
‘’Aku nggak akan terima dengan semua ini! Anakku meninggal gara-gara anak kamu! Nyawa harus dibalas dengan nyawa!’’
Membuat aku terkesiap mendengar ancaman wanita separuh baya itu. Aku dan mamaku membantu mama Karni untuk bangkit, hatiku terenyuh mendengar tuduhan yang dilemparkan oleh wanita itu. Tampak mantan mertuaku tak hentinya air mata berjatuhan di pipinya.
‘’Mi, anak kita meninggal itu karena sudah ajalnya,’’ sanggah lelaki separuh baya yang berpakaian jas hitam pekat.
Dalam hati aku membenarkan ucapan lelaki itu. Itu sudah kehendak Allah, kalau Dia sudah berkehendak apapu bisa terjadi. Tapi, sepertinya wanita itu enggan menerima semua ini. Ya, mungkin karena anaknya yang tak ada sakit apapun, kenapa pergi menghadap Sang Ilahi secepat itu. Aku pun mengerti, tapi aku tak suka dengan tuduhan yang diberikan oleh wanita itu pada mama Karni.
‘’Diam kamu, Pi! Ajal kata kamu? Tahu apa kamu tentang ajal? Kalo Nina nggak pergi dengan anaknya, Nina nggak akan kecelakaan. Dan dia nggak akan meninggal!’’
‘’Mba, aku minta ma’af atas nama Andre—‘’ Mama Karni bergegas mengambil tangan wanita itu, namun bergegas dia menepis dengan kasar.
‘’Permintaan ma’af kamu nggak akan membuat anakku hidup!’’
‘’Ibu-Ibu ada apa ini? Kalian bertengkar di ruangan jenazah. Nggak baik, lebih baik kalian keluar.’’ Seorang wanita berpakaian seragam, suster.
Dia menghampiri kami. Lebih baik, aku membawa mama Karni untuk keluar dari sini. Tempat ini tak baik untuknya.
‘’Kita keluar aja ya, Ma. Andre butuh Mama,’’ kataku lirih dan bergegas menarik tangan mama Karni dengan pelan.
‘’Monik benar. Kita keluar ya, Mba,’’ timpal mamaku. Wanita separuh baya itu mengangguk. Kami pun langsung melangkah keluar dari ruangan jenazah.
Sementara kedua orangtua Nina masih meratapi anaknya yang secepat ini meninggalkannnya.
***
‘’Nak, Mama ke toilet dulu. Kamu temani Mama Karni ya.’’
Aku mengangguk,’’Iya, Ma.’’
Wanitaku itu bergegas meninggalkan aku dan mama Karni yang hendak melangkah ke ruang ICU.
Seketika benda pipihku berdering. Bergegas kukeluarkan dari tas kecil. Tertera di layarnya ‘’My Hero’’
__ADS_1
‘’Papa? Apa si Dedek rewel?’’
‘’Siapa, Monik?’’ Mama Karni yang akan membuka pintu ruang ICU seketika menghentikan tangannya lalu menatapku.
‘’Papaku, Ma. Aku angkat dulu ya. Mama duluan aja masuk,’’ kataku yang disahut anggukan oleh mama. Aku bergegas melangkah, mencari tempat yang bisa aman untuk menelpon.
‘’Assalamua’alaikum, Pa.’’
‘’Wa’alaikumsalam, Monik. Ini si Dedek rewel. Papa pusing nih ngebujukin dia,’’ keluh papa. Seketika terdengar suara tangisan Rafi. Bagaimana ini? Aku juga ingin pergi ke pemakaman Nina. Papa pasti pusing mengurus anakku yang lagi rewel, apalagi papa tak pernah mengurus bayi.
‘’Kamu masih di rumah sakit? Pulang sekarang ya. Papa nggak tahu harus bagaimana lagi,’’ imbuh papa karena aku yang terdiam beberapa saat.
‘’I—iya, Pa. Aku masih di rumah sakit sama Mama. Aku akan segera pulang.’’
‘’Secepatnya ya. Papa matikan dulu. Assalamua’laikum.’’ Belum kujawab salam dari papa, sambungannya sudah terputus lebih duluan. Padahal aku ingin sekali pergi ke pemakaman Nina dan menemani mama Karni juga di sini untuk sementara.
‘’Siapa, Monik?’’ Suara yang tak asing lagi bagiku. Aku menoleh seketika. Entah sejak kapan mama berdiri di belakangku.
‘’Papa, Ma. Beliau menyuruh pulang. Si Dedek rewel,’’ kataku seadanya.
‘’Kebetulan tadi sebelum ke rumah sakit aku udah nyediain ASI buat si Dedek. Ada di kulkas, Ma.’’
‘’Mama tahu kamu pasti nggak mau meninggalkan Mama Karni kan? Temanilah dia. Biar Mama aja yang pulang. Nanti Mama akan kasih si Dedek ASI yang kamu tinggalkan.’’ Mama menghampiriku lalu menepuk lenganku dengan pelan.
Sepertinya mama tahu apa yang tengah kupikirkan. Beliau yang dulu membenci mama Karni dan Andre, kini rasa benci itu sudah hilang. Alhamdulillah, mama sudah menerima keadaan ini.
‘’Ma, makasih banya ya. Mama ternyata tahu apa yang aku pikirkan. Aku takut kalo Maminya Nina nanti macam-macam sama Mama Karni. Makanya aku ingin temani beliau di sini.’’ Aku memegangi jemari mama lalu menatapnya dalam.
‘’Nak, Mama mengerti kok. Mama juga khawatir sama Mama Karnimu itu.’’
‘’Iya, Ma. Tapi bagaimana dengan Papa?’’ Aku takut kalau papaku nanti bakalan marah. Apalagi statusku bukan lagi istrinya Andre dan juga atas apa yang telah diperbuat oleh lelaki itu padaku.
‘’Itu urusan Mama. Jangan kamu pikirkan. Sekarang yang penting kamu temani Mama Karni ya. Mama pulang dulu.’’ Aku menghela napas lega dan bergegas menyalami tangan mamaku.
__ADS_1
‘’Hati-hati, Ma.’’ Wanitaku itu mengangguk dan berlalu dari hadapanku.
***
‘’Mama pengen banget pergi ke pemakamannya Nina.’’
‘’Ma, nggak usah aja ya. Kita di sini aja jagain Andre.’’ Seketika aku bertukar pikiran. Tadinya aku ingin sekali mengantar Nina ke tempat peristirahatan terakhirnya. Namun, setelah aku pikir-pikir nanti akan menambah masalah.
‘’Mama tahu kamu mencemaskan Mama. Kalo gitu temani aja Mama ke sana ya?’’
Aku menghela napas berat,’’ Trus Andre siapa yang jagain, Ma?’’
‘’Dion? Dion kayaknya bisa. Mama akan hubungi dia.’’
Mantan mertuaku itu bergegas mengambil ponsel di tasnya.
‘’Dion? Kamu udah pulang? Tante mau minta tolong sama kamu. Tolong jagain Andre untuk sementara ya. Karena Tante dan Monik akan pergi ke pemakaman Nina.’’
‘’Makasih banyak ya, Dion. Tante tunggu.’’
Mama kembali memasukkan ponselnya ke tas,’’Gimana, Ma? Apa kata Dion?’’
‘’Dia sekarang mau jalan ke sini.’’
Mataku kembali menatap Andre yang tengah terbaring lemah, alat media setia menemaninya. Tunggu! Kemarin kenapa kepala Andre tak dibalut perban? Apa aku tak sadar saking terayunnya aku dalam tangisan?
‘’Ma, sebenarnya apa yang terjadi sama Andre? Kenapa dia sampe kecelakaan kayak gini?’’ lirihku.
‘’Mama nggak tahu. Tapi yang jelas ini semua pasti balasan dari Allah.’’ Mama berucap dengan bibir bergetar.
Dalam hati aku membenarkan ucapan mama Karni. Ya, sebagaimana yang dikatakan Ayu padaku, apa yang kita perbuat cepat atau lambat balasan dari Allah pasti akan datang. Jika perbuatan baik, maka balasannya akan baik pula dan sebaliknya.
‘’Kepalanya luka parah. Di bagian otak kecilnya mengalami cidera yang—‘’ Mama tak bisa melanjutkan ucapannya. Tangisannya kian menjadi. Membuat aku terperanjat kaget dan membungkam mulut. Seketika air mata kembali membasahi pipi.
__ADS_1
‘’Ya Allah. Tolong berikan keajaiban-Mu untuk Andre.’’
Bersambung.