Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Mana Tanggung Jawabmu?


__ADS_3

‘’Sejak semuanya dia dapatkan dariku. Dia secepatnya berubah. Dasar lelaki! Mau enaknya saja. Dia berjanji akan bertanggung jawab. Tapi mana janjinya itu?’’ ketusku sembari mondar-mandir di kamar kost. Perutku semakin membesar, namun tak kunjung dia bertanggung jawab.


‘’Aargghhh!!’’ aku mengacak rambut frustasi. Aku menghenyak di ranjang seketika dan meraih ponsel yang di pinjamkan oleh Ayu kemarin.


Ya, Ayu meminjamkanku ponsel jika aku ingin menghubunginya. Dan sepertinya Ayu juga memasukkan nomor Andre. Coba kucek dulu, tak ada ternyata. Oh iya, aku masih hapal nomor ponselnya. Aku bergegas menulis nomor lelaki itu.


Kucoba menghubungi nomor ponsel tersebut. Berdering? Tetapi tak diangkat.


Kucoba kembali menghubungi.


‘’Ma’af ini siapa ya?’’ tanya dia tanpa membaca salam.


‘’Aku, Monik!’’ ketusku.


Seketika dia terdiam, ‘’Mana tanggung jawabmu? Bukankah kamu berjanji untuk bertanggung jawab atas semua yang telah kamu lakukan ke aku?’’ ucapku ketus dan to the point.


‘’Hei! Kamu itu sudah membuatku putus dengan pacarku!’’ ucapnya dengan nada suara meninggi, tanpa merasa bersalah dan tanpa menjawab pertanyaanku.


‘’Hah, pacar? Semua wanita kamu pacari? Lalu kamu ajak tidur bersamamu? Dasar lelaki bajingan! Kamu lelaki atau bukan sih! Jika kamu masih nggak mau tanggung jawab. Lihat aja, apa yang akan kulakukan nanti!’’ ketusku dan seketika kuputuskan sambungan telepon sepihak. Emosiku sudah berada di ubun-ubun.


‘’Arrrgggghhh! Dasar lelaki!’’


Seketika ponselku berdering kembali. Kulihat, ternyata itu adalah Andre yang mengulang untuk menelponku kembali. Aku membiarkan ponsel itu berdering. Dadaku terasa sesak dan buliran air mata lolos begitu saja. Teringat olehku kata-kata manis yang keluar dari mulutnya, ternyata itu semua hanyalah dusta. Dan teringat olehku bagaimana dia memperlakukanku ketika aku pacaran dengannya. Ternyata manisnya hanya ketika pacaran. Kini? Semuanya kandas begitu saja, dan semuanya seperti ditelan bumi.


Seketika ponselku berdering kembali, kulihat ternyata Ayu. Lalu kuangkat.


‘’Assalamua’laikum, Yu!’’


‘’….’’


‘’Aku baik-baik saja. Cuman tadi, aku habis menghubungi Andre. Dia malah menuduhku, katanya gara-gara aku dia putus sama pacarnya,’’


‘’…’’


‘’Nggak usah, Yu. Kamu udah banyak membantuku. Aku merencanakan sesuatu. Jika rencanaku berhasil akan kuberitahu padamu,’’


‘’…’’


‘’Nggak apa-apa kok, Yu. Do’akan saja aku, ya?’’


‘’….’’


‘’Makasih, Yu. Apa? Mama menelpon kamu? Lalu kamu bilang apa?’’ aku kaget seketika.


‘’…’’


‘’Aku tahu mereka sangat menyayangiku, Yu. Tetapi karena ulah perbuatanku mereka berubah menjadi benci kepadaku,’’ lirihku dengan suara bergetar.


‘’…’’


‘’Kamu tenang saja. Di sini aku baik-baik aja kok,’’


‘’…’’


‘’Belum, hanya kemarin ketika kamu menelpon Ibu kost itu,’’


‘’Oh ya, mengenai motor hadiah ulang tahun dari Andre itu aku titip dulu di rumahmu ya?’’

__ADS_1


‘’Ya udah. Selesaikan dulu pekerjaanmu, Yu. Assalamua’laikum!’’ aku bergegas menutup telepon. Dan kembali meletakkan ponsel ke atas ranjang. Aku termenung sejenak dengan tatapan kosong.


Seketika ada yang mengetuk pintu dengan keras tanpa baca salam. Siapa? Tanpa berpikir lagi, bergegas kumembukanya.


‘’Baru saja membicarakannya. Eh, tahu-tahunya datang orangnya. Panjang umur,’’ batinku.


‘’Kok kamu memandangi aku seperti itu?’’ ketusnya berdiri di ambang pintu.


‘’E—enggak kok, Bu,’’ kilahku.


‘’Kamu ngapain aja sejak tadi? Udah beres-beres kost? Aku nggak mau ya, kostku jadi kotor dan berantakan!’’ ketusnya memandanguku dengan sinis.


‘’I—iya, Bu. Saya kan baru kemarin membersihkan kost Ibu,’’ ucapku lirih.


‘’Kemarin? Yang kusuruh itu hari ini, ngerti nggak?’’ bentaknya yang membuat darahku terkejut. Allah! Sungguh susah tinggal di tempat rumah orang. Sudah membayar, masih saja dibentak begini. Apalagi tak membayar sepersen pun.


‘’Baik, Bu. Saya akan bersihkan hari ini juga.’’ Aku mengangguk perlahan.


‘’Nah, gitu dong. Jangan lupa juga tuh bunga-bunga di depan kost disiram semuanya!’’ ketusnya dengan tersenyum tipis.


Aku seketika mengeluh. Begini amat punya ibu kost. Semuanya aku diperintah olehnya mengerjakan. Mana aku sedang hamil lagi. Seketika dia memandangiku dengan tatapan sinis.


‘’Kamu mau apa nggak? Mau tetap di kos saya kan?’’ Galak amat ini ibu kost.


‘’Ma—mau, Bu,’’ sahutku terbata.


‘’Ya sudah! Kerjakan sesuai perintahku!’’ titahnya dengan ketus dan melangkah keluar kembali. Seketika aku menggeleng sembari mengelus dada.


‘’Allah! Segitu amat punya Ibu kost. Nggak ada seenak di rumah kita sendiri. Mungkin ini teguran Allah untukku,’’


Aku mengusap mukaku perlahan, lalu bergegas mengambil sapu dan membersihkan semua ruangan kost. Beberapa menit kemudian, aku sudah selesai membersihkannya. Tinggal menyirami bunga di luar. Aku bergegas mengambil ember dan gayung, membawa seember air dengan langkah tertatih. Lalu kusirami setiap bunga itu. Seketika seorang wanita paruh baya lewat di depan kost.


‘’Iya. Emang kenapa, Bu? tanyaku penasaran. Aku menghentikan pekerjaanku, lalu memandangi wanita yang mengenakan kerudung besar itu.


‘’Di sini nggak ada yang betah ngekost, Nak. Pemilik kosnya galak banget. Orang kalo ngekost di sini palingan cuman beberapa hari betahnya. Apa kamu nggak tahu sifat Ibu itu?’’ jelas beliau.


‘’E—enggak kok, Bu. Sekarang beliau malah sudah berubah sikapnya,’’ Aku tersenyum tipis., berusaha menutupi kelakukan si pemilik kost.


‘’Huumm, kamu yakin?’’ tanya beliau kembali. Aku kembali mengangguk perlahan.


Sedangkan wanita itu berlalu meninggalkanku. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang sempat terhenti.


Beberapa saat kemudian aku selesai mengerjakan semua pekerjaan kost. Aku berbaring di kamar melepaskan penat, menatap langit-langit kamar.


‘’Gimana kalau aku kerja aja? Aku nggak mau ngerepotin Ayu terus. Ya, aku harus cari kerja di sekitar sini,’’ Aku beranjak, lalu bersiap-siap untuk keluar.


Beberapa menit kemudian aku berjalan keluar menelusuri sekitar daerah kost. Terik matahari yang mulai nampak membuat kulitku terasa perih. Keringat mulai bercucuran di wajahku, lalu kuseka perlahan. Sudah lama aku berjalan menelusuri daerah ini. Tapi tak satu pun kutemukan lowongan pekerjaan. Seketika mataku tertuju ke salah satu warung grosiran. Ya, di sana sepertinya ada lowongan pekerjaan. Perlahan aku menyeberang jalan dengan hati-hati.


‘’Permisi, Bu! Apakah ada lowongan kerja di sini?’’ tanyaku kepada seorang wanita yang sedang duduk di kasir. Sepertinya beliau pemilik warung grosiran ini.


‘’Kamu nggak lihat tuh! Masih aja nanya!’’ jawabnya sinis sembari masih fokus menghitung rupiahnya, seketika aku menggeleng. Aku hanya berdiri mematung.


‘’Ibunya pemarah banget,’’ batinku sembari menggeleng.


‘’Hei! Ngapaian kamu masih berdiri di sana? Pulang sana! Kalo nggak mau kerja di sini!’’ ketusnya mengusirku.


‘’A—aku mau kerja di sini kok, Bu,’’ lirihku. Ya, aku tak punya pilihan lain. Lagian hanya warung ini yang sedang membutuhkan karyawan. Aku sangat butuh uang, untuk biayaku sehari-hari. Apalagi perutku semakin membesar.

__ADS_1


‘’Nah bilang dong. Ini nggak, mematung sedari tadi!’’ ketusnya.


‘’Sekarang kerjakan semua pekerjaanmu. Tuh menumpuk, bikin aku pusing!’’ dia memegang keningnya.


‘’Ta—tapi, Bu. Saya bisanya besok pagi aja mulai, Bu,’’ sanggahku pelan.


‘’Yaudah! Jangan telat datangnya. Jika telat, gajimu aku potong!’’ Allah.


Nasibku, sudah dapat ibu kost yang super-duper galak ditambah pula dapat bos yang begini. Begini amat nasib hidupku ya? Apa karena ini balasan atas semua yang telah aku lakukan?


‘’Ma—ma’af, Bu. Jam berapa masuknya ya, Bu?’’ aku menggeser posisiku.


‘’Jam 07.00 tepat kamu sudah berada di sini. Ingat ya!’’ matanya melotot menatapku.


Seperti mau masuk sekolah aja ya. Duhh!


‘’Jam 07.00, Bu?’’ tanyaku kembali.


‘’Kamu itu punya telinga nggak sih?’’ bentaknya. Allah! Belum kerja dengannya sudah membuat aku kena mental karena dibentak mati-matian, gimana sudah kerja nanti?


‘’I—iya, Bu. Ma’af,’’ lirihku.


‘’Ya sudah! Besok kembali lagi ke sini. Ingat jangan telat!’’ aku pun mengangguk perlahan dan melangkah menuju pulang. Tetapi langkahku terhenti seketika.


‘’Tunggu!’’


‘’Iya, Bu. Ada apa?’’ tanyaku menoleh.


‘’Namamu siapa?’’


‘’Na—namaku, Dina, Bu,’’ jawabku berbohong. Karena aku tak mau memakai nama asliku.


Dia manggut-manggut. Aku pun kembali melangkahkan kaki. Dan di depan warung aku bertemu dengan seorang wanita paruh baya sepertinya orang kaya, dia tengah berjalan terburu-buru. Dan...


BRAAKK!!!


Hampir saja tubuhku luruh ke tanah. Untung dipegangi oleh wanita itu.


‘’Ma—ma’af, Nak. Kamu nggak apa-apa?’’ dia memegangi tanganku dan memandangiku. Tunggu! Perasaan aku pernah ketemu dengan ibu ini. Tapi, di mana? Hah, mamanya Andre, bukan? Apa aku tak salah?


‘’Nggak apa-apa kok, Bu.’’ Aku masih memandanginya.


‘’Jika ini benar Mamanya Andre. Aku ini sedang hamil cucumu, Bu,’’ batinku.


‘’Permisi! Saya mau buru-buru!’’ wanita paruh baya itu dengan tergesa melangkah ke warung. Seketika netraku teruju ke bawah. Tunggu! Ini apa yang jatuh? Kertas kecil? Kuraih perlahan. Kartu nama ternyata. Tertulis di sana nama, alamat dan nomor ponselnya.


‘’Jika benar milik Ibu itu. Aku akan ambil kesempatan ini,’’ gumamku.


‘’Awas kamu, Ndre!’’


Aku tersenyum tipis dan memasukkan kartu nama tersebut ke saku-saku.


Bersambung.***


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Oh iya, jika ada yang komen dan menantikan lanjutan ceritanya akan aku usahakan update 2 bab setiap harinya, tapi dengan syarat harus komen dan membaca setiap kali aku update ya.

__ADS_1


See you next time!❤


Instagram: n_nikhe


__ADS_2