Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Tak Kan Kubiarkan


__ADS_3

‘’A—Andre? Dia sedang bersama Nina?’’ hatiku sangat teriris memandangi foto yang dikirimkan nomor baru ini, entah siapa yang mengirimkan. Ya, terlihat Andre dan Nina makan siang di sebuah restoran. Darahku seketika mendidih melihat pemandangan yang membuatku jijik.


‘’Lelaki nggak tahu diri! Udah cukup kamu buat diriku menderita kayak gini! Nanti kamu lihat saja!’’ ancamku dengan penuh amarah. Kuletakkan benda pipih itu kembali ke ranjang.


‘’Lebih baik kuisi perutku dulu. Ya, aku harus makan demi bayiku dan untuk menghadapi masalah pun aku butuh tenaga.’’ Kusantap kembali makanan yang tertinggal walau tak ada selera, namun kupaksakan agar perutku berisi makanan.


Beberapa menit kemudian aku telah selesai mengisi perut. Kubereskan piring kotor dan meletakkannya rapi di nakas. Kuambil benda pipih di ranjang membawanya menghenyak di sofa.


‘’Ya, aku tahu apa yang harus kulakukan.’’ Aku tersenyum sinis menatap benda pipih di genggamanku.


‘’Hallo! Ini gue Monik. Masih ingat nggak?’’


‘’Ingatlah, masa enggak. Udah lama nggak ada kabar loh. Gue kira udah isdead.’’ dia terdengar tertawa kecil di seberang sana.


‘’Dasar ya, loh nggak berubah dari dulu. Gue sibuklah,’’ kataku sembari terkekeh kecil.


‘’Eh, by the way loh udah nikah sama Andre nih ya?’’ tanyanya di seberang sana.


‘’Udah sih. Nah, itu dia. Andre selingkuh di belakang gue.’’


‘’Apa? beraninya dia berbuat kayak gitu sama loh! Dulu setahu gue dia sayang banget sama loh dan—’’


‘’Loh bisa bantu gue nggak nih?’’ kataku memotong ucapannya.


‘’Gini aja, loh berpura-pura jadi tunangannya si Nina. Dan pokoknya terserah loh deh supaya Andre mau menjauhi tuh pelakor. Tapi ingat jangan lukai suami gue.’’


‘’Hallo, Tarno! Loh paham kan maksud gue?’’


‘’Ya, gue paham. Tapi gue minta kirimin alamat rumah suami loh.’’


‘’Lah, buat apa? Jangan di rumahlah, ntar bikin ribut lagi.’’


‘’Iya, iya. Gue nggak sebar-bar kayak yang loh pikirkan. Tenang aja deh.’’


‘’Atau alamat kantornya?’’


Ah iya, sepertinya Andre kerja di tempat papa Ardi untuk sementara. Atau alamat itu saja yang kukirimkan?


‘’Nah gitu dong, nanti gue kabari lagi eloh.’’


‘’Siap, jangan lupa kirimi alamatnya.’’


‘’Huum! Kalo loh nggak temen gue nih, mungkin gue nggak akan mau bantu loh deh,’’ imbuhnya lagi di seberang sana.


‘’Kan gue temennya loh dari kecil. Masa tega ngelihat gue diginiin,’’ sahutku terkekeh.


‘’Iya, iya. Jangan lupa dikirimin alamat kantornya. Udah dulu ya. Bye!’'


‘’Oke, bye!’’


Aku tersenyum sinis,’’Oke, semoga rencanaku berjalan dengan baik. Kamu belum tahu siapa aku, Ndre!’’ ketusku sembari meletakkan kembali benda pipih.


‘’Oh iya, aku lupa. Kukirimin dulu deh alamat lengkap kantor Papa Ardi,’’ lirihku sembari menepuk kening pelan. Kuraih kembali benda pipih itu dan mencari kontak atas nama ‘’Tarno sahabat kecilku’’, setelah ketemu segera kutuliskan pesan di sana.


‘’Nah, oke udah ceklis dua.’’ Aku tersenyum sinis dan meletakkan kembali benda pipih itu.


Beberapa menit kemudian, terdengar deru mobil Andre dari luar sana. Kok cepat sekali dia pulang? Atau jangan-jangan dia membawa perempuan lain lagi? Aku bergegas melangkah ke luar kamar, lalu bersembunyi di balik dinding. Kupandangi Andre yang tengah melangkah menuju kamarnya. Ya, kamar Andre juga berada di lantai dua, jadi membuat aku mudah untuk mengikuti gerak-geriknya.


‘’Andre sendiri? Terus apa yang dibawanya?’’ batinku yang tiada putusnya memandangi yang tengah ditentengnya itu.


Kuperhatikan terus, hingga dia keluar lagi dari kamarnya.


‘’Mau ke mana dia sebenarnya? Barang yang dibawanya tadi ditinggalkan? Aku harus menyelidiki,’’ gumamku pelan. Kutelusuri dengan sorot mataku, Andre sudah melangkah ke luar dari kamarnya. Aku mengendap-endap masuk ke kamar lelaki yang sudah berstatus menjadi suamiku itu. Dengan pelan kucoba membuka pintunya.


‘’Syukurlah, nggak dikunci.’’ Tanpa pikir lagi, aku langsung memasuki kamar mewahnya.


Setiba di dalam, mataku tertuju pada kotak besar yang tergeletak di atas ranjangnya.

__ADS_1


‘’Nah, itu dia.’’


Bergegas kuraih kotak itu dan mataku melongo seketika.


‘’Gaun? Untuk siapa?’’ lirihku dengan mata melotot karena saking kagetnya.


Kupandangi gaun itu sungguh indah dan perkiraanku harganya jutaan.


‘’Aku yakin ini untuk si Nina itu, nggak mungkinlah untukku. Sedangkan aku nggak suka makek gaun yang beginian.’’ Atau si Nina itu ulang tahun hari ini? Ahh! Aku tak peduli.


‘’Kamu berani banget bermain di belakangku, setelah apa yang kamu lakukan terhadapku!’’ kesalku sembari mencari sesuatu di lemari milik Andre.


‘’Ya, akhirnya kutemukan.’’ Sebuah benda tajam, aku menatap benda itu dengan tersenyum sinis. Kuraih gaun mahal itu, tanpa berpikir lagi benda tajam itu menari-nari riang di gaun mewahnya.


‘’Nggak akan kubiarkan si pelakor itu merebut kamu dariku!’’ kesalku sembari meletakkan kembali gaun itu. Kurapikan seperti semula, lalu meletakkan benda tajam itu di lemari. Seketika berbunyi langkah kaki seseorang menuju kamar Andre.


‘’Jangan-jangan Andre lagi. Tapi, bukannya Andre udah keluar lagi?’’ aku bergegas bersembunyi di balik lemari.


Pintu berderit seketika.


‘’Di mana kuletakkan tadi ya? Perasaan di sini deh, tapi kok nggak ada?’’ katanya berbicara sendiri. Andre merungkuk seperti meraih sesuatu.


‘’Nah ini dia, untung aja kunci mobilku nggak hilang. Duhh! Dasar aku.’’ Dia kembali berdiri, aku mengelus dada seketika.


‘’Tunggu, perasaanku kayak ada orang yang masuk ke kamar ini deh.’’


‘’Ahh! Mungkin perasaanku aja kali ya,’’ lirihnya dan terdengar olehku bunyi langkah kakinya seiring dengan bunyi pintu yang berderit. Ya, pasti dia sudah keluar.


Seketika aku bernapas lega, dengan pelan kukeluar dari tempat persembunyian. Kutatap kotak yang berisi gaun yang telah kuhancurkan tadi sembari tersenyum sinis.


‘’Kamu belum tahu siapa aku sebenarnya, Ndre. Tentu aku nggak akan tinggal diam jika kamu selingkuh di belakangku.’’


Dengan pelan kumelangkah kembali ke luar dari kamarnya dan menutup kembali pintu. Kualihkan pandangan ke semua ruangan.


‘’Aman!’’ Bergegas aku kembali melangkah ke kamar. Seketika langkahku terhenti.


‘’Eh, ini. Di kamar mandiku nggak ada air, makanya ke kamar Andre, Ma,’’ sahutku.


‘’Kok nggak ada air? Apa perlu diperbaiki kamar mandimu? Biar Mama suruh nanti Pak Abdi yang memperbaiki.’’


‘’Nggak usah, Ma. Biar aku aja nanti yang memperbaiki, lagian aku bisa kok. Dulu di rumah juga aku yang memperbaiki,’’ sahutku secepatnya.


‘’Kamu yakin bisa?’’ Mama menelusuri wajahku.


Aku mengangguk secepatnya.


‘’Ya udah, kalo nggak bisa nanti bilang aja ke Mama ya. Jangan sungkan-sungkan.’’


‘’Iya, Ma. Aku ke kamar dulu.’’ Aku melanjutkan langkah yang sempat terhenti menuju kamar dan setibanya di sana, aku menutup pintu dengan pelan, lega rasanya.


‘’Aku harus telpon Tarno dulu deh.’’ Kuraih benda pipih yang tergeletak di nakas dan membawanya menghenyak di sofa.


‘’Tar, gue mau ngasih tahu sesuatu nih.’’


‘’Ya, apa itu, Monik?’’


‘’Tadi Andre pulang sebentar, dia membawa sesuatu ke kamarnya. Dan loh mau tahu apa yang dibawanya itu?’’ lirihku pelan.


‘’Apa yang dibawanya? Bikin penasaran aja deh loh.’’


‘’Gaun bagus banget.’’


‘’Ya, syukurlah. Untuk eloh kali,’’ sahutnya di seberang sana.


‘’Aduuh! Gimana sih loh, Tar. Gue kan nggak suka pakek gaun yang begituan,’’ sungutku kesal.


‘’Mana gue tahu. Kok ngegas sih. Emang kayak gimana bentuk gaunnya?’’

__ADS_1


‘’Ma’af deh. Gaunnya itu sexy, kan loh tahu gimana pun kelakuan gue, gue tetap pakai kerudung.’’


‘’Iya, iya. Nah, terus loh apain tuh gaun?’’


‘’Gue sobek-sobeklah pake gunting,’’ sahutku tertawa kecil.


‘’Apa? Kalo tahu Andre, gimana? Yang ada dia makin marah sama eloh.’’


‘’Biarin aja. Habisnya gue kesal banget, Tar. Masa dia beraninya selingkuh di belakang gue.’’


‘’Sepertinya si Nina pelakor itu sedang ultah hari ini deh, Tar. Gue minta tolong diselidikin ya.’’


‘’Oke, nanti gue bantu buat nyelidikinnya.’’


‘’Loh tahu kan apa yang mesti loh lakuin? Apa perlu gue ajarin?’’


‘’Gue udah tahu apa yang harus gue lakuin. Loh kirim aja nanti alamatnya di mana tuh orang ngerayain ultah.’’


‘’Syukurlah, gue senang dengernya. Nanti gue kirim ke eloh. Nih bayi gue kebangun, udah dulu ya.’’ Aku bergegas memutus komunikasi, kulihat Rafi sudah terbangun lagi.


Sore harinya, benda pipihku kembali berdering. Kuraih seketika. Ternyata pesan dari Tarno, sahabat sedari kecilku.


‘’Video?’’ tanpa pikir lagi kuputarkan videonya.


Tampak wanita berpakaian kurang bahan itu tengah marah-marah ke Andre? Kuyakin gara-gara gaun yang kusobek tadi. Dia bergegas meninggalkan Andre, dilemparkannya gaun itu ke muka Andre dengan kasar, lalu bergegas pergi dari café itu, Andre terus memanggilnya dan mencoba untuk menghalangi tetapi tetap saja tak bisa.


‘’Rasain tuh, Ndre! Makanya jangan selingkuh.’’ Aku tersenyum puas melihat pemandangan yang sungguh luarbiasa menurutku.


‘’Makasih banget yah, Tar. Kamu memang sahabat terbaikku.’’ tulisku di aplikasi hijau itu.


Kulirik benda yang melingkar di dinding itu menunjukkan pukul 11.00, saatnya aku tidur siang terlebih dahulu. Belum sempat kuberbaring benda pipih itu kembali berdering.


‘’Ayu?’’


‘’Assalamua’laikum, Yu!’’


‘’Wa’alaikumussalam, Monik. Kamu baik-baik aja kan? Andre nggak menyakiti kamu kan?’’ tanya Ayu seketika di seberang sana, lalu aku tersenyum.


‘’A—aku mau cerita ke kamu.’’


‘’Ceritalah, Monik.’’


‘’Andre sungguh jauh berubah, Yu. Dia nggak kayak Andre yang kukenal dulu. Dan kamu tahu? Dia lebih memilih tidur di kamarnya, jika udah shubuh maka dia kembali ke kamarku, berpura-pura tidur sekamar denganku. Dan dia juga selingkuh di belakangku—’’ ucapku panjang lebar tanpa kusadari buliran air mataku lolos seketika.


‘’Ya Allah, astaghfirullah ‘al adziim. Selingkuh? Dari mana kamu tahu?’’ Ayu seketika kaget di seberang sana.


‘’Nggak sengaja aku melihat Andre menenteng sesuatu ke kamarnya, karena aku penasaran banget, setelah Andre keluar aku bergegas ke kamarnya diam-diam. Ada kotak di tempat tidurnya. Ternyata di dalam kotak itu ada gaun bagus banget. Nggak mungkinlah untukku, karena gaunnya sexy banget. Jadi—aku memutuskan untuk menggunting gaun itu. A—aku sakit hati banget, Yu. Kenapa dia selingkuh di belakangku. Apa aku salah melakukan semua itu?’’ lirihku pelan dengan deraian air mata, perlahan kuseka.


‘’Ya Allah, sungguh teganya Andre. Kamu nggak salah kok, Monik. Yang sabar dan kuat ya, ini demi bayimu. Kalo kamu udah bisa melaksanakan sholat, sholatlah. Hanya Allah yang bisa membantumu, sebelum itu bertobatlah terlebih dahulu.’’


‘’Iya, Yu. Makasih banyak ya.’’


Seketika terdengar olehku suara bantingan pintu yang begitu keras. Sontak membuatku kaget.


‘’Yu, udah dulu ya. Assalamua’alaikum!’’ Aku memutuskan sambungan telepon secepatnya dan meletakkan benda pipih kembali.


‘’Apa jangan-jangan Andre yang mengamuk ya?’’


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.


See you next time!❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2