Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Calon Papa Mertua yang Jahat?


__ADS_3

Sejak aku mendengar kata-kata itu keluar dari mulut papanya Andre jadi buah pikiran olehku.


‘’Kenapa kamu masih di sini? Hah?’’ bentaknya yang membuat aku kaget seketika, aku yang sedang memegang gelas langsung luruh ke lantai.


‘’Kamu memecah gelas? Itu bukan milikmu wanita nggak tahu diri! Berani-beraninya kau memecah gelas mahalku!’’ hardiknya dengan mata melotot melihat serpihan gelas berjatuhan ke lantai. Aku menutup mulutku kaget.


‘’Ma—ma’af, Pak. Aku nggak sengaja,’’ lirihku dengan deraian air mata.


‘’Alah! Nggak sengaja kau bilang? Cepat bersihkan lantai itu!’’ dia menunjukku dengan tunjuk kiri, emosinya meluap-luap. Aku yang akan mengambil serpihan kaca gelas itu seketika tanganku terhenti.


‘’Allah! Ada apa sih, Pa? Pagi begini sudah ribut!’’ kesal bu Karni.


‘’Mama lihat aja sendiri! Gimana kelakuan wanita nggak tahu diri ini!’’ Bu Karni menggeleng seketika melihat kelakuan suaminya itu.


Ya, calon papa mertuaku ternyata sangat jahat. Walaupun aku hamil di luar nikah, tetapi bukankah itu semua salah anaknya. Bukan salahku sendiri. Dan jika dia tak menyukaiku, tak harus begini juga perlakuannya terhadapku.


‘’Biar Ibu yang membereskan. Kamu masuk ke kamar!’’ titah bu Karni menatapku yang sedang menjongkok, aku mengangguk pelan.


‘’Pa, jangan begitu dong. Semuanya juga salah anak kita. Papa jangan menyalahkan satu pihak aja!’’ Bu Karni mendengkus kesal.


Sedangkan aku bergegas melangkah memasuki kamar yang beberapa hari ini kuhuni. Matanya melotot memandangiku, membuatku takut seketika. Wajahnya bak singa yang akan menerkam mangsanya. Sorot matanya benar menatapku tajam. Aku kembali melanjutkan langkah kakiku. Setibanya di kamar, aku menghela napas lega sembari mengelus dada yang sedari tadi terasa sesak. Seketika ponselku bergetar hebat. Kuraih dan kulihat ternyata ada pesan di aplikasi hijau itu. Tunggu, tetapi tak hanya pesan saja. Ada beberapa kali panggilan tak terjawab. Kucoba menelusuri dan mencari tahu. Ternyata Ayu, sahabatku.


‘’Ya, aku harus menelpon Ayu kembali,’’ bisikku. Segera kutekan kontak Ayu, seketika berdering dan tersambung.


‘’Assalamua’laikum, Monik. Kamu baik-baik aja kan? Kok kamu nggak ada di kost? Aku mengkhawatirkanmu loh,’’ suara Ayu terdengar mencemaskanku.


‘’Wa’alaikumussalam, Yu. Alhamdulillah sekarang aku baik saja. Walaupun kemarin sempat sakit sih. Sekarang aku sedang di rumah Andre,’’ jelasku.


‘’Apa? Yang benar aja nih, Monik. Kamu bercanda kan?’’ sontak Ayu kaget. Terdengar jelas dari suaranya di seberang sana.


‘’Iya, Yu. Aku nggak bercanda. Nih sekarang aku sedang di kamar. Tau nggak kamu, Mamanya itu ternyata baik banget sama aku. Ya, walaupun sempat nggak percaya sama aku sih awalnya,’’ aku tersenyum sembari beranjak dari duduk dan menutup pintu kamar yang sedari tadi terbuka saking tak sadarnya diriku.


‘’Ya Allah. Kamu benaran kan, Monik? Gimana sih ceritanya sampai kamu berada di rumah Andre? Sedangkan Andre kulihat nginap di rumahnya Bagas,’’ suara Ayu terdengar seperti orang penasaran.


Aku pun menceritakan semua yang kualami sebelum dibawa ke rumah ini. Ayu mendengarkan dengan seksama, berbagai macam yang keluar dari mulut Ayu karena kaget dan terharu, kata-kata istighfar dan sebagainya. Tatkala semuanya sudah kuceritakan, aku teringat dengan benda yang kutitipkan ke Ayu.

__ADS_1


‘’Yu, jika kamu nggak sibuk, boleh aku minta tolong lagi?’’ tanyaku.


‘’Boleh lah, masa enggak sih. Kamu mau minta tolong apa, Monik?’’ dia terkekeh.


‘’Aku mau minta tolong untuk menjual pemberian Andre itu,’’ lirihku dengan suara sedikit bergetar.


‘’Hah? Maksudmu motor pemberian Andre?’’ sontak Ayu kaget, terdengar dari suaranya di seberang sana.


‘’Iya, Yu. Tolong aku ya. Cuman kamu yang bisa nolongin aku,’’ ucapku pelan sembari mengangguk walau Ayu tak melihat anggukanku.


‘’Apa kamu yakin, Monik?’’ tanya Ayu kembali.


‘’Aku yakin banget, Yu. Apalagi perutku semakin membesar. Aku butuh biaya untuk persalinan. Kamu kan tahu, Mama dan Papa sampai sekarang belum bisa mema’afkanku. Andre pun belum tentu mau menikahiku,’’ jelasku panjang lebar.


Ya, aku tak punya pilihan lain selain menjual hadiah pemberian Andre. Perutku makin membesar dan sebentar lagi aku bakalan melahirkan, tentu butuh biaya yang sangat besar. Apalagi sekarang aku hanya memegang uang puluhan ribu saja, itu pun tak sampai untuk keperluan sehari-hari. Andaikan saja bu Karni memberiku sedikit uang untuk biaya sehari-hari. Tapi, diberi tempat tinggal saja untukku sudah merasa bersyukur sekali. Seandainya bu Karni tak membawaku ke sini, di mana aku akan tinggal?


‘’Ya udah deh, kalau kayak gitu katamu. Aku akan bantuin,’’


‘’Terima kasih, Sahabatku,’’ aku tersenyum lega.


‘’Iya, Yu. Do’akan aku agar bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Udah dulu ya, Yu. Assalamua’laikum,’’ seketika aku langsung menutup teleponku karena mendengar ketukan pintu kamarku yang diketuk dengan keras. Siapa? Atau jangan-jangan pak Ardi? Mau apa dia?


‘’Buka pintunya!’’ teriak lelaki yang sering membuatku takut, dengan ketukan yang sangat keras.


Aku merasa ketakutan, bagaimana tidak? Selama berada di rumah ini, dia tak suka dengan keberadaanku. Bahkan dia tak menyetujuiku menikah dengan putranya. Alasannya aku dikatakan wanita tak beres, dan banyak cacian serta hinaannya kepadaku. Padahal aku hamil gegara anaknya. Tak mungkinlah aku hamil sendiri.


‘’Woi! Kamu nggak mau buka nih? Apa aku dobrak aja kali yah?’’ suaranya menggelegar sembari mengetuk pintu dengan kasar.


Perlahan aku melangkah dan membukakan pintu, dia menatapku dengan tatapan tajam sembari mengacak pinggang berdiri di ambang pintu. Allah! Membuat aku merasa ketakutan.


‘’A—ada apa ya, Pak?’’ lirihku dengan suara bergetar karena saking ketakutan.


‘’Ada apa kamu bilang? Kamu seenaknya hidup di rumah orang ya! Nggak tahu diri kamu!’’ hardiknya dengan muka memerah.


Kenapa sebegitu bencinya papa Andre sama aku? Padahal aku begini karena ulah putranya. Kenapa dia tak mencoba untuk menerimaku sebagai calon menantunya? Atau benar kemarin yang dikatakan oleh bu Karni, Andre sudah memiliki pacar baru lagi. Kuyakin papanya menyetujui dengan wanita asing itu.

__ADS_1


‘’Aku—’’ tenggorokanku terasa tercekat, namun dia bergegas memotong pembicaraanku.


‘’Kamu ikut aku sekarang!’’ titah lelaki itu sambil menarik tanganku dengan kasar.


Tenagaku yang begitu lemah hingga tak bisa lari darinya. Aku meringis karena kesakitan tanganku ditarik paksa. Ternyata dia membawaku ke dapur. Jangan-jangan disuruh memasak untuknya. Bu Karni sekarang kan sedang tak berada di rumah.


‘’Kamu masak yang enak sekarang! Perutku ini sedang lapar!’’ dia melepaskan tanganku dengan kasar, aku mengelus tangan.


‘’Ta—tapi, Pak—’’


‘’Jangan panggil aku Bapak. Aku ini bukan Bapakmu! Paham?’’ bentaknya menunjukku dengan tunjuk kirinya.


‘’I—ya, O—Om.’’ suaraku bergetar karena ketakutan.


‘’Nah, gitu dong. Ayo masak! Ingat, jangan pake lama!’’ dia menatapku dengan tajam. Dan menghilang dari pandanganku seketika.


‘’Allah! Begini amat nasipku. Calon Papa mertua pun sangat jahat. Dia memperlakukanku kayak gini. Walaupun aku hamil di luar nikah, tetapi ini juga salah anaknya. Heran sama sikapnya Pak Ardi ini,’’ gumamku sembari mencari bahan masakan. Ternyata orangnya datang menghampiriku. Duhh! Mati aku!


‘’Apa kamu bilang tadi? Berani-beraninya kamu bicara kayak gitu! Apa kamu sudah bosan hidup? Hah?’’ tatapannya tajam dan suaranya menggelegar bak petir yang menyambar. Allah! Dadaku terasa sesak sekali. Bu Karni kenapa belum pulang sampai saat ini ya? Aku takut. Tolong aku Ya Allah, walaupun aku punya banyak dosa.


‘’Nggak, Pak. Eh, Om. Aku nggak bilang apa-apa kok.’’ Suaraku bergetar.


Pak Ardi menatapku tajam dan makin mendekatiku. Allah! Apa yang akan dilakukannya? Apa dia akan mencekikku? Aku sangat ketakutan. Dadaku bergemuruh hebat dan tubuhku gemetaran, aku memegang perutku yang sudah mulai kelihatan besar. Lalu sedikit demi sedikit mundur ke belakang. Dan ketika dia sudah berada sangat dekat


‘’Pa! Papa ini apa-apaan sih? Hah?’’ Alhamdulillah. Bu Karni datang di waktu yang tepat. Pak Ardi seketika menjauhiku. Aku selamat kali ini. Aku mengelus dada dan menghela napas perlahan.


Bersambung.


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Oh iya, jika ada yang komen dan menantikan lanjutan ceritanya akan aku usahakan update 2 bab setiap harinya, tapi dengan syarat harus komen dan membaca setiap kali aku update ya.


See you next time!


Instagram: n_nikhe

__ADS_1


__ADS_2