
‘’A—apa?’’ aku kaget seketika dan berusaha untuk kembali duduk tetapi kepalaku begitu pusing.
‘’Sudah! Kamu istirahat dulu. Ibu bikini teh panas,’’ Senyumnya terbit di wajah senjanya, tak seperti tatkala aku bertemu dan mengakui semuanya ke dia sewaktu berada di depan rumahnya.
Apakah ini permainannya? Kenapa dia begitu baik kepadaku sekarang? Kenapa dia sudah berubah secepat ini? Apa yang merasukinya? Hah! Kepalaku begitu terasa pusing, sedangkan bu Karni bergegas melangkah meninggalkanku, yang katanya membuatkan teh untukku.
‘’Biarkan keadaanku benar-benar pulih dulu. Akan kutanyakan semua alasannya, mengapa dia sebaik ini.’’ Aku memijit kepala yang terasa nyut-nyutan dan kupandangi rupanya aku dibaringkan di kamar. Kamar besar dan begitu mewah. Lebih mewah daripada kamar di rumahku.
Sesaat kemudian, bu Karni sudah membawa secangkir teh panas.
‘’Nah, minum dulu, Monik! Biar tubuhmu terasa panas.’’ Apa? bu Karni tahu namaku? Atau tahu semuanya dari Andre, anaknya? Tapi, mana mungkin.
‘’Ma—makasih, Bu,’’ lirihku sembari mencoba untuk duduk dengan perlahan.
‘’Kamu nggak pusing lagi kan? Apa mau Ibu bantu?’’ Bu Karni memandangiku. Ahh! Aku tak tahu dan tak mengerti dengan semua ini. Sangat jauh berbeda kali ini wajah bu Karni, hanya ada kelembutan seorang ibu di sana. Aku tak habis pikir.
‘’Nggak kok, Bu,’’ sahutku singkat dan mengambil secangkir teh panas dari tangan bu Karni lalu bergegas menyeruputnya.
Aku terlamun seketetika,’’Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kandunganmu baik-baik saja? Perutmu tidak sakit kan?’’ ahh! Apa sebenarnya yang sedang direncanakan wanita ini? Apa yang sudah merasukinya? Ahh! Apa aku yang terlalu berburuk sangka. Entahlah, tubuhku masih terasa lemas, kepalaku masih terasa pusing dan perutku masih terasa sakit.
‘’Sudah mendingan, Bu. Tetapi perutku terasa sakit dan masih pusing,’’ kataku lirih, apa adanya.
‘’Ya sudah. Ibu panggilkan dokter dulu, ya?’’
Aku mengangguk perlahan dan wanita itu bergegas melangkah. Kupandangi benda yang melingkar di dinding kamar menunjukkan pukul 18.00. Allah! Saking lamanya aku berada di luar, karena hujan yang begitu lebat. Eh, tunggu pakaianku bukannya tadi basah kuyup? Ini bukan pakaianku. Siapa yang mengganti? Kenapa aku tak tahu? Saking lamanya aku sadar dari pingsanku, apa mungkin semua ini dilakukan oleh bu Karni?
Tetapi kenapa dia berubah sebaik ini? Duuh! Kepalaku sangat terasa pusing. Aku kembali merebahkan tubuhku ke ranjang.
Beberapa saat kemudian, bu Karni sudah membawa seorang wanita berpakaian seragam putih yang dilehernya tergantung indah alat pemeriksaan dan menenteng tas.
__ADS_1
‘’Ini menantu saya, Dok. Tolong periksa dan kasih resep ya, Dok? Dia sedang mengandung cucu saya,’’ tutur bu Karni berdiri di sebelah wanita berseragam putih itu, sedangkan aku dengan perlahan kembali duduk.
Menantu? Cucu? Sejak kapan dia mengakui kalau di rahimku ini tengah mengandung cucunya? Aku tak habis pikir dengan semua sikapnya yang berubah seketika kepadaku. Atau ini permainannya untukku? Allah! Pikiranku sekarang benar-benar kalut.
‘’Baik, Bu,’’ jawabnya ramah dengan senyum khasnya.
Dia pun menarik benda yang melingkar di lehernya dengan perlahan dan bergegas memeriksa tekanan darahku, setelah semuanya diperiksa.
‘’Bagaimana, Dok?’’ tanya bu Karni yang sedari tadi bergeming memandangiku yang tengah diperiksa.
‘’Tekanan darahnya sangat rendah, Bu. Kalau kandungannya baik-baik saja, tetapi karena Mbak ini yang kurang istirahat, banyak pikiran dan tak mengkonsumsi makanan yang kaya serat hingga perutnya terasa sakit. Dan juga karena tubuhnya yang tengah menyesuaikan diri dengan kehadiran janinnya, apalagi usianya yang terbilang muda. Tetapi Ibu jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Nanti akan saya berikan vitamin, obat penambah darah, dan akan saya kasih tahu apa yang harus dikonsumsinya,’’ jelas wanita berseragam putih panjang lebar, sembari menggantungkan kembali alat pengukur tekanan darah di lehernya.
‘’Terima kasih banyak, Dok,’’ Bu Karni tampak lega.
‘’Sama-sama, Bu. Kalau begitu mari jemput resep ke rumah saya!’’ Dia merapikan kembali tasnya dan bergegas berdiri.
‘’Jangan banyak pikiran lagi ya, Mbak? Jaga kesehatannya, minum susu Ibu hamil, konsumsi makanan yang kaya serat seperti buah dan sayur. Minum banyak air serta sering istirahat,’’ saran wanita yang memakai seragam putih itu.
Bu Karni bergegas mengantar wanita yang berseragam putih itu sembari mengambil obat. Aku hanya berbaring sedari tadi. Tapi, tunggu! Andre di mana? Kok sedari tadi aku tak melihat batang hidungnya? Ke mana lelaki bajingan itu? Apa dia sengaja menghilang?
Ponselku? Oh iya, ternyata tergeletak di atas nakas. Pasti bu Karni yang meletakkan di sini. Perlahanku duduk dan meraihnya, untuk mencek keadaan ponselku. Alhamdulillah hanya terkena air hujan sedikit saja. Kembali kuletakkan ponsel. Nanti saja kuhubungi Ayu. Kembali kubaringkan tubuh, lantas menatap langit-langit kamar. Seketika terpikir olehku mama dan papa.
Apakah beliau tak mencemaskanku sedikit pun? Jika iya, kenapa tak menanyakan kabarku atau mencariku? Atau memang beliau sangat membenciku sekarang, karena aku hamil di luar nikah. Allah! Aku rindu dengan keluargaku, rindu kebersamaanku dengan mereka, dan rindu dengan perhatian mama dan papa ketika kusakit. Seketika air mataku luruh begitu saja, perlahan kuseka. Takut jika bu Karni mengetahuinya. Bukankah aku tak boleh banyak pikiran? Ya, dokter memberi saran untukku agar tak banyak memikirkan hal lain. Aku pun tak mau terjadi apa-apa dengan kandunganku ini. Dan tak mau menambah dosaku yang sudah banyak. Kuseka kembali buliran air mata ini. Dan sesaat kemudian bu Karni pun datang menghampiriku.
‘’Kamu makan dulu sedikit ya? Setelah itu minum obatnya.’’ Bu Karni membawa nasi dan segelas jus. Aku duduk seketika. Di tangan bu Karni masih memegang nampan yang kuyakin berisi makanan untukku.
‘’Biar Ibu suapi,’’ ucapnya sembari tersenyum. Aku tak habis pikir. Di benakku muncul ribuan pertanyaan. Kenapa dia sebaik ini? Bukankah kemarin dia memperlakukanku dengan kasar dan menyeretku? Sekarang? Apa yang sedang direncanakannya?
‘’Jangan, Bu. Nggak usah. Biar aku yang menyuap sendiri,’’ tolakku sembari menunjukkan seulas senyuman. Aku meraih makanan itu dari tangan bu Karni.
__ADS_1
Dan dengan lahap kusantap makanan itu karena saking laparnya. Ya, sambalnya begitu enak, rendang daging, sayur asam, dan tempe begitu enak. Aku bergegas meneguk segelas jus mangga, kupandangi bu Karni masih menghenyak di sofa. Duhh! Aku lupa, aku tak menanyakannya apakah dia sudah makan atau belum.
‘’Ibu sudah makan?’’ tanyaku sembari meletakkan piring di atas nakas, kupandangi bu Karni tengah termenung dengan tatapan kosong menghadap jendela kamar. Namun dia masih tak mendengarkan panggilan dariku saking terayunan dalam lamunannya.
‘’Bu!’’ panggilku kembali.
‘’Eh, i—iya. Kamu sudah selesai makan?’’ aku berhasil membuyarkan lamunannya. Entah apa yang dilamunkannya oleh wanita separuh baya ini.
‘’Sudah, Bu. Apa Ibu sudah makan?’’ tanyaku kembali. Bu Karni seketika mengangguk.
‘’Istirahatlah dulu! Nanti jika kamu butuh apa-apa panggil aja Bi Sumi. Dia sedang berkemas di dapur. Dan istirahat yang cukup, semua saran dari dokter kamu turuti ya?’’ Bu Karni bergegas beranjak dari duduknya. Aku hanya mengangguk perlahan. Lalu beliau meraih piring dan gelas, dibawanya melangkah keluar dari kamar. Aku tak henti-hentinya memandangi bu Karni sampai punggungnya hilang dari pandanganku.
‘’Semoga Bu Karni tak berniat jahat kepadaku,’’ batinku.
Oh ya, satu lagi. Ke mana papanya Andre? Sedari tadi aku tak melihat batang hidungnya. Ya, walaupun aku tengah berada di kamar. Aku masih teringat kata-kata satpam kemarin. Membuat aku sedikit cemas.
‘’Kayaknya mau hujan. Dan kalau tahu Pak Ardi bisa-bisa dia membunuhmu!’’ kata-kata Satpam kemarin terngiang-ngiang di telingaku. Sebegitu jahatkah dia?
Ahh! Aku tak perduli hal itu. Sesaat kemudian, aku mendengar suara lelaki. Membentak siapa dia? Perlahan kucoba untuk duduk dan menguping pembicaraannya di belakang tembok. Lelaki berjas hitam dan berpakaian rapi itu menghenyak di sofa dengan wajah memerah menahan emosinya. Sedangkan bu Karni berdiri tak bergeming.
‘’Ma, aku sudah bilang berkali-kali sama kamu! Kenapa kamu masih aja membawa perempuan nggak tahu diri itu ke sini? Hah?’’ bentak lelaki yang berpakaian jas itu. Apa maksud dari ucapannya itu? Apa aku yang dimaksud olehnya?
Bersambung.
Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Oh iya, jika ada yang komen dan menantikan lanjutan ceritanya akan aku usahakan update 2 bab setiap harinya, tapi dengan syarat harus komen dan membaca setiap kali aku update ya.
See you next time!❤
__ADS_1
Instagram: n_nikhe