Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Ucapannya Menusuk Ulu Hatiku


__ADS_3

Seminggu sudah aku tinggal di rumah yang baru ditempati oleh orang tuaku, Alhamdulillah tak ada kudengar ocehan atau pun hinaan tetangga. Mungkin jika aku tinggal di rumah papa yang lama, sudah kena mental dan pasti mendapat hinaan setiap hari. Ya, tetanggaku yang dulu tahu bagaimana sikapku, aku yang pendiam dan tak suka bergaul dengan lelaki.


Siapa sangka akan terjerumus ke hal yang menghinakan itu, apalagi kedua orang tuaku dikira mereka hanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga anaknya tak terurus dan tak terdidik, itu salah sekali. Papa dan mama selalu meluangkan waktunya untuk mendidikku, hanya saja aku yang keras kepala dan karena cinta membuat mataku jadi buta. Lupa akan segalanya.


Pagi ini matahari sudah menampakkan cahayanya, aku sedari tadi hanya memandangi anak semata wayangku yang tengah berbaring. Entah kenapa mager sekali aku hari ini, tak biasanya. Juga pikiranku jauh melayang entah ke mana.


‘’Monik, nggak bawa si Dedek marathon ke luar?’’ Suara mama mampu membuyarkan lamunanmu.


‘’Ah, iya, Ma. Sebentar lagi, aku juga blom bantu Mama beberes kan?’’


‘’Nggak usah, biar Mama aja ya. Bawalah si Dedek ke luar, panas pagi ini bagus untuk kesehatannya loh.’’


Mama benar juga, panas matahari di waktu pagi sangat bagus untuk kesehatan bayi. Bahkan orang-orang menyengajakan membawa anak-anak mereka untuk dipanaskan di pagi hari.


‘’Iya, Ma.’’


Walaupun agak malas, aku bergegas rapi-rapi dulu. Tak berselang lama, aku sudah selesai. Aku mematut diriku di cermin.


‘’Apa aku pantas berpakaian kayak gini? Apalagi aku si pendosa besar.’’


Gamis bewarna cokelat susu dilengkapi dengan kerudung, aku yang dulunya berpakaian ketat, menampakkan lekuk tubuh dan pernah berzina. Apa aku pantas berpakaian begini?


‘’Allah, tolong bimbing aku.’’


Aku yang terayun dalam lamunanku, suara anak bayiku terdengar merengek.


‘’Aduuh, anak Mama. Ma’afin Mama ya, jadi lupa deh sama Dedek.’’


Dia sudah berpakaian bagus dan langsung saja kugendong. Bergegas aku melangkah ke luar dari kamar. Tampak mama sedang bebersih ruang tamu dan mata mama langsung tertuju kepadaku, beliau menatapku tiada putusnya. Apa ada yang salah? Atau bedakku belepotan? Atau pakaianku ini? Aku memandangi pakaian yang kukenakan.


‘’Ma, aku ke luar dulu ya.’’


‘’Ma,’’ ulangku kembali, karena mata mama masih menatapku tanpa kedip, tanpa menjawab ucapanku.


‘’Ah iya, hati-hati, Nak.’’


‘’Aku nggak pantas pakai baju ini ya, Ma?’’ lirihku sembari memegang baju yang kukenakan. Mama menggeleng secepatnya.


‘’Nggak, Nak. Kamu pantas kok pake baju itu.’’


‘’Ta—tapi, Ma…’’


‘’Sayang, kamu dengar kata Mama ya, selagi kita mau memperbaiki diri dan mau bertobat, itu lebih baik.’’ Mama menatapku sangat lama. Hingga memberhentikan pekerjaannya. Aku terdiam seketika.


‘’Tapi aku terlalu hina rasanya, mana pantas berpakaian kayak gini,’’ batinku.


‘’Monik!’’

__ADS_1


‘’Ah iya, Ma?’’


‘’Percayalah, Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang mau bertobat dan nggak akan mengulanginya lagi. Kamu percaya itu kan?’’


Aku mengangguk perlahan walau masih ada rasa tak percaya di pikiranku.


‘’Ya udah, bawalah si Dedek ke luar. Ntar panas paginya hilang lagi.’’


‘’Iya, Ma. Aku pamit dulu.’’


Mama mengangguk lantas tersenyum. Aku bergegas melangkah ke luar dari rumah. Entah kenapa pikiranku tak tenang, sedikit gelisah hari ini. Kupandangi si dedek masih terbangun dan enteng sekali.


‘’Mungkin itu pikiranku saja.’’


Aku berusaha menepis rasa gelisah yang muncul di benakku, bergegas aku melangkah untuk maraton. Terik matahari luarbiasa hingga terasa perih menyengat ke kulit mukaku membuat berkeringat. Allah! Baru terik matahari yang kurasakan tak sanggup rasanya, apalagi azabmu di neraka.


Astaghfirullah!


‘’Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang bergelumur dosa ini.’’


‘’Eh, Monik? Kasihan ya, si Dedek nggak punya Ayah. Makanya jangan jadi cewek murahan,’’ lirihnya. Jleb! Ucapannya dengan nada lirih tetapi menusuk ke ulu hatiku. Dari mana ibu ini tahu? Bukankah selama aku berada di sini tak ada yang tahu-menahu tentang aku yang hamil di luar nikah. Ternyata perkiraanku salah, kukira aku akan baik-baik saja di rumah baru kedua orang tuaku.


Aku mencoba menenangkan diri agar tak terbawa emosi.


‘’Humm. Bu, saya pamit dulu,’’ ucapku seolah-olah tak mengerti dengan ucapannya. Membuat dia dan temannya menatapku dengan tatapan tidak suka. Tapi aku tak peduli, bergegas aku melanjutkan langkah kakiku.


‘’Biarin aja, toh memang benar kok. Dia aja yang berpura-pura baik, tetapi kelakuannya berbanding terbalik sama pakaiannya. Untuk menutupi aibnya aja menurutku.’’


‘’Ya Allah! Tolong kuatkan aku dan berikanlah kesabaran kepadaku.’’


Dadaku kian terasa sesak mendengar apa yang dikatakan olehnya. Sebenarnya ucapan mereka tak salah, tetapi apa tak bisa dia menjaga ucapannya yang membuat hati orang tersakiti. Aku tak bisa lagi menahan air mataku hingga berjatuhan, orang-orang yang berjalan kaki di sampingku seketika menoleh dan memandangiku, bergegas aku seka air mata dengan ujung kerudung. Si dedek menangis seketika, mungkin dia tahu apa yang tengah aku rasakan.


‘’Sayang Mama, kenapa nangis? Iya deh, Mama nggak nangis lagi nih. Mama janji.’’


Aku berusaha membujuk anakku, Alhamdulillah tangisannya pun reda. Ternyata dia mengerti apa yang telah kucapkan. Teringat olehku bibi Ningrum yang mengatakan kalau anak bayi itu tahu apa yang kita rasakan dan jika kita gelisah maka dia akan ikut merasakan hal yang sama hingga membuat dia rewel.


Aku kembali melanjutkan untuk melangkah. Di jalanan, mataku tertuju pada wanita dan dua orang anaknya yang berpakaian lusuh sekali. Ya Allah! Hatiku sungguh iba menatap mereka, sepertinya mereka tak punya tempat tinggal.


‘’Kalo aku nggak diterima sama kedua orang tuaku. Entah bagaimana nasibku Ya Allah. Apa aku akan seperti mereka juga?’’ gumamku tiada putusnya memandangi mereka yang berpakaian lusuh dan membawa karung. Kucoba merogoh saku-saku gamisku.


Alhamdulillah, ternyata aku pernah menyelipkan uang di sini, ketika mama Karni memberiku uang. Aku langsung bergegas menghampiri mereka yang sepertinya tengah melintas di jalan. Dengan hati-hati aku melintasi jalan.


‘’Assalamua’alaikum, Bu,’’ sapaku pelan. Tampak wajah mereka seperti ketakutan.


‘’Wa—wa’alaikumsalam.’’


‘’Kalian jangan takut. Aku ke sini cuman mau memberikan sedikit rezeki untuk beli sarapan hari ini,’’ kataku sambil tersenyum dan menyodorkan uang kertas bewarna merah sebanyak dua lembar.

__ADS_1


‘’Wah, beneran, Kak?’’ kata bocah kecil yang kukira adalah anak dari ibu itu. Tampak wajahnya begitu semringah memandangi uang yang kusodorkan. Aku mengangguk sambil tersenyum.


‘’Jaga sikapmu, Wan,’’ bisik wanita itu yang terdengar samar olehku.


‘’Duuh, ma’afkan anak saya ya, Mba. Dia memang kayak gitu.’’


‘’Nggak apa-apa, Bu. Aku paham kok.’’


‘’Ambil-lah, Bu. Ini rezeki anak-anaknya Ibu,’’ kataku sambil menatap kedua anaknya. Wanita itu masih termenung. Tanpa pikir lagi, aku langsung memegangkan ke tangan wanita itu.


‘’Ya Allah! Ini beneran, Mba? Makasih banyak ya. Tapi ini banyak banget,’’ ucapnya dengan mata berbinar. Aku mengangguk secepatnya.


‘’Beneran, Bu.’’


‘’Mba baik banget. Padahal kita bukan siapa-siapa dan saya nggak kenal sama, Mba,’’ lirihnya membuat aku tersenyum lebar.


‘’Aku ini sebenarnya bukan orang baik, Bu. Hanya saja aku belajar jadi orang baik,’’ monologku dalam hati.


‘’Aku pamit duluan ya, Bu. Ini mau ngelanjutin marathon dulu,’’ kataku menyudahi obrolan dengan wanita itu.


‘’Iya, Mba. Hati-hati ya.’’ Aku mengangguk dan bergegas melanjutkan langkahku.


‘’Mba?’’ Panggilannya mampu membuatku menoleh dan memberhentikan langkahku seketika.


‘’Ah, iya, Bu?’’


‘’Itu adiknya, Mba?’’


‘’Engga, Bu. Ini anakku,’’ sahutku beralih menatap Rafi di pangkuanku.


Membuat wanita dan kedua anak lelakinya itu terdiam, kuyakin mereka tak percaya. Karena menurut mereka usiaku masih terlalu muda untuk punya anak. Aku kembali melanjutkan langkahku. Seketika keringat bercucuran di muka dan juga tanganku pun terasa penat karena menggendong anak bayiku sedari tadi.


Tampak orang-orang pada maraton, apa mereka tak bekerja hari ini ya? Ah aku lupa. Sekarang kan hari Minggu. Hari liburnya bekerja. Makanya mereka pada maraton. Di tepi jalan tampak begitu banyak orang-orang jualan dengan berbagai macam sarapan. Ada sate, lontong sayur, nasi Padang, gado-gado dan sebagainya. Aku tersenyum lebar memandanginya.


‘’Baru kali ini aku jalan kaki dan melihat orang seramai ini berjualan di tepi jalan. Kalo saja nggak takut anakku rewel, pasti aku akan sarapan di sini.’'


Seketika mataku tertuju pada lelaki yang membawa motor sport, tak asing lagi bagiku. Di belakangnya ada wanita yang berpakaian dress selutut dan membiarkan rambutnya terurai, wanita itu memeluk erat pinggang lelaki yang pernah mengisi hatiku.


‘’Andre? Begitu romantisnya kamu dengan wanita itu. Hingga kamu melupakan anak darah dagingmu sendiri, Ndre.’’


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.


Terima kasih banyak buat Readers yang masih setia membaca novel ‘’Kemanisan Sesaat’’. Mohon supportnya ya dengan cara like, vote, komen dan share. Dan juga ikutin cerita ini sampe ending. Oke, semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


See you next time.❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2