Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
POV Andre


__ADS_3


Pov Andre 2


‘’Kamu bicara juga dengan Mamaku, ya?’’



Ya, aku yakin mama pasti tak kan menyetujui aku menikah dengan Nina. Tapi aku pun sebenarnya tak mampu menolak perjodohan papa. Bagaimana aku mau menolak dijodohkan dengan seorang gadis yang sangat cantik, tak bosan mata memandang. Tetapi disatu sisi aku teringat dengan Monik. Aku sudah berjanji dengan pihak kepolisian. Ahh! Aku harus bagaimana lagi? Apa aku menikah saja dengan Monik untuk sementara dulu?


‘’Kok gitu, Ndre?’’ Dia tampak mengernyitkan kening sembari menyuap kebab yang telah terhidang sedari tadi. Aku hanya terdiam sembari tersenyum tipis lalu menyantap kebab yang disuguhkan di depanku.


‘’Papa sama Mamaku itu selalu beda pendapat. Jadi kamu harus bicara juga sama Mamaku, minta restu sama beliau,’’ jelasku setelah menyuap kebab.


‘’Ya udah deh, aku akan bicara dengan calon mertuaku itu. Dia pasti setujulah,’’ katanya sembari tersenyum dengan pede dan kembali menyuap kebab yang masih tersisa.


‘’Kamu nggak tahu aja, Nin. Mamaku bahkan udah merestui aku dengan Monik,’’ batinku.


‘’Ada apa sih, Ndre?’’ tanyanya dengan lembut, memberhentikan suapnya.


‘’Kamu sakit?’’ imbuhnya lagi, karena tak menanggapi ucapannya.


‘’Iya nih, tiba-tiba aku kurang enak badan,’’ sahutku lemas.


‘’Aku bawa ke rumah sakit, ya? Aku nggak mau kamu kenapa-napa.’’ Dia tampak mengkhawatirkanku.


Aku menggeleng secepatnya,’’Aku istirahat di rumah aja, Nin. Kita pulang aja, yuk!’’


‘’Kamu beneran nggak apa-apa? Masa pulang, baiknya kita ke rumah sakit dulu ya,’’ lirihnya yang terus menatapku.


‘’Nggak apa-apa, Nin. Aku hanya kurang tidur, jadi aku pengen istirahat di rumah,’’ sahutku bohong. Ya, sepertinya pikiran dan tubuhku butuh istirahat hari ini.


‘’Ya udah deh. Biar aku bayar dulu makanannya.’’ Dia bergegas berdiri. Tapi aku mencegahnya.


‘’Nggak, biar aku aja yang bayar ya,’’ tolakku sembari memainkan sebelah mataku.


‘’Ihh! Kamu ya, Ndre. Makasih loh.’’


Dia tampak tersenyum lebar. Aku hanya mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah ke kasir untuk membayar semua makanan yang telah dipesan tadi.


Beberapa menit kemudian.


‘’Yuk, Nin!’’ ajakku sembari menggandeng tangannya dan melangkah menuju parkiran mobil.


Aku bergegas menaiki mobil. Eh, ternyata aku belum membukakan pintu mobil untuk Nina hingga dia masih mematung berdiri di luar. Aku kembali keluar dari mobil.


‘’Ya ampun! Ma’af deh, Nin. Jadi kelupaan aku membukakan pintu untukmu. Maklum pengen cepat pulang biar bisa istirahat.’’ Aku kembali turun dan membukakan pintu mobil untuknya, dia hanya tersenyum tipis.


Beberapa saat kemudian..

__ADS_1


Di mobil aku hanya terdiam sembari fokus menyetir, Nina tampak memandangiku.


‘’Gimana ini? Siapa yang harus kupilih? Nina atau Monik?’’ bisik hatiku.


‘’Yang satu cantik banget dan seksi, lalu yang satu lagi udah terlanjur aku hamili. Aku pun udah berjanji dengan pihak kepolisian.’’


‘’Ndre? Kok diem aja sejak tadi? Kamu baik-baik aja kan?’’ tanya Nina sembari menelusuri wajahku, aku hanya memalingkan muka.


‘’Aku hanya kurang enak badan aja, Nin,’’ sahutku singkat.


‘’Kita ke rumah sakit dulu, ya?’’


‘’Nggak usah, Nin. Aku istirahat aja di rumah.’’


‘’Benar ternyata, apa yang dibilang Om Ardi,’’ rutuknya.


‘’Maksud kamu?’’ tanyaku heran, sesekali menoleh ke arahnya.


‘’Iya, kamu tuh keras kepala kata Papamu!’’ ketusnya dengan muka sebal. Membuatku terkekeh.


‘’Kok kamu ketawa sih?’’ dia mengernyitkan kening.


‘’Bagaimana enggak ketawa, Nin. Wajah sebal kamu tuh bikin aku gemes tau nggak.’’ Aku mencubit mukanya. Tampak muka Nina semakin merah merona, membuatku semakin terkekeh dan terus memandanginya.


‘’Aww! Sakit, Ndre!’’ jeritnya dengan suara manja.


‘’Apaan sih. Tuh lihat! Kamu harus fokus nyetir loh. Ntar menabrak gerobak Bapak itu lagi!’’ tunjuknya dengan bibir manyun.


‘’Iya, iya, Nin.’’ Aku tersenyum dan menggeleng.


Nina memang bisa membuat hari-hariku bewarna. Entah kenapa, aku begitu nyaman dengannya. Padahal kami baru saja ketemu dan kenalan, itu pun atas perintah papa. Papa dan temannya yang menjodohkan kami.


Beberapa menit kemudian, mobilku telah memasuki pekarangan rumah mewah milik Nina.


‘’Kamu nggak mampir dulu, Ndre? Mama nanyain kamu loh,’’ ujarnya entah sekadar basa-basi denganku atau memang sungguhan mamanya menanyakan aku. Dia memperbaiki rambutnya yang terurai panjang.


‘’Nggak, Nin. Kapan-kapan aja ya, sampaikan salamku sama Tante,’’ tolakku sembari mematikan mesin dan menepikan mobil.


‘’Nanti kusampaikan. Hati-hati, Ndre. Bye!’’ dia bergegas keluar dari mobil, dan melambaikan tangannya sembari tersenyum manis tampak lesung pipinya itu. Yang membuat jantungku semakin berdebar.


‘’Iya, Nin. Bye!’’ aku ikut melambaikan tangan sembari menunjukkan seulas senyuman, lalu menghidupkan kembali mesin mobil.


Beberapa menit kemudian, aku telah tiba di pekarangan rumah. Aku memparkirkan mobil di garasi terlebih dahulu, lalu bergegas memasuki rumah.


‘’Kayaknya pikiranku perlu ditenangkan,’’ bisik hatiku sembari memegang kepala yang terasa mulai pusing. Tadinya padahal aku hanya bersandiwara saja di depan Nina. Eh, kini malah pusing sesungguhnya.


‘’Ndre!’’ panggil suara yang tak asing lagi bagiku, seketika langkahku terhenti menuju kamar.


‘’Kamu dari mana sih?’’ tanya mama tampak kesal.

__ADS_1


‘’Pasti kamu pergi dengan perempuan itu!’’ ketusnya.


‘’Iya. Kenapa sih, Ma?’’


‘’Kamu itu mau menikah dengan Monik. Kamu sadar diri dong!’’ kali ini nada suara mama benar meningkat.


‘’Udahlah, Ma. Aku capek mau istirahat,’’ ucapku pelan sembari bergegas melangkah ke kamar tidur.


‘’Eh, kamu dibilangin nggak ngerti. Kalo orang tua bicara itu denger dulu napa. Kamu sudah berani ngelawan Mama yang lahirin kamu, hah?’’ ketus mama dengan emosi, tampak muka yang mulai larut senja itu memerah.


Itu adalah jurus mama, jika aku tak mendengarkan ucapan mama, beliau selalu mengeluarkan kata-kata itu. Aku pun tak tega memandangi mama, namun apalah dayaku. Disatu sisi aku mau bertanggung jawab atas perbuatanku ke Monik dan disatu sisi lagi aku ingin menikahi Nina, wanita yang dijodohkan papa untukku.


Aku terasa sulit untuk menolak perjodohan dan permintaan papa, karena beliau bisa saja melakukan apapun yang dia mau jika permintaannya ditolak. Termasuk mencelakai Monik, apalagi beliau sangat membenci Monik. Apalagi Nina adalah wanita cantik, idaman semua lelaki di luar sana, termasuk aku. Tentu aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Tetapi, bagaimana dengan Monik? Ahh! Apa yang harus kulakukan?


‘’Ma, aku dengerin kata Mama kok. Nanti kita bicara lagi ya. Ma’af aku harus istirahat sebentar,’’ ucapku pelan, mencoba menyahut kata mama.


‘’Nah gitu dong, kamu harus dengerin kata Mama. Janji ya? Nanti kamu harus bicara lagi dengan Mama. Ya udah, sana istirahat.’’ Suara mama mulai pelan dan agak sedikit tenang.


‘’Iya. Aku ke kamar dulu ya, Ma.’’ Gegasku melangkah ke kamar.


Kupandangi langit-langit kamar dengan pikiran yang menerawang.


‘’Kayaknya impianku untuk kuliah benar lenyap begitu aja deh.’’ Aku mencekam kasur dengan tanganku dan memegangi kepalaku seketika.


‘’Arrrgghhh!’’ aku mengerang frustasi. Memikirkan semua masalah yang datang menimpaku, semuanya juga salahku.


Aku telah menghamili Monik tentu harus bertanggung jawab. Dan untung saja pihak sekolah tak mengetahui ini semua, karena Monik beralasan sakit dan pindah sekolah, nasib baik bagiku yang masih bisa melanjutkan sekolah, masih berkesempatan bisa mengikuti UN. Kini aku telah selesai UN dan sudah mendapatkan nomor kelulusan.


Ya, walaupun belum tentu aku bisa melanjutkan pendidikanku ke Universitas impianku selama ini. Masih teringat olehku waktu itu, setiap kali guru sekolah bertanya di kelas membuat dadaku bergemuruh dan rasa takut menghantui, wajahku mungkin pucat pasi. Untung teman sekelasku tak memandang ke arahku, tetapi pernah mereka sekali bertanya kepadaku.


‘’Ndre, kok Monik nggak masuk-masuk lagi sekolah sejak dia sakit. Apa dia pindah? Atau berhenti?’’ tanya salah seorang teman kelasku seketika itu.


‘’Humm! Anu. A—aku nggak tahu. Pindah kali,’’ sahutku gegalapan dan dengan keringat dingin menetes begitu saja di wajahku seketika kuusap perlahan.


‘’Aneh deh, masa pacar kamu sendiri nggak tahu.’’ Dia tampak heran dan menggeleng kepala, berlalu meninggalkanku. Untung dia tak banyak tanya lagi.


Sejak itu aku tak mau nongkrong dengan teman sekelasku, kecuali Bagas. Dia adalah sahabatku sekaligus sepupuku. Ya, aku lari dari rumah lalu nginap di rumah Bagas. Karena kurasa aman dan ternyata kusalah mengira, beberapa bulan kemudian Monik, Dion dan dua orang polisi datang menjemputku ke rumah Bagas. Tentu membuatku kaget seketika.


Dan karena aku tak mau membekam di penjara, terpaksa aku berjanji akan bertanggung jawab semua yang telah kulakukan terhadap Monik. Tapi papa juga menjodohkanku dengan anak temannya. Aku harus bagaimana? Nina perempuan yang sangat cantik dan kaya raya, sedangkan Monik juga anak orang kaya dan wanita yang kuhamili. Ahh! Apa aku menikahi keduanya saja? Apa aku sanggup?


Bersambung.


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Oh iya, jika ada yang komen dan menantikan lanjutan ceritanya akan aku usahakan update 2 bab setiap harinya, tapi dengan syarat harus komen dan membaca setiap kali aku update ya. Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.


See you next time!❤


Instagram: n_nikhe

__ADS_1


__ADS_2