
‘’Bu, aku ini sedang hamil cucumu,’’ lirihku dengan nada suara bergetar.
‘’Kamu salah sambung! Anakku itu masih sekolah!’’
‘’Kamu pasti menipu aku kan?’’
‘’Aku nggak menipu Ibu. Nggak mungkin bayi ini lahir tanpa seorang Ayah. Dan Ayahnya itu adalah A—Andre anak Ibu,’’ kali ini aku tak bisa lagi menahan buliran air mataku. Jatuh berderaian.
‘’Nggak! Kamu pasti menipuku. Jangan berani-beraninya kamu menipuku ya! Akan kulaporkan ke polisi!’’ dia mengancamku dan masih tak percaya.
‘’Jika anak Ibu yang aku laporkan, gimana?’’ balasku dengan ancaman.
Seketika sambungan telepon terputus. Mungkin karena signal yang kurang bersahabat.
‘’Arrgghhh! Bagaimana ini? Aku udah mengakui semuanya ke Mama Andre. Lah, dia masih nggak percaya,’’ Aku mengepalkan tangan dan mondar-mandir di kamar kost.
‘’Perutku semakin membesar seiring berjalannya waktu. Dan Andre sampai saat ini seperti ditelan bumi. Kabarnya nggak ada, nggak pernah menghubungiku dan mana janjinya untuk tanggung jawab?’’
Dadaku terasa sesak, buliran air mata tak henti-hentinya menetes di pipiku.
Gegara aku hamil di luar nikah, papa mengusirku dan kedua orang tua membenciku, hidupku tak terarah dan sekolah pun aku berhenti. Padahal sebentar lagi aku akan tamat SMA dan impianku untuk melanjutkan pendidikan ke universitas kandaslah sudah.
‘’Sepertinya aku harus melakukan sesuatu!’’ batinku bergegas berdiri. Dan melangkah untuk mencari angkot di depan. Aku melambaikan tangan ke sopir angkot, lalu perlahan menaikinya.
Beberapa menit kemudian, aku telah sampai di tempat alamat yang kutuju. Aku bergegas turun dan menyerahkan ongkosnya. Perlahan aku melangkah. Ya, mungkin itu rumahnya. Sekali ini melangkahkan kakiku ke rumah Andre, selama berpacaran dengannya tak pernah dia mengajakku untuk main ke rumahnya. Kupandangi rumah mewah bertingkat tiga itu.
‘’Lebih bagus daripada rumahku. Makanya Andre dengan mudahnya memberikan semua hadiah untukku,’’ Aku memandangi rumah mewah Andre yang tertutup gerbangnya itu. Gegasku pencet bel rumahnya. Beberapa saat kemudian, lelaki berseragam rapi itu bergegas membuka pintu gerbang.
‘’Selamat sore, Mbak. Nyari siapa ya?’’
‘’Sore! Apa benar ini rumah Ibu Karni?’’ tanyaku yang masih menatap rumah bak istana itu.
‘’Iya benar. Mbak mau ketemu sama beliau? Siapa nama Mbak?’’
‘’Saya ada keperluan penting dengannya. Izinkan saya untuk masuk!’’ kesalku tanpa menjawab pertanyaan lelaki yang berseragam itu. Benar-benar susah bertemu dengan orang besar ini. Perlahan aku melangkah memasuki pekarangan rumah mewah itu walaupun belum diberi izin.
‘’Tunggu di sini! Biar saya panggilkan Ibu Karni!’’ titah satpam dengan nada tinggi, seketika langkahku terhenti.
‘’Ahh! Susahnya ketemu sama orang kaya ini. Papa dan Mamaku juga kaya kok, tapi nggak begini amat!’’ batinku kesal.
__ADS_1
Sesaat kemudian wanita paruh baya dengan pakaian yang mewah itu datang menghampiriku dan dikawal dengan satpamnya. Dia memandangiku dari bawah ke atas, seperti tengah memeriksa seorang penjahat saja.
‘’Kamu mau ketemu saya?’’ tanyanya dengan penuh selidik.
‘’Iya, Bu. Ada yang ingin saya bicarakan sama Ibu. Kalau boleh kita berdua aja,’’ pintaku dengan lirih dan melirik ke satpam yang masih setia menemani wanita paruh baya di depanku.
‘’Bicara saja, kenapa harus berdua?’’ wajahnya mulai kesal.
‘’A—anu. Karena ini urusan pribadiku,’’ jawabku dengan terbata. Aku mencoba mengatur napas.
Dia memandangiku sinis,’’Urusan pribadimu? Ngapain harus diceritakan ke saya? Aneh deh!’’ ketusnya sembari menggelengkan kepala dan melipat kedua tangan di dada. Ternyata begini sifat mamanya Andre ya?
‘’Ka—karena aku sedang ha—hamil cucu Ibu,’’ Tenggorokan rasa tercekat.
‘’Hah? Kamu yang menelpon saya tadi? Beraninya kamu ke sini, hah?’’ emosinya benar-benar sudah berada di ubun-ubun. Sementara satpam itu hanya kaget mendengar suara bu Karni yang menggelegar.
‘’Saya berani ke sini, karena mau menemui Ibu. Anakmu nggak mau tanggung jawab,’’ jelasku dengan suara bergetar memberanikan diri berbicara seadanya.
‘’Nggak! Nggak mungkin. Andre anak saya nggak mungkin melakukan hal sekeji itu. Saya tahu bagaimana sikap anak saya!’’ sanggahnya tak percaya.
‘’Tapi itu kenyataan, Bu,’’ sahutku lirih dengan isakan tangis.
‘’A—aku nggak akan pergi sebelum Ibu mempercayaiku!’’
‘’Kamu itu harus dikasih pelajaran kayaknya!’’ dia menyeret tanganku dengan kasar dan membawaku keluar dari rumahnya. Tubuhku luruh ke tanah. Perlahan aku berdiri kembali dan merangkul kakinya, satpam itu hanya menjadi penonton saja.
‘’B-Buu! Tolong percaya. Aku sedang mengandung cucumu, darah dagingmu. Walaupun itu dengan cara yang salah, tapi itu semua karena anakmu yang melakukannya,’’ Aku merangkul kakinya erat dengan isakan tangis.
Seketika tetangganya memandangiku. Namun, aku tak perduli sebelum bu Karni ini memercayaiku. Dia masih berusaha melepaskan kakinya dari rangkulan tanganku, tetapi karena aku merangkul dengan begitu erat membuat dia susah untuk melepaskannya.
‘’Bu, ma’af sepertinya dia nggak bohong deh, Bu,’’ Satpam yang sedari tadi terdiam membisu, kini buka suara dengan hati-hati.
‘’Bagaimana saya mau percaya, Yono? Sedangkan kemarin Andre baru saja membawa pacarnya ke rumah dan mengenalkan ke saya dan Papanya,’’
‘’Jadi nggak mungkin dia menduakan cinta pacarnya!’’
Degh! Apa? Andre membawa pacar lagi? Dasar lelaki tak beres! Lelaki yang tak pernah puas sedikit pun. Buliran mataku tak henti-hentinya jatuh berderaian. Sedangkan satpam itu menggaruk lehernya yang tak gatal.
‘’Kamu salah orang kali,’’ lirihnya kemudian. Kali ini dia menurunkan sedikit nada suaranya. Mungkin ada perasaan iba muncul di kalbunya.
__ADS_1
‘’Nggak, Bu. Aku nggak salah orang. Sebentar, aku punya bukti,’’ Aku bergegas melepaskan kaki ibu itu sembari menyeka buliran air mataku. Dan meraih ponsel di dalam saku-saku. Kubuka galeri.
‘’Ini, Bu. Ini dia yang menghamiliku!’’ Aku memperlihatkan fotoku yang tengah bermesraan dengan Andre. Seketika ibu itu kaget.
‘’Hah? Ini benar anak saya. Dasar, anak sama Papanya sama saja!’’ ketusnya menunjuk foto dengan muka memerah. Apa maksud ibu ini? Atau? Hah, aku tak perduli dan itu bukan urusanku. Yang penting aku sudah berhasil sekarang memperlihatkan buktinya kepada ibu kandungnya Andre.
Seketika wanita paruh baya itu memegangi kepalanya. Kurasa kepalanya terasa sakit karena mengetahui itu semua yang tak pernah dikiranya, ternyata benar kejadiannya. Seketika tubuhnya luruh ke tanah.
‘’Bu!’’ teriakku. Satpam yang bergeming sedari tadi bergegas memopong tubuh bu Karni. Dan membawanya memasuki rumah, perlahan aku membuntuti satpam secara diam-diam.
‘’Pulanglah dulu ke rumahmu, Mbak!’’ Satpam itu menoleh dan menghentikan langkahnya yang masih memopong tubuh bu Karni.
‘’Kayaknya mau hujan. Dan kalau tahu Pak Ardi bisa-bisa dia membunuhmu!’’ degh! Siapa Pak Ardi? Atau papanya Andre? Sebegitu jahatkah dia.
‘’Pergilah!’’ aku mengangguk perlahan, karena kulihat dia tengah keberatan memopong tubuh majikannya. Perlahan aku melangkah dan kulihat cuaca mulai mendung. Sepertinya hujan akan turun. Aku harus mendapatkan angkot untuk pulang. Sejak tadi kupandangi, namun tak menemukan satu angkot pun yang lewat.
Seketika hujan lebat turun membasahi tubuhku. Aku basah kuyup. Mau berteduh, tapi di mana? Apalagi aku sedang hamil. Kulihat di sekitarku, tak ada tempat untuk berteduh satu pun. Motor berlalu lalang karena ditimpa hujan mereka ngebut di depanku.
‘’Woii! Hari hujan lebat nih. Ngapain masih berdiri di sana!’’ teriak salah seorang pembawa motor, suaranya samar terdengar olehku. Aku hanya terdiam saja, seketika motornya pun menghilang dari pandanganku. Hujan semakin lebat. Hanya beberapa motor yang lewat. Jika kutunggu reda, mungkin sampai malam. Perlahan aku berjalan dengan langkah tertatih.
‘’Allah! Begini nasipku sekarang. Sampai saat ini Andre tak kunjung bertanggung jawab atas semua yang dilakukannya kepadaku, belum lagi kedua orang tuaku sangat membenciku, sekolah pun berhenti sekarang. Aku bencii sama diriku! Kenapa aku bisa melakukan ini semua? Kenapa? Kenapa aku dengan mudahnya dihasut oleh syetan yang terkutuk itu? Arrgghhh!’’ aku berteriak di tengah hujan deras yang membasahi tubuhku.
Aku mengusap mukaku dengan kasar. Kepalaku mulai pusing, perutku pun mulai terasa sakit. Semoga tak terjadi apa-apa dengan kandunganku. Aku terduduk lemas di genangan hujan. Pemandanganku mulai kabur dan aku luruh ke tanah yang digenangi air hujan.
Beberapa jam kemudian.
Bau minyak kayu putih terasa menyengat di hidungku, seketika aku terbangun. Dan menatap ke sekelilingku.
‘’A—aku di mana?’’ lirihku sembari memegangi kepalaku yang masih terasa nyut-nyutan.
‘’Kamu di rumah Ibu,’’ jawab wanita paruh baya itu tersenyum memandangiku. Kucoba memandanginya, samar kulihat seperti wajah bu Karni. Akhirnya penglihatanku mulai jelas kembali. Hah? Ternyata benar. Apa aku tak sedang bermimpi?
Bersambung.
Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Oh iya, jika ada yang komen dan menantikan lanjutan ceritanya akan aku usahakan update 2 bab setiap harinya, tapi dengan syarat harus komen dan membaca setiap kali aku update ya.
See you next time!
__ADS_1
Instagram: n_nikhe