
‘’Assalamua’laikum, Monik. Apa kamu udah dapat kabar dari Bu Karni? Andre kecelakaan dan sampe sekarang belum sadarkan diri, dia sekarang di rumah sakit Medina.’’
Aku terkesiap membaca pesan yang masuk dari sahabatku itu. Bergegas aku membawa benda canggih itu duduk dan memutuskan untuk menghubungi Ayu langsung.
Berdering..
‘’Assalamua’laikum, Monik.’'
‘’Wa’alaikumussalam, Yu. Jadi Andre masih belum sadar sampe sekarang? Ya Allah.’’
‘’Iya, Monik. Aku kaget mendengar beritanya. Padahal aku sempet nampak dia sebelum kecelakaan itu terjadi, dia bersama si Nina di jalan.’’
‘’Aku juga melihat Andre di jalan ketika aku membawa si Dedek maraton.’’
‘’Trus dia melihat kamu juga nggak?’’
Aku menggeleng secepatnya,’’Nggak, Yu.’’
‘’Tapi kamu dari mana tahu berita ini?’’ lanjutku.
‘’Dion yang ngasih tahu sama aku. Dia yang menyaksikan ketika Andre kecelakaan dan dia juga yang membawa Andre ke rumah sakit. Begitu katanya ke aku,’’ jelasnya panjang lebar di seberang sana.
‘’Tapi sampe sekarang Andre belum juga sadar. Kecelakannya parah banget kata Dion,’’ lanjutnya yang membuat aku terhenyak.
‘’Ya Allah, Yu. Aku pengen banget ke rumah sakit melihat keadaannya. Biar bagaimana pun juga dia adalah Papa anakku,’’ kataku lirih.
‘’Ya Allah! Terbuat dari apasih hati kamu, Monik.’’
‘’Aku hanya mencoba untuk menerima semua ini, Yu. Dan aku ingin berdamai dengan masa laluku,’’ sahutku sambil tersenyum hambar, walaupun Ayu tak melihat senyumanku ini.
‘’MaasyaaAllah, Monik. Kamu benar. Sudah saatnya kamu berdamai dengan masa lalu. Aku yakin kamu bisa melewati semua ini.’’
‘’Ini semua karena atas support dan bimbingan kamu, Yu. Makasih banyak ya, teruslah memimbing dan mensupportku.’’
Seketika memekik benda canggihku pertanda baterai lobat. Aku mencas hanya semalam sampai sekarang belum kunjung kucas. Karena benda canggih itu tak begitu penting bagiku, hanya untuk melihat pengajian di youtube jika mataku enggan untuk terpejam di malam hari.
‘’Yu, udah dulu ya. Batreiku lobet. Assalamua’laikum.’’
Aku bergegas mengakhiri pembicaraan tanpa menunggu jawaban dari Ayu. Langsung kusambar cas yang terletak di nakas. Lebih baik aku kembali membaringkan tubuh. Kubiarkan benda canggih itu dicas dan melangkah ke tempat tidur untuk membaringkan tubuh.
__ADS_1
***
‘’Nak, makan dulu gih.’’ Terasa olehku sentuhan lembut tangan mama seiring dengan suara lembutnya. Membuat aku menggeliat.
‘’Nanti aja, Ma.’’ Mataku enggan untuk terbuka, ingin rasanya untuk melanjutkan tidur siang. Namun, perutku juga terasa keroncongan.
‘’Nggak bisa begitu dong, Monik. Nanti kamu sakit lagi. Kasihan si Dedek, apalagi kamu juga meng-Asi kan?’’ Ucapan mama mampu membuat aku membuka mata.
‘’Iya, Ma.’’
‘’Ya udah, cuci muka sana. Setelah itu baru makan siang ya. Mumpung si Dedek masih tidur.’’ Kusahut dengan anggukan pelan.
Wanitaku itu bergegas melangkah ke luar kamar. Aku masih duduk sambil mengumpulkan nyawa. Tiga menit kemudian, aku langsung melangkah ke bathroom
***
Aku mematut diri di cermin. Rambut sepinggang yang masih acak-acakan dan mukaku yang menggambarkan pikiranku saat ini. Begitu berantakan. Sepertinya lebih bagus jika aku mengenakan kerudung di rumah. Apalagi teman papa terkadang main ke sini.
Menurut pengajian yang kudengarkan di youtube, bahwa wanita muslimah diwajibkan menjulurkan kerudungnya ke dada dan tak boleh menampakkan auratnya pada lelaki yang bukan mahram. Walaupun aku si wanita pendosa hebat dan walaupun aku sangat minim ilmu pengetahuan agama yang kumiliki, tetapi setidaknya aku berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dan setidaknya aku mengamalkan ilmu yang sudah aku ketahui.
Aku bergegas meraih ikat rambut yang terletak di lemari, lalu mengikatkan ke rambutku dengan rapi. Kuambil kerudung yang diberikan oleh tante Sisi sebulan nan lalu. Kerudungnya tak pendek dan bisa menutupi dada. Ya, sewaktu aku menginap di rumah tante Sisi, beliau memberiku kerudung untuk dipakai di rumah. Karena aku waktu itu hanya membawa dua buah kerudung. Itu pun hanya untuk dipakai keluar rumah, kerudung segi empat.
Dan kata beliau, walaupun kita tak ada maksud negative untuk main ke luar, namun pikiran orang lain kita kan tidak tahu. Jadi, biar orang lain tak berdosa karena ulah kita, lebih baik di rumah saja. Aku kagum sekali sama beliau, pikirannya selalu saja positif dan tak mau orang lain berdosa karenanya. Kerudung pun tak pernah lepas di kepala, rajin mengerjakan ibadah yang wajib maupun yang sunnah, dan beliau juga pandai menjahit baju. Olahan tangan tante tak pernah gagal, pasti menghasilkan pakaian yang begitu indah dipandang oleh mata.
‘’Aku bukan yang dulu,’’ lirihku setelah memasang kerudung. Aku terus saja mematut diri ke cermin.
Tapi, apa aku pantas berkerudung seperti ini di rumah? Si wanita pendosa hebat. Seketika aku teringat ucapan Ayu, membuat aku menggeleng pelan. Ya, ini adalah langkah awalku untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Sekarang aku mulai yakin dengan penampilanku seperti ini. Baju lengan panjang bewarna cokelat, celana lebar bewarna hitam pekat, dan dilengkapi dengan kerudung bewarna cokelat polos. Seketika bunyi perutku mampu menyadarkan lamunan. Ia seperti menyumpah serapah, karena belum aku isi sama sekali.
‘’Monik! Ayo buruan makan dulu, Nak,’’ panggil mama di ruang sebelah.
‘’Iya, Ma.’’ Aku bergegas melangkah ke luar dari kamar menuju ruang makan.
***
Mata mama seketika membulat menatapku. Aku malah tersenyum lebar dan duduk menghenyak di sebelah mama yang terdapat kursi kosong.
‘’Ma? Ada yang salah dengan penampilanku?’’ tanyaku sambil melambaikan tangan ke arah mama, karena beliau menatap tanpa berkedip.
‘’Ah, enggak sama sekali, Nak.’’
__ADS_1
‘’Kamu berbeda sekarang. Tambah cantik kalo kayak gitu,’’ lanjut mama lirih. Aku tersenyum tipis dan menghela napas pelan.
‘’Do’akan aku ya, Ma. Supaya aku bisa jadi lebih baik lagi.’’
Mama tampak mengangguk,’’Mama akan selalu do’akan kamu, Nak. Mama akan selalu support kamu,’’ kata beliau sambil menepuk lenganku pelan.
‘’Makasih banyak, Ma.’’ Mama menyahut dengan anggukan lalu tersenyum, membuat aku semakin semangat saja menjalani hidup. Terlebih jika wanitaku memberikan senyuman penguat padaku.
‘’Ya udah, kita makan siang dulu ya. Mumpung si Dedek masih tidur.’’
Tangan mama tampak meraih piring dan menyodorkan padaku. Aku baru sadar dengan hidangan di meja. Tertata indah rendang daging, tempe, telur dadar dan ada sayur kelor. Membuat aku kepikiran si bibi dan mama Karni yang selalu menyiapkan sayur kelor untukku.
‘’Aku beruntung banget bisa kenal dengan kalian,’’ gumamku dalam hati.
‘’Monik? Kenapa? Kamu nggak suka sama sayur kelor ini?’’ Sepertinya mama tahu aku sedang menatap apa. Aku menggeleng cepat.
‘’Bukan begitu, Ma. Aku suka kok. Ta—tapi..’’
‘’Aku teringat ketika aku di rumah Mama Karni. Setiap hari itu aku selalu dibikini sayur kelor tanpa aku minta. Si Bibi yang bikini buat aku,’’ kataku lirih dan menatap sayur kelor yang tertata indah di meja.
‘’Ma’afkan Mama ya, Nak. Mama nggak bisa menjaga dan merawat kamu selama mengandung.’’ Membuat aku terkesiap dan menggeleng secepatnya.
‘’Kita makan aja langsung ya, Ma. Perutku udah bernyanyi dari tadi nih,’’ kataku dengan sengaja menyudahi pembicaraan dengan mama.
Jika bicara soal masa lalu tak kan pernah berkesudahan nanti dan luka hatiku yang sudah mulai kering malah akan basah kembali. Mama mengangguk dan senyuman terbit di bibirnya.
‘’Aku ambilin nasi untuk Mama ya.’’ Aku bergegas meraih piring di depan mama dan menambuhkan nasi, lalu melengkapinya dengan rendang daging serta tempe.
‘’Ini, Ma. Mau nambah lagi sambalnya?’’ Aku menyodorkan ke mama. Beliau terkekeh seketika.
‘’Ini mah kebanyakan, Nak. Nanti Mama malah kegemukan.’’ Membuat aku ikut tertawa kecil. Seakan-akan tak ada beban yang tengah kupikul. Entah kenapa wanita yang kupanggil dengan mama itu paling bisa membuat hari-hariku cerah dan lebih bewarna.
Bersambung..
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.
Terima kasih banyak buat Readers yang masih setia membaca novel ‘’Kemanisan Sesaat’’. Mohon supportnya ya dengan cara like, vote, komen dan share. Dan juga ikutin cerita ini sampe ending. Oke, semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
See you next time❤❤
__ADS_1
Instagram: n_nikhe