar. Aku melangkah tergesa-gesa.


‘’Mau kemana, Bu?’’ tanya bibi, ART berlari menghampiriku. Langkahku terhenti.


‘’Ada urusan sebentar, Bi. Oh ya, Bibi jangan lupa suruh menantuku makan ya, bawain seperti biasa makanannya ke atas.’’


‘’Oh, siap, Bu. Tapi Ibu baik-baik aja kan?’’ dia menelusuri wajahku.


‘’Aku baik-baik saja, jaga menantuku ya, Bi.’’


‘’Aku pamit dulu, Bi. Udah telat nih.’’


Kupandangi benda melingkar di tangan. Lalu bergegas melangkah kembali, sedangkan dia tampak kebingungan.


‘’Eh, apa Ibu nggak sarapan dulu, Bu?’’


‘’Aku sarapan di luar aja, Bi.’’


Aku menoleh sejenak dan bergegas lagi melangkah keluar. Di depan garasi tampak sopir pribadiku sedang menanti. Dia tahu ke mana akan dituju sebab sedari kemaren sudah kukonfirmasi dengannya.


‘’Silakan masuk, Bu.’’ Dia tersenyum ramah dan membukakan pintu mobil untukku.


‘’Makasih, Pak,’’ ucapku dan bergegas memasuki mobil.


Aku menatap keluar dari kaca mobil.


‘’Semoga putraku nggak kayak Papanya. Kasihan Monik dan cucuku,’’ batinku.


Beberapa menit kemudian, mobilku sudah memasuki pekarangan kantor. Sopir pribadiku bergegas memarkirkan mobil dan seperti biasa membukakan pintu untukku.


‘’Silakan, Bu.’’ Aku membalasnya dengan anggukan.


‘’Saya tunggu Ibu di luar saja ya.’’


‘’Oke, Pak. Nanti saya hubungi saja Bapak ya.’’


Dia mengangguk dan tersenyum, aku melangkah memasuki kantor. Semua karyawan yang bertemu denganku menyapa dengan ramah. Ya, kantor ini adalah peninggalan kedua orang tuaku. Semejak beliau meninggal dunia aku yang mengurus perusahaan ini, tetapi karena setelah aku menikah kuberikan pada suami, dia yang mengurusnya. Dan ternyata dia bermain pula di belakangku, memang lelaki itu tak tahu diri dan tak pandai bersyukur.


‘’Mba, Bapak ada di ruangannya nggak?’’ tanyaku pada salah seorang sekretarisnya.


‘’Kayaknya nggak ada deh, Bu. Barusan pergi keluar,’’ sahutnya yang memandang entah ke mana. Aku bicara bukannya aku yang dipandangi, sepertinya ada sesuatu yang ditutupi wanita ini dariku.


‘’Mba tahu ke mana Bapak?’’

__ADS_1


‘’E—enggak, Bu,’’ sahutnya gegalapan.


‘’Mba pasti tahu, katakan aja Mba! Bapak nggak akan memarahi Mba kok, saya yang jamin!’’ ucapku dengan nada kesal.


‘’Ba—Bapak pergi keluar sarapan dengan wanita itu—’’ ucapnya secepatnya.


‘’Bener saja ya dugaanku, dan sepertinya dia nggak pulang jugak bermain gila bersama wanita murahan itu. Dasar Lelaki udah tua nggak tahu diri lagi,’’ upatku dalam hati dan tersenyum sinis.


‘’Okelah, Mba. Terima kasih ya.’’ Aku bergegas melangkah menuju ruangan si lelaki itu.


‘’Ta—tapi, Bu—’’


‘’Mba tenang aja, dia nggak akan memecat Mba kok. Saya yang tanggung jawab.’’ Aku terkekeh, menoleh seketika tampak wajahnya dilanda kecemasan dan aku melanjutkan langkahku ke lantai dua.


Tanganku terhenti tatkala ingin membuka pintu ruangan mas Ardi seketika datang salah seorang karyawan menghampiriku.


‘’Bu, Bapak lagi nggak ada,’’ ucapnya dengan nada ketakutan.


‘’Ada atau nggaknya itu bukan urusan saya dan saya ini adalah istrinya!’’ tegasku.


‘’Dan kamu juga tahu? Perusahaan ini sebenarnya milik saya!’’ ketusku yang masih berdiri di depan pintu tertutup.


‘’Ta—tahu kok, Bu,’’ jawabnya gelagapan.


‘’Kalo kamu tahu, ngapain bertanya kayak gitu? Sudah, selesaikan kerjamu sana! Sebelum saya bertindak sesuatu sama kamu!’’ ketusku.


‘’Ma—ma’afkan saya, Bu. Baik, saya akan kembali bekerja.’’ Dia tampak ketakutan dari raut wajahnya dan bergegas meninggalkanku. Sebenarnya aku tak sanggup untuk berkata demikian, tetapi ini semua kulakukan agar rencanaku berjalan dengan baik. Kubuka pintu ruangan mas Ardi.


‘’Dan ternyata, aku udah berhasil dibohonginya selama ini. Dia bermain api di belakangku.’’ Aku duduk di bangku kebesarannya itu sembari menggoyangkan kaki.


‘’Sepandai-pandainya kau menutupi kebusukanmu akan tercium juga, Mas!’’ ketusku tersenyum sinis.


‘’Tunggu, itu langkah kaki si lelaki brengsek itu deh.’’ Aku bergegas membelakangi punggung.


‘’Siapa kamu? Be—‘’ bentaknya kesal dan aku bergegas membalikkan tubuh hingga dia kaget bukan kepalang, begitu pun dengan si pelakor itu yang menutup mulutnya.


‘’Apa? Kalian kaget dengan kedatanganku ke sini, hah?’’


‘’Ka—kamu ngapain ke sini?’’


‘’Ngapain? Kamu yang ngapain ke sini? Kamu lupa kalo perusahaan ini adalah milik orang tuaku. Semuanya udah kuberikan sama kamu, tetapi apa balasanmu selama ini!’’ ketusku. Dia tampak diam membisu, entah tengah memikirkan siasat atau apa, aku pun tak tahu.


‘’Ja—jadi ini semua bukan milik kamu, Mas?’’ tanya si pelakor tampak terperanjat dengan ucapanku. Mas Ardi tetap tak menjawab sepatah kata pun.


‘’Mas! Jawab!’’ dia mengguncangkan tubuh mas Ardi.


Aku tersenyum sinis dan merasa menang kali ini. Kulihat anak buahku sudah merekam dari luar. Ya, jauh sebelumnya sudah kususun dan kurencanakan semuanya. Aku akan mengumpulkan semua bukti agar aku bisa bercerai dengan si lelaki biadab ini.


‘’Percuma saja kamu bertanya wanita murahan, suamiku itu nggak akan mampu untuk menjawab!’’ ketusku dengan senyum sinis melipat tangan di dada.


‘’Mulut kamu jaga ya!’’ ucapnya menunjukku dengan tangan kirinya.

__ADS_1


‘’Jaga? Aku berkata yang sebenarnya, kamu memang pelakor! Berani sekali kamu rupanya. Apa mau kelakuanmu itu kuadukan ke suamimu, hah?’’


‘’Su—suami? Kamu bilang ke Mas nggak punya suami, tega kamu ya!’’ sontak mas Ardi kaget dan mengepalkan tangannya, tampaknya dia sungguh marah dari raut mukanya.


‘’Ma—Mas, dia bohong Mas. Itu siasat dia supaya aku membenci kamu, kamu percaya deh.’’


‘’Nggak. Mas kecewa banget sama kamu!’’


Mas Ardi bergegas keluar dengan penuh kekecewaan dan sedangkan wanita murahan itu mengejar lelaki yang masih berstatus menjadi suamiku. Aku tertawa puas.


‘’Sebentar lagi semua hartaku akan kembali lagi padaku. Dan akan kuhadiahkan ke cucu dan anakku. Enak saja jika wanita murahan itu yang memakannya, aku nggak akan rela dunia dan akhirat!’’


Sesaat kemudian benda pipihku berdering.


‘’Wa’alaikumussalam, bagaimana, Pak? Apa Bapak berhasil?’’


‘’….’’


‘’Baguslah, Pak. Kumpulkan semua bukti, hanya Bapak yang bisa menolong saya. Terima kasih saya ucapkan.’’


‘’…’’


Aku kembali menutup sambungan telepon dan memasukkan benda pipih itu kembali ke tasku. Tak sepatutnya lelaki itu bisa kuperjuangkan lagi, tak sepatutnya lelaki itu kupertahankan. Buat apa mempertahankan lelaki yang berselingkuh sudah beberapa tahun yang lalu dan hanya memanfaatkan hartaku saja. Yang ada bikin aku makan hati kalau mempertahankan lelaki seperti dia.


Aku bukan wanita bodoh dan yang bisa dipermainkannya begitu saja. Ya, dulu aku sangat mencintai dia, sampai apa pun aku berikan padanya. Aku rela tak memegang perusahaan demi dia. Ternyata apa balasan darinya, apa yang dia perbuat di belakangku.


Jika aku bercerai dengannya mengenai pembagian harta tak kan kubiarkan dia mendapatkan bagian sedikit pun.


Secara kan dia tak membawa harta apapun sejak kali pertama menikahiku dan dia kaya raya itu karena aku dan kedua orang tuaku, tapi dia tak pernah berpikir dari mana asalnya dia dahulu. Seorang lelaki yang tak punya apa-apa dan tak bekerja dahulunya. Emang kacang lupa pada kulitnya.


Menurut pasal 35 UU Perkawinan membagi harta dalam perkawinan menjadi tiga macam, antara lain: Yang pertama adalah harta bawaan, maksudnya harta yang didapat oleh suami atau istri sebelum menikah. Masing-masing memiliki hak sepenuhnya untuk melakukan hukum mengenai harta benda bawaannya. Sedangkan mas Ardi tak membawa apa-apa, jadi memang harta semua akulah yang berhak sepenuhnya, bukan?


Yang kedua, harta masing-masing suami atau istri yang diperoleh melalui warisan atau hadiah dalam perkawinan. Papa dan mamaku tak ada memberikan warisan maupun hadiah kepada mas Ardi. Malah aku yang memberikan harta kepada lelaki yang masih berstatus menjadi suamiku itu.


Yang ketiga, harta bersama atau gono-gini adalah harta yang didapatkan selama menikah. Yang harus diperhatikan yang pertama adalah adanya perjanjian pernikahan. Maksudnya disaat mengurus pembagian harta, mesti dilihat apakah ada perjanjian tentang pemisahan harta benda antara suami dan istri.


Karena pada waktu itu aku yang tak tahu bahwa akan terjadi hal seperti ini mangkanya tak ada sedikit pun perjanjian di antara kami.


Jika tidak ada perjanjian pernikahan tentang pemisahan harta, maka pengaturan mengenai harta bersama yang menetapkan adalah hukum yang berlaku. Hakim membagi berdasarkan memerhatikan keadaan suami dan istri. Contohnya, harta tersebut paling banyak diperoleh dari hasil kerja keras istri dan perceraian terjadi karena KDRT yang dilakukan suami. Maka Hakim dapat memutuskan pembagian yang lebih adil terhadap istri.


Dan memang harta tersebut yang paling banyak diperoleh dari hasil kerja kerasku sebelum menikah dan juga pemberian kedua orang tua terhadapku. Aku akan memberikan pada Rafi, cucuku. Ya, walaupun dia adalah anak di luar nikah Andre dengan Monik. Dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan kedudukan seorang anak diatur dalam Bab IX tentang kedudukan anak Pasal 42-44


Pasal 43 berbunyi:’’Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya, kedudukan anak tersbut akan diatur dalam peraturan pemerintahan.’’


Sedangkan dalam Islam, anak yang lahir di luar perkawinan maka tidak ada hubungan nasab dengan ayahnya, melainkan kepada ibunya, sang ayah juga tidak wajib memberikan nafkah pada anak di luar nikah dan tak ada saling mewarisi.


Begitulah dalam Islam, namun aku tetap memberikan hadiah untuk cucuku. Biar bagaimana pun dia adalah cucuku dan dia terlahir di dunia ini karena ulah anak kandungku. Aku merasa bertanggung jawab atas semua ini.


‘’Aku akan mengurus semuanya dan nggak akan kubiarkan si lelaki itu membawa serta menikmati jerih payahku bersama selingkuhannya itu!’’


Bersambung.

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2