
‘’Eh, perutku lapar banget ini. Mana Bibi belum bawa makanan lagi. Biasanya siang begini sudah bawa roti atau susu untukku. Ini ke mana sih si Bibi?’’ bisikku sembari mondar-mandir memegang perutku yang semakin hari membesar. Ya, perutku terasa sangat lapar, apalagi aku tengah hamil besar. Makin ke sini, aku mudah lapar.
‘’Atau Bibi lagi sibuk kali ya? Aku cari sendiri aja deh.’’ Aku bergegas melangkah ke ruang makan.
‘’Eh, Monik! Bibi baru saja mau membawakan makanan ke kamar. Ma’af telat, tadi dapat telepon dari kampung,’’ lirih Bibi sembari menenteng nampan yang berisi roti dan segelas susu.
‘’Iya, Bi. Aku lapar banget nih.’’
‘’Nggak apa-apa. Aku ambil ya, Bi.’’
‘’Ya udah, Monik. Bibi kembali beres-beres dulu ya. Nanti jika Monik butuh apa-apa tinggal panggil Bibi aja atau hubungi nomor Bibi.’’ Bibi terkekeh menatapku.
‘’Siap, Bi. Bibi bisa aja.’’ Aku tertawa kecil sembari memandangi Bibi yang menghilang dari pandanganku. Sementara aku masih menenteng makanan. Ahh! Dibawa ke kamar aja kali ya. Aman rasanya makan di kamar. Aku yang menenteng makanan, seketika kaget.
‘’A—Andre? Apa benar itu dia?’’ saking kagetnya hampir saja makananku terjatuh menimpa kakiku. Apa aku tak salah lihat? Ahh. Entahlah. Aku mau mengisi perutku dulu ke kamar.
‘’Monik!’’ panggilnya membuat aku menoleh seketika dan menghentikan langkahku.
‘’Ka—kamu—’’ dia mematutku dari bawah sampai ke atas, tak putus-putusnya mata itu memandangiku. Apa ada yang salah penampilanku? Atau bajuku robek? Tak mungkin. Semua baju yang diberikan Ayu adalah baju yang hanya beberapa kali saja dipakainya. Tak mungkinlah akan robek. Lalu apa?
‘’Kenapa kamu memandangiku kayak gitu? Hah?’’ ketusku.
‘’Perutmu sudah besar, berapa bulan itu?’’ tanyanya memandangi perutku yang semakin membesar. Dasar lelaki! Yang menghamili dia, kenapa dia tak tahu? Duhh! Membuatku semakin kesal aja dengan ini orang. Aku mengatur napasku perlahan.
‘’Kamu tahu sendiri, kenapa harus bertanya lagi?’’ nada bicaraku naik sembari membuang pandangan.
‘’Aku lupa. Bilang aja berapa bulannya napa, susah amat sih!’’ ketusnya kesal dan melipat tangan di dada. Dia bukan seperti yang kukenal dulu. Ya, dia bukan Andre yang dulu. Aku tak memperdulikannya, membuat aku kembali melangkah.
‘’Monik! Tunggu!’’ dia bergegas mengikutiku, membuat aku menghentikan langkah. Rasanya sangat benci dan jijik melihat tampang lelaki di depanku ini.
‘’Kenapa kamu bisa ada di sini? Katakan!’’
Membuatku semakin kesal dengan ini orang, perutku pun sudah keroncongan sedari tadi. Bagaimana aku tak kesal, karena ulah perbuatannya membuat aku terusir dari rumah dan ditambah dengan keadaanku yang hamil tanpa suami. Daripada aku naik darah memandangi ini lelaki, lebih baik ke kamar untuk mengisi perutku.
‘’Hei! Kamu mau ke mana? Pertanyaanku belum kamu jawab!’’ Membuatku menghentikan langkah seketika.
‘’Terserah aku lah!’’ ketusku. Ya, sejak Andre melakukan itu padaku membuat aku membencinya, bahkan memandangi mukanya aja membuatku muak.
‘’Jangan begitu dong. Eh, Papa Mama mana?’’
__ADS_1
‘’Kamu cari aja di kamar. Jangan tanya ke aku,’’ ketusku, lalu melanjutkan langkahku.
Aku tak menoleh sedikit pun. Sedangkan Andre masih mematung berdiri di sana. Aku tak perduli, tetapi saat ini aku merasa senang dan lega, karena Andre sudah mau kembali ke rumahnya. Itu semua pasti Ayu dan temannya yang merencanakan hingga Andre mau kembali pulang setelah beberapa bulan pergi dari rumahnya.
Sesampainya di kamar, aku langsung menyantap roti dan menyeruput segelas susu. Dan kuletakkan kembali gelas yang sudah kosong itu di nakas. Habisnya aku mager dan malas keluar. Apalagi melihat muka Andre yang ada aku bisa muntah jadinya. Tapi sungguh membosankan mengurung diri beberapa bulan di kamar, ditemani benda pipih yang jika tak kupergunakan dia akan berdiam diri saja di atas nakas.
Duhh! Terkadang aku rindu dengan mama dan papa. Apa beliau tak merasakan hal yang sama? Entahlah! Mungkin karena kebenciannya terhadapku rindu itu hilang begitu saja. Kebencian beliau kepadaku mengalahkan rasa rindu. Tetapi, apakah beliau tak mengkhawatirkanku sedikit pun? Setidaknya bertanya kabarku. Ahh! Segitu bencikah mama dan papa kepadaku. Sudahlah! Lebih baik kuhubungi Ayu terlebih dahulu.
Berdering.
‘’Assalamua’laikum, Yu! Kamu sedang nggak sibuk kan?’’
‘’Wa’alaikumussalam, Monik. Enggak juga kok. Ini sedang duduk santai aja.’’
‘’Alhamdulillah kalo gitu. Yu, makasih banyak ya. Kamu sudah banyak banget membantuku.’’
‘’Sama-sama. Ya Allah, biasa aja napa! Kamu kan sahabatku. Jadi, udah tanggung jawabku untuk membantumu. By the way, Andre sudah ke rumahnya kan?’’
‘’Iya, Yu. Kamu sudah banyak membantuku.’’
‘’Aku beruntung punya sahabat kayakmu, Yu. Andre Alhamdulillah sudah pulang. Itu berkat kamu dan Dion.’’
‘’Sekali lagi makasih banyak ya. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu, Yu,’’ lirihku.
‘’Sama-sama, Monik. Aaamiin Ya Robbal ‘aalamiin. Semoga Andre secepatnya menikahimu.’’
‘’Aku bingung dan—‘’
‘’Kenapa, Monik? Ada apa lagi? Anakmu sebentar lagi akan lahir loh, dia butuh seorang Ayah.’’
‘’A—aku benci banget sama dia, melihat mukanya aja membuatku muak. Lalu bagaimana bisa aku menikah dengan orang yang kubenci?’’
‘’Ya Allah, aku mengerti! Tapi kamu enggak boleh egois, anakmu butuh Ayah! Hilangkahnlah rasa benci itu demi calon anakmu.’’
‘’Monik, aku yakin dia akan mau menikahimu. Kamu coba juga minta tolong sama Mama Andre untuk membujuk anaknya agar secepatnya menikahimu.’’
‘’Kamu benar, Yu. Nanti akan kucoba untuk membujuk Bu Karni,’’ aku menghela napas berat, sembari menutup pintu kamar dan kembali menghenyak di ranjang.
‘’Nah, bagus. Semoga ya dan semoga Bu Karni mau membujuk anaknya.’’ suara Ayu di seberang sana.
__ADS_1
‘’Oh ya, Monik Om sama Tante nanya kamu kemarin.’’ Apa? Mama dan papa nanya aku? Seketika ada rasa bahagia, terharu, sedih, rindu dan bermacam rasa di dalam diriku ini.
‘’Apa? Kamu nggak bohong kan, Yu?’’ tanyaku dengan mata melotot saking kagetnya.
‘’Nggak, kemarin beliau menelponku dan menanyakan kabarmu.’’ ternyata diam-diam mama dan papa masih perduli kepadaku.
Allah! Kukira beliau tak ingat lagi denganku. Tak terasa buliran air mataku jatuh begitu saja.
‘’A—aku senang mendengarnya, Yu. Kamu tahu nggak? Aku merindukan beliau. Ta—tapi itu nggak mungkin, bahkan aku ingin memeluk kedua orang tuaku atau setidaknya mendengar suara beliau aja,’’ lirihku dengan suara bergetar, buliran air mata terus membanjiri pipiku.
‘’Ya Allah! Aku tahu dan merasakan apa yang kamu rasakan, Monik. Kemarin aku merekam suara Om dan Tante ketika kami berbicara lewat ponsel, nanti kukirimkan ke kamu ya. Setidaknya bisa mengobati rindumu.’’ Allah! Sahabat terbaikku tahu apa yang kurasakan dan bisa membuatku bahagia.
‘’Ya Allah! Kamu memang sahabat terbaikku. Makasih banyak ya, Yu. Harus pake apa akan kubalas kebaikanmu,’’ ucapku lirih dengan isakan tangis.
‘’Jangan bicara kayak gitu. Aku nggak suka ahh, Monik! Aku sudah menganggap kamu sebagai saudara kandungku.’’
Allah! Masih ada ternyata orang yang baik padaku, padahal aku sudah melakukan dosa besar. Allah Maha Baik ya. Seseorang yang bergelumuran dengan dosa masih aja diberikan oleh Allah kebaikan yang tiada hentinya. Aku merasa malu dan tertampar rasanya. Ya, aku malu kepada Allah, aku malu kepada diriku sendiri, aku malu kepada kedua orang tuaku, dan aku malu kepada teman-temanku terutama Ayu.
‘’Iya, iya. Aku minta ma’af deh.’’
‘’Oke, nanti kukirimkan rekaman suara Om dan Tante ya. Kamu yang sabar dulu. Ya udah! Aku mau membantu Bibi dulu, kamu jaga kesehatannya. Assalamua’laikum.’’ suaranya di seberang sana.
‘’Iya, Yu. Makasih ya, kamu jaga kesehatan juga. Wa’alaikumussalam.’’ sesaat kupandangi benda pipih, ternyata sudah diputuskan teleponnya oleh Ayu.
Mungkin signal yang kurang bersahabat kali ya. Kembali kuletakkan benda pipih itu di nakas, lalu merebahkan tubuhku yang terasa penat. Entah kenapa akhir-akhir ini tubuhku mudah lelah, mudah penat. Atau mungkin karena kehamilanku yang sudah menginjak 7 bulan lebih? Jika tak merebahkan tubuh sehari saja begitu terasa lelah, padahal aku tak kerja sedikitpun. Palingan mencuci piring itupun hanya sesekali dalam seminggu, karena aku tak diperbolehkan oleh Bu Karni bekerja. Katanya bibi ada.
Eh! Tunggu samar kudengar pembicaraan Pak Ardi dengan Andre. Apa iya? Sedangkan hari masih jam segini, apa dia tak bekerja di kantornya? Apa yang sedang dibicarakannya. Aku intip ahh! Perlahan aku bangkit, lalu keluar dari kamar. Mengintip di balik tembok. Tampak pak Ardi dan Andre duduk berhadapan di sofa, sepertinya pembicaraan mereka sangat serius.
‘’Kamu sebentar lagi kan mau mengambil nomor kelulusan dan akan segera kuliah di kampus impianmu, tetapi Papa sarankan secepatnya melamar Nina. Nggak salah kan? Semua bisa diatur.’’
Apa?! Apa aku tak salah dengar? Siapa Nina? Apa maksud Pak Ardi ini? Ya Allah!
Bersambung.
Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Oh iya, jika ada yang komen dan menantikan lanjutan ceritanya akan aku usahakan update 2 bab setiap harinya, tapi dengan syarat harus komen dan membaca setiap kali aku update ya. Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.
See you next time!❤
__ADS_1
Instagram: n_nikhe