Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Biarkan Lelaki Itu Menetap di Penjara


__ADS_3

POV Mama Karni


‘’Bu? Ibu mau ke mana?’’ Suara panggilan dari bibi Ningrum membuat aku menoleh dan memberhentikan langkah seketika.


‘’Aku ada perlu sebentar, Bi.’’


‘’Tapi Ibu kan belum sarapan?’’ Dia bergegas menghampiriku yang tengah berdiri di balkon.


‘’Aku kayaknya sarapan di luar aja deh, Bi. Ya udah aku berangkat dulu. Udah telat nih, Bi,’’ ujarku sambil memandangi benda yang melingkar di pergelangan tanganku.


‘’Iya, Bu. Tapi Ibu harus hati-hati ya dan jangan lupa sarapan,’’ sarannnya kemudian yang aku sahut dengan anggukan dan kembali melanjutkan langkahku.


Tampak sopir pribadiku tengah duduk sambil mengobrol dengan security yang baru bekerja dua minggu ini namanya Iwan. Seketika mata mereka tertuju padaku.


‘’Eh, Ibu. Pagi, Bu!’’ sapanya dengan sopan.


‘’Pagi juga,’’ balasku.


‘’Bapak bisa mengantar saya ke kantor polisi?’’ Aku beralih menatap sopir pribadiku itu, pak Dani.


‘’Tentu bisa, Bu.’’ Dia bergegas melangkah menuju garasi, aku mengikutinya.


‘’Silakan, Bu!’’ Seperti biasa dia membukakan pintu mobil untukku.


Aku mengangguk dan bergegas menaiki mobil dengan mengucap basmalllah terlebih dahulu. Angin semilir berlalu lalang melewati celah kaca mobil hingga menghembus kerudungku, juga membuat kantuk hadir seketika. Namun, karena pikiranku begitu kalut membuat mata tak jadi terpejam. Satu sisi aku teringat dengan anak semata wayangku yang tak kunjung pulang ke rumah, sejak dia menjemput pakaiannya dan menjatuhkan talak tiga pada Monik.


Aku tak habis pikir dengan apa yang telah diperbuat oleh putraku itu. Bisa-bisanya dia dulu merenggut kesucian Monik dan kini dia meninggalkan wanita itu begitu saja. Aku masih teringat tatkala Monik menghubungiku, entah dari mana dia mendapatkan nomor ponselku. Dia mengaku tengah mengandung anak dari Andre. Aku tak percaya begitu saja, aku kira wanita itu salah sambung atau menerorku. Hingga akhirnya dia memberanikan diri mendatangi rumahku dan dia mengaku kalau dia tengah mengandung benihnya Andre, anak kandungku.


Aku masih tak percaya. Karena sebelumnya anak semata wayangku itu tak begitu perilakunya, aku kenal sekali dengan putraku itu. Hingga akhirnya, wanita itu memberikan bukti padaku. Fotonya yang tengah bermesraan dengan anak semata wayangku. Itu membuat aku terperanjat kaget, kepalaku mendadak pusing, dan hingga membuat pemandanganku gelap seketika.


Setelah aku tersadar, aku jadi iba dengan wanita itu. Hingga aku memutuskan untuk mencarinya di tengah deras hujan ditemani oleh sopir pribadiku. Di setiap jalan kuedarkan pandangan guna mencari keberadaan wanita yang mengaku tengah mengandung darah daging Andre itu. Tapi, nihil tak kutemukan. Namun, aku tak menyerah. Aku tetap melanjutkan mencari keberadaan wanita itu, aku yakin dia belum jauh dari sini. Seketika aku melihat ada beberapa orang yang memopong tubuh seseorang. Aku bergegas turun dipayungi oleh sopirku.


Ternyata benar, itu adalah wanita yang tadi memberanikan diri untuk mendatangi rumahku. Tanpa berpikir lagi aku menyuruh sopirku membawa wanita itu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk merawat dan menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumahku, namun suamiku malah membenci Monik. Bahkan setiap hari, suamiku memperlakukannya dengan tidak baik. Namun, aku berusaha untuk membelanya.


Membuat aku bertengkar setiap hari, apalagi mas Ardi tipe lelaki yang tak bisa dibantah ucapannya. Dia tak merestui hubungan Andre dengan Monik. Suamiku itu malah menjodohkan Andre dengan anak sahabatnya. Membuatku kesal, masa iya anaknya sudah menghamili Monik dan dia malah tak setuju jika Andre harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan olehnya.

__ADS_1


Seharusnya dia merestui hubungan anaknya dengan wanita yang dihamilinya itu, ini malah dia tak merestui. Aku tak habis pikir dengan jalan pikirannya. Tapi aku tetap dengan pendirian dan niatku. Aku akan tetap menikahkan Andre dengan Monik tanpa restu dari papanya. Beberapa hari sebelum pernikahan mereka, suamiku ketahuan berselingkuh dan ternyata dia sudah lama bermain api di belakangku.


Membuat aku mengusirnya dari rumah, dia pun menjatuhkan talak padaku, hingga dia tak pernah menginjakkan kaki lagi ke sini. Setelah berhari-hari tak ada kabarnya. Tak sengaja aku mendapati kabarnya di berita televisi. Dia ditangkap polis karena tak membayar hutang sebanyak 2 milliar. Entah untuk apa uang sebanyak itu olehnya. Apa untuk selingkuhannya itu? Tapi entah kenapa aku merasa iba dan air mataku berjatuhan melihat berita yang tengah tayang itu. Ah, bukankah aku telah dikhianatinya.


Aku tak pantas menangisi lelaki pengkhianat seperti dia. Ya, itu semua balasan dari Allah untuknya. Setiap perbuatan di dunia pasti akan dibalas oleh Allah, balasannya terkadang langsung di dunia dan di akhirat pun masih dapat balasan. Begitu juga dengan perbuatan Andre yang dilakukannya pada Monik. Cepat atau lambat Allah pasti membalasnya.


‘’Malang banget nasip kamu, Monik. Ma’afkan Mama, Mama nggak bisa membantu kamu supaya tetap bersama dengan Andre. Yang ada malah membuat kamu semakin terluka, lebih baik kamu berpisah dengannya. Daripada makan hati setiap hari, kamu berhak bahagia, Nak,’’ monologku dalam hati.


Di sisi lain, aku teringat anak semata wayangku entah di mana keberadaannya. Sudah lama dia tak kembali ke rumah dan tak ada kabar darinya. Aku coba menghubungi nomornya, namun nihil tak aktif. Kucoba juga bertanya pada teman-temannya, tapi mereka malah tak tahu-menahu keberadaan Andre. Ke mana sebenarnya anakku?


‘’Ndre, kamu di mana? Kenapa kamu malah kayak gini. Ninggalin Mama sendirian,’’ gumamku dalam hati.


Padahal hanya Andre harapanku satu-satunya. Aku hanya punya Andre. Tapi ternyata dia malah seperti ini kelakuannya dan menghilang tak jelas. Aku sebenarnya kesal dan marah sekali pada anakku itu atas semua kelakuannya.


‘’Dan kalo soal perusahaan, Alhamdulillah aku mulai lega.’’


Berkat do’a dan usahaku akhirnya perusahaan itu jatuh lagi ke tanganku, tentu tak lepas dari bantuan asisten pribadi dan pengacaraku.


‘’Bu? Kita ke kantor polisi bagian Selatan kan?’’


‘’Ah, iya, Pak.’’


Tak berselang lama, mobilku sudah memasuki pekarangan kantor polisi. Seperti biasa sopir pribadiku membukakan pintu.


‘’Bapak tunggu di luar saja ya. Nanti saya hubungi,’’ titahku pada sopir pribadiku itu.


‘’Iya, Bu. Baik.’’


Tanpa pikir lagi, aku bergegas melangkah memasuki kantor polisi.


‘’Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa kami bantu?’’ tanya polisi itu dengan ramah.


‘’Pagi, Pak. Saya mau bertemu dengan Mas Ardi.’’


‘’Mari, Bu. Ke ruang tunggu dulu. Saya panggilkan dulu Bapak Ardinya.’’ Aku mengangguk dan tersenyum ramah.

__ADS_1


Sudah lama sekali aku menunggu, namun tak nampak batang hidungnya lelaki itu. Apa dia tak mau lagi menemuiku? Ya, sudah dua minggu dia berada di penjara. Baru kali ini aku menemuinya. Lebih tepatnya hanya sekadar untuk mengingatkan kesalahannya yang pernah diperbuat oleh lelaki itu padaku. Ah, itu dia. Tapi, tunggu sepertinya dia tampak kurusan, bibirnya pucat pasi, dan matanya sayu.


Dia tampak menghenyak di depanku.


‘’Ma, akhirnya Mama mau menemuiku ke sini.’’


‘’Ma, tolong bantu Papa untuk keluar dari tempat ini. Apa Mama nggak kasihan sama Papa? Udah seminggu lebih Papa sakit loh.’’ Lelaki berpakaian baju bermerk tahanan itu mengenggam jemariku dengan wajah memelas.


‘’Papa janji akan berubah. Da—dan kita bisa memulai hidup baru lagi kan, Ma?’’ imbuhnya yang membuat aku menyunggingkan bibir, tersenyum sinis. Seketika aku menyingkirkan tangannya dengan kasar.


‘’Ma’af! Aku nggak bisa. Ini adalah tempat terbaik untuk kamu. Agar kamu bisa berubah dan menyadari semua kesalahanmu.’’


‘’Dan ini pantas kamu dapatkan. Setelah apa yang kamu perbuat. Setiap perbuatan itu pasti ada balasannya. Dan Allah itu Maha adil!’’


Ya, ini belum seberapa balasannya atas semua yang telah diperbuat oleh lelaki ini.


Biarkan lelaki itu menetap di penjara sampai dia benar-benar mengakui kesalahannya dan bertobat. Lelaki sepertinya memang pantas berada di penjara. Aku bergegas bangkit. Sepertinya ada yang masih ingin kukatakan pada lelaki itu.


‘’Dan satu lagi, kamu urus surat perceraian kita! Aku nggak mau tahu pokoknya dalam bulan ini juga urusan kita udah selesai!’’


Bapak polisi seketika melangkah ke tempatku.


‘’Sudah selesai bicaranya, Bu?’’


‘’Sudah, Pak. Saya pamit dulu. Terima kasih,’’ kataku kemudian.


‘’Ma, aku belum selesai bicara sama kamu!’’ teriaknya yang bergegas mengejarku, namun dihalangi oleh pak polisi.


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.


Terima kasih banyak buat Readers yang masih setia membaca novel ‘’Kemanisan Sesaat’’. Mohon supportnya ya dengan cara like, vote, komen dan share. Dan juga ikutin cerita ini sampe ending. Oke, semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


See you next time.❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2