
(‘’Gugurkan kandunganmu itu!’’) balasnya di aplikasi hijau.
Degh! Apa? aku disuruhnya untuk menggugurkan kandunganku? Calon bayi yang tak bersalah sedikit pun. Ya, dia tak tahu apa-apa. Hanya saja aku dan Andre yang salah. Seketika kuteringat kata-kata Ayu, teringat ketika dia menguatkanku dan dia juga mengatakan jika aku menggugurkan kandunganku maka akan bertambah banyak dosaku.
‘’Arrrggghh!’’ aku mengacak rambutku. Dada ini terasa begitu sesak dan buliran bening mengalir begitu saja. Pikiranku kini benar-benar kalud dan aku sangat menyesali atas apa yang telah kulakukan dengan kekasih gelapku itu. Berbuat mau tetapi tak mau bertanggung jawab.
(‘’Aku mau ketemu kamu sekarang!’’) balasku yang tak merespon ucapannya.
(‘’Untuk apa?’’) kali ini dia bersikap dingin kepadaku setelah apa yang didapatkannya dariku. Dasar lelaki! Aku seperti permen karet yang habis sepah dibuang begitu saja. Aku begitu bodoh!
(‘’Aku perlu bicara denganmu,’’)
(‘’Okey!’’) balasnya singkat.
(‘’Kutunggu di cafe biasa,’’)
Aku bergegas memasang kerudung pashmina. Ya, walaupun dosaku begitu banyak. Setidaknya ini adalah langkah awalku untuk memperbaiki diri kembali.
‘’Ke mana, Monik?’’ tanya mama yang tengah sibuk menyapu rumah dan menoleh kepadaku sejenak.
‘’Mau ke luar sebentar, Ma,’’ sahutku dan bergegas menyalami punggung tangan mama.
‘’Hati-hati ya!’’ titah mama. Untung saja mama tak begitu memperhatikan kedua netraku. Bisa-bisa mama cemas dan mencurigaiku.
‘’Tunggu!’’ aku yang akan melangkah langkahku seketika terhenti.
‘’Ya, Ma?’’ aku menoleh.
‘’Kamu udah mendingan kan? Nanti takutnya kamu malah pusing di jalan, Monik,’’
Aku menghela napas pelan,’’Ma’afkan, Monik. Karena telah membohongi Mama dan Papa. Ma’af juga, karena Monik enggak bisa menjaga diri,’’
‘’Udah mendingan kok. Mama jangan khawatir, ya?’’
‘’Ya udah, Monik berangkat dulu,’’ mama tersenyum lantas mengangguk.
Beberapa jam kemudian. Aku duduk menunggu Andre di cafe tempat biasa kami nongkrong sepulang sekolah ataupun hari libur, kemudian dia pun datang. Lalu menghampiriku.
‘’Ada apa lagi?’’ ketus Andre, tatapan mata elangnya tak biasanya menatapku begitu. Sikapnya kini begitu dingin.
Kupandangi di sekitarku tampak tak ada pengunjung.
PLAAKK!! Satu tamparan mendarat di pipi kanannya.
‘’Apaan kamu, Monik?’’ bentaknya sembari memegangi pipinya yang kesakitan.
‘’Apaan? Kamu yang apaan! Setelah kamu mendapatkan semuanya dariku, kamu lepas dari tanggung jawabmu!’’ kali ini nada suaraku begitu tinggi.
‘’Nih, ambil! Gugurkan kandunganmu itu!’’ dia melemparkan uang yang tampak begitu banyak ke mukaku. Kali ini emosiku benar-benar sudah berada di ubun-ubun.
Kulemparkan uang itu dengan kasar kembali ke mukanya.
Seorang lelaki datang dan bergegas menarik kerah baju Andre.
‘’Loh mau bertanggung jawab apa enggak, hah?’’ ketusnya, tangan kanannya tampak mengepal dan rahangnya mengeras.
‘’Apa-apaan loh, Dion!’’ Dia tampak marah.
__ADS_1
‘’Loh yang apaan? Di mana hati loh, hah? Monik hamil gegara loh, dan loh nggak mau tanggung jawab! Loh lelaki atau banci sih!’’
‘’Okey, kalau loh nggak mau bertanggung jawab terhadap janin yang ada di dalam perut Monik. Gue yang akan bertanggung jawab!’’
Dion melepaskan tangannya dari kerah baju Andre dengan kasar. Seketika aku kaget. Apa maksud Dion? Dari mana Dion tahu semuanya? Atau dari Ayu? Tak mungkin, Ayu tak mungkin memberitahukan semua ini ke Dion, apalagi ini menyangkut aibku sendiri.
‘’Apa maksud loh seperti itu?’’ mata Andre memerah menahan amarahnya.
‘’Supaya calon bayi Monik punya Ayah. Gue masih punya hati, bukan kayak loh!’’ tunjuknya dengan telunjuk kiri mengarah ke Andre.
Seketika Andre termenung, dia masih bergeming berdiri.
‘’Okey! Gue akan tanggung jawab,’’ ucapnya santai.
‘’Gue pegang janji loh!’’ Dion kembali menunjuk Andre dengan tunjuk kirinya.
Andre hanya mengangguk, Dion pun berlalu meninggalkan kami. Tampak Andre sedang termenung dengan tatapan kosong.
‘’Ndre, kuharap kamu nggak akan bohong sama janjimu!’’ ketusku.
Dia beranjak dari duduknya tanpa sepatah kata pun, dan tanpa memperdulikan ucapanku, Ayu pun datang menghampiriku. Entah dari mana Ayu tahu kalau aku tengah berada di cafe ini.
‘’Yu!’’ panggilku pelan, dia hanya tersenyum. Matanya tak hentinya memandangi Andre dengan tatapan begitu tajam.
‘’Kamu harus tanggung jawab atas semua yang kamu lakukan terhadap sahabatku! Kalau nggak, kamu akan tanggung akibatnya!’’ nada suara Ayu naik. Baru kali ini aku melihat Ayu memarahi lelaki.
Andre hanya terdiam dan berlalu pergi begitu saja, entah dia takut dengan ancaman Ayu atau bagaimana, dia hanya terdiam. Aku memandangi Ayu.
‘’Duduk, Yu!’’ titahku pelan, karena pandangannya masih tertuju ke Andre yang semakin jauh melangkah dari sisi kami. Ayu pun langsung duduk dan menarik napasnya perlahan.
‘’Kamu tadi nggak di apa-apakannya kan, Monik?’’ tanya Ayu tampak cemas.
Ayu kaget seketika, matanya membulat,’’Oh, ya? Kenapa, Monik?’’
‘’Dia lari dari tanggung jawabnya. Setelah mendapatkan semuanya Andre malah menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku, Yu. Bayi ini tak bersalah seperti katamu padaku,’’ lirihku dengan nada suara bergetar.
‘’Ya Allah, astaghfirullah ‘al adziim. Dasar Andre!’’ tangan Ayu mengepal, wajahnya tampak menahan amarah.
‘’Lalu?’’ tanya Ayu kembali.
‘’Dion datang, dan mengancam Andre jika dia nggak mau bertanggung jawab. Dan akhirnya Andre terpaksa bertanggung jawab,’’ jelasku dengan buliran bening yang mulai jatuh di pipiku.
‘’Ya Allah. Untung ada Dion, ma’af kalau aku terlambat datang ke sini,’’ lirih Ayu dengan mata berkaca-kaca.
‘’Nggak apa-apa, Yu. Aku tahu kamu sibuk. Oh ya, dari mana kamu tahu kalau aku berada di sini?’’ tanyaku sembari menyeka buliran air mata.
‘’Aku teringat ketika kamu selalu dengan Andre, pasti tempat nongkrongnya di sini,’’
‘’Monik, katakan kepadaku jika Andre nanti enggak menepati janjinya. Aku akan bantu kamu semampuku,’’ Ayu memandangiku.
Aku mengangguk,’’Terima kasih, Yu. Tapi aku nggak mau merepotkan kamu,’’ ucapku lirihku.
‘’Husshh! Jangan bilang begitu. Aku ini sahabatmu. Kemarin aku sudah gagal menjagamu dan sekarang aku harus membantumu,’’ Dia meletakkan telunjuk di bibirnya.
‘’Kamu ikut aku sekarang, ya?’’ pinta Ayu yang bergegas berdiri.
‘’Kemana, Yu?’’ aku mengernyitkan kening.
__ADS_1
‘’Ada lah! Nanti kamu bakalan tahu juga. Kebetulan aku bawa mobil, yuk!’’ dia menggandeng tanganku. Allah! Pantaskah aku menyebut nama-Mu. Ayu tak berubah sedikit pun kepadaku. Dia sama seperti dulu. Pantaskah aku bersahabat dengan wanita sesholehah Ayu?
***
Hembusan angin menyelip dari balik kaca mobil lantas menerpa kerudungku, membuat mata terasa mengantuk, tetapi karena pikiranku begitu kalud membuat kedua netraku enggan untuk terpejam.
‘’Kita mau ke mana sih, Yu?’’ aku memandangi wanita sholehah di sampingku yang tengah sibuk menyetir mobil itu.
Dia tersenyum dan sesekali melirik ke samping ,’’Ada deh. Ntar lagi juga nyampe,’’ Dia masih fokus menyetir.
Beberapa menit kemudian, mobil Ayu berhenti dan dia menepikan mobil, lantas mematikan mesinnya. Lalu menoleh kepadaku.
‘’Monik yuk kita turun!’’ ajak Ayu. Aku pun bergegas turun. Kupandangi jalan di sekitarnya tampak orang-orang berlalu lalang. Ke mana sebenarnya aku dibawa oleh sahabatku ini?
‘’Yuk kita jalan hanya beberapa menit aja kok!’’ titahnya yang selesai memarkirkan mobil.
‘’Jangan bengong gitu dong. Aku ini sahabatmu, nggak mungkin aku akan macam-macam ke kamu,’’ Dia terkekeh.
‘’Bu—bukan gitu, Yu,’’ aku yang tadi banyak beban pikiran, tiba-tiba sedikit terhibur dengan sikap Ayu. Aku tersenyum.
Beberapa menit kemudian. Ternyata benar, kami telah sampai di sebuah taman yang dikelilingi berbagai macam jenis bunga yang begitu indah dipandang oleh mata. Dan di sana juga ada ayunan yang tersedia serta kursi santai yang dihias di dekatnya. Aku memang pecinta taman bunga, apalagi jika bunganya tumbuh mekar dan begitu indah. Sahabatku ini memang banyak tahu sesuatu hal tentang aku, mulai dari hobi, kesukaan dan hal yang kubenci sekali pun.
‘’Kamu senang nggak?’’ tanya Ayu tersenyum.
‘’Se—senang banget, Yu. Ini sangat indah,’’ lirihku dengan sumringah. Tak hentinya kedua netraku memandangi taman bunga di sekitarku.
‘’Syukurlah. Aku nggak ingin aja kamu terusan bersedih. Karena aku takut nanti bayi di perutmu ini kenapa-napa,’’ Ayu mengelus perutku yang masih tampak rata.
Degh! Ayu saja begitu perhatian ke calon bayiku ini. Sedangkan aku? Ya, aku tak mau membencinya, dia tak bersalah sedikitpun dan dia berhak hidup di dunia ini.
‘’Makasih banyak, Yu. Aku beruntung punya sahabat sepertimu,’’ lirihku memegang jemarinya. Dia pun mengangguk dan mengajak duduk di taman bunga.
Kupandangi di sekitarku, begitu indah. Pikiranku yang tadinya begitu kalud, kini mulai sedikit tenang. Dan berganti dengan bahagia serta terharu.
‘’Aku tinggal dulu ya, Monik. Kamu jangan ke mana-mana, aku hanya sebentar kok,’’ Ayu bergegas beranjak dari kursi santai.
‘’Ke mana? Janji jangan lama ya, Yu?’’
Dia hanya mengangguk dan berlalu dari hadapanku.
‘’Sungguh indah taman bunga ini. Bermacam-macam bunga yang tumbuh dengan jenis warna. Membuat mataku tak jenuh memandang,’’ lirihku sembari memandangi di sekelilingku.
Mataku tertuju ke arah sana, yang tak begitu jauh dari tempat dudukku. Ya, seorang wanita yang sedang hamil, tak lupa didampingi oleh suaminya yang tengah mengelus perut sang istrinya. Sungguh sangat romantis. Kapan aku bisa seperti itu?
Aku yang sedang memandangi dua insan yang tengah bermesraan itu, Ayu pun datang menghampiri. Mungkin Ayu tahu aku tengah memandang ke mana,’’Monik, hei! Ini untukmu,’’ Dia menyodorkan es krim untukku dan satu lagi untuknya, lalu menghenyak di sampingku.
‘’Makasih ya. Dari mana kamu dapatkan, Yu?’’ tanyaku seketika, karena kulihat di sini hanya ada taman bunga yang begitu luas.
Dia tersenyum,’’ Di sana, ada orang yang jual,’’ tunjuknya ke arah kiri.
‘’Makan dulu esnya. Ntar mencair loh,’’
Aku tersenyum dan langsung menyantap es krim yang diberikan oleh Ayu.
Seketika aku memandanginya yang tengah menyantap es krim,’’Ayu baik banget cantik lagi. Pasti banyak lelaki yang menyukainya, wanita terjaga dan selalu mengenakan kerudung,’’ batinku.
BERSAMBUNG. ***
__ADS_1
Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya. See you next time!
Instagram: n_nikhe