Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Semua Hanya Titipan


__ADS_3

‘’Ya Allah. Tolong berikan keajaiban-Mu untuk Andre.’’ Air mata terus saja berjatuhan, berulangkali kuseka dengan ujung kerudung namun tetap saja berjatuhan.


Hatiku begitu perih melihat lelaki yang pernah singgah di hidupku, kini hanya terbaring dengan alat medis yang selalu menemaninya. Kapan dia akan sadar? Aku mendekatinya. Tanganku terangkat hendak meraih tangan Andre yang dipasang infus, namun aku mengundurkan niat. Karena kini statusnya bukan suamiku, dia hanya bapak dari anakku. Aku tak ada hak untuk memegang tangan lelaki ini. Apalagi kini aku sudah mulai melangkah untuk hijrah.


‘’Nak, kita keluar ya. Dion pasti udah menunggu di luar.’’ Tepukan pelan dari tangan mama Karni mampu membuat aku menoleh.


Kembali kuseka air mata yang terus membasahi pipi. Kusahut dengan anggukan. Kami melangkah keluar dari ruangan rawat Andre. Benar saja, Dion tengah sibuk mengotak-ngatik ponselnya sambil duduk di ruang tunggu pasien.


‘’Dion, tolong bantu Tante untuk mencari tahu di mana Nina akan dimakamkan.’’ Mama Karni langsung duduk di sebelah lelaki hitam manis itu.


‘’Oke, Tante. Aku akan coba hubungi Papi Nina.’’


Tampak dia mendekatkan ponsel ke telinganya.


‘’Hallo, Om. Nina di mana akan di makamkan ya, Om?’’


‘’Oke, thanks, Om.’’


‘’Tante nanti aku sharelok aja ya. Tapi Tante ke sana nggak sendirian kan?’’


‘’Nggak, Dion. Tante ke sana sama Monik.’’


‘’Oke, kalo gitu Tante dan Monik pergi dulu. Jagain Andre ya. Kalo ada apa-apa segera telpon Tante.’’ Wanita separuh baya itu tampak bangkit.


‘’Makasih banyak ya, Dion.’’ Mama menepuk lengan lelaki itu dengan pelan yang dibalas anggukan olehnya sambil menunjukkan seulas senyuman.

__ADS_1


***


Sebelum menuju ke pemakaman, aku dan mama Karni singgah terlebih dahulu ke rumahnya untuk mengganti pakaian. Karena tak mungkin kami mengenakan pakaian ini, tentu harus diganti dengan pakaian yang warna serba hitam. Setelah itu, aku dan mama Karni langsung mencari taxi di tepi jalan.


Beberapa menit kemudian, taxi yang kami tumpangi sudah memasuki tempat pemakaman. Tampak orang-orang berpakaian hitam berlalu lalang. Aku yakin mereka ke tempat pemakaman Nina. Bergegas aku turun, begitupun dengan mama Karni. Tak lupa mantan mertuaku itu menyerahkan ongkos, taxi pun hilang dari pandangan kami. Kugandeng tangan mama Karni dan memberi kode agar melanjutkan langkah.


Kami melewati banyak pekuburan. Dari jauh sudah terdengar tangisan histeris wanita, aku yakin itu adalah tangisan maminya Nina. Ternyata jenazahnya sudah dari tadi dibawa oleh pihak rumah sakit ke sini. Tubuhnya yang berbalut dengan kain putih itu dimasukkan ke liang lahat oleh para lelaki dengan pelan.


Air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya tumpah begitu saja melihat jenazah Nina dimasukkan ke liang lahat. Wanita yang punya tubuh seksi dan cantik. Kini tubuhnya dimasukkan ke dalam tanah. Seperti tak ada gunanya memiliki segalanya di dunia ini, karena semua itu hanya titipan. Yang kita tak tahu kapan akan diambil oleh Sang Empunya.


Seketika tubuh itu ditimbun dengan tanah oleh para lelaki dan diinjak-injak tanahnya.


‘’Selamat jalan, Nina. Aku udah mema’afkanmu. Semoga Allah memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya.’’


‘’Katanya Mba Nina ini lagi hamil muda loh. Padahal dia belum nikah kan? Ah, mudahan saja ini jadi penghambat siksaan buat dia.’’ Terdengar samar olehku sese-mbak yang berucap demikian. Aku menggeleng pelan.


Beberapa saat kemudian, keluarga almarhumah menaburkan bunga di pemakamakan anaknya dengan isakan tangis yang tak kunjung reda dari tadi. Setelah itu do’a, yang dipimpin oleh lelaki yang berpeci, kuyakin itu adalah ustadz.


‘’Untuk apa kamu ke sini? Hah?’’ Matanya menatap tajam ke arah mama Karni. Dia baru menyadari kehadiran kami di sini, mungkin karena saking ramainya orang.


‘’Ka—kami ke sini untuk mengucapkan belangsukawa atas meninggalnya—‘’


‘’Jangan sok baik! Anakku meninggal karena anak kamu. Trus kamu masih berani menampakkan muka ke sini?!’’


‘’Mi, mereka ke sini cuman mau ke pemakaman anak kita. Tolong jangan bikin keributan, anak kita baru aja meninggal.’’

__ADS_1


‘’Beraninya kamu membela dia, Pi? Atau jangan-jangan kamu selingkuh dengan dia. Secara kan suaminya sudah menekam di penjara.’’ Membuat hatiku sakit dengan ucapan wanita itu. Kupandangi air mata mama Karni berjatuhan.


‘’Cukup, Tante! Seharusnya nggak kayak gini sikap Tante. Masa Nina baru saja meninggal udah ngajak berantem kayak gini!’’ bentakku kemudian. Bergegas kutarik tangan mantan mertuaku itu.


‘’Ma, kita pergi dari sini. Tugas kita udah selesai. Kita nggak ada waktu meladeni manusia kayak dia,’’ kataku yang bergegas mengenggam erat tangan mama lalu meninggalkan kedua orangtua Nina.


Tak hentinya buliran air mata mama Karni berjatuhan. Aku merasakan apa yang dirasakan olehnya. Maminya Nina dengan seenaknya menuduh kalau penyebab meninggal anak kesayangannya adalah karena Andre. Padahal ini semua sudah takdir dari Allah. Siapa yang menyangka akan terjadi kecelakaan seperti ini? Padahal aku sempat melihat kedua pasangan itu tengah bermotoran tadi pagi sewaktu aku maraton.


Tak pernah aku menyangka bahwa akan terjadi sesuatu pada Andre, terutama Nina yang meninggal dunia. Apa ini yang dinamakan balasan dari Allah? Masih teringat olehku wanita itu yang hendak berusaha mengacaukan pernikahanku dengan Andre, tapi untung saja bodygoardnya mama Karni bertindak cepat. Setelah aku nikah dengan Andre, dia masih saja berusaha menganggu rumah tangga kami. Pernah waktu itu Andre tak kunjung pulang, yang kuyakin keberadaannya pasti di rumah Nina, wanita yang dijodohkan oleh papa Ardi.


‘’Astaghfirullah, Monik. Kenapa kamu masih saja mengingat kejadian itu. Sekarang ikhlaskan ya. Supaya Nina tenang di alam sana.’’


‘’Kita duduk dulu di sana ya,’’ kata mama yang mampu membuat aku tersadar dari lamunan. Aku mengangguk dan bergegas menuju kursi di tepi jalan.


Kendaraan berlalu lalang, mereka saling menyapa satu sama lainnya. Aku menghenyak di sebelah wanita separuh baya itu. Tatapannya kosong menatap kendaraan yang berlalu lalang. Aku tahu banyak sekali beban pikiran mama Karni. Aku bersyukur rasanya, karena mamaku mengerti dengan keadaan ini dan malah beliau menyuruhku untuk menemani mama Karni. Aku yakin itu semua juga karena ancaman yang diberikan mamanya Nina sewaktu di ruang jenazah, tentu membuat mamaku khawatir.


‘’Ma, aku yakin dan percaya Mama adalah wanita kuat.’’ Aku mengenggam erat tangan mantan mertuaku yang kini kuanggap sebagai orangtuaku sendiri. Seketika dia menoleh. Matanya tampak berkaca-kaca.


‘’Dan aku akan selalu ada untuk Mama. Mama nggak sendirian kok,’’ imbuhku yang membuat buliran air mata menetes di pipinya yang sudah mulai keriput. Seketika mama Karni menghambur ke pelukanku.


‘’Makasih, Nak. Kamu baik banget. Padahal kamu udah cerai—‘’


Dengan pelan aku melepaskan pelukan,’’Hussh. Mama nggak boleh bilang kayak gini lagi ya. Kan aku udah bilang, kalo aku ini adalah anaknya Mama.’’ Tanganku terangkat menyeka buliran air mata mama Karni.


‘’Ya udah kalo gitu aku cariin taxi dulu ya, Ma. Kita langsung ke rumah sakit. Nggak baik ninggalin Andre lama-lama.’’

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2