Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Mama Curiga?


__ADS_3

‘’Kamu kelihatan gemuk sekarang ya, Monik?’’ degh! Jadi, sedari tadi mama memperhatikanku?


‘’Iya. Itulah Monik pengen diet, Ma,’’ sahutku memasang wajah seolah-olah baik saja.


‘’Papa lihat juga begitu. Kamu itu kegemukan sekarang,’’ tambah papa menoleh sejenak dan kembali fokus menyantap sarapan.


‘’Tapi enggak apa-apa, asalkan gemuk sehat,’’ tambah papa kemudian, yang semakin membuatku merasa bersalah.


‘’Asalkan Mama dan Papa tahu dengan keadaanku sekarang, pasti kalian akan membenciku. Bahkan tak segan-segan membunuhku, seperti yang kulihat berita yang beredar di televisi,’’ batinku yang masih mengaduk nasi goreng dengan sendok.


Teringat saja membuatku merinding dan ketakutan. Bagaimana jika kedua orang tuaku memperlakukanku seperti itu? Pikiranku melayang ke mana-mana dan aku mencoba untuk menepis prasangka buruk itu.


‘’Kalau mau sarapan itu fokus sarapan dulu, Monik. Jangan pikiranmu itu melayang ke mana-mana,’’ Mama memandangiku yang tengah mengaduk nasi goreng di piring.


‘’Mamamu bener banget tuh,’’ timpal papa yang telah selesai sarapan, lantas menyeruput air putih dan bergegas beranjak dari kursi.


‘’I—iya, Ma,’’ singkatku. Aku berusaha menghabiskan makanan yang tersedia di depanku. Walaupun seleraku hilang begitu saja, ditambah pikiranku yang melayang ke mana-mana.


‘’Obatmu udah habis? Mual udah hilang kan, Monik?’’


Degh! Tadinya aku sudah mulai lega dan kini terasa dihimpit batu besar dada ini.


‘’U—udah kok, Ma. Mual pun udah sedikit berkurang,’’ aku tak mampu menatap mama, hanya menatap piring yang masih tergeletak di depanku. Mama tampak mengintimidasiku.


‘’Tapi Mama enggak pernah ngelihat kamu makan obat. Jam berapa sih kamu makan obat?’’


Tenggorokanku sungguh tercekat. Aku harus jawab apa? Aku memang menyengajakan mengkonsumsi obat vitamin ketika mama sudah tak berada di rumah, aku takut mama mengetahui kalau aku kini tengah berbadan dua dan beliau pasti tahu mana yang obat biasa dan mana yang vitamin untuk bumil. Walaupun cepat atau lambat mama bakalan tahu semuanya, tetapi aku belum siap jika untuk sekarang ini.


‘’Monik?’’ panggil mama yang mampu membuyarkan lamunanku dan kaget seketika. Lagi-lagi mama membuat jantungku seakan copot.


‘’A—anu, Ma. Pas Mama udah di kantor. Makanya Mama enggak tahu,’’


‘’Lah, kok gitu?’’


‘’Suka lupa, Ma,’’ aku menyengir dan berusaha untuk tetap tenang, agar mama tak semakin mencurigaiku.

__ADS_1


‘’Ada-ada aja deh kamu,’’ mama tampak menggeleng.


‘’Ya udah! Yang penting obatnya beneran habis,’’ tambah mama kemudian, yang membuat aku merasa lega dan mengangguk.


Beberapa menit kemudian, kami telah selesai sarapan. Mama dan papa hari ini libur bekerja, dan beliau memutuskan untuk menonton di ruang keluarga. Sedangkan aku lebih memilih duduk menyendiri di kamarku. Seketika aku pun ingin sekali menyantap buah mangga muda. Tapi bagaimana caraku untuk memanjat pohonnya? Aku memutuskan untuk melangkah keluar. Kupandangi pohon mangga, ternyata ada buahnya yang muda. Mumpung ada yang rendah, kukait saja dengan kayu. Kuambil kayu yang lumayan panjang. Lalu kukait. Berjatuhanlah beberapa buah mangga muda. Seketika tetanggaku lewat di depan rumah.


‘’Eh, Monik. Kayak ngidam aja deh,’’ Wanita separuh baya itu terkekeh. Sedangkan aku hanya memaksakan untuk tersenyum. Lalu gegas memasuki rumah kembali.


Degh! Sejak kapan mama berada di kamarku? Kali ini jantungku berdegup kencang. Mama menatapku dan melirik ke tanganku, melirik apa yang tengah kubawa.


‘’Ma—Mama sejak kapan di sini?’’ tanyaku dengan kerongkongan tercekat.


‘’Barusan. Emangnya kenapa, Monik? Mama juga ingin bercerita di kamarmu sesekali,’’ lirih mama, matanya masih terfokus ke tanganku.


‘’Kamu makan mangga muda? Sejak kapan kamu suka mangga muda?’’


Degh! Keringatku mulai berjatuhan, dadaku terasa sesak. Kayaknya mama mulai curiga ini. Bagaimana kalau mama beneran tahu?


‘’I—iya. Baru kemarin, Ma,’’ ucapku terbata.


‘’Iya, Ma. Kata teman Monik, ini bagus untuk kesehatan. Makanya Monik memaksakan untuk makan buah mangga muda ini,’’ Aku mencoba mencari alasan dan memasang muka baik-baik.


‘’Ya sudah. Mama ada keperluan sebentar,’’ Aku merasa lega. Kali ini aku lolos. Tak tahu esok. Aku mengmbuskan napas perlahan. Aku mengangguk dan tersenyum.


‘’Monik. Temani Mama nanti beli p*mbalut. Kamu pasti kehabisan p*mbalut juga kan?’’ mama seketika menghentikan langkahnya dan menoleh. Degh! Baru saja aku merasa lega, sekarang pertanyaan mama mampu membuat jantungku seakan copot.


‘’Ma—ma’af, Ma. Kayaknya Monik nggak bisa deh. Monik harus ngerjakan tugas juga,’’ tolakku dengan lembut.


‘’Kamu ya, biasanya selalu menemani Mama. Sekarang alasannya banyak tugas, padahal kemarin-kemarin malah lebih banyak lagi tugasmu dan masih bisa menemani Mama. Ya sudahlah. Mama pergi sendiri aja,’’ mama bergegas melangkah.


Sedangkan aku mengelus dadaku yang sudah beberapa kali terasa bergemuruh. Gegasku mengupas mangga muda dan menyantapnya dengan lahap. Ya, biasanya aku paling tak suka yang namanya mangga muda. Makanya mama curiga, karena aku tak pernah mau memakan mangga muda. Kuyakin hati mama terus bertanya. Ada apa dengan anaknya ini.


Beberapa menit kemudian.


‘’Moniiik!’’ suara mama menggelegar dan terdengar emosi di luar sana. Hatiku mulai tak enak.

__ADS_1


Aku kaget seketika,’’ Ada apa ini?’’ hatiku bertanya-tanya.


Aku bergegas menghampiri mama ke dapur.


‘’Apa ini? Hah? Tolong kamu jelaskan?’’ degh! Allah. Tast pack yang kubeli setelah bermain gila dengan Andre. Kenapa ada di tempat sampah? Duhh..aku yang lupa dan teledor, kenapa aku membuangnya di sana? Aku mau jawab apa? Dadaku semakin terasa sesak, keringat sebesar jagung berjatuhan di mukaku.


‘’Ma tenang dulu, Ma,’’ lirihku mencoba menenangkan mama.


Papa pun datang menghampiri kami,’’Ada apa Mama berteriak seperti ini?’’ tanya papa.


‘’Ini, Pa. Mama menemukan ini di tempat sampah. Mama yakin ini punya Monik!’’ mama memperlihatkan tast pack di tangannya.


Lah? Kok papa malah tersenyum?


‘’Duhh! Ini yang membuat Mama kaget. Mana mungkin Monik pake benda yang beginian. Mama yang benar aja deh. Atau itu tast pack Mama yang dulu,’’ Seketika aku lega.


‘’Iya, Ma. Monik beres-beres kamar Mama dan menemukan itu, makanya Monik buang saja di tempat sampah,’’ timpalku berbohong dan memasang muka dengan baik-baik. Mama beranjak dari duduknya lalu merangkulku.


‘’Ma’afkan Mama ya. Mama sudah berpikiran yang macam-macam sama kamu,’’ Mama mengecup keningku. Aku hanya mengangguk, ada rasa bersalah juga di hatiku.


‘’Papa bilang juga apa. Ya sudah Papa mau istirahat dulu,’’ Papa mengelus kepalaku dan berlalu meninggalkan kami.


‘’Nak, Mama takut aja kamu seperti yang terjadi di film-film itu, hamil di luar nikah,’’ Hatiku terasa pilu mendengar ucapan Mama. Semuanya sudah terjadi. Aku memang wanita b*doh, mau saja menyerahkan kehormatanku. Merasakan kemanisan yang hanya bersifat sesaat dan aku tak berbuka pada waktunya. Buliran bening begitu saja lolos di pipiku.


‘’Ka—kamu kenapa, Nak?’’ lirih mamaku kala melepaskan rangkulannya. Dan memandangiku.


Aku menyeka buliran bening itu,’’Nggak ada kok, Ma. Monik terharu aja,’’ lirihku mencoba untuk tetap tersenyum.


‘’Mama berharap kamu nggak seperti yang Mama cemaskan. Kamu anak prempuan kami satu-satunya, walaupun Mama dan Papa enggak banyak waktu untuk menasehatimu,’’


Kata-kata mama mampu menusuk hatiku. Kedua orang tuaku tak salah, mereka bahkan menyempatkan waktu untuk sekadar menasehatiku walaupun beliau sibuk bekerja setiap hari. Tetapi akulah yang salah, aku tak mendengarkan nasihat beliau dan karena cinta membuatku buta, melakukan segalanya.


BERSAMBUNG. ***


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya. See you next time!

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2