
‘’Monik! Ayo siap-siap! Kita cari kos sementara untukmu,’’ Ayu membuyarkan lamunanku.
‘’A—aku udah siap kok,’’
Seketika dia mengernyitkan kening,’’Bajumu nggak diganti dulu?’’ tanya Ayu memandangi baju yang kukenakan. Perlahan aku menggeleng. Ya, karena selama dua hari ini baju pengganti adalah baju Ayu yang kupakai. Tak mungkin akan kupakai lagi. Aku memang tak bawa baju kecuali hanya baju yang terpasang di tubuhku waktu aku diusir dan pingsan di depan gerbang.
‘’Baju kan ada. Kamu tinggal ambil aja tuh di sana!’’ tunjuk Ayu ke lemarinya yang ukuran besar itu. Aku mengerjap pelan.
‘’Ma’af, Yu. Aku sudah berulang kali merepotkanmu,’’ ucapku lirih dengan mata berkaca-kaca.
‘’Kamu jangan gitu deh. Kayak orang lain aja. Kan udah kubilang,’’ sungut Ayu kemudian, yang membuatku tersenyum.
‘’Dan satu lagi, baju yang akan kamu pakai selama di kos nggak ada kan? Nggak mungkin kamu pulang ke rumah dalam kondisi kayak gini,’’ Ayu duduk di sampingku.
Dalam hati aku membenarkan ucapan Ayu. Ya, tak mungkin aku pulang ke rumah hanya untuk mengambil baju-bajuku, yang ada suasana akan semakin panas dan tak menununtut kemungkinan kedua orang tuaku akan memarahiku kembali, bahkan akan mengusirku. Apalagi jika tahu tetangga di sebelah rumah. Kedua orang tuaku akan digunjing oleh mereka dan aku tak mau hal itu terjadi. Bagaimana pun juga papa dan mama adalah orang tua kandungku, karena mereka-lah aku ada di dunia ini.
‘’Ayu benar juga,’’ batinku. Aku terdiam sejenak.
‘’Kamu tenang aja. Aku akan ngasih baju untukmu. Kebetulan bajuku lumayan banyak. Aku nggak suka punya banyak baju, tetapi karena Bunda yang sering membelikan. Akhirnya terpaksa kuterima dan nggak pernah kupakai sama sekali. Dan sejak kemarin sudah kusiapkan,’’ Ya Allah. Hatimu sungguh baik sekali,Yu. Semoga Allah membalas kebaikanmu.
‘’Ta—tapi—’’
‘’Huusshhh! Nggak apa-apa. Kamu nganggep aku sebagai sahabat atau nggak sih?’’ dia meletakkan telunjuknya di bibirnya. Dan tampak sedikit kesal. Dan itu membuat aku tersenyum.
‘’Kamu kok ngomong gitu. Iyalah, kamu itu sahabatku, Yu,’’ sahutku pelan. Dan kini giliran dia tersenyum.
‘’Ya udah. Yuk kita jalan!’’ ajaknya sembari meraih plastik yang berukuran besar. Sepertinya isi di dalam plastik itu pakaian untukku. Betapa baiknya sahabatku ini. Aku harus berusaha berubah ke yang lebih baik lagi.
Aku dan Ayu bergegas melangkah keluar dari kamar, seketika bunda Aini menghentikan langkah kami.
‘’Eh, Monik mau pulang ke rumah? Kenapa nggak di sini dulu sama Ayu?’’ tanya wanita berkerudung lebar itu menghampiri kami.
‘’Dan itu apa?’’ tambahnya seketika melirik ke tangan Ayu.
‘’I—iya, Bunda. Segan Monik lama di sini. Takut merepotkan Ayu dan Bunda,’’ sahutku lirih dan aku dengan Ayu saling tatapan.
‘’Ini bajuku untuk teman, Bun. Yang nggak pernah kupakai, biar dikasih sama teman aja,’’
‘’Lagian Monik mau kerja juga, Bunda,’’ tambah Ayu kemudian.
‘’Oh, Monik kerja?’’ tanya bunda heran dan seperti menyelediki mukaku, aku menunduk. Karena beliau tahu papa dan mamaku orang yang bisa dikatakan berada dalam bidang ekonomi.
‘’I—iya kerja, Bunda. Kalau begitu aku mengantarkan Monik dulu ya, Bun. Bilang juga sama Ayah. Assalamua’laikum,’’ Ayu takdzim dengan bunda Aini. Begitupun denganku. Beliau tampak kebingungan.
‘’Iya. Kalian hati-hati ya. Wa’alaikumussalam,’’ Kami bergegas melangkah keluar.
***
Tampak Ayu hanya fokus menyetir sedari tadi.
‘’Yu, apa nggak apa-apa jika aku di kost? Apa nggak ketahuan nanti sama orang-orang di sana, terutama pemilik kost?’’ aku mengutarakan apa yang tengah mengganjal di pikiranku sedari tadi.
‘’Monik. Kamu hanya beberapa hari saja di sana kok. Semoga Tente dan Om, bisa menerima kamu lagi di rumahmu,’’ jelas Ayu yang menoleh sesekali, lalu fokus kembali menyetir.
__ADS_1
Aku hanya terdiam. Bingung, entah mama dan papa akan mau menerima kukembali atau tidak sebagai anak kandungnya. Aku juga merasa cemas, bagaimana jika orang-orang di sekitar kost mengetahui statusku yang hamil tanpa suami. Pasti mereka akan mengusirku, apalagi jika pemilik kost yang tahu. Aku memijit pelipis dan mencoba menyingkirkan prasangka buruk yang datang tiba-tiba.
Beberapa menit kemudian. Sebelum memasuki area perkost-an. Di sebelah kiri, tampak mobil bewarna merah berhenti di dekat jalan. Dan dilihat dari plot mobilnya sepertinya aku kenal. Atau Andre?
‘’Monik, itu kayak Andre deh!’’ degh! Benar dugaanku.
Tapi, kenapa dia bersama wanita itu? Wanita yang berpakaian kurang bahan, rambut panjangnya terurai dengan rapi dan mengenakan rok selutut. Diiringi canda tawa sedang memakan bakso. Dasar lelaki! Lelaki mata keranjang! Menggoda semua wanita. Setelah semuanya didapatkannya dariku, dia berubah seketika dan dia tak lagi menghubungiku. Aku layaknya seperti permen karet, yang habis manis sepahnya dibuang begitu saja. Emosiku benar-benar sudah berada di ubun-ubun. Aku tetap mencoba untuk bersikap tenang.
‘’Nggak mungkin, Yu. Kamu salah lihat kali,’’ kilahku pura-pura tak tahu. Padahal aku tahu itu memang Andre, sangat jelas dari belakang. Aku mencoba memasang wajah seolah sedang baik-baik saja.
‘’Itu pasti dia, Monik. Aku nggak salah lihat kok,’’ Monik mulai menepikan mobilnya. Jantungku berdegup lebih kencang lagi. Apa yang akan dilakukan oleh Ayu?
‘’Kamu turun! Ikut aku!’’ titahnya sembari mematikan mesin mobil. Dan menggandeng tanganku. Jangan-jangan Ayu membawaku ke tempat Andre yang sedang makan bakso di tepi jalan bersama wanita itu.
‘’Yu! Kita mau ke mana sih?’’ namun Ayu tak menjawab ucapanku, dia terus saja melangkah sembari menggandeng tanganku, tak lepas.
‘’Hei! Apa ini pacarmu? Kamu mau dengan orang yang telah menghamili sahabatku ini?’’ ucap Ayu lembut berkata ke wanita yang rambutnya terurai itu, seketika Andre berdiri dan wajahnya tampak memerah.
‘’Ka—kamu. Apa maksudmu? Aku nggak kenal kalian!’’ bentaknya. Seolah sedang bersandiwara. Dasar lelaki!
‘’Sayang, tolong jelaskan! Apa benar?’’ wanita itu seakan kaget dengan pernyataan Ayu.
‘’Nggak, nggak! Mereka bukan siapa-siapa aku. Aku nggak kenal sama mereka,’’ ucapnya berbohong, keringat di mukanya terus mengalir.
‘’Kamu harus percaya sama aku, Sayang. Mereka itu penipu dan aku nggak kenal siapa mereka,’’ tangan kekarnya memegang jemari lentik wanita itu.
‘’Cukuupp! Dasar lelaki nggak tahu diri!’’ bentakku yang sudah hilang kesabaranku, seketika wanita itu melepaskan genggaman tangan Andre dengan kasar.
‘’Dan kamu Mbak, kamu akan merasakan apa yang kurasakan selama ini. Mungkin sekarang kamu nggak percaya, tapi lihat aja setelah mendapatkan semuanya darimu. Lelaki ini akan mencampakkanmu. Camkan itu!’’ teriakku sembari menunjuknya dengan nada suara bergetar. Tukang bakso hanya sebagai penonton saja dan beberapa orang pembeli ternganga memandangi kami. Tapi aku tak perduli. Biar orang tahu kalau Andre itu adalah lelaki bajingan.
‘’Yuk kita pergi, Yu! Bajingan seperti dia harus dipermalukan,’’ Aku bergegas melangkah menuju parkiran mobil, Andre tampak mengusap mukanya kasar, semua orang terpenganga memandangi kami, dan wanita itu bergegas meninggalkan Andri tanpa sepatah kata pun. Rasakan!
***
Di mobil, buliran air mataku tak henti-hentinya mengalir. Teringat olehku Andre dengan seenaknya membawa wanita lain setelah mendapatkan semuanya dariku. Ayu menatapku dengan tatapan sendu.
‘’Aku pernah bilang ke kamu dulu kan, Monik? Jangan sembarangan menerima cinta lelaki dan jangan pacaran dulu. Kamu masih ingat nasehatku?’’ ucap Ayu dengan lirih sembari masih fokus menyetir.
Aku hanya mengangguk perlahan,’’Kenapa aku lupa semua itu, Yu? Kenapa?’’ teriakku.
‘’Kamu tahu? Lelaki yang baik itu nggak akan mengajak pacaran apalagi melakukan hal yang nggak senonoh itu,’’ aku hanya terdiam, menyesali semua perbuatanku. Kalau saja aku mau mendengarkan apa nasihat sahabatku, mungkin tak akan seperti ini jadinya. Aku diusir dari rumah, mama dan papa membenciku, dan hidupku sekarang banyak menanggung beban yang tak mampu untuk kupikul sendirian. Kuseka buliran mataku perlahan.
Beberapa menit kemudian, kami telah sampai di kost-an. Ayu menepikan mobilnya dan mematikan mesin mobil. Kami bergegas melangkah keluar dari mobil.
‘’Kamu suka kost ini nggak? Mumpung nggak besar banget. Ntar kamu kesepian lagi,’’ tanyanya menunjuk kost yang sepertinya belum ada penghuninya.
‘’Aku suka banget, Yu. Nggak apa-apa,’’ aku mengangguk perlahan.
Ayu pun mengeluarkan ponselnya, dia menatap nomor yang tertera di dinding kost, lalu disalinnya nomor itu.
(‘’Assalamua’laikum. Bu,’’)
(‘’Ini teman saya mau mengkost di kost Ibu,’’)
__ADS_1
(‘’Baik, Bu. Kami tunggu,’’) Ayu pun memutuskan teleponnya.
‘’Kita tunggu aja, Monik. Ibu itu mau ke sini,’’ Kami segera duduk di kursinya. Untuk melepaskan penat. Tak lama kemudian, datang wanita paruh baya, rambutnya pendek, dan berpakaian rok selutut.
‘’Siapa yang akan ngekost di kost saya?’’ tanya wanita itu menghampiri kami.
‘’Ini, Bu. Monik, teman saya,’’ tunjuk Ayu.
Dia menatapku dari atas sampai ke bawah seperti sedang menyeleksi karyawan saja ,’’Kamu hamil?’’ kali ini nada suaranya naik satu tingkat.
Pertanyaannya membuatku kaget, sebelumnya aku sudah punya firasat akan pertanyaan pemilik kost.
Aku mengangguk seketika, ’’Su-suamiku sedang mencari nafkah, Bu. Jadi untuk sementara aku tinggal di daerah ini,’’
Dia memandangiku,’’Baiklah. Kamu nggak bohong kan? Karena kost saya ini nggak menampung wanita hamil di luar nikah!’’ Degh! Dadaku terasa sesak seketika. Begitupun Ayu, dia tampak menunduk.
‘’I—iya, Bu. Saya nggak bohong,’’
‘’Oke!’’
‘’Berapa sebulan ya, Bu?’’ seketika Ayu mengalihkan pembicaraan.
‘’Sebulan 350.000,’’ sahutnya singkat. Dia sedari tadi tak henti-hentinya memperhatikanku. Membuat aku merasa takut.
Tampak Ayu mengeluarkan beberapa uang kertas bewarna merah di dompetnya,’’Ini, Bu. Saya bayar sebulan dulu. Kalau misalnya lebih waktunya sebulan teman saya nginap di sini, saya akan tambah lagi,’’ jelas Ayu menyodorkan beberapa lembar uang ratusan. Ibu itu bergegas mengambil tanpa basa-basi.
‘’Oke. Ini kuncinya!’’ dia menyodorkan anak kunci.
‘’Terima kasih, Bu,’’ lirihku. Dia hanya mengangguk dan berbalik tanpa permisi.
‘’Sebentar! Oh ya, saya belum membersihkannya jadi tolong kamu bersihkan sebersih mungkin!’’ Dia kembali menoleh dan menunjukku. Aku hanya mengangguk.
‘’Satu lagi, setiap hari kosku harus kamu bersihkan! Jangan sampai aku melihat kosku kotor dan berantakan. Kamu paham?’’ Allah! Seram sekali ibu kost ini. Tak seenak tinggal di rumah sendiri. Aku menghela napasku perlahan.
‘’Pa—paham, Bu,’’ sahutku terbata. Sedangkan Ayu menggeleng saja.
Sedangkan wanita itu melangkah kembali untuk pulang ke rumahnya yang kukira tak jauh dari sini. Aku dan Ayu saling tatapan.
‘’Begini rasanya punya Ibu kost toh, Yu?’’ tanyaku dengan lirih, sembari menarik napas.
‘’Iya. Makanya lebih enak tinggal di rumah sendiri,’’ jawab Ayu. Aku membenarkan ucapan Ayu dalam hati.
‘’Ya sudah. Aku ambil bajumu dulu di mobil ya,’’ Dia melangkah ke tempat parkiran mobilnya. Dan menenteng plastik berukuran besar yang berisi pakaian.
‘’Bukannya kamu mau pulang?’’ tanyaku heran.
‘’Aku mau membantumu membereskan kost dulu.’’ Dia bergegas membuntutiku.
Bersambung.
Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Oh iya, jika ada yang komen dan menantikan lanjutan ceritanya akan aku usahakan update 2 bab setiap harinya, tapi dengan syarat harus komen dan membaca setiap kali aku update ya.
__ADS_1
See you next time!❤
Instagram: n_nikhe