Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Bangkai yang Selama Ini Kututupi


__ADS_3

Pagi-pagi seperti biasanya aku marathon keliling di sekitar kost, kata calon mertuaku harus rajin marathon di pagi hari biar mudah proses melahirkan. Aku melangkah dengan napas terengah-engah, makin ke sini terasa sulit dan berat untuk melangkah olehku. Mungkin karena usia kandunganku yang sudah cukup tua.


‘’Capek banget,’’ gumamku sembari menyeka keringat yang sejak tadi bercucuran.


Sepertinya aku harus istirahat dulu. Ya, di depan warung itu aja kali ya. Dengan langkah gontai aku melangkah ke warung yang tak jauh dari tempatku berdiri, ya 3 langkah sudah sampai di sana. Aku menghenyak di kursi kayu.


‘’Ka—kamu, Monik?’’ suara yang tak asing lagi bagiku mampu membuyarkanku, dia tampak kaget, dan kelihatan jijik melihat perutku yang membesar. Saking kagetnya dia menutup mulutnya seolah tak percaya dengan apa yang dilihat di depan matanya.


‘’I—Ibu Nirma?’’ mataku terbelalak tatkala menatap wanita muda yang tegak mematung di sampingku.


Allah! Kenapa aku harus ketemu dengan wanita ini? Beliau guru mata pelajaran Fisika di kelasku. Pasti beliau kaget dan tak percaya melihat keadaan tubuhku yang jauh berbeda, apalagi dengan perut membesar. Oh iya, aku lupa. Guru di sekolah belum ada yang tahu jika aku berhenti sekolah karena hamil di luar nikah. Sepertinya bu Nirma adalah guru pertama yang tahu tentang kehamilanku ini. Dengan bu Nirma mengetahui semua ini, kuyakin beliau akan membocori tentang rahasiaku ini ke guru-guru yang lain. Bagaimana ini?


‘’Jadi se—selama ini kamu nggak masuk sekolah itu gara hamil?’’ tanya wanita berseragam itu, tiada putusnya memandangiku dari bawah hingga ke atas.


Aku mengangguk dengan pelan. Tak tahu harus bicara apalagi. Mulutku seakan bungkam dan terkunci. Bergegas kubangkit dari duduk. Aku ingin pulang saja ke kost. Takut guruku itu menyerangku dengan banyak pertanyaan.


‘’Tunggu! Kamu mau ke mana, Monik? Hah?!’’ wanita berseragam itu bergegas mencekal tanganku, membuatku sulit untuk melangkah.


‘’Saya mau pulang, Bu,’’ lirihku pelan sembari berusaha melepaskan cekalan tanganku dari bu Nirma, tapi nihil kekuatan beliau mengalahkan kekuatanku.


‘’Saya mau bicara dengan kamu, sebentar!’’ ketusnya dengan suara nada tinggi.


Baru kali ini aku mendengar suara beliau yang terdengar seperti menahan amarah. Kuedarkan pandangan ke warung di depanku, masih sepi. Kembali kududuk di kursi yang kududuki tadi. Bu Nirma pun ikut duduk walau dengan muka memerah dan menatapku nanar.


‘’Siapa yang menghamilimu?’’ tanyanya sembari menatap perutku yang buncit.


Seketika buliran air mataku begitu saja luruh. Aku menggeleng secepatnya dengan deraian air mata.


‘’Jawab!’’


Aku hanya bisa diam membisu dengan deraian air mata. Aku harus berkata apa? Hanya air mataku yang bicara.


‘’Baiklah, kalau kamu nggak mau menjawab dengan jujur. Setidaknya saya sudah tahu apa penyebab kamu enggan untuk masuk sekolah!’’ ketusnya sembari tersenyum sinis. Dan melipat tangan di dada. Aku Hanya diam membisu, hanya air mataku yang menggambarkan perasaanku saat ini dan apa yang tengah kurasakan.


‘’Tapi ingat! Jika ketahuan kalo yang menghamilimu itu sekelas dengan kamu, dia akan menanggung akibatnya! Huh, mengotori sekolah saja!’’ wanita berseragam itu menunjukku dengan telunjuk kirinya, dia menatapku jijik dan tatapan tajam.


Seketika teringat olehku, Andre yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya ke kampus impiannya. Jika bu Nirma tahu siapa ayah dari bayi yang kukandung, tentu impian Andre untuk melanjutkan pendidikannya akan kandas begitu saja.


Aku tahu bagaimana bu Nirma, jika dia tahu siswanya melanggar aturan norma dan agama, maka dia tak kan segan-segan untuk melakukan sesuatu. Ya, walaupun Andre berhasil lulus di SMA, karena kejadian ini begitu tertutup rapat dan aku yang memutuskan untuk keluar dari sekolah. Awalnya alasanku sakit dan telah lama Ayu membantuku untuk mengatakan bahwa aku pindah dari sekolah.


‘’Untung saja kamu sadar dengan perbuatan kamu dan keluar dari sekolah. Kalo nggak, membuat malu sekolah saja! Bentuk diam-diam, ternyata diam menghanyutkan!’’ dia bergegas bangkit dan menatapku tajam, lalu bergegas meninggalkanku begitu saja.


‘’Akhirnya bangkai yang selama 9 bulan kututupi tercium juga,’’ lirihku dengan suara bergetar di sela isakan tangisku. Tubuhku terasa lemas rasanya, dada terasa sesak dan bergemuruh.


‘’Aku memang wanita kotor, aku mamang wanita bodoh!’’ hardikku kepada diriku sendiri.


‘’Ya, aku harus pulang ke kost untuk menenangkan pikiranku.’’ Kuseka buliran air mata perlahan dan bangkit, lalu melangkah menuju kost. Dengan langkah tertatih kumenelusuri lorong-lorong, tiba-tiba berhenti mobil di sampingku dan membuka kaca spionnya.


‘’Loh, Monik? Kamu kenapa?’’ tanya Ayu heran.

__ADS_1


‘’A—aku—‘’


‘’Yuk masuk ke mobil! Biar kuantar, nanti di mobil kita cerita ya.’’ Dia bergegas membukakan pintu mobil untukku, tanpa kata aku hanya mengangguk dan memasuki mobil Ayu.


***


‘’Minum dulu, Monik!’’ Ayu mengulurkan sebotol air mineral kepadaku, sembari fokus pandangannya ke depan karena tengah menyetir.


‘’Makasih ya, Yu,’’ ucapku pelan dan meraih botol itu, lalu menyeruputnya.


‘’Sama-sama, gimana? Udah tenang kan?’’ tanya Ayu melirik sejenak ke arahku, aku hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum tipis.


‘’Kamu ada masalah? Cerita dong ke aku, jangan diem aja.’’


‘’Iya, Yu. A—aku ketemu sama Bu Nirma tadi.’’


‘’Apa? Kok bisa, Monik?’’ dia kaget seketika.


‘’Iya, tadi ketika aku marathon. Aku berhenti di depan warung, berniat mau beli air juga dan sekalian melepaskan penatku. Bu Nirma datang begitu saja,’’ jelasku dengan suara bergetar.


‘’Terus, Bu Nirma udah tahu semuanya?’’ tanya Ayu kembali, dia masih fokus menyetir sesekali melirik ke arahku.


Aku mengangguk perlahan, tak terasa buliran air mataku jatuh kembali.


‘’Astaghfirullah ‘al adziim, termasuk siapa yang menghamilimu?’’


Aku menggeleng pelan,’’ Aku nggak jawab ketika beliau nanya, dan katanya Bu Nirma akan menyelediki semuanya walaupun aku nggak ngasih tahu. Jika yang menghamiliku adalah teman sekelas beliau pasti akan memberikan hukuman,’’ jelasku dengan deraian air mata.


‘’Iya, Yu. Karena ada kamu membuat aku jadi kuat dan sabar, kalo nggak ada kamu, aku nggak tahu entah gimana hidupku.’’


‘’Aku mengerti, do’akan aku ya, Yu. Do’akan aku agar bisa melewati ini semua dan agar bisa berubah. Kembali ke jalan-Nya.’’


‘’Kamu jangan bicara kayak gitu, aku yakin kamu pasti orang yang kuat dan sabar kok. In syaa Allah aku akan bantu do’a. Tetap semangat ya.’’ Dia tersenyum.


Aku mengangguk,’’Sekali lagi makasih banyak ya, Yu. Kamu adalah sahabat baikku yang pernah aku kenal dan selalu mengajakku untuk berbuat baik. Semoga Allah membalas kebaikanmu, aku beruntung punya sahabat kayak kamu.’’


‘’Sama-sama, Monik. Itu adalah tugasku sebagai sahabatmu, aamiin Ya Rabbal ‘aalamiin.’’


Ayu kembali fokus menyetir dan kami hanya larut dalam pikiran masing-masing.


‘’Oh ya, ini uang hasil penjualan motormu kemaren.’’ Ayu menyerahkan amplop.


‘’Penjualan motor?’’ tanyaku kembali.


‘’Motor hadiah dari Andre ketika kamu ulang tahun, masa nggak ingat sih.’’


‘’Oh iya, ma’af aku jadi lupa. By the way makasih banyak ya, Yu. Kamu selalu ngebantu aku.’’ Ya, aku lupa bahwa Andre dulu pernah memberikanku hadiah yang begitu mahal harganya, motor.


‘’Nggak apa-apa. Sama-sama, udah tugas aku ngebantu sahabatku sendiri.’’

__ADS_1


Aku bergegas meraih amplop itu dan mengeluarkannya separuh,’’Ini untuk kamu.’’ Aku menyodorkan separuh uang ratusan.


‘’Apaan sih kamu, Monik. Nggak usah, ini tuh buat biaya melahirkan kamu.’’


‘’Alhamdulillah aku ada uang belanja kok. Kamu tuh butuh biaya yang banyak, Monik. Apalagi Andre nggak bertanggung jawab sampe sekarang,’’ imbuhnya sembari menatapku dengan tatapan iba, lalu memegang jemariku.


‘’Ta—tapi bagaimana caraku untuk membalas semua kebaikanmu, Yu?’’ tanyaku lirih.


‘’Kamu bisa membalasnya dengan bertaubat, kembali kepada jalan-Nya. Itu sungguh membuatku sangat bahagia rasanya.’’ Allah! Katanya sungguh menusuk relung hatiku ini. Seketika aku termenung.


‘’Apakah ini yang dinamakan sahabat jannah? Ya Allah, hatiku sungguh tersentuh. Ta—tapi dosaku sebanyak ini, apakah Allah mau mengampuniku?’’ batinku.


‘’Monik! Aku udah berapa kali bilang ke kamu. Allah Maha Pengampun, asalkan kita mau bertobat dan nggak akan mengulangi kesalahan yang sama,’’ lirihnya disertai anggukan. Mungkin dia tahu apa yang tengah aku pikirkan.


‘’Do’akan aku ya, Yu. Dan tolong bimbing aku untuk menjadi lebih baik lagi.’’


‘’Aku akan selalu mendo’akan kamu, kita sama belajar agar menjadi lebih baik lagi.’’


‘’Ya udah, sana! Kamu pasti butuh istirahat.’’ karena kami sibuk bercerita, tak terasa sudah tiba di depan kost.


‘’Kamu nggak mampir dulu nih?’’ tanyaku sembari tersenyum.


‘’Aku lagi buru-buru, Monik. Lagian nanti jika udah ada keponakanku, setiap hari aku juga bakalan mau mampir ke sini,’’ ucapnya dengan terkekeh.


‘’Ahh, kamu bisa aja. Janji ya? Awas kalo enggak!’’


‘’Iya, iya. In syaa Allah. Ya udah, kamu istirahat dulu sana!’’


‘’Ngusir nih,’’ sahutku tertawa lepas.


‘’Lebih tepatnya nyuruh kamu istirahat, biar calon babynya sehat, dan ingat, jangan banyak pikiran.’’


Aku mengangguk perlahan,’’ Siaap, Bos.’’


‘’Ya udah, aku ke dalam dulu. Kamu hati-hati ya bawa mobilnya, makasih banget kamu udah mau ngantarin aku.’’


‘’Iya, sama-sama. Kamu kayak orang asing aja. Aku nih sahabatmu loh. Jangan bicara kayak begitu ahh,’’ sungutnya, yang membuat aku terkekeh. Aku mengangguk dan bergegas keluar dari mobil milik Ayu. Kututup perlahan pintu mobilnya.


‘’Dadaaa!’’ Ayu melambaikan tangan, kubalas pula dengan lambaian tangan serta senyuman.


Aku bergegas memasuki kost sembari menenteng amplop yang berisi uang hasil penjualan motorku.


‘’Sebaiknya aku istirahat dulu. Pikiran dan tubuhku terasa lelah banget hari ini.’’ aku bergegas menghenyak di ranjang yang cukup sederhana itu. Tetapi seketika terdengar suara begitu heboh di luar sana. Ya Allah, ada apa lagi ini? Atau….?


Bersambung


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.

__ADS_1


See you next time!❤


Instagram: n_nikhe


__ADS_2