Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Diusir?


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan usia kandunganku. Yang tak pernah kusangka akan hamil di luar nikah dan tak pernah kuinginkan kehadirannya, terkadang aku benci dengan janin yang ada di rahimku ini. Tetapi aku terkadang teringat dengan nasihat sahabatku, dia adalah Ayu. Yang selalu ada untukku, walaupun dengan keadaanku seperti ini dia tak pernah membenciku. Aku yang sedang terhanyut dalam lamunan mama pun memasuki kamarku dengan tergesa-gesa.


‘’E—eh, Mama. Ada apa, Ma?’’ tanyaku terbata. Mama tampak tak seperti biasa, seperti sedang menyembunyikan sesuatu, aku pun tak tahu.


‘’Mama ingin memberikanmu jamu untuk mempelancar h*id,’’


Degh! Apa? Jamu untuk mempelancar h*id? Jika kuminum tentu aku akan keguguran.


Bagaimana ini? Atau? Mama benar mencurigaiku selama ini. Dadaku terasa begitu sesak. Aku mencoba mengatur napasku perlahan. Mama masih berdiri sembari memegang segelas jamu.


‘’Monik!!’’ nada suara mama benar-benar naik.


‘’A—anu. Ma’af, Ma,’’ Tenggorokanku terasa tercekat dibuatnya.


‘’Kamu takut minum jamu ini? Ternyata memang bener kecurigaanku selama ini!’’


PLAAKKK!!


Satu tamparan mendarat di pipi kananku. Aku kaget dan meringis kesakitan. Apa mama sudah tahu semuanya? Dari mana mama tahu?


‘’Ma—Mama—’’ lirihku dengan buliran air mata membasahi pipi, sembari memegang pipi yang terasa perih.


‘’Apa maksud dari pesanmu itu? Hah? Jawaab!’’ emosi mama benar-benar tak bisa dikendalikan lagi, sehingga tangannya spontan tadi menampar pipiku, matanya memerah, buliran bening mulai membasahi pipinya dan mengguncang tubuhku.


‘’Pe—pesan apa maksud Mama?’’ tanyaku pura-pura tak mengerti.


‘’Pesan di hanphonemu!’’ teriak mama. Sembari meraih ponselku dengan kasar. Apa? Jangan-jangan mama sudah membaca semua pesanku. Argghh! Kenapa aku tak menghapusnya?


‘’Ini! Benar jika aku curiga terhadapmu!’’ Mama memperlihatkan semua pesan itu dengan kasar. Benar, mama sudah tahu semuanya. Aku tak mampu berucap, hanya terdiam dengan buliran air mata yang terus menganak. Hanya air mata yang bicara.


‘’MONIIIIK! JAWAB! APA KAMU SEDANG HAMIL SEKARANG?’’ kali ini mama benar-benar tak dapat mengendalikan emosinya. Hingga tangannya hampir melayang kembali ke pipiku.


Papa pun bergegas menghampiri,’’ Ya Allah! Ada apa ini? Istighfar, Ma!’’ lirih papa yang memegangi tangan mama.


‘’Istighfar katamu, Pa? Anakmu ini yang seharusnya kamu suruh istighfar dan bertaubat!’’ ketus mama menunjukku dengan tunjuk kirinya.


‘’Apa maksud, Mama?’’ papa semakin bingung dan keningnya mengernyit.


‘’Anakmu ini ha—hamil!’’ ketus mama dengan buliran air mata membanjiri pipinya, sedangkan papa tampak kaget dan mengacak rambut.


‘’APAA? KAMU JANGAN BERCANDA, MA!’’ bentak papa.


‘’Papa tanya aja sendiri sama anak kesayanganmu itu!’’ Mama memijit keningnya yang terasa pusing.


‘’Apa benar itu, Monik? Jawab!’’ bentak papa.


Aku hanya mengangguk perlahan dengan buliran air mata yang tak henti-hentinya.


PLAAKKK!! Kali ini aku mendapat satu tamparan lagi dari lelaki yang pertama kucintai, lelaki yang selama ini begitu sangat menyayangiku


‘’PERGI! KAMU PERGI DARI SINI! AKU NGGAK MAU PUNYA ANAK NGGAK TAHU DIRI KAYAK KAMU. SUDAH KUDIDIK KAMU SEBAIK MUNGKIN! TAPI APA? APA YANG KAMU LAKUKAN!’’ emosi papa benar memuncak. Kata-kata yang tak pernah keluar dari mulutnya sekarang keluar untukku. Lelaki yang selama ini memperlakukanku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Kini tak lagi tampak kasih sayang itu di netranya. Hanya kebenciaan dan kekecewaan.

__ADS_1


‘’KAMU NGGAK BOLEH TINGGAL DI SINI! PERGIII!’’ Papa menyeretku keluar rumah dengan kasar, tanpa membawa baju pun kecuali yang hinggap di tubuhku. Sedangkan mama berteriak dan menangis histeris di dalam rumah.


‘’Pa!’’panggilku dengan deraian air mata. Dan mendekat ke arahnya.


‘’JANGAN KAU PANGGIL AKU PAPA! PERGI DARI SINI!’’ Papa mengunci gerbang dan mendorong tubuhku hingga jatuh ke tanah.


‘’Arrgghhhh!!’’ Aku mengerang kesakitan dan memegang perutku.


‘’Paaa! Maaa!’’ teriakku sembari berderaian air mata.


Allah! Kenapa semua ini terjadi? Apakah ini hukuman untukku? Ya, ini pantas untukku. Dengan mudahnya aku menyerahkan keh*rmatanku kepada seorang lelaki yang belum halal untukku, dengan mudahnya aku mencicipi kemanisan yang bersifat sesaat, dan aku berbuka bukan pada waktunya. Pikiranku begitu kalud, kepalaku terasa pusing, perutku juga terasa sakit, dan pemandanganku seketika kabur.


Beberapa menit kemudian, bau minyak kayu putih terasa menyengat olehku. Aku membuka mata perlahan. Samar kulihat wajah yang taka sing bagiku. Ayu?


‘’Alhamdulillah! Kamu udah sadar, Monik,’’ lirih Ayu yang duduk di tepi ranjang.


‘’A—aku di mana?’’ tanyaku sembari memegang kepala yang masih terasa pusing.


‘’Kamu di rumahku, Monik,’’ Seketika aku kaget dan bergegas duduk, walaupun dengan kepala yang masih terasa pusing.


‘’Jangan duduk dulu, Monik. Kamu harus istirahat!’’ Ayu kembali membantu untuk merebahkan tubuhku.


‘’Ta—tapi, aku nggak mau nanti gara-gara aku kamu kena marah sama orang tuamu,’’ lirihku dengan buliran air mata.


‘’Husshhh! Jangan ngomong seperti itu. Semuanya biar aku yang ngatur ya. Kamu istirahat dulu!’’ Dia menempelkan jari telunjuknya di bibir.


‘’Makasih banyak, Yu. Kamu masih mau membantuku, orang yang sangat banyak dosa ini.’’ Buliran air mata membasahi pipiku.


‘’Iya, Yu. Bantu aku ya? Untuk belajar jadi lebih baik dan rajin beribadah, kuharap Allah mau mengampuni semua kesalahan yang telah kuperbuat,’’


‘’In syaa Allah. Allah itu Maha Pengampun, Monik. Asalkan kita benar-benar tobat dan tak mengulangi lagi kesalahan kita,’’


‘’Kamu istirahatlah! Aku mau membantu Bunda menyiapkan makanan siang,’’ Dia bergegas beranjak.


‘’Yu, tunggu!’’seketika aku menarik tangannya, dia pun menoleh.


‘’Kamu yang membawa dan menemukanku?’’ tanyaku memandanginya.


Dia mengangguk perlahan,’’Aku berniat ke rumahmu. Dan setelah sampai di depan gerbang, kulihat kamu pingsan dan aku yakin ada sesuatu yang terjadi padamu. Makanya kubawa ke sini,’’ jelasnya dengan senyuman khas miliknya.


‘’Ta—tapi bagaimana dengan Bunda dan Ayah, beliau pasti—’’ aku yang belum selesai bicara dia memotong pembicaraanku.


‘’Huusshh! Kamu nggak usah khawatir. Yang penting sekarang fokus sama kesehatan kamu sama janin yang ada di rahimmu,’’ lirih Ayu yang hampir tak terdengar olehku. Mungkin dia takut jika kedua orang tuanya akan mendengar pembicaraan kami.


‘’Aku tinggal dulu ya. Jika kamu mau air atau apapun itu, aku akan ke sini lagi,’’ Dia bergegas melangkah keluar dari kamarnya.


Aku memegang kepalaku yang masih terasa pusing, terbayang olehku semua kejadian tadi. Ingin segera aku mengakhiri hidupku. Perlahan aku berdiri dengan menumpu berat badanku ke dinding. Dan mencari sesuatu. Ya, itu dia. Dengan dada sesak kuraih, buliran air mataku terus berjatuhan. Dan seketika,


‘’Astaghfirullah ‘al adziim! Istighfar, Monik! Apa yang kamu lakukan? Ini nggak akan menyudahi masalahmu!’’ dia mengambil paksa benda itu. Seketika tubuhku luruh ke lantai.


‘’Aku capeek, Yuu! Aku capek!’’ teriakku dengan buliran air mata.

__ADS_1


‘’Bangunlah! Kalau kayak gini, Bunda dan Ayah akan mengetahui kejadian yang kamu alami. Jangan sampai itu terjadi,’’ Ayu menyuruhku bangun dan membantuku untuk berdiri. Lantas memelukku dengan erat. Aku menumpahkan segala rasaku.


Ayu mengelus punggungku,"Udah, ntar tangismu kedengaran sama Ayah dan Bunda loh," aku menghela napas pelan dan melepas pelukan pelan.


Dia mengantarkanku kembali ke tempat tidurnya, ‘’Sudah kubilang, bunuh diri itu nggak akan menyelesaikan masalah! Di dunia memang iya urusanmu selesai. Tetapi, di akhirat? Nggak, Monik. Kamu akan meninggal dalam keadaan sesat. Kamu akan sengsara di sana! Belum lagi kamu yang belum bertobat. Apa kamu mau, hah? Coba kamu renungi,’’ jelas Ayu dengan tatapan sendu.


Aku termenung seketika dengan tatapan kosong. Apa yang dikatakan oleh Ayu, ada benarnya juga. Kenapa pikiranku begitu singkat? Allah! Pantaskah aku menyebut nama-Mu?


‘’Sebentar!’’ titah Monik. Dia meraih mukenah dan sajadah memberikan kepadaku, aku menggeleng perlahan.


‘’Ambillah! Kamu butuh ini! Aku yakin hatimu akan tenang,’’ Aku masih belum meraih mukenah dan sajadah itu dari tangan Ayu.


‘’A—apa aku pantas memakai ini?’’ ucapku terbata sembari memandangi yang tengah dipegang oleh Ayu.


‘’Monik, sudah aku bilang Allah Maha Pengampun. Kita aja yang nggak tahu. Bukan masalah pantas atau nggak, yang jadi masalah itu maukah kita bertobat kepada-Nya dengan tobat nasuha atau malah membiarkan dosa kita menumpuk begitu saja,’’ jelas Ayu dengan mata berbinar.


‘’Ma—maksud dari tobat nasuha itu apa?’’ tanyaku polos, saking minimnya ilmu agamaku.


Dia malah tersenyum,’’Tobat nasuha itu adalah tobat yang sungguh-sungguh karena Allah. Dan berjanji nggak akan mengulanginya lagi,’’ jelas Ayu kembali. Aku manggut-manggut.


‘’Ya udah! Kamu sholat dulu gih! Biar hatimu lebih tenang dan minta ampunlah kepada-Nya!’’ dia menyodorkan kembali mukenah dan sajadah. Tanpa berpikir lagi, aku langsung mengambilnya. Ayu pun tersenyum.


Perlahan aku melangkah untuk berwudhu’ ke belakang. Beberapa menit kemudian, aku membentangkan sajadah, lalu mengenakan mukenah.


‘’Aku memang beruntung punya sahabat. Sahabat yang selalu mengajakku untuk memperbaiki diri. Mungkin ini yang dinamakan sahabat dunia dan akhirat,’’ lirihku sembari memperbaiki tali mukenah dan memasangkannya.


Dan aku pun mulai melaksanakan sholat.


Beberapa menit kemudian.


‘’Assalamua’laikum warahmatullah,’’


Aku menengadah dan mengangkat kedua tanganku,’’ Ya Allah, Ya Tuhanku. Ampunilah dosa-dosaku. Ampunilah semua kesalahan dan kekhilafanku, tolong bantu aku untuk memperbaiki diri, tolong bantu aku untuk mendekatkan diri kepada-Mu. Aku tahu, aku adalah makhluk yang kotor, yang punya banyak dosa. Tetapi aku mohon ampuni semua kesalahanku. Aamiin Ya Robbal ‘aalamiin,’’ Dengan buliran air mata berjatuhan, aku bermunajab kepada Sang Pencipta.


Aku kembali merapikan mukenah dan sajadah. Ayu pun datang menghampiriku.


‘’Bagaimana? Apa yang kamu rasakan selesai sholat?’’ tanya Ayu menghenyak di atas tempat tidurnya.


Aku tersenyum,’’Kamu benar, Yu. Hatiku sekarang sangat terasa tenang. Nggak kayak tadi,’’ lirihku sembari memandangi Ayu.


‘’Mengingat Allah itu hati akan menjadi tenteram, Monik. Semua beban kita terasa ringan daripada sebelumnya,‘’ ucap Ayu pelan. Aku pun manggut-manggut. Ya, hatiku sungguh terasa tenang dan tenteram sekarang.


BERSAMBUNG. ***


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Oh iya, jika ada yang komen dan menantikan lanjutan ceritanya akan aku usahakan update 2 bab setiap harinya, tapi dengan syarat harus komen dan membaca setiap kali aku update ya.


See you next time!


Instagram: n_nikhe

__ADS_1


‘’Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.’’ (Q.S Ar-Ra’adu ayat 28)


__ADS_2