Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
POV Andre


__ADS_3

‘’Ndre? Kamu kenapa?’’ panggilan wanita yang berpakaian dress selutut itu mampu membuyarkan lamunanku. Aku menggeleng secepatnya dan memandang ke arah jendela, hanya lampu berkedip-kedip yang bisa kupandangi dari atas ini.


‘’Nggak apa-apa, Nin,’’ sahutku datar. Dia menghenyak di sebelahku dan netra indahnya menatapku.


‘’Kamu kepikiran sama istrimu itu?’’ selidiknya kemudian yang membuat lidahku kelu untuk menjawab ucapannya.


Ya, aku memang teringat dengan istri dan anakku di rumah. Namun, godaan dari wanita bertubuh bohay ini tak dapat kuhindari dan apalagi aku sudah melakukan sesuatu dengannya. Juga aku sudah berjanji dengan papinya Nina kalau aku akan menikahi anaknya, bagaimana pun caranya. Itu membuat pikiranku kacau-balau kali ini.


‘’Kita istirahat aja ya, Nin,’’ ajakku kemudian yang mengalihkan topik pembicaraannya. Dia terdengar menghela napas berat.


‘’Kamu nggak bisa bohongi aku loh, Ndre. Jujurlah, kamu memang kepikiran istri dan anakmu kan?’’ bisiknya dengan manja di telingaku.


‘’Tapi kamu harus ingat juga dengan janjimu sama Papi. Bukankah kamu udah berhutang nyawa pada Papiku?’’ imbuhnya yang membuat aku terkesiap dan membuat tenggorokanku tercekat. Kalau Nina sudah berkata seperti itu, maka tak kan bisa lagi aku untuk mengatakan kata tidak.


‘’Kamu mengerti kan, Ndre?’’


‘’I—iya, aku mengerti,’’ sahutku terbata dan menghela napas dengan gusar. Dia tampak tersenyum manis.


‘’Seharusnya kamu itu beruntung loh sama aku. Apa aja aku kasih ke kamu, Ndre. Sedangkan istrimu itu?’’


Dia tersenyum bangga dan bergelayut manja di lenganku yang membuat aku sedikit risih. Ucapan wanita itu ada benarnya juga. Apa saja diberikannya untukku. Bahkan aku ingin menyalurkan gejolak yang membara pun dia dengan senang hati memberikannya padaku.


Istriku mana bisa memberikan nafkah batin untukku, apalagi dia baru saja selesai operasi caesar melahirkan dan itu butuh waktu yang lama menunggunya.


Untung saja aku punya wanita simpanan yang siap memberikan segalanya dan kapan pun yang aku mau. Itu yang membuat aku mempertahankan Nina, bahkan sulit bagiku untuk pulang kembali ke rumah dan aku memilih untuk bersamanya di sini dengan mengganti nomor ponselku agar tak bisa dihubungi oleh siapapun, termasuk istri dan mama.


‘’Iya, aku beruntung banget punya kamu.’’ Aku menoel hidungnya, membuat dia tersipu malu dan mengenggam jemariku.


‘’Tapi kapan kamu mau nikahi aku?’’ Lagi-lagi membuat aku tak bisa berkata. Aku hanya terdiam saja sembari menatap jendela dengan tatapan kosong. Kantuk pun datang menyapa. Tentu berhasil menyelamatkan aku kali ini.


‘’Kamu ngantuk banget, Ndre? Mau tidur?’’ Wanita itu menatapku.

__ADS_1


Dia wanita yang begitu perhatian padaku. Makanan yang disuguhkan untukku pun dia harus memilihnya yang lezat dan bergizi. Dia rela mengeluarkan uang sebanyak mungkin hanya karena untukku. Ya, dia tak pernah berpikir untuk mengeluarkan uang yang banyak. Yang penting katanya aku terus di berada di sampingnya dan selalu membuat dia bahagia.


‘’Iya, Nin. Ngantuk banget, aku perlu istirhat deh.’’ Berkali-kali aku menguap.


‘’Ya udah, kita istirahat yuk!’’ ajaknya kemudian yang bergegas menarik tanganku menuju tempat tidur yang tak begitu jauh jaraknya dari kami. Membuat aku menahan tangannya.


‘’Umm, aku tidur di sini dan kamu tidur di kamarmu aja ya?’’ kataku pelan dan berhati-hati bicara agar wanita itu tak tersakiti hatinya.


‘’Padahal aku ingin banget berduaan sama kamu,’’ sungutnya setelah menghela napas dengan berat.


‘’Kalo gitu aku pulang ke rumah aja deh ya, Nin,’’ kataku dengan sengaja. Membuat dia mengerjap pelan.


‘’Ja—jangan. Kamu di sini aja. Oke deh, kamu tidur di sini dan aku tidur di kamarku,’’ sungutnya kemudian yang membuat aku tertawa kecil.


‘’Nah, gitu dong. Aku udah ngantuk banget nih.’’


‘’Iya, selamat istirahat, Sayang. Good night, and love you,’’ katanya dengan suara mendayu.


‘’Arrghh!’’


Bukankah aku sudah berjanji sama mama untuk tidak menyakiti wanita yang sudah berstatus sebagai istriku itu? Tapi aku juga sudah berjanji pada papinya Nina dan aku sudah berhutang nyawa pada lelaki itu. Apalagi Nina adalah wanita yang sudah kutiduri dan aku juga tak rela kehilangan seorang Nina dari hidupku. Ahh, bagaimana ini? Seketika benda canggih di saku-saku berdering membuat aku tersentak. Kuperhatikan baik-baik layar ponselku. Bagas? Ada apa dia menghubungiku semalam ini? Ya, hanya dia dan Nina yang tahu nomor ponsel baruku.


‘’Ya, Bagas?’’


‘’Ndre, loh masih di rumah Nina?’’


‘’Iya, kenapa?’’


‘’Pulanglah, Ndre. Mama loh sibuk nyariin loh sampe nyariin ke rumah gue.’’


Membuat aku menghela napas kasar. Ada-ada saja sahabatku ini. Aku disuruhnya pulang ke rumah. Aku menggeleng berkali-kali.

__ADS_1


‘’Loh kesambet apaan sih? Loh kan tahu Gas kalo gue betah di sini,’’ kataku sembari menyunggingkan bibir.


‘’Iya, gue tahu. Tapi kan loh sekarang udah punya istri dan anak di rumah. Loh nggak sebaiknya kayak gini. Kasihan—‘’


‘’Udah deh ya, Gas. Loh kalo mau ceramah, ceramah aja di masjid ya. Bukan malah ceramahin gue segala.’’


‘’Gue heran deh sama eloh, Gas. Loh yang jadi sahabat baik gue dulu dan sekarang malah berubah. Gini aja deh, kalo nyokap gue nanyain keberadaan gue, loh tinggal bilang aja kalo loh nggak tahu. Oke?’’


‘’Gue mau istirahat dulu.’’


Aku bergegas mematikan sambungan telepon sepihak dan meletakkan benda canggih itu di tempat tidur.


‘’Aneh banget tuh si Bagas. Masa iya dia nyuruh aku pulang ke rumah,’’ kesalku sembari mengacak rambut.


Aku sungguh terheran dan tak habis pikir dengan sikapnya yang berubah drastis. Biasanya dia selalu saja memberikan support atas apa pun yang aku lakukan. Sangat jauh berbeda dengan sekarang, seperti aku berbicara dengan orang lain dan tak ada sifat seorang Bagas di dirinya. Apa ini karena mama? Jangan-jangan nanti si Bagas memberitahu nomor ponselku ke mama. Apalagi dengan sikapnya yang kini berubah total. Aku kembali meraih benda canggih yang tergeletak. Dengan lincah kuketikkan pesan di aplikasi hijau itu.


‘’Gas, loh nggak boleh ngasih tahu Mama gue keberadaan gue dan satu lagi, jangan loh kasih nomor handphone gue ke siapapun, apalagi ke Mama gue. Loh mengerti kan? Ingat rahasia loh masih banyak yang gue tahu. Gue bisa aja bocorin semuanya ke Bokap dan Nyokap loh!’’


Aku segera mengirimkannya ke kontak yang kuberi nama Bagas itu. Aku tersenyum licik dan bergegas meletakkan kembali benda canggih itu. Ya, itu adalah satu-satunya pedang yang kupunya. Agar si Bagas tak macam-macam padaku.


Dring!


‘’Sayang, kok belum tidur? Apa kamu kesepian? Aku temenin aja ya,’’ tulis wanita simpananku itu.


‘’Aku belum bisa tidur aja, Nin,’’ balasku singkat dan bergegas mematikan data. Agar tak ada lagi yang mengangguku. Kembali kuletakkan benda canggih itu dan aku berusaha memaksakan mata agar bisa terpejam, namun tetap saja mataku enggan untuk terpejam.


Bersambung.


Mohon ma'af teruntuk Readers yang masih menunggu lanjutan novel "Kemanisan Sesaat", akhir-akhir ini Author sering drop. Makanya sering enggak update, lebih banyak istirahat. Sekali lagi ma'af banget ya. Dan terima kasih banyak buat Readers yang masih tetap setiap membaca novelku ini. Sehat selalu dan dimudahkan rezekinya. Aamiin Ya Robbal 'aalamiin.


Instagram: n_nikhe

__ADS_1


__ADS_2