
‘’Ma, kita do’akan aja Andre. Aku yakin dia kuat dan aku yakin kalo dia akan sembuh,’’ kataku yang beralih menatap mama Karni yang terduduk lemas. Seketika air matanya makin berjatuhan. Aku semakin tak tega melihat mantan mertuaku itu.
‘’Monik,’’ katanya lirih di sela isakan tangisnya dan bergegas bangkit.
Aku langsung membantu mantan mertuaku itu untuk bangkit. Namun, seketika beliau menghambur ke pelukanku dan menumpahkan segalanya dengan deraian air mata. Membuat aku terenyuh dan merasakan hati mama begitu rapuh saat ini. Satu kata yang dilontarkannya padaku, tapi itu berhasil membuat aku menyimpulkan bahwa keadaan Andre semakin memburuk. Ah, Monik! Kamu jangan berpikiran seperti ini. Aku berusaha menepis semua prasangka buruk yang hadir di pikiranku.
Kuusap punggung mama Karni dengan pelan,’’Ma, yang sabar ya. Sekarang yang dibutuhkan Andre adalah do’a dari kita, do’a dari Mama.’’ Hanya tangisan mama kini yang kudengarkan.
‘’Ya Allah! Tolong dengarkan do’a dari seorang pendosa ini. Aku mohon berikanlah kekuatan kepada Mama Karni dan aku mohon berikanlah kesembuhan untuk Andre,’’ gumamku dalam hati merapalkan do’a.
Ya, walaupun lelaki itu pernah menggoreskan sembilu di hatiku. Tapi aku tetap merasa rapuh disaat dia dalam keadaan seperti ini, aku harus belajar menjadi insan yang pema’af dan apalagi lelaki itu adalah papa kandung dari anakku. Yang berlalu biarlah berlalu.
‘’Monik. Mama nggak tahu lagi, Nak. Mama nggak bisa kehilangan Andre. Anak satu-satunya Mama. Mama nggak bisa,’’ katanya dengan suara bergetar dan tangisannya kian menjadi. Aku melepas pelukan dengan pelan.
‘’Ma, aku ikut merasakan apa yang Mama rasakan. Aku mengerti kekhawatiran seorang Ibu. Tapi, bukankah do’a dari seorang Ibu itu mustajab. Dan tentang prediksi Dokter itu bisa aja salah, Ma. Bukankah semuanya itu tergantung Allah. Bagaimana kalo misalnya Allah masih memberikan kesempatan untuk Andre, kesempatan untuk sehat kembali. Mama percaya itu kan?’’ Aku menatap kedua netranya yang digenangi air mata.
Tanganku terangkat menyeka buliran air mata yang terus berjatuhan di pipi mama Karni. Ya, aku tahu akan hal ini adalah dari Ayu, sahabatku. Dia selalu memimbingku menuju kebaikan.
Beliau terdengar menghela napas berat,’’Kamu benar, Monik. Astaghfirullah! Karena Mama begitu sangat mengkhawatirkan Andre, membuat Mama lupa akan hal itu. Tapi—‘’
‘’Ma, aku ngerti. Tapi Mama nggak sendirian. Ada aku di sini. Anggap aku ini anaknya Mama ya.’’ Aku memotong pembicaraannya dan memegang jemari mantan mertuaku itu.
‘’Ya Allah, Nak! Kamu baik banget. Andai saja Andre nggak menceraikanmu. Pasti sekarang kamu masih jadi menantu Mama.’’
‘’Husssh. Ma, Mama nggak boleh bilang kayak gitu. Semuanya sudah jadi takdir Allah. Dan walaupun aku nggak jadi menantu Mama lagi. Tapi sekarang kan aku anak Mama,’’ sahutku lembut sambil menggeleng.
Ya, walaupun aku bukan lagi menantu dari mama Karni, tapi sebelumnya aku sudah menganggap beliau orangtuaku. Aku begitu kasihan sekali dengan mama. Anak satu-satunya berjuang di sini dengan dibantu alat medis, hanya mama yang memikul semua ini. Sedangkan papanya sekarang harus menerima hukuman di penjara dengan apa yang sudah diperbuatnya selama ini. Seketika beliau kembali menghambur ke pelukanku.
Entah kenapa hatiku ini terasa perih memandangi tubuh kekar Andre yang kini hanya terbaring lemah begitu saja. Mama Karni dengan pelan mendekati anaknya.
‘’Ndre, kamu pasti kuat, Nak. Mama akan selalu do’ain kamu,’’ lirih mama Karni dengan suara bergetar, beliau memegangi jemari Andre yang terpasang selang infus di sana. Aku melangkah pelan mendekati beliau, lalu mengelus punggung mama Karni.
__ADS_1
‘’Monik, temani Mama untuk ketemu Dion ya?’’ Mama menoleh sambil menyeka buliran air matany. Aku bergegas mengangguk. Sebelum keluar dari ruangan ICU itu, aku kembali menatap lelaki yang pernah mewarnai hidupku itu dengan tatapan sendu.
‘’Kamu pasti kuat, Ndre.’’
Kami pun melangkah ke luar dari ruang ICU seketika aku melihat Dion duduk di kursi tunggu bersama mamaku, mama Karni pun menghampirinya.
‘’Tan, aku tadi udah menghubungi keluarga Nina. Mereka bilang akan segera ke sini,’’ kata Dion.
‘’Syukurlah. Karena pemakaman Nina akan segera diurusi. Biar dia langsung dikebumikan.’’
Membuat aku sontak terperanjat kaget dan membungkam mulut, begitupun dengan mamaku.
‘’A—apa? Nina meninggal?’’
Dion dan mama Karni mengangguk kompak.
‘’Ya Allah. Aku nggak menyangka secepat ini Nina pergi.’’
Mama mengangguk dan menuntunku untuk melangkah menuju ruangan jenazah. Ternyata Dion mengikuti langkah kami. Dia bergegas membuka pintu ruangan itu. Seketika tampak beberapa jenazah yang diselimuti dengan kain putih.
‘’Ini jenazahnya Nina, Monik,’’ kata Dion.
Dengan pelan aku membuka kain penutup tubuhnya itu.’’Astaghfirullah!’’ Wajahnya mengerikan sekali.
Darahku seketika hilang dan kepala terasa pusing mendadak. Buliran air mata pun membasahi pipi. Aku langsung menutup kembali kain putih itu ke muka Nina. Kurasakan tangan mama mengusap punggungku.
‘’Nina, aku sekarang udah mema’afkanmu. Semoga kamu tenang di alam sana ya.’’
Air mataku tak hentinya berderain. Aku tahu sebenarnya Nina ini adalah wanita baik, tapi ini semua adalah atas kekhilafannya yang berselingkuh dengan Andre ketika aku masih berstatus sebagai istrinya. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa Nina. Ya, ternyata benar setiap perbuatan pasti ada balasannya dari Allah, cepat atau lambat. Pun aku tak tahu kapan Allah akan membalas semua yang sudah kuperbuat.
‘’Gimana Bu? Udah datang keluarganya almarhumah?’’ Suara suster seketika membuat aku mengusap air mataku dan menoleh. Mama menggeleng lemah.
__ADS_1
‘’Almarhumah harus segera dimakamkan. Nggak baik terlalu lama. Apalagi dia juga tengah hamil muda sekarang, Bu.’’
Membuat aku kembali terperanjat kaget.
‘’Ha—hamil, Sus?’’ ulangku kembali.
Dia tampak mengangguk.
‘’Ya Allah! Apa anak yang dikandungnya adalah anaknya Andre?’’
Aku menggeleng secepatnya. Ya, aku tak boleh berprasangka buruk. Apalagi sekarang Nina sudah tak ada lagi di dunia. Walaupun setahu aku, dia hanya dekat dan menjalin hubungan dengan mantan suamiku itu.
Seketika berbunyi langkah kaki yang seperti belarian ke arah ruangan.
‘’Nina! Sayang! Ya ampun, Nak.’’
Wanita berpakaian selutut itu merengkuh tubuhnya Nina dengan deraian air mata. Sedangkan lelaki di sampingnya mengelus punggung sang istri dan matanya tampak berembun. Seketika kedua netra wanita itu menatap tajam ke arah mama Karni. Dari sorot netranya, dia seperti memendam kebencian yang mendalam.
‘’Anakku itu meninggal gara-gara anak kamu! Kalo bukan karena dia, Nina pasti nggak akan kayak gini!’’ bentaknya sambil menunjuk mama Karni dengan telunjuk kirinya.
‘’Mi, tenang dulu. Kasihan anak kita.’’
‘’Kamu sama aja dengan orang ini, Pi. Ini semua gara-gara kamu yang menjodohkan Nina dengan anak orang ini!''
Air mata mama kembali jatuh berderaian. Aku mengelus punggung beliau. Seketika maminya Nina bergegas mendorong tubuh mama Karni hingga terhuyung ke lantai.
‘’Mi, apa-apan kamu. Kita lagi berduka sekarang, Mi. Bukan malah berantem kayak gini.’’ Membuat lelaki itu menggeleng dan menarik tangan istrinya, namun ditepis kasar oleh wanita itu.
‘’Aku nggak akan terima dengan semua ini! Anakku meninggal gara-gara anak kamu! Nyawa harus dibalas dengan nyawa!’’
Bersambung.
__ADS_1