
Aku termenung di teras. Pikiranku melayang ke mana-mana.
‘’Eh, Monik? Udah rapi aja. Mau ke mana?’’ Ucapan tetangga mampu membuat aku tersadar dari lamunan.
‘’Ini mau ke luar sebentar, Tan. Sekarang nungguin Mama siap-siap dulu,’’ sahutku yang menoleh ke sumber suaranya.
Wanita yang beranak empat itu, masih kelihatan seperti anak gadis. Baik dari wajahnya maupun gaya penampilannya. Aku tahu dari mama, beliau cerita kalau Tante Ida punya empat orang anak, tapi semuanya laki-laki.
‘’Mau ke mana sih? JJS ya?’’ tanyanya kembali yang membuat aku tersenyum simpul saja.
‘’Oh ya, Monik. Tadi anak Tante nanyain kamu loh. Kapan-kapan mainlah ke rumah. Sedekat ini pastilah kamu bisa nyempetin waktu,’’ lanjutnya yang membuat aku terkesiap.
Ya, pasti lelaki berwajah tampan itu yang dimaksud oleh tante ini. Aku pernah melihatnya, tatkala aku menjemur pakaian di luar. Tapi, sebentar! Kenapa aku pula yang ditawarkannya untuk bermain ke rumahnya? Ada-ada saja tante ini, pantang bagiku bermain ke rumah laki-laki. Aku saja sewaktu berpacaran dengan Andre tak pernah menginjakkan kaki ke rumahnya.
Apalagi sekarang aku yang berkeinginan untuk hijrah, aku tak kan mau menginjakkan kaki ke rumah laki-laki yang statusnya bukan siapa-siapa aku. Lagian sekarang aku sudah trauma dengan yang namanya cinta, aku tak mau lagi mencintai seseorang yang bukan kekasih halalku. Aku tak mau lagi jatuh ke lobang yang sama. Cukup sekali aku melukai hati kedua orangtuaku, cukup sekali aku melanggar larangan Allah dan cukup sekali aku terluka.
‘’Iya, Tan. InsyaaAllah,’’ sahutku sambil tersenyum tipis.
Wanita itu ikut tersenyum dan kembali memasuki rumahnya yang mewah itu. Ya, rumahnya berdekatan denganku. Lima langkah dari halaman rumahku sudah sampai di depan rumah tante Ida.
Bunyi klakson si roda empat membuat aku menoleh. Aku bergegas membukakan pagar dan seketika papa menurunkan kaca mobilnya.
‘’Makasih ya, Nak,’’ katanya yang membuat aku terkekeh.
Bagaimana aku tak terkekeh, lucu saja jika orangtuaku mengucapkan terima kasih padaku, seperti tak pantas. Mobil papa seketika melaju memasuki halaman rumah dan meletakkan di garasi. Beliau tampak turun dari si roda empat itu. Aku bergegas menyalami tangan lelaki cinta pertamaku itu.
‘’Tumben duduk di luar, Monik.’’
‘’Hum, nungguin Mama siap-siap, Pa,’’ kataku.
‘’Trus nungguin Papa pulang juga,’’ lanjutku sambil melukis senyuman.
‘’Hem, nggak biasanya nih. Pasti ada maunya, ya kan?’’ Papa menoel hidungku seketika.
‘’Ya gitulah, Pa. Papa masuk dulu gih. Pasti capek kan?’’ Beliau mengangguk dan bergegas memasuki rumah, begitupun denganku yang mengikuti langkah papa.
Mama seketika menghampiri,’’Eh, Papa?’’ Wanitaku itu bergegas menyalami punggung tangan papa. Seketika papa memperhatikan penampilan mama, keningnya mengernyit.
‘’Mama mau ke mana nih?’’
__ADS_1
Mama seketika melirik ke arahku,’’Ini Pa, mau ke rumah sakit.’’ Tangan mama sibuk meraih tas yang ditenteng oleh papa dan mengambil alih jas di tangan papa juga.
‘’Siapa yang sakit, Ma? Mama sakit?’'
‘’Nggak, Pa. Mama dan Monik mau membezuk Papanya si Dedek,’’ kata mama dengan hati-hati. Seketika wajah papa berubah tatkala aku perhatikan. Dia bergegas menghenyak di kursi.
‘’Andre? Buat apa Mama sama Monik masih peduli sama lelaki bajingan itu?!’’
‘’Pa, tenang dulu. Ini demi cucu kita. Tadi si Dedek menangis kencang, lama banget. Mama yakin firasatnya kuat antara dia dan Papanya. Andre itu masuk rumah sakit karena kecelakaan, Pa,’’ lirih mama yang menghenyak di sebelah papa.
‘’Nggak, cucu kita nggak butuh dia, Ma. Cucu kita lebih butuh kita.’’
‘’Ta—tapi, Pa..’’
‘’Kalian nggak boleh ke sana. Buat apa peduli lagi sama lelaki itu? Biarin aja dia menerima balasan dari Allah atas semua yang dilakukannya sama Monik!’’
Ya Allah! Bagaimana ini? Papa malah tak mengizinkan aku dan mama untuk pergi ke rumah sakit membezuk Andre. Di sorot matanya hanya tersimpan kebencian di sana. Ya, aku paham kenapa papa begitu membenci lelaki itu.
Aku bergegas menghenyak di sebelah kiri papa dan memegang jemarinya,’’Pa, aku paham kenapa Papa nggak mengizinkan aku dan Mama ke sana.’’
‘’Pa, walaupun lukaku belum sembuh. Tapi, aku merasa harus belajar untuk menerima semua ini. Aku harus belajar untuk mema’afkan dia yang pernah memberiku luka yang dalam. Untuk itu aku ingin membezuk dia ke rumah sakit demi Rafi, cucu Papa.’’
‘’Baiklah, Papa izinkan kamu dan Mamamu ke rumah sakit.’’ Papa terdengar menghela napas berat. Aku tahu beliau pasti terasa berat untuk mengizinkanku.
‘’Makasih banyak ya, Pa,’’ lirihku dengan deraian air mata, langsung memeluk erat sang papa.
***
Aku dan mama bergegas berangkat ke rumah sakit, kami ke sana menumpangi taxi online yang sebelumnya kupesan lewat aplikasi itu. Walaupun mobil papa ada, kami lebih memilih naik taxi. Karena aku lagi malas menyetir, mama pun tak pandai menyetir mobil.
Di perjalanan, aku dan mama larut dalam pikiran masing-masing. Hanya bunyi mobil dan motor yang saling sapa. Tak berselang lama taxi sudah memasuki pekarangan rumah sakit Medina. Aku dan mama bergegas turun, lalu menyerahkan ongkosnya. Taxi yang kami tumpangi pun hilang dari pandangan. Aku bergegas mengecek benda canggih di dalam tas untuk menghubungi mama Karni terlebih dahulu. Namun, aku mengurungkan niat.
‘’Aku tanya aja kali ya. Mana tahu Mama Karni lagi sibuk ngurus Andre,’’ gumamku dalam hati.
‘’Kenapa, Monik?’’ Mama terheran memandangiku yang bergegas memasukkan benda canggih itu kembali ke tas.
‘’Tadinya aku mau menghubungi Mama Karni, Ma. Tapi setelah aku pikir, baiknya aku tanyain di dalam aja nanti. Takutnya beliau sibuk ngurus keperluan Andre,’’ kataku kemudian.
‘’Ya udah kalo gitu. Yuk kita masuk!’’ ajak mama seketika yang kusahut dengan anggukan. Kami bergegas melangkah memasuki rumah sakit Medina. Setibanya di dalam.
__ADS_1
‘’Ma’af, Mba. Aku mau bertanya. Pasien atas nama Andre yang tadi siang kecelakaan itu di mana ruangnya ya?’’
‘’Ada di lantai dua, Mba. Di ruang ICU A3,’’ sahutnya ramah.
‘’Oke, makasih banyak, Mba.’’
Aku dan mama langsung menuju lantai dua. Tampak dari jauh mama Karni duduk dengan deraian air mata, membuat hatiku terenyuh. Aku langsung berlari menghampiri wanita separuh baya itu.
‘’Ma,’’ panggilku lirih dan langsung menghambur ke pelukannya, tangisan mantan mertuaku itu makin menjadi ketika berpelukan denganku.
‘’Bagaimana keadaan Andre, Ma?’’ Aku melepas pelukan dengan pelan.
Dia menggeleng lemah dan beralih menatap mamaku. Dia tak menyahut pertanyaanku, hanya air matanya yang kini bicara. Membuat perasaanku tak anak dan pikiran buruk menghantuiku. Tidak! Andre pasti baik-baik saja.
‘’Aku ingin melihat keadaannya, Ma. Bolehkan?’’ Wanita separuh baya itu hanya mengangguk, aku terlebih dahulu memakai pakaian gaun luar yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit untuk memasuki ruang ICU dulu. Karena pembesuk ICU dibatasi dan lebih ketat aturannya, maka aku sendirian terlebih dahulu memasuki ruangan itu.
***
‘’Aku datang, Ndre,’’ bisikku dengan suara bergetar.
Hatiku sungguh pilu memandangi tubuhnya yang dulu kekar, kini hanya terbaring lemah begitu saja. Alat medis terpasang indah di tubuhnya. Aku mulai mengerti maksud dari air mata mantan mertuaku yang selalu berjatuhan tatkala aku bertanya keadaan Andre.
‘’Kamu pasti kuat. Aku yakin kamu kuat, Ndre.’’
‘’Kata Dokter, sangat tipis harapan bagi Andre untuk siuman.’’
Suara mama Karni terdengar bergetar dan pundaknya berguncang. Membuat aku terkesiap mendengar penuturan wanita yang pernah jadi mertuaku itu. Aku menggeleng berkali-kali.
‘’Nggak! Ini nggak mungkin!’’
‘’Ma, kita do’akan aja Andre. Aku yakin dia kuat dan aku yakin kalo dia akan segera sadar,’’ kataku yang beralih menatap mama Karni yang terduduk lemas. Seketika air matanya makin berjatuhan.
Bersambung…
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.
Terima kasih banyak buat Readers yang masih setia membaca novel ‘’Kemanisan Sesaat’’. Mohon supportnya ya dengan cara like, vote, komen dan share. Dan juga ikutin cerita ini sampe ending. Oke, semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
See you next time. ❤❤
__ADS_1
Instagram: n_nikhe