Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
POV Andre


__ADS_3

‘’Ma, aku tinggal dulu ya. Aku mau ke kantor Papa nih,’’ ucapku sembari duduk di sebelah wanita yang telah melahirkanku beberapa tahun nan lalu.


‘’Trus Mama bagaimana?’’ Mama mengernyitkan keningnya.


‘’Pake angkot aja, Ma.’’ sahutku. Kulihat sekilas Monik perlahan menggeleng.


‘’Kamu ini ya, Ndre.’’ Mama malah ikut menggeleng.


‘’Kan Mama tahu sendiri gimana Papa kalo nggak diturutin kemauannya.’’


Aku beranjak dari duduk, lalu melirik Monik sekilas. Entahlah, entah kenapa cintaku padanya tak sebesar dulu. Dulu begitu aku tergila-gila dengannya. Tak ada kabarnya saja sejam membuat kepalaku pusing. Kini kenapa semuanya terasa berubah? Ada apa gerangan?


Bahkan aku merasa bosan memandanginya lama-lama. Kenapa cintaku ini begitu cepat pudar seiring berjalannya waktu. Monik yang dahulunya kucintai, Monik yang dahulunya terlihat cantik dan mempesona. Sekarang? Seakan-akan semuanya telah lenyap.


‘’Ya udah deh, tapi kamu janji, Ndre. Jangan diturutin semua kemauan Papamu. Yang ada nanti dia malah menjodohkan kamu dengan Nina,’’ celetuk Mama sembari melipat tangannya di dada.


Papa sejak dulu apapun kemauannya harus dituruti kalau tidak, ada saja akibatnya. Itu yang membuat aku menuruti kemauan papa. Apalagi papa tak merestui hubunganku dengan Monik, dia begitu membenci Monik.


‘’Kalo lebih cantik dari Monik, apa boleh buat, Ma,’’ bisik hatiku tersenyum sinis.


‘’Mama apaan sih, enggaklah.’’


‘’Ya udah. Aku berangkat dulu, Ma!’’


‘’Iya, hati-hati, Ndre. Minta izin dulu napa sama Monik.’’ Mama melirik Monik yang tengah duduk di sofa. Sepertinya dia kecapekan habis beres-beres kost ini. Apalagi perutnya yang sudah kelihatan besar.


‘’A—aku pergi dulu, Monik!’’ pamitku terbata, dia hanya mengangguk saja lalu mengalihkan pandangannya keluar.


Entah kenapa, dia juga tak seperti dulu sikapnya terhadapku. Mungkinkah karena kejadian beberapa bulan yang lalu? Aku merenggut kehormatannya yang belum pada waktunya. Pada saat itu aku sangat menginginkannya, aku tergoda dengan kecantikannya, apalagi kami usai berhujan-hujan, dan membuatku melakukan hal terlarang itu.


Dalam beberapa saat aku telah berhasil menodai kekasihku sendiri, aku telah berhasil merenggut kehormatannya. Sebelumnya dia menolak habis, tetapi aku memaksanya. Karena itulah dia hamil anak darah dagingku. Aku tak menyangka jika dia sampai hamil begini. Aku syok ketika mendapat pesan darinya, dia mengatakan kalau dirinya tengah mengandung anakku.


Aku menyuruh untuk mengugurkan kandungannya saja, tetapi dia malah sangat murka. Dia mengajakku ketemuan di sebuah kafe, lalu di sana tamparan mendarat di pipiku tatkala aku memberikan uang yang banyak agar dia mau mengugurkan kandungannya. Lalu Dion pun datang dengan seribu amarah, dia mengancamku dan itu membuatku terpaksa berjanji untuk bertanggung jawab.


Tetapi beberapa hari kemudian aku berhasil kabur dari rumah, dan menginap di rumah temanku beberapa bulan untuk menghindar dari itu semua. Tetapi nihil, teman dekat Monik membawa dua orang polisi serta bukti video. Di dalam video itu, tampak aku merenggut kehormatan Monik dengan paksa. Karena aku takut membekam di penjara, aku berjanji untuk bertanggung jawab. Ah, seingatku CCTV yang ada di kamar itu sudah kurusak, tapi dari mana lagi mereka dapat bukti video itu?


‘’Kamu nggak secantik dulu,’’ bisik hatiku, lalu bergegas melangkah menuju parkiran mobil.


Kunaiki mobil lalu menghidupkan mesinnya.


Beberapa jam kemudian, aku telah tiba di kantor papa. Bergegasku memparkirkan mobil, lalu turun dan memasuki kantor Papa. Semua karyawan papa terlihat ramah mereka menyapa dan tersenyum kepadaku.


‘’Mas Andre!’’ sapa seseorang berpakaian seragam itu.


‘’Iya, Mbak!’’ sahutku ramah.


Aku bergegas melangkah ke ruangan papa.


‘’Pa!’’ panggilku sembari mengetuk pintu.


‘’Ya, masuk, Ndre!’’ sahutnya dari dalam sana.


Kubuka pintu, tampak seorang wanita berpakaian selutut dan rambutnya dibiarkan terurai, dia tersenyum ramah kepadaku. Dia cantik sekali. Membuatku melongo seketika berdiri di ambang pintu.


‘’Ndre, masuk! Ngapain kamu berdiri di sana?’’ papa heran menatapku.


‘’I—iya, Pa.’’ aku bergegas masuk dan menghenyak di sofa sebelah wanita itu.


Dia memandangiku dengan tersenyum manis. Dia memang tampak cantik sekali membuat mataku tak bosan memandang. Mukanya yang putih mengkilat, bibirnya yang merah, pakaiannya yang sexsi dan rambutnya terurarai rapi membuat jantungku berdebar tak karuan.


‘’Ini Nina, anak sahabat Papa.’’


‘’Jadi ini Nina yang dimaksud sama Papa?’’aku membatin.


‘’Hai, Ndre! Aku Nina!’’ Dia menyodorkan tangannya kepadaku, aku yang tengah memandanginya sedari tadi tak sadar kalau dia tengah menyodorkan tangannya.


‘’Ndre!’’ dia melambaikan tangannya di depanku, membuatku kaget seketika.


‘’E—eh, iya. Ma’af,’’ sahutku terbata, seketika membuat papa menggelengkan kepala. Aku pun kembali menjabat tangannya yang sejak tadi diulurkannya untuk berkenalan denganku.

__ADS_1


‘’Kamu baik-baik aja, Ndre?’’ tanya wanita yang bernama Nina itu.


‘’Aku baik-baik saja. Apalagi ketemu sama kamu,’’ lirihku sembari meliriknya dengan sebelah mata. Duhh! Tuh kan kata gombalanku malah keluar.


‘’Ahh! Kamu bisa aja, Ndre.’’ Degh! Dia memegangi tanganku. Kucoba menepisnya perlahan. Papa memandangi kami.


‘’Papa tinggalin kalian berdua dulu ya. Papa ada acara meeting hari ini.’’ Papa bergegas bangkit dari kursi kebesarannya. Pasti papa sengaja meninggalkanku dengan Nina, agar dapat berduaan. Dasar papa, memang tahu apa yang kumau.


‘’Nggak apa-apa kok, Om. Kami juga mau nongkrong di cafe,’’ jawabnya sembari memandangiku.


‘’Ya udah, kalian hati-hati ya!’’


‘’Ndre, jaga Nina calonmu.’’ Papa bergegas melangkah keluar, sedangkan aku hanya mengangguk dan termenung sejenak.


‘’Kenapa aku kepikiran Monik? Apa salah yang kulakukan ini? Apa aku salah menyukai perempuan lain?’’ bisik hatiku.


‘’Ndre, ayuk kita ke café aja sekalian ngobrol-ngobrol sama kamu! Biar kita lebih dekat.’’ Dia menarik tanganku perlahan.


‘’A—aku ada keperluan, Nin. Kamu pulang aja ya, biar kuantar,’’


‘’Ndre, keperluan apa sih? Mau ketemu dengan wanita yang kamu hamili itu? Iya? Kamu dengar sendiri kan apa kata Papamu!’’ ketusnya dengan nada naik. Dia tampak kesal sembari melipatkan tangannya di dada. Membuatku tak tega rasanya.


‘’Ya udah, kita ke café,’’ jawabku pelan, senyumannya pun kembali terpancar. Ahh! Semakin cantik dan mempesona saja wajahnya.


‘’Nah gitu dong,’’ kata Nina, dan memegangi jemariku. Dadaku bergemuruh hebat. Aku dan Nina melangkah keluar dari kantor.


‘’Eh, Mas Andre! Itu pacarnya? Cantik banget, Mas. Serasi loh, cepat dipinang ntar keburuan diambil sama lelaki lain, gimana?’’ ucapan obeng itu mampu membuatku memberhentikan langkah.


‘’Iya, Mas. Saya pacarnya Mas Andre. Dan beberapa bulan lagi kami akan segera menikah,’’ sahutnya tersenyum bangga. Aku yang akan menjawab pertanyaan lelaki itu malah tak jadi, malah Nina yang menjawab.


‘’Ihh! Nin, kamu ini apaan sih.’’ Aku menginjak sepatunya sembari berbisik. Dia pun meringis kesakitan. Aku pura-pura tersenyum ke obeng itu.


‘’Kalo gitu kami pulang dulu ya, Mas,’’ ucapku menyudahi pembicaraan, dia pun mengangguk dan aku bergegas menarik tangan Nina keluar dari kantor papa.


‘’Ndre! Kamu kenapa sih?’’ tanya wanita itu, tetapi aku tak menggubris pertanyaannya. Tanganku tetap menarik tangannya.


Setibanya di parkiran mobil.


‘’Kamu yang kenapa menarik tanganku keluar dan menginjak kakiku. Kita kan memang mau menikah, Ndre.’’ Nada suaranya seketika naik.


‘’Aneh deh! Kamu itu baru kenal sama aku!’’ Aku tersenyum tipis.


‘’Makanya kita jalani dulu. Gimana?’’ dia memandangiku dan memegang jemariku. Membuatku luluh seketika. Ahh! Nina kamu bisa saja membuat hatiku luluh. Aku hanya mengangguk pelan. Lalu membukakan pintu mobil untuknya, kami pun menaiki mobil.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan cafe. Aku memakirkan mobil, lalu mematikan mesinnya. Dan bergegas turun dari mobil, kubukakan pintu untuk Nina.


‘’Makasih, Ndre,’’ ucapnya dengan suara mendayu. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.


‘’Yuk, kita masuk, Nin!’’ Aku bergegas memegang jemari lembutnya itu, kami melangkah memasuki cafe. Dan mencari tempat duduk yang sesuai dan nyaman.


‘’Nah, di sini aja.’’


‘’Iya, Nin. Kamu mesan apa?’’ tanyaku sembari menghenyak.


‘’Aku jus Mangga sama kebab aja deh, Ndre.’’


‘’Oke!’’


‘’Mbak!’’ panggilku melambaikan tangan.


‘’Iya, Mas. Mau mesan apa?’’ dia bergegas menghampiriku.


‘’Jus Mangga satu, jus vokat satu, kebab dua.’’


‘’Oke, Mas!’’ Pelayan cafe mencatat apa yang telah kupesan, lalu bergegas pergi menyiapkannya.


Aku menatap Nina yang tengah bermain ponsel. Nina sungguh cantik dan mempesona. Sebagai lelaki normal aku menyukainya.


‘’Nin!’’ panggilku.

__ADS_1


‘’Eh, iya, Ndre,’’ jawabnya memasukan ponselnya ke dalam tas kecil.


‘’Kamu kenapa sih Mau begitu saja menerima perjodohan ini?’’ tanyaku menyelidiki.


‘’Karena aku sudah melihat fotomu. Kamu ganteng banget, siapa sih yang nggak akan mau,’’ jawabnya, membuat pipiku bak kepiting rebus. Nina berhasil membuatku melayang di udara.


‘’Kamu bisa aja, Nin.’’ Aku tersenyum malu.


‘’Aku benaran kok, Ndre.’’


‘’By the way, kamu mau kan kita jalani hubungan dulu. Setelah itu kita baru menikah,’’ lirihnya sembari bergelayut manja di pundakku.


Seketika ponselku berdering. Siapa?


‘’Seebentar, kuangkat dulu ya.’’ Perlahan aku menepis tangannya. Dia hanya mengangguk.


‘’Hallo, Pa!’’


‘’….’’


‘’Iya, Pa. Tenang aja.’’


‘’….’’


‘’Aku nggak anak kecil lagi, Pa. Ya udah, nih aku masih sama Nina.’’


‘’….’’


Aku bergegas menutup telepon, dan memasukkannya kembali ke saku sedangkan Nina mematutku.


‘’Ada apa, Ndre? Apa kata Papamu?’’ tanya Nina heran.


‘’Biasalah, kamu kan tahu Papaku,’’ jawabku tersenyum.


‘’Permisi, Mas, Mbak!’’ pelayan cafe datang membawa pesananku dan menghidangkannya di meja.


‘’Iya, Mbak. Makasih ya.’’


‘’Sama-sama, Mas. Saya tinggal dulu.’’ Dia pun bergegas meninggalkan kami.


‘’Kita minum dulu, Nin!’’ ajakku. Dia mengangguk dan tersenyum, yang membuatku selalu terpesona dengan wajahnya. Dia meneguk jus Mangga dengan pelan, sesekali mematutku.


‘’Aku boleh nanya, Ndre?’’ tanya Nina sembari meletakkan gelas yang masih tersisa minuman jusnya.


‘’Iya, Nin. Boleh banget, emang apa yang akan kamu tanyakan?’’ ucapku sembari meneguk jus vokat yang terhidang.


‘’Humm! Kamu jangan marah ya,’’ ucapnya dengan suara mendayu. Aku menggeleng perlahan.


‘’Benaran nih?’’ tanya Nina kembali.


‘’Iya, Nin. Apa pun yang kamu tanyakan boleh banget kok.’’ Aku mengedipkan sebelah mataku.


‘’Kamu nggak akan menikahi perempuan ****** itu kan?’’ dia menatapku, seketika dadaku bergemuruh hebat.


‘’Tuh kamu kan marah,’’ sungutnya memegangi jemariku. Memang benar saja, perasaanku sedikit tak enak mendengar hardiknya terhadap Monik.


‘’Enggak, aku nggak marah kok,’’ kilahku dan mencoba bersikap baik-baik saja.


‘’Kalau gitu jawab dong, Ndre.’’ Dia kembali memegangi jemariku.


Apa yang harus kujawab? Jika kujawab tak akan menikahi Monik, gimana kalau aku dijemput oleh polisi, bukannya aku sudah berjanji? Aku tak mau membekam di dalam penjara. Tapi, jika kujawab iya. Aku tak mau dia mengadu ke papa nantinya dan di satu sisi dia juga begitu cantik membuat jantungku terus saja berdebar. Bagaimana ini?


Bersambung.


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Oh iya, jika ada yang komen dan menantikan lanjutan ceritanya akan aku usahakan update 2 bab setiap harinya, tapi dengan syarat harus komen dan membaca setiap kali aku update ya. Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.


See you next time!❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2