Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Apa Ini yang Dinamakan Hidayah?


__ADS_3

Aku yang terlelap tidur seketika terbangun, terdengar samar bunyi lantunan ayat suci Al-Qur’an yang begitu merdu dan menusuk relung hatiku ini. Dengan pelan kududuk. Kulirik ke samping ternyata bayi mungilku masih terlelap. Kukumpulkan nyawa terlebih dahulu, mataku tertuju pada benda yang melingkar di dinding itu.


‘’Pukul 04.00?’’ ucapku lirih.


Mata dan tubuhku begitu lelah apalagi bayi mungilku rewel semalaman. Rasa penasaran yang membuncah membuat aku bangkit, lalu melangkah menuju kamar tante Sisi yang tak jauh jaraknya dari kamar yang kuhuni. Aku berdiri tepat di depan pintunya yang tertutup. Allah, benaran saja ternyata memang suaranya berasal dari kamar tante Sisi.


‘’Ya Allah, suara Tante bagus banget. Dan entah kenapa membuat aku merinding, hatiku merasa terpanggil untuk taat beribadah kayak Tante. Sudah dua hari aku berada di sini, sekarang baru aku merasakan dan terbangun ketika mendengar suara lantunan ayat suci Al-Qur’an dari Tante. Apa ini yang dinamakan hidayah? Apakah ini saatnya aku kembali kepada jalan-Nya?’’ gumamku pelan.


Ya, entah kenapa hatiku merasa terpanggil untuk melaksanakan ibadah seperti tante Sisi yang taat sekali dalam ibadahnya. Tapi, aku baru saja selesai melahirkan. Ya, aku pernah mendengar ceramah seorang ustadz jika wanita yang sudah melahirkan tak bisa untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu, harus ditunggu setelah selama 40 hari baru bisa melaksanakan sholat, setelah darah wiladah berhenti dan setelah mandi wajib.


‘’Aku akan berjanji pada diriku setelah 40 hari nanti aku akan rajin beribadah, minta ampun kepada Allah dan berusaha menjadi yang lebih baik lagi,’’ tekadku kepada diriku.


‘’Kayaknya Tante udah selesai membaca Al-Qur’an deh,’’ batinku dan bergegas meninggalkan pintu kamarnya. Tetapi seketika pintu itu terbuka.


‘’Eh, Monik? Udah bangun?’’ tanya tante yang masih berada di ambang pintu kamarnya, beliau masih mengenakan mukenah.


Aku berpura-pura menuju dispenser air yang terletak di depan pintu kamarnya menuju masuk, aku berpura hendak mengambil air.


‘’A—aku mau ngambil air, Tante. Haus banget,’’ sahutku yang bergegas meraih gelas dan menekan tombol hijau hingga air itu tercucur dari dispenser.


‘’Kenapa nggak dibawa aja airnya ke kamar? Biar kamu deket ngambilnya, nggak susah lagi keluar deh.’’


‘’Eh iya, Tante. Aku lupa,’’ sahutku sembari menggaruk kepala yang tak gatal.


‘’Ya udah, kamu kan nggak sholat. Tidur lagi sana, masih shubuh loh. Ntar bangun si Dedek nggak dapet istirahat lagi,’’ titah tante Sisi panjang lebar.


‘’Iya, Tan. Aku ke kamar dulu,’’ lirihku sembari membawa segelas air putih dan melangkah menuju kamar. Sesampai di kamar, aku bernapas lega. Kuteguk air putih dengan pelan, lalu meletakkan kembali gelas itu ke atas nakas.


‘’Semoga aku bisa kayak Tante Sisi yang selalu taat beribadah. Hatiku tersentuh ketika mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan oleh Tante Sisi, hatiku tersentuh saat mendapati beliau selesai berwudhu’ padahal waktu sholat belum masuk, dan aku sangat tersentuh lagi di saat Tante mengerjakan sholat Tahajjud. Aku aja, jangankan untuk sholat tahajjud, sholat lima waktu aja hanya sesekali itu pun karena perintah Mama dan Papa. Apalagi setelah aku berpacaran dan hamil di luar nikah. Ya Allah, sungguh malu rasanya diri ini. Dosaku yang begitu banyak, semoga Allah mengampuni semua dosaku,’’ lirihku pelan. Sesaat kemudian bayiku terbangun dan menangis.


‘’Sayang, ada apa, Nak?’’ ucapku lirih sembari memeriksa bedungnya.


‘’Eh, ternyata kamu pipis, Nak.’’


Dengan pelan kuganti bedung dan popoknya yang basah. Selama beberapa hari ini memang tante Sisi yang membantu untuk mengganti pakaiannya ketika basah, tetapi aku merasa segan jika beliau setiap hari yang melakukannya. Makanya aku belajar ke beliau, Alhamdulillah aku sudah mulai berani mengganti pakaian bayiku, walaupun sangat lambat.


Beberapa menit kemudian, aku telah selesai mengganti pakaiannya. Sekarang saatnya menyusui bayiku. Kuambil, lalu kuletakkan dalam pangkuan.


‘’Ma’afkan Mama ya, Nak,’’ lirihku menatap bayiku. Wajahnya begitu mirip dengan Andre, kutatap lama wajah mungil dan memerah itu.


‘’Ya Allah, jangan biarkan aku menyia-nyiakan bayiku ini,’’ gumamku lirih.


Sesaat kemudian…


‘’Assalamua’laikum, Monik. Kamu udah bangun? Ini Tante bawain sarapan,’’ ucap tante Sisi yang diiringi dengan bunyi ketukan pintu dari luar.


‘’Wa’alaikumussalam. Udah, Tante. Pintu nggak dikunci kok, didorong aja.’’ sahutku dari dalam kamar.


Seketika berbunyi dorongan pintu, tante Sisi tampak membawa nampan yang kukira berisi sarapan untukku. Ya, setiap pagi tante selalu membawakan sarapan ke kamar, makan siang, dan bahkan makan malam juga. Kadang aku merasa segan, aku diperlakukan seperti ini oleh beliau yang bukan punya hubungan kekeluargaan denganku. Walaupun beliau adalah tantenya Ayu, adik kandung dari orang tua Ayu.


‘’Nih, Tante bawain sayur kelor untuk kamu. Biar ASI-nya banyak. Dan ada jus, buah-buahan dan ayam goreng juga,’’ jelas tante Sisi sembari meletakkan nampan itu di atas nakas. Sesaat aku menatap beliau dengan mata berbinar.


‘’Ya Allah, makasih banget ya, Tante. Udah repot merawat aku selama di sini, aku udah ngerepotin Tante loh,’’ lirihku pelan.


‘’Sama-sama, Tante nggak merasa direpotkan sama sekali kok, Monik. Kamu udah Tante anggap sebagai anak kandung Tante sendiri,’’ sahut wanita yang merawatku beberapa hari ini sembari tersenyum.


‘’Ya Allah, baik banget Tante ini ya. Udah sholehah dan baik banget lagi, tetapi kenapa beliau nggak kunjung dapat pengganti suaminya? Apa beliau memang nggak bisa melupakan suaminya?’ Ahh, ada-ada saja yang kupikirkan,’’ batinku.


‘’Kok bengong? Ayuk sarapan dulu, Monik. Si Dedek biar Tante yang memandikannya ya.’’


‘’Ta—tapi, Tan. Udah berapa kali Tante aja yang memandikan si Dedek, apalagi Tante juga kerja menjahit,’’ ucapku pelan.


‘’Nggak apa-apa, Monik. Tante senang banget kok bisa memandikan si Dedek. Lagian pesanan orang-orang udah siap dijahit kok, Monik,’’ sahut tante Sisi meyakinkanku.


‘’Iya, Tante. Makasih, Tan. Syukurlah kalo gitu.’’


‘’Sama-sama. Nah, sini si Dedek. Main dulu sama Oma ya, karena Adek siap minum ASI jadi tenangin dulu sebentar.’’ Kuberikan bayiku ke tante Sisi, lalu beliau meletakkan ke pangkuannya.


‘’Sarapan dulu, Monik.’’


‘’Iya. Tante udah sarapan?’’ tanyaku sembari meraih nampan di atas nakas.


‘’Udah dari shubuh malahan. Ya udah, Tante bawa si Dedek ke kamar Tante ya.’’


‘’Iya, Tante.’’ Beliau bergegas membawa bayiku. Dan aku segera menyantap sarapan yang telah dibawakan oleh tante Sisi.


Sesaat kemudian, usai sarapan. Kuraih obat yang tergeletak di nakas. Dan kembali kuminum obat yang diberikan oleh dokter seminggu nan lalu.

__ADS_1


‘’Oh iya, apa Tante nggak membawa pakaian ganti untuk bayiku?’’ tanyaku seketika.


‘’Duuh! Aku baru ingat, kan di luar ada pakaian bayiku. Mungkin aja udah kering kali ya, yang dicuci oleh Tante kemaren,’’ ucapku, sembari menepuk kening pelan.


Beberapa menit kemudian, kubereskan piring dan melangkah dengan pelan menuju wastafel. Kuhidupkan air kran.


‘’Monik! Biar Tante yang nyuci piringnya nanti,’’ kata tante Sisi dari dalam sana, mungkin karena mendengar bunyi air kran yang tengah kuhidupkan.


‘’Iya, Tan. Ini aku sedang cuci tangan aja kok,’’ sahutku.


Sebenarnya aku ingin sekali membantu pekerjaan tante Sisi, tetapi tak dibolehkan olehnya. Alasannya aku baru siap melahirkan dan operasi juga. Begitu baiknya hati wanita itu, bak malaikat. Dari wajahnya yang meneduhkan saja sudah bisa ditebak.


Dengan pelan kukembali melangkah ke kamar. Setibanya di kamar, benda pipihku berdering seketika. Kuraih dan membawanya menghenyak di ranjang. Kupandangi tertulis di layarnya ‘’Bu Karni’’.


‘’Assalamua’laikum, Monik!’’ ucapnya di seberang sana.


‘’Wa’alaikumussalam, Bu.’’


‘’Apa benar kamu di rumah Tantenya Ayu sekarang, Nak?’’


‘’I—iya, Bu.’’


‘’Ya Allah, kenapa nggak bilang-bilang sama Ibu?’’ Aku menghela napas berat.


‘’Ma’af, Bu. Soalnya aku buru-buru kemaren.’’


‘’Ya udah, nggak apa-apa. Oh ya, cucu Ibu mana?’’


‘’Si Dedek sedang bermain sama Tante Sisi, Bu.’’


‘’Oalah, padahal Ibu kangen banget sama cucu Ibu. Pengen mendengar suaranya.’’


‘’Makanya ke sini, Bu.’’


‘’Iya Ibu akan jemput kamu, lagian kamu akan nikah juga kan?’’


‘’Ma—maksud, Ibu?’’


‘’Andre akan segera menikahi kamu.’’


"Bukannya dia mau kuliah dulu di kampus impiannya," aku membatin.


‘’A—Andre nggak jadi kuliah.’’


‘’A—apa, Bu?’’ teriakku sembari membungkam mulut.


‘’Pihak sekolah udah tahu semuanya, bahkan pihak sekolah nggak mau membantu untuk mendaftarkan Andre di kampus-kampus impiannya.’’


‘’Bu, ma’afkan aku.’’


‘’Bukan kesalahanmu, Nak. Seharusnya dia pandai menjagamu. Dialah yang salah.’’


‘’Nasi udah jadi bubur. Sekarang sudah terjadi. Oh ya, gimana keadaanmu?’’


‘’Alhamdulillah aku udah mulai baikan, Bu. Di sini Tante Sisi selalu membuatkan makanan yang bergizi dan merawatku dengan baik. Beliau baik banget ternyata.’’


‘’Alhamdulillah, syukurlah, Monik. Ibu senang mendengarnya.’’


‘’Iya. Oh ya Bu, bagaimana dengan Nina, Bu?’’


‘’Wanita yang dijodohkan oleh Pak Ardi maksudmu?’’ aku hanya mengangguk saja, walaupun aku tahu bu Karni tak kan nampak jika aku tengah mengangguk.


‘’Kamu tenang aja, biar semua itu Ibu yang urus. Jangan dipikirin ya.’’


‘’I—iya, Bu.’'


‘’Jangan ragu gitu dong, Nak. Yakinlah kalo kamu akan menikah dengan Andre agar si Dedek punya ayah.’’


‘’Besok Ibu akan jemput kamu ke rumah Tante itu, kamu kirimkan alamat lengkapnya ya, Nak.’’


‘’Iya, Bu.’’


‘’Ya udah, udah dulu ya. Kamu jangan lupa makan obat, banyak istirahat dan jaga bayimu dengan baik. Assalamua’laikum.’’


‘’Iya. Makasih, Bu. Wa’alaikumussalam.’’


Sambungan telepon pun terputus, aku meletakkan kembali benda pipih itu di nakas.

__ADS_1


‘’Allah, kenapa aku ragu ya?’’


‘’Nggak, anakku butuh ayah,’’ batinku sembari menggeleng.


‘’Oh iya, Ayu belum kuberitahu kalo Bu Karni besok menjemputku.’’


Gegas kuraih kembali benda pipih itu dan menekan nomor kontak Ayu di aplikasi hijau itu.


Nomornya sibuk? Gimana kalau kukirim pesan saja. Aku bergegas mengetikkan pesan.


‘’Assalamua’laikum. Yu, aku mau nelpon kamu, tapi kamu sedang sibuk. Gini, besok Bu Karni menjemputku. Tadi beliau menelponku. Kamu ke sini besok ya,’’ tulisku di aplikasi hijau, langsung mengirimkan ke kontak ‘’Ayu Sahabatku’’.


‘’Ayu sibuk kali ya, nggak apa-apa. Asalkan pesannya udah kukirimkan, tinggal nunggu balasan aja dari Ayu,’’ lirihku pelan dan meletakkan benda pipih itu kembali.


Seketika pintu kamar diketuk oleh tante Sisi.


‘’Monik, Tante masuk ya?’’


‘’Iya, Tan. Nggak Monik kunci kok.’’


‘’Nah, ini Mamanya Dedek. Lama banget main sama Oma ya, Dek,’’ kata tante Sisi sembari memberikan si kecil padaku.


‘’Olala! Sayang Mama main sama Oma ya?’’ Aku mengecup keningnya dan menidurkan kembali di ranjang.


‘’Monik, ini Tante udah dapat nama untuk si Dedek, tapi gimana kalo Papanya nggak suka?’’ ucap tante Sisi sembari menghenyak di ranjangku.


‘’Wah, Alhamdulillah dong, Tan. Aku yakin Papanya juga suka. Siapa namanya, Tante?’’


‘’Beneran nggak apa-apa nih? Ntar Tante yang dimarahin Papanya si Dedek,’’ ucap tante sembari terkekeh. Aku hanya tersenyum.


‘’Beneran, Tan. Nggak apa-apa kok.’’


‘’Okelah, namanya Rafidan. Artinya suka menolong, apa kamu suka namanya?’’


‘’Ya Allah, bagus banget, Tan. Tapi—’’ aku tak mampu lagi untuk melanjutkan ucapanku.


‘’Apakah pantes anakku memakai nama itu?’’ batinku.


‘’Lah, kenapa kamu baik-baik aja, Monik?’’


‘’Ba—baik aja kok, Tante.’’


‘’Kamu nggak suka namanya atau bisa kita ganti yang lain, nanti Tante cariin lagi yang lebih bagus.’’


‘’Ja—jangan, Tan. Itu aja, udah bagus banget kok, Tante,’’ ucapku secepatnya.


Kupandangi wajah teduh tante itu tengah dilanda kebingungan,’’Ya udah, namanya Rafidan. Panggilan Rafi aja, gimana?’’


‘’Setuju banget, Tan.’’


‘’Alhamdulillah kalo gitu, nanti kalo ada perayaan juga boleh untuk merayakan pemberian namanya.’’


‘’Iya, Tante. Di rumah mertuaku aja,’’ sahutku secepatnya.


‘’Ya udah deh, Tente mau kerja dulu. Ntar kalo kamu butuh apa-apa panggil aja Tante ya,’’ kata Tante Sisi kemudian, lalu bergegas bangkit.


‘’Iya, Tante. Tapi, ma’af. Aku nggak bisa bantu Tante,’’ lirihku pelan.


‘’Kan udah Tante bilangin, kamu selesai melahirkan dan operasi juga, jadi harus bener pulih dulu. Tante biasa kerja sendiri jugak kok.’’


‘’Makasih banyak ya, Tante. Semoga Allah membalas kebaikan Tante.’’


‘’Sama-sama. Amiin Ya Robbal ‘aalamiin. Kalo gitu Tante kerja dulu ya.’’


Aku mengangguk dan tersenyum, sedangkan tante melangkah ke luar dari kamarku.


‘’Namamu Rafi ya, Sayang. Semoga namamu sesuai dengan sifatmu kelak, Nak. Walaupun Mama seperti ini,’’ lirihku pelan sembari mengecup keningnya. Dia masih tertidur pulas. Seketika benda pipih itu berdering. Kuraih dan kupandangi, ternyata balasan pesan dari Ayu.


‘’Wa’alaikumussalam, Monik. Ma’af ya, aku tadi sedang menelpon Bu Guru. Alhamdulillah, aku udah tahu kok dari Bu Karni, beliau menelponku. Ma’af aku nggak bisa besok ke rumah Tante, karena aku besok mengikuti tes. Kamu langsung pergi aja sama Bu Karni ya, kapan-kapan akan kutemui kamu ke sana.’’


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.

__ADS_1


See you next time!❤


Instagram: n_nikhe


__ADS_2