Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Aku Kenapa?


__ADS_3

Seminggu kemudian


Tubuhku mulai terasa pulih kembali. Alhamdulillah aku sudah diberi izin pulang kembali oleh pihak rumah sakit.


‘’Kamu memang beneran udah sehat kan, Monik?’’ tanya mama sekilas menatapku, beliau sedang membereskan semua baju-bajuku ke dalam koper.


Aku mengangguk lalu tersenyum, ‘’Alhamdulillah udah kok, Ma. Tapi, aku boleh nggak ngekost aja sama bayiku,’’ sahutku pelan.


Karena aku tak mau nanti kedua orang tuaku jadi bahan gunjingan lagi karena ulahku. Apalagi jika aku membawa bayiku kembali ke rumah.


Mama seketika kaget dan ada rasa yang tak bisa kutafsirkan dari wajah mama, tetapi masih berusaha untuk tersenyum,’’Mama kenapa ya?’’ batinku yang terus menelusuri wajah mama.


‘’Ka—kamu udah kembali sehat, Nak,’’ ucap beliau dengan lirih dan terus saja menatapku.


‘’Ma—maksud, Mama?’’ tanyaku heran. Apa maksud mama ya? Mama seketika mendekat ke arahku.


‘’Beberapa hari setelah kamu melahirkan, sikap kamu aneh dan kamu bilang kalo bayi itu bukan bayimu. Dan itu membuat Mama bingung, kepikiran kamu setiap hari. Pikiranmu nggak menentu, kamu nggak mau makan dan nggak mau menyusui bayimu,’’ jelas mama panjang lebar yang berhasil membuat aku menganga saking heran dan bingungnya aku. Ada apa denganku?


‘’Tetapi, Alhamdulillah semua Dokter di sini mengambil tindakan dengan cepat, kamu dipsikoterapi dan Mama juga mencarikan Psikiater dari luar negeri,’’ imbuh mama, buliran air matanya berhasil lolos di pipinya yang tampak mulai keriput itu.


‘’Ma, a—aku minta ma’af ya. Atas semuanya, aku yang nggak pandai men—’’ seketika ucapanku terhenti.


‘’Semuanya udah terjadi, Nak. Nasi udah jadi bubur. Dan Mama udah mema’afkan kamu kok. Tugasmu sekarang adalah menjaga dan merawat bayimu dengan baik, karena dia nggak bersalah, dia nggak tahu apa-apa. Dan tugasmu juga meminta ampun pada Allah atas semua dosa yang kamu lakukan, perbaiki dirimu kembali dan rajinlah beribadah, cari jati dirimu,’’ nasihat mama kali ini mampu membuat buliran air mataku luruh seketika, mampu menusuk relung hatiku ini. Aku merasa tertampar.


‘’Iya. Makasih banyak ya, Ma. Mama udah mau menerima aku kembali, Mama udah mau mema’afkan kembali kesalahanku, dan tolong bimbing aku ya, Ma. Agar bisa kembali ke jalan-Nya.’’


‘’Aku butuh bimbingan, doa’, dan support dari Mama serta Papa.’’ Aku mengenggam erat jemari mama dan menatapnya.


‘’Ta—tapi, Papa mana, Ma? Kok Papa nggak pernah lihat aku ke sini, apa jangan-jangan Papa masih marah ya?’’ tanyaku pelan karena seketika aku teringat dengan cinta pertamaku itu. Memang selama aku berada di rumah sakit aku tak pernah melihat wajah beliau.


‘’Papamu kerja beberapa hari ini. Sebenarnya Papam sering menemanimu di sini, bahkan menyuapimu makan. Sering kamu tumpahin nasinya, apa kamu nggak ingat?’’ sahut mama pelan. Membuat aku menggeleng seketika dan membekap mulutku. Muncul rasa bersalah di hatiku.


‘’Dan juga Papamu menggebukin Andre,’’ imbuh mama dengan lirih.


‘’A—Andre, Ma?’’ tanyaku dengan terbata. Wanita yang melahirkanku Sembilan belas tahun nan lalu itu mengangguk.


‘’Dia ke sini katanya mau melihat anaknya,’’ kata mama sembari menyeka buliran air matanya. Ya Allah, kenapa denganku? Aku Kenapa?


‘’Kok aku malah nggak ingat apa-apa, Ma,’’ kataku dengan heran.


Mama mengelus pucuk kepalaku yang tengah dibalut kerudung,’’Waktu itu kamu sedang depresi berat, kamu kan nggak tahu apa-apa. Bahkan bayimu aja nggak minum ASI darimu, terpaksa Mama membelikannya susu botol,’’ sahut mama lirih dengan mata berkaca-kaca.


‘’Astaghfirullah ‘al adziim, Ya Allah aku udah berdosa lagi,’’ ucapku lirih sembari membungkam mulut saking kagetnya.


‘’Kan kamu dalam keadaan nggak sadar dan depresi berat. Allah Tahu itu, nggak apa-apa.’’


‘’Sekarang kamu harus beneran pulih dulu ya, Nak.’’


‘’Semua surat-surat dan keuangan udah diurus sama Ayu, ayuk kita pulang! Papamu sedang menuju ke sini,’’ imbuh mama kemudian.


‘’Ayu? Kenapa dia nggak nyamperin aku dulu, Ma? Dia udah pulang?’’


‘’Iya, Nak. Dia buru-buru mau menjemput Neneknya dari rumah sakit. Dan biasanya Ayu malah menemani kamu tiap hari, apa kamu nggak ingat? Dia dengan sabarnya menjagamu,’’ kata mama dengan lirih, aku terheran-heran. Lah, aku kok tak ingat apa-apa? Sudahlah, tak perlu kuingat-ingat dulu semuanya. Biarkan tubuh ini kembali sehat total dahulu.


‘’Ya Allah, aku nggak ingat sama sekali, Ma.’’


‘’Sudahlah, nggak usah dipaksakan ya, Nak.’’


‘’ Iya. Ta—tapi, Ma. Apa Bu Karni nggak pernah ke sini?’’ tanyaku kembali penasaran, sembari mengernyitkan kening.


‘’Mamanya Andre?’’

__ADS_1


Aku mengangguk secepatnya.


‘’Mama Andre udah berulang kali ke sini, tapi Mama dan Papa mengusirnya."


‘’Ya Allah. Kenapa, Ma? Bu Karni baik banget loh sama aku. Sebelum melahirkan aku juga tinggal di rumahnya. Bahkan dia yang memaksa anaknya untuk bertanggung jawab,’’ jelaskuku panjang lebar.


‘’Kita harus minta ma’af sama Bu Karni, Ma. Ayo kita ke rumahnya!’’ aku bergegas bangkit.


Rencanaku ingin menemui bu Karni untuk meminta ma’af atas semua yang dilakukan oleh mama dan papaku. Ya, aku mengerti bagaimana perasaan kedua orang tua ketika anaknya dihamili oleh lelaki, aku tahu beliau pastilah marah besar dan bahkan begitu perih rasa hatinya. Tetapi, bu Karni juga sudah baik sekali padaku dan bahkan membawaku ke rumahnya untuk tinggal dengannya.


‘’Ja—jangan, Nak. Dia paham kok kenapa Mama dan Papa mengusirnya. Dan kemaren kami juga udah saling minta ma’af.’’ Mama mencoba mencegahku. Ucapan mama membuat aku lega.


"Mama belajar untuk mema'afkan Andre, walaupun begitu sulit rasanya. Bagaimana pun juga Andre adalah Papa kandung bayimu."


Aku menghela napas pelan. Dan dalam hati membenarkan ucapan mama. Ya, kuyakin tak ada lelaki lain yang mau menikahiku. Apalagi hamil di luar nikah.


‘’Tapi kok sekarang Bu Karni nggak menemui aku lagi, Ma?’’


‘’Kamu tenang aja, dia akan menemuimu kok. Mama ada janjian kemaren dengannya, jika kamu udah bisa pulang ke rumah dan udah beneran pulih, Mama akan telpon dia. Mama juga akan bicara soal pernikahan kamu dengan Andre,’’ jelas mama panjang lebar.


‘’Bu—bukannya Papa—‘’


‘’Iya, sekarang Papamu udah bisa menerima dan mema’afkan Andre. Ini semua demi kebaikanmu dan cucu Mama,’’ kata mama sembari menunjukkan seulas senyuman.


‘’Iya, Ma. Syukurlah, makasih ya Ma.’’


‘’Ta—tapi, apakah Andre mau menikahi aku dengan kondisi kayak gini. Ahh, bukannya ini karena perbuatannya juga,’’ batinku.


Mama mengangguk sembari tersenyum,’’Yaudah, yuk!’’ Mama meraih koper dan membantuku untuk berjalan. Aku merasa berada di awang-awang rasanya. Tubuhku terasa sangat ringan. Mungkin karena usai melahirkan dan juga aku beberapa hari ini tak pernah berjalan sekali pun.


‘’Bayiku di mana?’’ tanyaku seketika dan memberhentikan langkahku.


Aku dan mama melangkah perlahan, hingga tiba di ruangan yang dikhususkan untuk bayi. Kami bergegas memasuki ruangan. Kulihat banyak bayi mungil di ruangan ini dan semuanya tertulis nama orang tuanya di sana. Kucari bayiku dan akhirnya aku menemukan tulisan,’’Baby Mba Monik.’’


‘’Biar Mama yang menggendongnya ya,’’ kata mama. Aku mengangguk.


‘’Ma’afkan semua kesalahan Mama yah, Nak,’’ batinku sembari memegangi pipinya dengan pelan. Oh iya, namanya belum dikasih. Di rumah aja kali ya.


‘’Si Dedek akan dibawa pulang ya, Mba?’’ tanya susternya seketika menghampiri kami.


‘’Iya, Sus. Aku Alhamdulillah udah dibolehin pulang,’’ sahutku sembari tersenyum.


‘’Ulalaa, Sayang. Saatnya pulang ke rumah ya, Dek. Nah, sama Nenek aja ya,’’ lirihnya sembari menggendong bayiku, lalu memberikan ke mama.


‘’Kalo gitu kami pamit dulu, Sus,’’ kata mama mewakili.


‘’Hati-hati Ibu, Mbak dan Dedek bayinya,’’ sahutnya ramah sembari mengangguk.


Kami mengangguk lalu tersenyum. Kami bergegas melangkah ke luar dari rumah sakit. Sesaat kemudian, kupandangi dari jauh tempat parkiran rumah sakit yang sepertinya itu mobil papa ada di sana. Kami melangkah ke tempat parkiran. Benar saja, ternyata memang mobil papa. Beliau bergegas membuka pintu mobil. Aku berlari seketika dan memeluknya.


‘’Pa, ma’afkan semua kesalahanku ya,’’ ucapku dengan buliran air mata yang mulai berjatuhan.


‘’Sudah, Papa udah mema’afkanmu. Nasi udah jadi bubur, sekarang kita pulang ya. Biar kamu bisa istirahat,’’sahut papa mengusap punggungku pelan. Kulepas pelukan dari papa dengan perlahan dan menyeka buliran air mataku.


‘’Makasih banyak ya, Pa,’’ sahutku, papa tampak mengangguk secepatnya, sembari tersenyum.


‘’Ta—tapi, Pa. Aku nggak mau ngerepotin Mama dan Papa, aku nggak mau nanti malah jadi bahan gunjingan tetangga.’’


‘’Aku ngekost aja ya Pa, Ma?’’


‘’Nggak, Monik. Kamu harus beneran sembuh dulu. Kita pulang aja ya.’’

__ADS_1


‘’Papamu bener, Nak. Kamu harus tinggal di rumah dulu, biar keadaanmu bener-bener pulih,’’ timpal mama.


‘’Bener jugak sih. Mana bisa dengan keadaanku kayak gini merawat bayiku sendiri,’’ batinku.


‘’Gimana, Nak?’’


‘’Aku ikut pulang aja sama Mama dan Papa.’’


‘’Nah gitu dong, kasihan cucu Opa ini.’’ Papa seketika mencubit hidung bayiku dengan lembut.


‘’Jangan digituin dong, Pa. Ntar malah kebangun si Dedeknya lagi.’’ Mama terlihat kesal.


‘’Alhamdulillah, Papa dan Mama udah bisa menerima bayiku,’’ batinku dengan mata berkaca-kaca.


‘’Yuk, naik ke mobil!’’ ajak papa kemudian. Kami bergegas menaiki mobil.


Papa menyetir dengan hati-hati, begitu lambat.


‘’Kok tumben Papa bawa mobil sepelan ini?’’ tanya mama yang memecah keheningan di antara kami, beliau tengah memeluk bayiku.


‘’Kan ada cucu kita, Ma. Nggak mungkinlah Papa kayak biasanya bawa mobil. Dia malah syok nanti naik dengan Opanya,’’ sahut papa terkekeh, beliau masih fokus menyetir mobil sesekali melirik ke arah mama dan bayiku.


‘’Mama kira Papa sedang kesurupan, makanya Mama tanya.’’ Mama terkekeh.


‘’Sembarangan aja. Kalo kesurupan Papa bakalan ngebutlah, Ma. Ada-ada aja Mama ini.’’


‘’Eh, mana tahu ini jin Islamnya yang masuk ke tubuh Papa, gimana?’’ sahut mama yang tak mau kalah.


Seketika aku tertawa kecil, ada rasa bahagia kembali muncul di hatiku ini. Kebahagian yang selama ini kandas begitu saja, kerinduan setiap detik yang kurasakan dan sekarang Alhamdulillah kembali lagi. Walaupun tak seperti dulunya. Setidaknya aku sudah bisa merasakan kebahagiaan kembali, canda-tawa mama dan papa, kehangatan keluargaku dan kasih sayang kedua orang tuaku. Itu yang aku inginkan, aku merindukan hal itu dan mengimpikannya semasa aku tengah mengandung bayiku.


‘’Iya kan, Monik?’’ Mama menatapku yang tengah terayun dalam lamunanku.


‘’Ah iya, Ma.’’


‘’Kamu nggak mau berteman dengan Papa lagi?’’ tanya papa dengan bibir manyun, kuperhatikan di balik kaca spion mobil.


‘’Papa mah gitu! Diantara Mama dan Papa, Monik nggak bisa milih yang mana. Pokoknya keduanya, Monik sangat menyayangi kalian,’’ sahutku dengan bibir bergetar.


‘’Lah, kok beda lagi. Dulu Papa yang sering diutamakan.’’


‘’Jangan gitu ah, Pa. Bercanda terus,’’ ucap mama yang tampak kesal.


‘’Iya, iya. Makasih deh anak Papa, kirain milih Papa aja.’’ Papa terkekeh.


‘’Enggaklah, Pa. Kan Mama yang ngelahirin juga dan Papa mencarikan nafkah untuknya. Jadi harus adil, iyakan, Nak?’’ tanya mama sembari terkekeh, aku pun ikut tertawa kecil.


‘’Iya, Ma, Pa. Monik nggak bisa milihlah antara Papa dan Mama,’’ sahutku. Beliau pun tersenyum lebar.


‘’Alhamdulillah, aku udah bisa melihat kembali senyuman yang terlukis di bibir kedua orang tuaku. Ya Allah, semoga tiada lagi kata berpisah,’’ batinku dengan mata berembun menatap kedua orang tua yang tengah tersenyum.


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.


See you next time!❤


Instagram: n_nikhe

__ADS_1


__ADS_2